Tampilkan postingan dengan label aliya shabrina shahab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aliya shabrina shahab. Tampilkan semua postingan

Sendra Tari Ramayana (Prambanan)

Sendratari Ramayana dipentaskan di tempat kisah itu dipahat seribu tahun silam Candi Prambanan. Pertunjukan ini mampu menyatukan ragam kesenian Jawa berupa tari, drama dan musik dalam satu panggung dan satu momentum untuk menyuguhkan kisah Ramayana yang dirangkum dalam 4 babak: penculikan Sinta, misi Anoman ke Alengka, kematian Kumbakarna atau Rahwana, dan pertemuan kembali Rama-Sinta.

Para seniman melakukan latihan keras untuk memberikan yang terbaik selama acara. Dalam drama ini siklus yang berbeda dari kehidupan Rama ditampilkan dengan indah. Hampir 100 penari ikut mengisi acara dengan antusiasme penuh. Banyak adegan tari yang enerjik yang berupa tari kelompok, dan juga ada adegan dimana para penari menari dengan gemulai. Gamelan juga dimainkan untuk membuat pertunjukan menjadi lebih menghibur. Selain itu, di tengah acara kadang-kadang adegan kebakaran juga dipentaskan dengan semarak. Sendratari Ramayana biasanya berakhir dengan Rama dan pengikutnya memenangkan pertempuran dan mendapatkan kembali Sita dari cengkeraman Rahwana, Raja Lanka.

Para pemain kebanyakan adalah warga masyarakat Yogyakarta. Mereka berlatih di sanggar di daerah Sleman, dekat dengan prambanan. Semua yang berlatih akan di ajarkan berbagai macam peran sehingga para pemain dapat memainkan berbagai peran dan mengerti akan alur cerita. Para pemain bkebanyakan berlatih dari sejak keci.  Hal itu dilakukan agar kebudayaan tetap terjaga dan tidak punah




Sumber :




Nama : sulaiman (berperan sebagai anak buah dari hanoman)
Umur : 15 tahun
Alamat: sleman, Yogyakarta
Bahasa : jawa dan Indonesia






Nama : Devi
Umur : 19 tahun
Alamat : sleman, Yogyakarta
Bahasa: Jawa dan Indonesia



Folklore Sebagian Lisan Suku Baduy Luar



v  Upacara Tradisional

1.      Upacara Perkawinan

Di dalam proses pernikahan yang dilakukan oleh masyarakat Baduy hampir serupa dengan masyarakat lainnya. Namun, pasangan yang akan menikah selalu dijodohkan dan tidak ada yang namanya pacaran. Orang tua laki-laki akan bersilaturahmi kepada orang tua perempuan dan memperkenalkan kedua anak mereka masing-masing.
Setelah mendapatkan kesepakatan, kemudian dilanjutkan dengan proses 3 kali pelamaran. Tahap Pertama, orang tua laki-laki harus melapor ke Jaro (Kepala Kampung) dengan membawa daun sirih, buah pinang dan gambir secukupnya. Tahap kedua, selain membawa sirih, pinang, dan gambir, pelamaran kali ini dilengkapi dengan cincin yang terbuat dari baja putih sebagai mas kawinnya. Tahap ketiga, mempersiapkan alat-alat kebutuhan rumah tangga, baju serta seserahan pernikahan untuk pihak perempuan.
Pelaksanaan akad nikah dan resepsi dilakukan di Balai Adat yang dipimpin langsung oleh Pu’un untuk mengesahkan pernikahan tersebut. Uniknya, dalam ketentuan adat, Orang Baduy tidak mengenal poligami dan perceraian. Mereka hanya diperbolehkan untuk menikah kembali jika salah satu dari mereka telah meninggal.
Prosesi pernikahan ini akan dilakukan selama 3hari berturut-turut sesuai dengan perekonomian mereka.

