BAB III SISTEM PENGETAHUAN SUKU GAYO

Sistem Pengetahuan Suku Gayo
Jika pengetahuan diartikan segala sesuatu yang diketahui dan dijadikan milik diri sendiri dan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya, maka pengetahuan orang gayo cukup tinggi, hal ini terlihat dari fungsi Kejurun dalam menentukan kapan waktu bersawah dimulai, melakukan penyidikan terhadap calon menantu dengan istilah “ Beramal tidur mimpi jege”, artinya mereka sudah memahami pengaruh genetik dalam kehidupan manusia. Membuat ceritera terhadap gejala alam, ceritera tersebut mengandung peringatan agar tidak melanggar hukum perkawinan adatnya, seperti : Atu Belah, Inen Mayak pukes, Puteri Ijo, Puteri Bensu,   mereka juga mampu melakukan jual beli secara barter dengan daerah lain ( pesisir Aceh Timur, Utara, Barat ), mereka sudah dapat menangkap ikan tanpa kail dan umpan, termasuk membuat rumah, keben (tempat menyimpan beras), cara menumbuk padi ; ada jingki, roda, lesung & alu, mengambil air dengan bahan dari tanah (gerabah), mengolah kulit kayu untuk jangkat (tali rami yang dijalin), itu semua membuktikan tingginya pengetahuan orang Gayo.
  •   Budi Daya Tanaman Padi
Hampir semua di tanah Gayo orang sudah menanam padi di sawah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sawah merupakan dasar pokok dalam penentuan kesejahteraan penduduk. Menanam padi di seluruh tanah Gayo sudah sepenuhnya menggunakan irigasi yang bersumber dari mata air atau sungai. Orang Gayo mempunyai perhitungan sendiri saat bertani. Perhitungan yang mereka kenal adalah perhitungan bulan Hijriah. Namun dengan perhitungan ini mereka masih belum mengetahui di bulan berapa sekarang mereka berada. Untuk menyesuaikan dengan ilmu pertanian masyarakat suku Gayo belum mengenalnya. Mereka mengetahui setiap bulan terdiri dari 30 hari. Masyarakatnya pun hanya bekerja dari pengalaman-pengalaman di tiap tempat dalam menentukan waktu sesudah panen dan menetapkan waktu turun ke sawah kembali.
Di tanah Gayo ini segala pekerjaan di sawah, pantang dikerjakan pada hari jumat dan hari rabu nas (rabu nahas), hari rabu yang jatuh pada tiap akhir dan awal bulan. Orang-orang yang kurang mampu biasanya mengerjakan sawahnya dengan cangkul. Dengan adanya perkembangan zaman, maka masyarakat Gayo mulai mengerjakan sawahnya dengan bantuan kerbau, sapi, dan kuda yang biasa dinamakan mengoro. Mereka menggunakan ternak tersbut dengan cara menghalaunya berkeliling selama beberapa jam di sawah. Dalam hal ini mereka terdapat dua cara kombinasi dalam membajak sawah yakni nengel (dengan bantuan hewan) dan pacul. Pacul hanya dipakai pada tempat yang tidak bisa dikerjakan dengan nengel. Di suku Gayo pada lazimnya mengerjakan tanah terbagi menjadi tiga tahap yakni pekerjaan pertama yang disebut memelah (membongkar tanah), kedua yaitu mendue, dan ketiga melumet (menghaluskan tanah).
Suatu adat kebiasaan bagi suku Gayo sesudah hasil panen terkumpul. Padi yang telah terkumpul dibiarkan selama empat hari dalam seladang untuk di beri minum. Dengan cara satu kendi air yang telah berisi air ditutup dengan daun kayu (sensung) yang kemudian dibenamkan di tengah timbunan padi sebatas leher kendi. Kemudian kendi tersebut diasapi dengan kemenyan. Kegiatan ini disebut nalu semangat ni rom (memanggil semangat padi). Selama padi diberi minum disebut hari pantangan, artinya sebelum habis hari-hari itu maka padi belum boleh dibersihkan.
Setelah kegiatan tersebut selesai maka padi di simpan di dalam peberasan. Makna dari peberasan sendiri adalah setiap benda yang disimpan di dalamnya akan awet dan bila memakan padi tersebut dipercaya bisa segera kenyang. Selama hari penyimpanan padi berlangsung, padi sangat pantang untuk dikeluarkan baik untuk dijual, membayar hutang, dan sebagainya. Disini terdapat larangan untuk perempuan yang sedang menstruasi untuk masuk ke keben (lumbung padi). Pemberasan biasanya terbuat dari anyaman. Terdapat pantangan pula dalam pengambilan padi. Yang mana padi tidak boleh terus-menerus diambil sampai kosong.
