Suku Dani, Lembah Baliem-Papua


Suku Dani, Lembah baliem – Papua


-       Latar belakang Kebudayaan

Di pegunungan tengah Irian Jaya, terletak sebuah lembah besar dengan panjang 72 km  dan  lebar 16 - 31 km, dihuni oleh  prajurit dan petani Neolitik. Suku Dani dan suku-suku sub lain seperti Yali dan Lani dengan budaya mereka yang sangat kompleks dan primitif, yang masih terlihat seperti "zaman batu".Lembah Baliem terletak di Kabupaten Wamena, Irian Jaya, yang dikenal sebagai rumah dari suku asli Papua.

Suku Dani adalah Suatu suku yang mendiami satu wilayah di Lembah Baliem yang dikenal sejak ratusan tahun lalu sebagai petani yang terampil dan juga dahulu terkenal sudah menggunakan alat alat perkakas bahkan disaat diketemukan oleh para ahli, warga suku dani telah mengenal penggunaan perkakas-perkakas seperti: kapak batu, pisau yang terbuat dari tulang binatang dan lain sebagainya. Mereka hidup diantara belukar, masih memelihara serta mengangkat babi sebagai hewan peliharaannya atau bisa dikatakan hewan buruannya. Mereka masih menggunakan teknologi Neolitik dari Dunia masa lalu. Ada sekitar kurang lebih  250.000 suku Dani yang hidup di pegunungan tengah. Lembah Baliem. Salah satu suku tertua di dataran papua yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi  di Provinsi Papua. 

Suku Dani membangun pondok mereka dalam suatu lingkungan yang baik, dimana  mengekspresikan adaptasi lingkungan dan karakter Dani. Suhu dari dataran tinggi yang berkisar antara 26 derajat Celcius pada siang hari dan 12 derajat pada malam hari. Hutan-hutan di mana suku Dani bermukim sangat kaya akan flora dan fauna yang tak jarang bersifat endemic seperti cenderawasih, mambruk, nuri bermacam-macam insect dan kupu-kupu yang beraneka ragam warna dan coraknya.Untuk budaya dari Suku Dani sendiri, meskipun suku Dani penganut Kristen, banyak diantara upacara-upacara mereka masih bercorak budaya lama yang diturunkan oleh nenek moyang mereka. Suku Dani percaya terhadap rekwasi. Seluruh upacara keagamaan diiringi dengan nyanyian, tarian dan persembahan terhadap nenek moyang. Peperangan dan permusuhan biasanya terjadi karena masalah pelintasan daerah perbatasan, wanita dan pencurian. Pada rekwasi ini, para prajurit biasanya akan membuat tanfa dengan lemak babi, kerang, bulu-bulu, kus-kus, sagu rekat, getah pohon mangga, dan bunga-bungaan di bagian tubuh mereka. Tangan mereka menenteng senjata-senjata tradisional khas suku Dani seperti tombak, kapak, parang dan busur beserta anak panahnya. Salah satu kebiasaan unik lainnya dari suku Dani sendiri adalah kebiasaan mereka mendendangkan nyanyian-nyanyian bersifat heroisme dan atau kisah-kisah sedih untuk menyemangati dan juga perintang waktu ketika mereka bekerja. Untuk alat musik yang mengiringi senandung atau dendang ini sendiri adalah biasanya adalah alat musik pikon, yakni satu alat yang diselipkan diantara lubang hidung dan telinga mereka. Disamping sebagai pengiring nyanyian, alat ini pun berfungsi ganda sebagai isyarat kepada teman atau lawan di hutan kala berburu.