2.      Hamil

Pada saat hamil hanya ada upacara tujuh bulanan yaitu pada bulan ke tujuh, untuk memperkirakan anak yang akan lahir perempuan atau laki-laki menggunakan daun untuk anak perempuan dan nyere atau sapu untuk anak laki-laki  dan menurutnya bulan lahir ditentukan dari bambu. Karena ada mitos bahwa pada saat hamil tidak boleh berada didepan pintu katanya nanti susah untuk keluar bayinya.  Dan saat lahiran biasanya di bawa ke bidan yang ada di desa ciboleger ataupun dibawa ke parahi (dukun bayi).

3.      Melahirkan

Adapun Syukuran yang dilaksanakan pada saat hari ke-4 yaitu Cukuran, hari ke-7 yaitu Berehan dan hari ke-40 yaitu Lahihan. Syukuran biasanya memasak masakan dari  ikan mas atau ayam.

4.      Wafat/ kematian

Cara pengurusannya juga sama seperti islam dengan cara dimandikan, ada penghulu atau dingajikeun kemudian dikuburkan disebelah kali . kepalanya menghadap kea rah barat kampung/lereng, luar Paler (kidul). Adapun pengajian yaitu dilakukan pada hari 1, 3 dan 7. Makam ini di tandai dengan pohon Hanjuang. Apabila makam tersebut dihitung hingga tahunan maka tidak bisa dilihat lagi karena tertutup dengan tanah. Maka jika bertanya kepada orang baduy makam nenek moyang mereka ada disebelah mana? Mereka hanya menjawab tidak tau karena makam nya sudah menyatu dengan tanah apalagi itu sudah ribuan tahun yang lalu.
      
v  Upacara Sosial

1.      Upacara Seba

Upacara yang dilakukan setelah hasil panen mereka terkumpul adat istiadat yang diturunkan oleh nenek moyang masih terus dilestarikan. Mereka masih menjalankan upacara penyerahan hasil panen mereka kepada pemerintah setempat. Upacara ini dikenal dengan nama Upacara Seba.

v  Upacara Keagamaan

1.      Upacara Kawalu/ berpuasa

Masyarakat Baduy Dalam sedang melaksanakan puasa yang dinamakan Kawalu. Di saat Kawalu ini, orang dari luar komunitas Baduy Dalam dilarang keras memasuki wilayah mereka.Inilah salah satu ketentuan adat Baduy Dalam, mereka harus menjalani puasa yang mereka disebut “Kawalu” dan jatuh bulannya adalah di Bulan Adapt. Di saat Kawalu, ada banyak kegiatan adat dan tidak ada kegiatan lain. Semua kegiatan yang dilakukan difokuskan kepada prosesi Kawalu. Pada bulan ini mereka tidak diperbolehkan membetulkan rumah atau selamatan-selamatan melainkan mempersiapkan penyambutan datangnya hari besar bagi masyarakat Baduy yang disebut Seba, berakhirnya masa Kawalu. Satu-satunya kegiatan utama sebagai pesiapan yang mereka lakukan adalah mengumpulkan hasil panen padi dari ladang-ladang mereka dan menumbuknya menjadi beras. Dalam satu tahun masyarakat Baduy melaksanakan puasa selama 3 bulan berturut-turut sesuai dengan amanah adat-nya.

v  Flora(tanaman/tumbuhan)

Banyak tumbuhan yang tumbuh subur ditanh dataran baduy mulai dari tanaman yang dapat di manfaatka dalam kehidupan sehari-hari, bahan bangunan rumah, dan untuk kerajinan tangan. Tanaman tersebut antara lain seperti lengkuas,jerik nipis, sereh, jahe, kunyit, kopi, pohon aren, pohon palem yang daun nya dapat di manfaatkan sebagi atap rumah, terutama tanaman bambu yang tumbuh subur dan ini dimanfaatkan untuk membuat bilik rumah dan sebagai lantai dari rumah tersebut

v  Fauna(hewan)

Hewan yang dipelihara oleh masyarakat baduy ini yaitu hewan yang hanya mempunyai kaki dua saja dan tidak lebih. Mayoritas orang baduy memelihara ayam dan burung.