Menurut pengetahuan orang Gayo tanah yang paling subur untuk di tanami padi berada di daerah Gayo Lues, utamanya di bagian hilir. Sawah di daerah Deret sama suburnya dengan tanah di Gayo Lues. Sistem jual tanah disini tersorot dari kesuburan tanah dan letaknya. Semakin baik atau bagus kesuburan dan letaknya, maka semakin mahal pula harga tanah tersebut.
Dalam hal lain, terdapat pula cara masyarakat suku Gayo dalam menghadapi hama atau musuh yang melanda sawahnya. Salah satu contohnya adalah burung pemakan padi. Mereka menghalaunya dengan tetakut. Tetakut terbuat dari tikar atau kain bekas yang dikaitkan dengan tali serta digantungkan pada rotan.
Masyarakat suku Gayo sangat anti dengan istilah menjual sawah. Karena menurut kepercayaannnya hal tersebut merupakan perbuatan tercela. Namun kalau gadai-menggadai boleh berlaku disini. Pengambil gadai lebih diutamakan kepada saudere terlebih dahulu. Yang mana tidak akan terjadi gadai-menggadai bila saudere tidak mengizinkan. Demikian pula dengan perubahan status hak milik. Bila saudere tidak mampu baru boleh menawarkan ke pihak lain.
Di tanah Gayo tidak ada tanaman yang di tanam sesudah panen. Namun hanya sedikit di Laut dan daerah Deret orang menanam kacang, itu pun mereka tanam di atas pematang sawah. Setelah panen sawah dibiarkan kosong sampai menunggu datangnya musim tanam berikutnya. Dengan adanya pola seperti ini tidak membuat masyarakat suku Gayo kelaparan. Mereka menanam sayuran, buah-buahan, dan sebagainya untuk lauk pauk, di kebun-kebun kecil yang terdapat di halaman depan atau bisa juga di ladang-ladang yang tempatnya tidak jauh dari rumah. Ada juga yang menanam daun sirih (belo)di semak belukar.
Memang jarang orang Gayo menanami ladangnya dengan tanaman lain, kecuali dengan tembakau (bako). Hal ini dilakukan karena dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan dapat dijual. Setelah satu sampai dua kali ditanami tembakau, maka yang ketiga tembakau tidak akan tumbuh. Dan sebagai gantinya, lahan tersebut di tanami dengan tanaman tebu. Hal ini dikarenakan tanaman tebu dapat bertahan kira-kira sepuluh tahun. Setelah panen, orang Gayo membuat penggilingan dari kayu yang disebut wing. Penggilingan ini berfungsi menggilas tebu. Yang mana air hasil perasan tersebut dijadikan manisan dan berakhir pada pembuatan gula merah.
  • Budi Daya Gambir
Budi daya gambir hanya di terapkan di daerah serbejadi saja. Hal ini disebabkan pengaruh angin yang berhembus sangat kencang di daerah tersebut. Cara penanamannya pun mudah. Bibit ditanam di ladang, dan selanjutnya tidak perlu dipindah-pindahkan kembali. Hal ini dikarenakan tanaman ini tidak menjadikan tanah kurus. Setelah tumbuh, sang pemilik tinggal menata atau memberi jarak antara satu dengan lainnya. Daun gambir dapat dijadikan obat sehingga masyarakat suku Gayo menyimpannya.
  •    Kopi di Gayo
Di tanah gayo sampai saat ini belum ada yang mengetahui sebab dari menjamurnya pohon kopi di daerah tersebut. Mereka menganggap pohon kopi tersebut merupakan pohon liar. Sehingga mereka hanya memanfaatkan batang atau cabangnya untuk membuat pagar kebun. Dan buah kopi yang telah matang hanya dibiarkan saja di makan oleh burung. Ada pendapat yang menyebutkan bahwa burung itulah yang menyebarkan kopi di tanah Gayo. Orang Gayo pun tidak mengerti bahwa tanaman yang dianggapnya liar tersebut dapat dijadikan minuman segar. Namun ada pula yang mereka tahu dari tanaman tersebut yakni menjadikan tanaman tersebut sebagai teh dengan cara membakar daunnya. Namun pada akhirnya mereka mengetahuibahwa buah kopi yang telah dikupas dan dikeringkan dapat menghasilkan uang.
  •    Peternakan