Ini merupakan rumah adat suku dani di lembah baliem – papua. rumah ini bernama Rumah Honai. Rumah honai merupakan rumah adat di Papua yang terbuat terbuat dari kayu. Yang membuat unik adalah atapnya yang berbentuk setengah bola atau kubah dan terbuat dari jerami atau ilalang. Rumah Honai begitu kecil, sempit, dan tidak berjendela. dibangun seperti itu untuk menahan Udara dingin dari pegunungan sekitar Papua, rumah adat ini setinggi 2,5 meter Walaupun hanya setinggi 2,5 meter, rumah Honai terdiri dari dua lantai. Lantai pertama digunakan sebagai tempat tidur. Di lantai dua, ruangan yang digunakan sebagai tempat istirahat, makan, dan mengerjakan kerajinan tangan. Disetiap Antar lantai dihubungkan dengan tangga yang terbuat dari bambu.Rumah Honai biasa ditempati oleh 5-10 orang. Secara fungsinya, rumah ini terbagi dalam tiga tipe, yaitu rumah untuk kaum laki-laki yang disebut Honai, rumah untuk perempuan atau Ebei, dan untuk kandang babi atau Wamai. Semua bentuknya sama, namun fungsinya yang berbeda.Dalam satu komplek perumahan adat ini, kita dapat menemukan beberapa Honai. Uniknya, jumlah Ebei yang ada menandakan jumlah istri, karena laki-laki di daerah ini memiliki istri lebih dari satu, terutama kepala suku. Meskipun rumah adat Honai merupakan rumah tinggal bagi masyarakat adat suku Dani, akan tetapi kita tidak akan menemukan alat-alat perabotan atau perlengkapan rumah tangga seperti kasur, meja ataupun kursi didalamnya. Itu karena masyarakat suku dani masih menerapkan system tradisional dalam penerapan kehidupannya bahkan untuk alas tidur saja masyarakat suku dani masih menggunakan rerumputan kering sebagai alas tidur mereka.

a.    Lokasi Suku Dani
Letak Geografis suku Dani
Secara geografi Kabupaten Jayawijaya terletak antara 30.20 sampai 50.20′ Lintang Selatan serta 1370.19′ sampai 141 Bujur Timur. Batas-batas Daerah Kabupaten Jayawijaya adalah sebagai berikut : Sebelah Utara dengan Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Yapen Waropen, Barat dengan Kabupaten Paniai, Selatan dengan Kabupaten Merauke dan Timur dengan perbatasan negara Papua New Guinea.

Topografi Kabupaten Jayawijaya terdiri dari gunung-gunung yang tinggi dan lembah-lembah yang luas. Diantara puncak-puncak gunung yang ada beberapa diantaranya selalu tertutup salju misalnya Pucak Trikora 4750 m, Puncak Yamin 4595m dan Puncak Mandala 4760m. Tanah pada umumnya terdiri dari batu kapur/gamping dan granit terdapat di daerah pegunungan sedangkan di sekeliling lembah merupakan percampuran antara endapan Lumpur, tanah liat dan lempung.

Klimatologis suku Dani
Suku Dani menempati daerah yang beriklim tropis basah karena dipengaruhi oleh letak ketinggian dari permukaan laut, temperatur udara bervariasi antara 80-200Celcius, suhu rata-rata 17,50 Celcius dengan hari hujan 152,42 hari pertahun, tingkat kelembaban diatas 80 %, angin berhembus sepanjang tahun dengan kecepatan rata-rata tertinggi 14 knot dan terendah 2,5 knot.

b.    Demografis
Demografi
- Suku bangsa Papua (52%), Non Papua/Pendatang (48%) (2002)
* Papua: Suku Aitinyo, Suku Aefak, Suku Asmat, Suku Agast, Suku Dani, Suku Ayamaru, Suku Mandacan, Suku Biak, Suku Serui, Suku Mee, Suku Amungme, Suku Kamoro
* Non-Papua/Pendatang: Jawa, Makassar, Bugis, Batak, Minahasa, Huli, Tionghoa,

c.    Sejarah
Peradapan Manusia Papua, Khususnya Suku Dani yang mendiami daerah lembah baliem merupakan peradapan Suku yang bisa dikatakan masih sangat baru. Suku Dani yang mendiami daerah Lembah Baliem merupakan salah satu Suku Terbesar yang mendiami Wilayah Pegunungan Tengah Papua Selain Suku Dani Wilayah Pegunungan Tengah Papua didiami oleh suku, Ekari, Moni, Damal, Amugme dan beberapa sub suku lainnya.