UAS


Perkawinan Adat Suku Tengger
Dalam kehidupan manusia, kita akan melihat kenyataan seperti dimana manusia berlainan kelamin,yakni wanita dan pria. Dan seorang wanita menjalankan kehidupan bersama seorang pria dalam mengarungi kehidupan bersama,hal itulah yang disebut perkawinan. Kehidupan suami istri akan terjadi jika kehidupan itu ditempuh sesuai dengan hukum yang berlaku. Perkawinan menurut adat adalah peristiwa yang tidak hanya mengakibatkan suatu hubungan antara kedua mempelai saja, tetapi juga ke dua orang tua dan keluarga masing- masing. Dengan terjadinya perkawinan diharapkan pasangan akan memperoleh keturunan yang akan menjadi penerus silsilah orang tua mereka. Adanya silsilah menggambarkan kedudukan seseorang sebagai anggota kerabat adalah merupakan ukuran dari adal- usul keturunan seseorang yang baik dan secara teratur. System hokum perkawinan ditentukan oleh cara menarik keturunan,cara menarik garis keturunan ada dua macam yaitu : unilateral dan bilateral.
Dalam buku The History of Java, Thomas Stamford Raffles dan Ayu Sutarta member kesan yang positif terhadap kehidupan orang Tengger. Orang Tengger adalah orang gunung yang hidup dalam suasana tertib, damai, teratur,jujur, rajin bekerja, dan selalu gembira. Mereka tidak mengenal judi,candu,dan perzinahan,perselingkuhan, pencurian, dan tindakan kejahatan lainnya. Menurut tradisi Tengger ada lima perbuatan buruk yang disebut ma- lima, yaitu: madon (main perempuan), madat (narkoba), maling, main (berjudi),dan mabuk. Wanita Tengger makin mencintai suami nya apabila sang suami memiliki 3 hal penting,yaitu: ngayani,ngayemi,dan ngayomi. Ngayani adalah seorang suami harus mampu memberikan nafkah lahir dan bathin dengan baik. Ngayemi adalah seorang suami harus dapat memberikan rasa aman dan menciptakan suasana yang menyenangkan sehingga rumah tangga berjalan bebas dari gossip. Dan ngayomi adalah suami harus bias member perlindungan total kepada keluarga agar keluarga yang dibangun luput dari bencana dan gangguan.
Orang tengger masih menganggap perkawinan adalah sacral dan tokoh adat adalah seorang yang dipercaya dapat membimbing dengan benar, sehingga perkawinan mereka menjadi perkawinan yang diakui oleh adat.
PERKAWINAN ADAT WOLOGORO
Wologoro dalam bahasa masyarakat tengger berasal dari kata `wa` (wadah), `la` (bibit,benih), `ga` (rahim), dan `ra` (raga) yang berarti rahim adalah tempat badan bakal benih yang ditaburkan oleh lelaki.
Perkawinan wologoro pada dasarnya adalah ritual yang dilaksanakan pada waktu pernikahan yang berniat mensucikan kedua mempelai dan keluarganya serta pembersihan rahim bagi calon mempelai wanita.
Prosesi Sebelum Perkawinan
  1. Menanyakan (nakoake)
Nakoake merupakan tahap paling awal dalam rangkaian pelaksanaan perkawinan. Dalam hal ini calon mempelai laki-laki mengirim seorang utusan yang bertugas menanyakn kepada sang calon mempelai wanita apakah masih sendiri atau sudah mempunyai pasangan. Jika si wanita masihsendiri maka ditanyakan apakah mau menikah dengan pihak laki-laki.
  1. Perhitungan (pitung)
Setelah jawaban setuju dari pihak perempuan maka pihak laki-laki melanjutkan tahap selanjutnya,yaitu pitung menurut adat Tengger dengan meminta bantuan dukun. Sesuatu yang di hitungkan adalah nama dan hari kelahiran antara pihak laki dan perempuan. Jika cocok maka sang  lelaki mencari hari baik untuk mengadakan pinangan kepada pihak wanita.
  1. Melamar (anteng- anteng)
Melamar sebagai awal berlakunya masa pertunangan dengan maksud pihak laki laki meminta izin kepada pihak perempuan untuk di persunting. Biasanya dalam lamaran ini laki- laki memberikan keperluan calon pengantin putrid seperti seperangkat pakaian, alat rias, dan perhiasan terutama cincin sebagai tanda pertunangan.  Dalam lamaran ini juga menetapkan hari baik dan pihak laki- laki menyerahkan sepenuhnya kepada keluarga pihak perempuan untuk mencari hari baik pernikahan.
  1. Membalas Lamaran ( Mbalekake Gunem)
Sekarang giliran pihak wanita yang berkunjung kerumah pihak pria untuk mengembalikan gunem, yaitu hari baik yang telah di sepakati bersama.
  1. Siraman
Pada saat menjelang hari perkawinan, di tempat pihak perempuan mengadakan siraman calon pengantin putrid dengan bunga setaman  dengan maksud dri acara siraman ini untuk mensucikan calon pengantin.
  1. Selamatan
Setelah acara siraman dilakukan selamatan dengan menggelar doa bersama yang dipimpin oleh dukunadat dengan mengundang para tetangga.
  1. Midodoremi
Setelah siraman, pada malam harinya diadakan acara midodoremi yaitu acara dimana calon pengantin wanita pamit dengan teman teman sebaya dan melakukan traktiran di kediamannya.
  1. Akad Nikah
Dalam proses ini pihak lelaki dan perempuan akan di sah kan perkawinannya dengan dihadiri oleh dukun,dan dua orang saksi, seorang dari mempelai wanita dan seorang lagi sebagai pencatat nikah.