Pengetahuan orang Gayo dalam hal peternakan tidaklah tinggi. Meski mereka memanfaatkan hewan ini sebagai pembantu utama dalam mengerjakan tanah pertanian, dan dagingnya dijadikan barang dagangan yang membawa keuntungan besar untuk mereka. Ternak yang biasa dipelihara masyarakat suku Gayo adalah kerbau (koro). Dalam pemeliharaannya, pada malam hari kerbau harus dinyalakan api. Hal ini merupakan cara untuk mengumpulkan kerbau-kerbau dan dengan sendirinya kerbau tersebut tidur mengelilingi api yang telah dinyalakan. Namun tidak hanya dengan cara tersebut, ada pula ternak-ternak yang dimasukkan ke dalam kandang. Selama musim sawah, ternak-ternak d jaga jangan sampai memasuki area persawahan. Dan barulah setelah selesai panen, ternak tersebut dibiarkan merumput. Masyarakat Gayo mengharapkan dengan merumputnya kerbau tersebut memberikan sisi lain yang menguntungkan dari kotorannya. Kotoran  dari kerbau tersebut dapat dijadikan sebagai pupuk.
Dari masyarakat Gayo sendiri, tidak ada usaha sama sekali untuk mengembangbiakkan ternaknya dan upaya perbaikan mutu keturunan. Pengebirian hanya dilakukan pada kambing agar menjadi gemuk. Di tanah Gayo ini sapi tidak banyak diternakkan sebab sapi tidak begitu suka makan rumput di daerah pegunungan. Selain itu susunya pun jarang diperah dan dagingnya pun kurang diminati masyarakat Gayo.
Selain kerbau, kuda juga merupakan salah satu hewan yang di ternakkan oleh masyarakat suku Gayo. Kuda tersebut banyak digunakan untuk mengunjungi tempat-tempat yang jauh, digunakan untuk membawa padi dari sawah bila sawah tersebut letaknya jauh dari rumah, dan kebanyakan dari mereka bertenak kuda hanya untuk di jual.
  •   Berburu
Berburu masih tetap berlaku di tanah Gayo. Hewan buruannya meliputi rusa, kijang, kambing hitam, babi. Ada hal yang berbeda dalam sistem berburu orang gayo. Orang Gayo setiap melakukan berburu pasti membawa pawang, seorang ahli berburu. Pawang ini memiliki banyak anjing pemburu yang bla berburu ia bawa untuk mengendus hewan buruan. Dalam perburuan ini pun ada aturannya. Uuntuk seeorang yang pertama menancapkan senjatanya pada hewan buruan maka ia mendapat bagian belakang dari buruannya. Sedang pawang mendapatkan bagian tulang punggung dan daging yang melekat. Selebihnya daging itu dibagikan kepada anggota perburuan. Selain itu, masyarakat Gayo juga berburu burung. Mereka menggunakan alat sumpitan (letep) dengan perekat (getah), jaring, memasang penjara (pejere tama). Menangkap burung dengan jaring , puket, dan ontang, yaitu jenis alat yang sifatnya lentur. Biasanya alat ini terbuat dari ranting bambu yang ditancapkan di tanah, dan ujungnya dilengkungkan menggunakan sepotong tali sampai ke tanah. Jika terinjak burung maka dengan tepat burung terjerat lalu melentur ke atas.
  •    Pengobatan
Dalam pengobatan penyakit gondok, orang Gayo biasa minum air renggayung yang dicampur dengan air terong peret, sebangsa terong yang bila terkena bijinya akan mengalami gatal-gatal. Selain diminum, campuran kedua air tersebut dioleskan atau digosokkan pada permukaan yang terkena gondok. Air renggayung merupakan air saringan yang telah di masak terlebih dahulu. Yang mana air tersebut bersumber dari sumur yang mengandung garam. Menurut pengalaman orang Gayo, seseorang yang terkena gondok akan sembuh, bila ikut bekerja selama beberapa bulan dalam memasak garam lane. Penyakit gondok ini berjangkit karena mereka suka minum air yang ditampung dalam satu jenis tanaman hutan.

Sumber : Hurgronje, C. Snouck.1996.Gayo Masyarakat dan Kebudayaannya awal abad         ke-20.Jakarta:Balai Pustaka
                http://www.lintasgayo.com
2 Responses
  1. hotchocolate Says:

    maaf saya ada tugas wawancara tentang suku gayo. apa bole saya melakukan wawancara dengan anda?


  2. Unknown Says:

    Terimakasih atas jawabannya ? :v