Suku Dani yang mendiami wilayah lembah baliem dan sekitarnya diperkirakan merupakan suku yang berasal dari wilayah Timur Lembah Baliem atau di kenal dengan nama daerah yali (pada saat ini masuk dalam kabupaten Yalimo dan Kabupaten Yahokimo). Sehingga berdasarkan cerita rakyat yang sering dibicakan oleh orang tua bahwa nenek moyang suku dani berasal dari orang Yali. Mitos menceritakan bahwa orang pertama/ manusia pertama suku Dani bernama Pumpa (Pria) dan Nali nali(Wanita) yang masuk ke Lembah Baliem dari arah timur melalui sebuah Goa. Ada beberapa sumber yang mengatakan Goa pertama tempat keluarnya manusia pertama ini berasal dari Goa Kali Huam (Daerah Siepkosy), ada pula yang mengatakan dari Goa di Daerah Pugima dan sebagian mengatakan bahwa keluarnya Manusia pertama suku dani ini berasal dari dari Pintu masuk angin di daerah Kurima.

keberadaan pulau papua sendiri baru ditemukan pada tahun 1511 oleh bangsa portugis dalam perjalananya mencari rempah-rempah. Sedangkan suku Dani sendiri baru ditemukan pada tahun 1954 oleh Lourentz pada saat melakukan ekspedisi ke G.Trikora. Sampai dengan saat ini diperkirakan Suku Dani yang mendiami wilayah lembah baliem merupakan Generasi ke 5 Suku Dani, bila ditarik dari cerita-cerita peradapan Nenek Moyang Suku Dani. Dengan Perkembangan Teknologi yang sangat pesat, dimana peradapan Suku Dani yang kala itu masih berada pada Zaman Batu dihadapkan pada peradapan Kehidupan modern, langsung melewati beberapa tahapan peradapan tentunya menjadi sebuah ancaman serius bagi Suku Dani dalam peradapan Suku yang semakin melupakan Budayanya ini.

d.    Modernisasi
Modernisasi mengandung pengertian pembaharuan yang meliputi seluruh aspek kehidupan, pergantian cara poduksi, pikiran dan perasaan yang mengarah kepada hal-hal yang baru: nilai-nilai/norma-norma sosial, pola-pola perilaku, organisasi, lembaga-lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang serta interaksi sosial dan seterusnya untuk suatu kehidupann yang lebih baik dan lebih layak. Modernisasi merupakan proses sistematik. Modernisasi melibatkan perubahan pada hampir segala aspek tingkah laku sosial, termasuk didalamnya industrialisasi, urbanisasi, sekularisasi, sentralisasi dan sebagainya. Dalam rangka mencapai status modern, struktur dan nilai-nilai tradisional secara total harus diganti dengan seperangkat sruktur dan nilai-nilai modern. Untuk hal ini, Huntington , menyatakan, bahwa teori modernisasi melihat ‘modern’ dan ‘tradisional’ sebagai dua konsep yang pada dasarnya bertentangan (asimetris). Sampai bulan April 1954, waktu beberapa orang pendeta Nasrani dari Amerika Serikat dari organasasi penyiaran agama Cristian and Missionary Alliance (disingkat CAMA) tiba, orang Palim masih hdup terpencil dari dunia luar. Mereka pada waktu itu masih menggunakan alat batu yang sama bentuknya seperti oleh para ahli prasejarah diperkirakan berasal dari kala Neolitik, sehingga mereka seakan-akan masih berada dalam Zaman Batu Neolitik. Para pendeta itu kemudian beberapa pusat penyiaran agam di bagian selatan Lembah Balim di daerah konfederasi Asso-Lokobal/Asso-Wetipo (sic). Dengan kehadiran para pendeta itu sebahagian orang Dani tiba-tiba dihadapkan pada dunia luar yang diwakili orang-orang bule, yang cara hdupnya dilengkapi peralatan yang serba modern, dari yang berukuran kecil yang dipakai sehari-hari, sampai pesawat terbang, yang mereka gunakan sebagai alat transportasi untuk keluar masuk daerah Lembah Balim. Kontak dengan dunia luar menjadi lebih merata ketika pemerintah Belanda dalam tahun 1956 mendirikan pos pemerintah di Wamena, yang dilengkapi dengan lapangan terbang yang dapat didarati pesawat-pesawat sebesar Dakota dan ketika organisasi penyiaran agama Katolik Minnebriders Fransiskanan membuka pusat kegiatannya di Wamena dua tahun kemudian.