PROSESI PELAKSANAAN PERKAWINAN
System perkawinan yang ada di Tengger dianggap sah apabila sudah di sahkan oleh agama dan petugas yang berwenang, tetapi dianggap lebih sah nya apabila sudah melaksanakan upacara perkawinan wologoro.  Sebelum upacara wologoro dilaksanakan, maka terlebih dahulu dilaksanakan temu temanten yaitu hari dimana calon pengantin pria bertemu calon pengantin wanita. Dalam upacara temanten ada tata urutannya,yaitu:
·         Mempelai wanita terlebih dahulu duduk di pelaminan menunggu mempelai pria
·         Dalam selang waktu tersebt sang dukun membacakan mantera dan doa di depan tempat pemujaan para leluhurnya untuk memita restu agar perkawinan berjalan bahagia dan sejahtera.
·         Pembacaan doa dan ,mantera oleh dukun di tuwuhan, yaitu tempat yang akan digunakan upacara wologoro dan di tempat ini diletakan sesajen.
·         Setelah calonpria tiba di rumah calon pengantin wanita maka dijemput oleh pihak keluarga wanita dari luar rumah dengan sesaji berupa telur ayam  kampong, daun sirih,beras, uang logam dan air bunga setaman yang diletakan di depan pelaminan.
·         Dan ketika caalon mempelai lelaki tiba dirumah, maka disambut calon mempelai wanita dan kemudian dilaksanakan rituam temanten yaitu:
o   Melempar daun sirih
o   Dukun membacakan mantera di tempat pipisan, yaitu tempat pertemuan mempelai
o   Mempelai pria menginjak telur ayam kampong
o   Mempelai wanita membasuh kaki mempelai pria dengan air bunga setaman. Kedua mempelai dipersatukan tangannya dan diberi beras, kemudian beras tersebut bersama sama di taburkan.
o   Selanjutnya mempelai duduk di pelaminan dan sungkeman kepada kedua orang tua.
o   Makan bersama
Setelah penerimaan mempelai pria oleh mempelai wanita selesai makan selanjutnya adalah pelaksanaan upacara inti yaitu upacara perkawinan wologoro.
Urutan  perkawinan
  1. Upaca mengundang besan
Upacara dilakukan oleh pengantin pihak wanita dengan tujuan mengadakan penghormatan bagi orang tua pihak laki.
  1. Upacara Nurunen
Pembacaan doa dan mantera oleh dukun untuk menurunkan roh para leluhur.
  1. Upacara Bebanten Gelang
Upacara pengikatan sebuah benang sebagai symbol telah di sah kan oleh beberapa orang dan disaksikan oleh leluhur bahwa telah terikatnya usatu perkawinan.
  1. Upacara Dedulitan
Upacara memercikan air suci pada orang tua dan seluruh sanak saudara serta seluruh perabot rumah tangga. Hal ini sebagai symbol minta izin kepada seluruh keluarga.
  1. Penyembahan Leluhur
Upacara untuk memohon doa restukepada para leluhur.