Kontak awal suku Dani di Balim terjadi pada tahun 1926, dengan kedatangan expedisi ilmiah Steerling. Proses modernisasi pada masyarakat Balim seperti dicatat dalam buku ‘Kebuadayaan Jayawi Jaya’, disunting Astrid Susanto (1994) terjadi menurut tahapan kurun waktu, sebagai berikut :
1). Masa kontak expedisi Steerling pada tahun 1926;
2). Masa kontak budaya pada tahun 1954-1962.
Kontak modernisasi disini lebih pada budaya material (kapak, pembukaan pos-pos pemerintah/missi serta pembukaan jalan-jalan raya (zaman pemerintahan kolonial Belanda).
3). Masa integrasi pada tahun 1963-1969.
Pada masa ini Suku Dani terintegrasi kedalam negara RI melalui Penpres 1 tahun 1963 dan pada tanggal 16 September 1969 dengan peristiwa Pepera.
4). Masa awal pembangunan pada tahun 1970-1974.
Pada masa ini pembangunan belum banyak tampak, banyak sekolah dibuka, komunikasi cukup lancar, perumahan dikota Wamena makin bertambah, pos-pos di kecamatan dan jalan-jalan raya dibangun, rumah sakit dan seterusnya.
5). Masa Adaptasi pada tahun 1975-1981. Pada masa ini banyak pendekatan pembangunan dilakukan sebagai adaptasi sosial-budaya, Pemerintah Desa dibentuk menurut UU Mendagri No. 5 Thn 1974, kursus pelopor pembangunan desa dibuka (KPPD) sebagai tempat pengkaderan dari wakil tiap desa yang dibentuk. Proses pembangunan diterima baik dalam bernahasa Indonesia yang baik dan banyak hal mengalami penyesuaian dan perubahan.
6.). Masa transisi pada tahun 1982- sampai sekarang
Sebgaimana pada umumnya daerah Pegunungan Tengah Papua, dalam tahun 1980-1990 awal, Suku Dani, banyak di jumpai kaum prianya mengenakan busana Koteka dan rumbai bagi wanitanya. Dikota kini tidak banyak dijumpai, namun daerah-daerah yang masih terisolasi dan jauh dari pusat pemerintahan banyak terdapat penduduknya yang masih mengenakan Koteka sebagai lambang ketertinggalan dan keterbelakangan.
Usaha moderinisasi baru dilakukan oleh oleh aparat militer Indonesia seperti dalam operasi task force oleh Gubernur Aqub Zaenal pada tahun 1970-an awal. Tapi dalam pengertian sesungguhnya usaha modernisasi dilakukan oleh Missionaris dan pemerintah Indonesia.


 Sumber Referensi:
http://irnawijayanti.wordpress.com/kebudayaan/
http://budayanusantara.blogsome.com/2010/09/29/mengenal-lebih-dekat-suku-dani/
http://www.anneahira.com/budaya-suku-dani.htm
http://alanmn.wordpress.com/2011/05/10/dari-lembah-baliem-mengenal-lebih-dekat-suku-dani/
http://palingindonesia.com/mengenal-suku-dani-di-tanah-papua/
http://www.indonesiabox.com/s/sejarah-suku-dani/page/3/
http://www.facebook.com/note.php?note_id=415931708956
http://travel.detik.com/read/2012/02/10/104327/1839108/1025/honai-rumah-unik-dari-lembah-baliem


Suku Dani – Lembah Baliem, Papua

Suku Dani adalah salah satu suku bangsa yang terdapat di Wamena, Papua, Indonesia yang membentang di antara lekukan lekukan Pegunungan Tengah Jaya Wijaya. Di lembah inilah masyarakat Suku Dani hidup Harmonis dan menyatu dalam pelukan pegunungan yang mengelilinginya serta alam Papua yang indah dan menawan

Pada decade terakhir ini  suku yang paling terisolasi oleh rawa dan pegunungan. Mereka hidup diantara belukar, masih memelihara serta mengangkat babi sebagai hewan peliharaannya atau bisa dikatakan hewan buruannya. Mereka masih menggunakan teknologi Neolitik dari Dunia masa lalu. Ada sekitar kurang lebih  250.000 suku Dani yang hidup di pegunungan tengah. Lembah Baliem. Salah satu suku tertua di dataran papua yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi  di Provinsi Papua.  Suku Dani membangun pondok mereka dalam suatu senyawa yang baik, dimana  mengekspresikan adaptasi lingkungan dan karakter Dani. Suhu dari dataran tinggi yang berkisar antara 26 derajat Celcius pada siang hari dan 12 derajat pada malam hari. Hutan-hutan di mana suku Dani bermukim sangat kaya akan flora dan fauna yang tak jarang bersifat endemic seperti cenderawasih, mambruk, nuri bermacam-macam insect dan kupu-kupu yang beraneka ragam warna dan coraknya.Untuk budaya dari Suku Dani sendiri, meskipun suku Dani penganut Kristen, banyak diantara upacara-upacara mereka masih bercorak budaya lama yang diturunkan oleh nenek moyang mereka. Suku Dani percaya terhadap rekwasi. Seluruh upacara keagamaan diiringi dengan nyanyian, tarian dan persembahan terhadap nenek moyang. Peperangan dan permusuhan biasanya terjadi karena masalah pelintasan daerah perbatasan, wanita dan pencurian.

Pada rekwasi ini, para prajurit biasanya akan membuat tanfa dengan lemak babi, kerang, bulu-bulu, kus-kus, sagu rekat, getah pohon mangga, dan bunga-bungaan di bagian tubuh mereka. Tangan mereka menenteng senjata-senjata tradisional khas suku Dani seperti tombak, kapak, parang dan busur beserta anak panahnya.

Salah satu kebiasaan unik lainnya dari suku Dani sendiri adalah kebiasaan mereka mendendangkan nyanyian-nyanyian bersifat heroisme dan atau kisah-kisah sedih untuk menyemangati dan juga perintang waktu ketika mereka bekerja. Untuk alat musik yang mengiringi senandung atau dendang ini sendiri adalah biasanya adalah alat musik pikon, yakni satu alat yang diselipkan diantara lubang hidung dan telinga mereka. Disamping sebagai pengiring nyanyian, alat ini pun berfungsi ganda sebagai isyarat kepada teman atau lawan di hutan kala berburu.

Jajaran Pegunungan Trikora jadi benteng alami sekaligus penyedia kehidupan. Di lereng pegunungan ini, mereka bercocok tanam dan beternak hewan. Tanah vulkanis yang gembur pun ditanami umbi-umbian, jahe, pisang, dan timun.

Sebagai suku yang masih terjaga keasliannya, masyarakat Dani membuat peralatan sederhana berbahan batu dan tulang. Tulang-tulang itu mewakili gaharnya Suku Dani, yang juga terkenal sebagai pejuang. Sedangkan batu menjadi basis tradisi Bakar Batu, yakni memasak babi di atas batu panas.

Indahnya lembah dari ketinggian, liukan sungai dengan air penyedia kehidupan, serta suku Dani yang menjaga keseimbangan alam. Suku Dani adalah Suatu suku yang mendiami satu wilayah di Lembah Baliem yang dikenal sejak ratusan tahun lalu sebagai petani yang terampil dan juga dahulu terkenal sudah menggunakan alat alat perkakas bahkan disaat diketemukan oleh para ahli, warga suku dani telah mengenal penggunaan perkakas-perkakas seperti: kapak batu, pisau yang terbuat dari tulang binatang dan lain sebagainya.

Di pegunungan tengah Irian Jaya, terletak sebuah lembah besar dengan panjang 72 km  dan  lebar 16 - 31 km, dihuni oleh  prajurit dan petani Neolitik. Suku Dani dan suku-suku sub lain seperti Yali dan Lani dengan budaya mereka yang sangat kompleks dan primitif, yang masih terlihat seperti "zaman batu".Lembah Baliem terletak di Kabupaten Wamena, Irian Jaya, yang dikenal sebagai rumah dari suku asli Papua.