Penutup

Penutup
Suku bangsa Jawa, adalah suku bangsa terbesar di Indonesia. Jumlahnya mungkin ada sekitar 90 juta. Suku bangsa Jawa sebagian besar menggunakan bahasa Jawa dalam bertutur sehari-hari. Orang Jawa memiliki sebagai sukubangsa yang sopan dan halus. Orang Jawa terkenal dengan budaya seninya yang terutama dipengaruhi oleh agama Hindu-Buddha, yaitu pementasan wayang. Masyarakat Jawa juga terkenal akan pembagian golongan-golongan sosialnya. Melihat keunikan masyarakat suku Tengger
,saya kagum kepada mereka dalam mempertahankan tradisi asli dari leluhur mereka. Keharmonisan dengan alam tidak hanya diwujudkan dalam upacara-upacara yang ada , melainkan juga diwujudkan melalui relasi dengan sesama. Upacara-upacara yang ada, yang melibatkan seluruh masyarakat suku Tengger memperlihatkan bahwa keharmonisan yang berdimensi vertikal dan horisontal patut diperjuangkan. Mereka sangat menyadari segala keterbatasan yang ada dalam diri mereka, lebih-lebih dalam mengusahakan hidup yang baik. Melalui beragam persembahan yang mereka bawa dari masing-masing rumah ke kurban persembahan dalam berbagai upacara, mereka hendak mengucap syukur atas segala kebaikan-kebaikan dalam hidup mereka sekaligus mohon kelanjutan dari berkat itu. Tampak dalam kehidupan mereka sehari-hari yang bersahaja. Tidak adanya tingkat-tingkat dalam bahasa pengantar sehari-hari, tidak adanya kasta sebagaimana terdapat pada masyarakat Hindu pada umumnya menunjukkan bahwa kesejajaran setiap individu dalam kebersamaan mereka sangat dijunjung tinggi. Selain itu, kehadiran mereka dalam melaksanakan berbagai upacara semakin mempererat komunitas mereka dan semakin mempertegas identitas mereka sebagai bagian dari masyarakat suku Tengger baik di antara sendiri maupun di mata pihak luar. .
Namun, saya mempunyai keprihatinan akan kelestarian tradisi ini 



Daftar Pusaka:
Capt. R. P. Suyono, Mistisme Tengger, PT. LKIS Printing Cemerlang Juni 2009

http://id.wikipedia/wiki/dialekjawa 
Buku ajar “Ilmu sosial dan Budaya dasar”. 2001. Padang : UNP 
http://id.wikipedia.org/wiki/dialektengger




http://id.wikipedia/wiki/sukutengger

 