-           Bahasa Suku Dani
a.    Sistem Ide suku Dani
Bahasa Daerah Suku Dani yang mendiami Daerah Lembah Baliem menggunakan Bahasa-bahasa yang masuk dalam bahasa Papua dari filum Trans-New Guinea. Bahasa Daerah yang digunakan pun mempunyai perbedaan dialog dan pengucapan antar satu wilayah dengan wilayah Daerah lainnya walaupun masih berada dalam jangkauan jarak tempuh yang boleh dikatakan masih dekat.

Sketsa Peta Penyebaran Bahasa Dani di Daerah Lembah Baliem dan sekitarnya

Secara garis basar Bahasa dani dikenal dalam tiga bagian besar bahasa yaitu, bahasa dani lembah (Daerah sekitar kota Wamena/Kab.Jayawijaya), Bahasa Dani Barat (Daerah Bag Barat kota Wamena (Kab.Lany Jaya, Kab.Puncak Jaya, dan Kab Tolikara) serta Bahasa Dani Timur /Bahasa Yali (Kab Yahokimo dan Kab Yalimo).

Masyarakat Lokal di Daerah Lembah Baliem sendiri sebagian besar sudah dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan dialek atau bahasa Wamena/Papua.

b.    Sistem Perilaku
Bahasa Dani terdiri dari 3 sub keluarga bahasa, yaitu:- Sub keluarga Wano- Sub keluarga Dani Pusat yang terdri ataslogat Dani Barat dan logat lembah Besar Dugawa.- Sub keluarga Nggalik & ndash; DugawaSelain itu juga bahasa suku Dani termasuk keluarga bahasa Melansia dan bahasa Irian(secara umum).

c.    Wujud Budaya
Beberapa Kosa Kata Bahasa sehari-hari yang terdapat pada keseharian  Suku Dani yang mendiami Daerah Lembah Baliem Wamena-Papua

Ap= Pangilan buat Pria Dewasa
Dua = Pere
Ealak=Kecil
Eme =Sini
Empat = Perenen pere
Etai = Nyayian
He= Ibu sapaan buat wanita dewasa
Helekir=Batu
Hemulugar=Sedikit
Hipere=Ubi
Honai = rumah Adat
Huna= Udang
Hunila= Dapur
I=Air
Isoak=alat minum yg terbuat dari Labu
Kog= Besar
Lani=Jalan
Lauk = Selamat (buat kaum Wanita)
Lima = Sikirak
Moh=Matahari/Panas matahari
Nait=Malas
Naosa =Mama
Nayak = Selamat (buat Kaum Lelaki)
Neruak = Sapaan salam buat Saudara Perempuan
Nopa = Kakek
Nopase =Bapa
0=Kayu
Pikon=Alat musik
Sabokogo = Semua
Satu = Opakiat
Sue =Barung
Tiga = Henagan
Wam= Babi
Yak= Pangilan buat Pria remaja/pemuda
Yeke= Anjing
Yekerek =Panggilan buat anak lelaki


Sumber Referensi:
http://lembah-baliem.blogspot.com/2009/05/bahasa-daerah-suku-dani-lembah-baliem.html
http://nugrahenipisc.blogspot.com/2012/04/contoh-makalah-suku-dani-papua.html
http://www.scribd.com/doc/81714958/Adat-Dan-Budaya-Suku-Dani


Suku Dani, Lembah baliem – Papua
Suku Dani adalah Suatu suku yang mendiami satu wilayah di Lembah Baliem yang dikenal sejak ratusan tahun lalu sebagai petani yang terampil dan juga dahulu terkenal sudah menggunakan alat alat perkakas bahkan disaat diketemukan oleh para ahli, warga suku dani telah mengenal penggunaan perkakas-perkakas seperti: kapak batu, pisau yang terbuat dari tulang binatang dan lain sebagainya.