Ciri khas dan Keunikan Suku Tengger

Dalam hal berbusana, pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Tengger memang tidaklah jauh berbeda dari masyarakat Jawa. Kaum wanitanya menggunakan kebaya pendek dan kain panjang tanpa wiron atau sarung tutup kepala dan selendang batik lebar. Kaum prianya berpakaian sehari-hari sebagaimana masyarakat pertanian di Jawa. Biasanya mereka memakai baju longgar dan celana panjang di atas mata kaki, berwarna hitam. Di bagian dalam, memakai kaos oblong. Udeng dan sarung tidak tertinggal.
Untuk pakaian resmi pun mereka menggunakan beskap,celan panjang hitam,dua kain berwarna kuning (Kampuh).dimana satu Kampuh dipakai secara dislempangkan / menyilang dipundak kanan yang kedua ujungnya disatukan.dan kain Kampuh yang satu dipakai secara melingkar di perut ( seperti sabuk ) dan memakai Udeng Tengger sebagai penutup kepala bagi kaum lelaki.Dalam pemakaian Udeng Tengger bagi pemakainya tidak diperbolehkan menggunakan Udeng yang telah jadi / permanen ( seperti blangkon jogja / udeng bali, madura dll) melainkan harus di pakai dengan menata dan mengikatnya pada saat di perlukan.( dipakai sendiri / dibantu orang lain). Ada berbagai macam cara memakai sarung karena didalam tradisi Tengger terdapat makna atau arti didalam tatacara dan kegunaannya. Tidak kurang dari 7 (tujuh) cara bersarung yang mereka kenal. Masing- masing cara ini memiliki istilah dan kegunaan sendiri.

1. Kekaweng
Digunakan untuk bekerja, cara menggunakannya kain sarung dilipat dua, kemudian disampirkan ke pundak bagian belakang dan kedua ujungnya diikat jadi satu. Cara ini disebut kakawung, yang dimaksudkan agar bebas bergerak pada waktu ketempat mengambil air atau kepasar. Cara bersarung seperti ini tidak boleh digunakan untuk bertamu dan melayat.

2. Sesembong
Sedang untuk pekerjaan yang lebih berat, seperti bekerja diladang atau pekerjaan-pekerjaan lain yang memerlukan tenaga lebih besar, mereka menggunakan sarung dengan cara sesembong. Sarung dilingkarkan pada pinggang kemudian diikatkan seperti dodot (di diatas perut di bawah dada) agar tidak mudah terlepas.

3. Sempetan ( sempretan,jawa)
Saat bertamu, mereka mengenakan sarung sebagaimana masyarakat umumnya, yaitu ujung sarung dilipat sampai kegaris pinggang. Cara ini disebut Sempetan.

4. Kekemul
Sementara itu, pada saat santai dan sekedar berjalan-jalan, mereka menggunakan sarung dengan cara kekemul. Setelah disarungkan pada tubuh, bagian atas dilipat untuk menutupi kedua bagian tangannya, kemudian digantungkan di pundak.

5. Sengkletan
Agar terlihat rapi pada saat bepergian mereka menggunakan cara sengkletan. Kain sarung cukup disampirkan pada pundak secara terlepas atau bergantung menyilang pada dada

6. Kekodong
Cara lain yang sangat khas, yang sering dijumpai pada saat masyarakat Tengger berkumpul di tempat - tempat upacara atau keramaian lainnya di malam hari adalah cara kekodong. Dengan ikatan di bagian belakang kepala kain sarung dikerudungkan sampai menutupi seluruh bagian kepala, sehingga yang terlihat hanya mata saja.

7. Sampiran
Anak-anak muda Tengger pun memiliki cara bersarung tersendiri, yang disebut sampiran. Kain sarung disampirkan di bagian atas punggung. Kedua bagian lubangnya dimasukkan pada bagian ketiak dan disangga ke depan oleh kedua tangannya.

Dalam hal berbusana, pakaian sehari-hari yang dikenakan masyarakat Tengger memang tidaklah jauh berbeda dari masyarakat Jawa. Kaum wanitanya menggunakan kebaya pendek dan kain panjang tanpa wiron atau sarung tutup kepala dan selendang batik lebar. Kaum prianya berpakaian sehari-hari sebagaimana masyarakat pertanian di Jawa. Biasanya mereka memakai baju longgar dan celana panjang di atas mata kaki, berwarna hitam. Di bagian dalam, memakai kaos oblong. Udeng dan sarung tidak tertinggal.
Untuk pakaian resmi pun mereka menggunakan beskap,celan panjang hitam,dua kain berwarna kuning (Kampuh).dimana satu Kampuh dipakai secara dislempangkan / menyilang dipundak kanan yang kedua ujungnya disatukan.dan kain Kampuh yang satu dipakai secara melingkar di perut ( seperti sabuk ) dan memakai Udeng Tengger sebagai penutup kepala bagi kaum lelaki.Dalam pemakaian Udeng Tengger bagi pemakainya tidak diperbolehkan menggunakan Udeng yang telah jadi / permanen ( seperti blangkon jogja / udeng bali, madura dll) melainkan harus di pakai dengan menata dan mengikatnya pada saat di perlukan.( dipakai sendiri / dibantu orang lain).
















Orang Tengger Suka Memakan Bawang
Nah saya juga baru tahu suku tengger suka memakan bawang,menurut yang saya baca alasannya adalah Menurut penduduk Tengger ‘bawang’ adalah pemberian khusus dari Brahma. Pada awalnya daerah Tengger yang masih berupa hutan belantara dan mulai dihuni oleh kaum Brahma untuk pertama kalinya. Namun anehnya di daerah Tengger yang masih berupa hutan belantara itu mereka menemukan sebuah hunian manusia di lereng Gunung Semeru. Pimpinan mereka yang bernama Ki Dadap Putih mengajak dan menyuruh pengikutnya untuk menyelidiki mereka, karena dia mereka yang hidup di lereng Semeru berasal dari kasta yang sama kasta Brahma dan mereka juga ingin belajar kepada suku yang berada di lereng Semeru tentang tata cara mereka bercocok tanam karena di lereng Tengger padi pun tidak dapat tumbuh dan Ki Dadap Putih beserta rombongan menderita kelaparan. Pada suatu malam Ki Dadap Putih beserta rombongan melakukan perjalanan menuju lereng Semeru untuk berkunjung dan belajar tata cara bercocok tanam, sekiranya sampai di tempat yang dimaksud, mereka hanya menemukan sepasang laki-laki dan perempuan dan kedua orang itu adalah seorang tapa (petapa laki-laki) dan endan (petapa perempuan) kehidupannya hanya diisi oleh sembayang dan dapat hidup dari tumbuh-tumbuhan, buah-buahan dan akar-akar yang berada di sekitarnya.
Ki Dadap Putih meminta kepada keduanya untuk mendo’akan keselamatan  rombongan yang masih berada di Tengger, permintaannya adalah agar daerah yang akan mereka huni menjadi subur. Ternyata keinginan mereka terkabul, pada suatu malam pertapa endang bermimpi bertemu dengan seorang bidadari (pitri) dan memberikan dua biji benih yang berwarna merah dan putih. Sang Bidadari bersabda : Benih yang berwarna merah sudah dapat ditanam keesokan harinya dan diberi nama bawang abang. Benih yang berwarna putih baru dapat ditanam pada awal bulan baru kemudian diberi nama bawang putih. Dan hasil dari pada kedua benih ini harus diberikan kepada orang Tengger yang telah lebih dulu tinggal disana yaitu penganut Brahma. Sang peri juga    berpesan : “Katakan kepada mereka bahwa benih-benih ini akan mendatangkan kebahagiaan bagi mereka dan keturunannya. Selain itu, ketangan (kentang) dan tanaman-tanaman lain akan dapat tumbuh di samping bibit-bibit ini. Bibit inilah yang akan menyuburkan tanah-tanah yang kurang subur ini. Dan janganlah menanam padi di dataran maupun lereng Gunung Tengger apabila hal itu dilakukan maka seluruh daerah itu akan menjadi tidak subur lagi.
Kemudian keesokan harinya tapa memberikan benih itu kepada Ki Dadap Putih dan berkata bahwa benih ini adalah pemberian langsung dari peri kayangan. Mendengar cerita itu para brahma Tengger langsung menanam benih bawang-bawang tersebut dan tanah beserta tanaman lainnya dapat tumbuh dengan subur seperti bibit kentang dan tanaman menjalar lainnya, semenjak itulah kehidupan orang Tengger menjadi makmur dan bahagia.






orang tengger

pengetahuan


Sistem Pengetahuan
Sistem Pengetahuan masyarakat tengger pada umumnya masih tradisional, dan masih berorientasi pada kebudayaan lama, namun karena adanya pengaruh dari luar melalui pariwisata maupun komunikasi maka sistem pengetahuannya sudah mulai mengacu ke sistem pengetahuan yang modern.

Sistem Kalender Suku Tengger 


Suku Tengger sudah mengenal dan mempunyai sistem kalender sendiriyang mereka namakan Tahun Saka atau Saka Warsa., jumlah usia kalender sukutengger berjumlah 30 hari (masing-masing bulan dibulatkan),tetapi ada perbedaan penyebutan usia hari yaitu antara tanggal 1 sampai dengan 15 disebut tanggal hari,dan 15 sampai 30 disebut Panglong Hari (penyebutannya adalah Panglongsiji,panglong loro dan seterusnya) . Pada tanggal dan bulan tertentu terdapat tanggal yang digabungkan yaitu tumbuknya dua tanggal. Pada tanggal Perhitungan Tahun Saka di Indonesia jatuh pada tanggal 1 (sepisan) sasih kedhasa (bulan ke sepuluh), yaitu sehari setelah bulan tilem (bulan mati), tepatnya pada  bulan  Maret dalam Tahun Masehi. Cara menghitungnya dengan rumus : tiap bulan berlangsung 30 hari, sehingga dalam 12 bulan terdapat 360 hari. Sedangkan untuk wuku dan hari pasaran tertentu dianggap sebagai wuku atau hari tumbuk, sehingga ada dua tanggal yang harus disatukan dan akan terjadi pengurangan jumlah hari pada tiap tahunnya.Untuk melengkapi atau menyempurnakannya diadakan perhitungan kembali setiap lima tahun, atau satu windu tahun wuku. Pada waktu itu ada bulan yang ditiadakan, digunakan untuk mengadakan perayaan Unan-unan,yang kemudian tanggal dan bulan seterusnya digunakan untuk memulai bulan berikutnya, yaitu bulan Dhesta atau bulan ke-sebelas. MECAK (PerhitunganKalender Tengger ),istilah mecak biasanya digunakan untuk menghitung ataumencari tanggal yang tepat untuk melaksankan Upacara-upacara besar sepertiKaro,Kasada maupun Upacara Unan-unan. Setiap Dukun Sepuh telah mempunyai persiapan atau catatan tanggal hasil Mecak untuk tiap ± tiap Upacara yang akandilaksanakan sampai lima tahun ke depan.

Nama- Nama Hari Suku Tengger

1. Dhite         : minggu 
2. Shoma         : senin 
3. Anggara    : selasa 
4. Budha               : r a b u 
5. Respati        : kamis 
6. Sukra                 : jumat 
7. Tumpek     : sabtu




Nama nama bulan Suku Tengger


1. Kartika                    : kasa 
2. Pusa                        : karo
3. Manggastri                : katiga 
4. Sitra                                        : kapat
5. Manggakala             : kalima
6. Naya             : kanem
7. Palguno         : kapitu 
8. Wisaka                      :kawolu 
9. Jito             : kasanga 
10. Serawana             : kasepoloh
 11. Pandrawana        : destha 
12. Asuji           : kasada