Di pegunungan tengah Irian Jaya, terletak sebuah lembah besar dengan panjang 72 km  dan  lebar 16 - 31 km, dihuni oleh  prajurit dan petani Neolitik. Suku Dani dan suku-suku sub lain seperti Yali dan Lani dengan budaya mereka yang sangat kompleks dan primitif, yang masih terlihat seperti "zaman batu".Lembah Baliem terletak di Kabupaten Wamena, Irian Jaya, yang dikenal sebagai rumah dari suku asli Papua.

Pada decade terakhir ini  suku yang paling terisolasi oleh rawa dan pegunungan. Mereka hidup diantara belukar, masih memelihara serta mengangkat babi sebagai hewan peliharaannya atau bisa dikatakan hewan buruannya. Mereka masih menggunakan teknologi Neolitik dari Dunia masa lalu. Ada sekitar kurang lebih  250.000 suku Dani yang hidup di pegunungan tengah. Lembah Baliem. Salah satu suku tertua di dataran papua yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi  di Provinsi Papua.  Suku Dani membangun pondok mereka dalam suatu senyawa yang baik, dimana  mengekspresikan adaptasi lingkungan dan karakter Dani. Suhu dari dataran tinggi yang berkisar antara 26 derajat Celcius pada siang hari dan 12 derajat pada malam hari. Hutan-hutan di mana suku Dani bermukim sangat kaya akan flora dan fauna yang tak jarang bersifat endemic seperti cenderawasih, mambruk, nuri bermacam-macam insect dan kupu-kupu yang beraneka ragam warna dan coraknya.Untuk budaya dari Suku Dani sendiri, meskipun suku Dani penganut Kristen, banyak diantara upacara-upacara mereka masih bercorak budaya lama yang diturunkan oleh nenek moyang mereka. Suku Dani percaya terhadap rekwasi. Seluruh upacara keagamaan diiringi dengan nyanyian, tarian dan persembahan terhadap nenek moyang. Peperangan dan permusuhan biasanya terjadi karena masalah pelintasan daerah perbatasan, wanita dan pencurian.

Pada rekwasi ini, para prajurit biasanya akan membuat tanfa dengan lemak babi, kerang, bulu-bulu, kus-kus, sagu rekat, getah pohon mangga, dan bunga-bungaan di bagian tubuh mereka. Tangan mereka menenteng senjata-senjata tradisional khas suku Dani seperti tombak, kapak, parang dan busur beserta anak panahnya.

Salah satu kebiasaan unik lainnya dari suku Dani sendiri adalah kebiasaan mereka mendendangkan nyanyian-nyanyian bersifat heroisme dan atau kisah-kisah sedih untuk menyemangati dan juga perintang waktu ketika mereka bekerja. Untuk alat musik yang mengiringi senandung atau dendang ini sendiri adalah biasanya adalah alat musik pikon, yakni satu alat yang diselipkan diantara lubang hidung dan telinga mereka. Disamping sebagai pengiring nyanyian, alat ini pun berfungsi ganda sebagai isyarat kepada teman atau lawan di hutan kala berburu.
Jajaran Pegunungan Trikora jadi benteng alami sekaligus penyedia kehidupan. Di lereng pegunungan ini, mereka bercocok tanam dan beternak hewan. Tanah vulkanis yang gembur pun ditanami umbi-umbian, jahe, pisang, dan timun.

Sebagai suku yang masih terjaga keasliannya, masyarakat Dani membuat peralatan sederhana berbahan batu dan tulang. Tulang-tulang itu mewakili gaharnya Suku Dani, yang juga terkenal sebagai pejuang. Sedangkan batu menjadi basis tradisi Bakar Batu, yakni memasak babi di atas batu panas.

Indahnya lembah dari ketinggian, liukan sungai dengan air penyedia kehidupan, serta suku Dani yang menjaga keseimbangan alam.

-       Kesenian Suku Dani
a.    Sistem Ide Suku Dani
Suku asal masyarakat Wamena adalah suku Dhani yang amat terkenal di seluruhpapua karena kebiasaan berperang, yang konon katanya Suku Dhani dan SukuAsmat merupakan suku asli bumi Cendrawasih Papua. Mereka sangat lihaimenggunakan panah dan ketapel. Selain panah dan ketapel dahulu kala merekamenggunakan parang yang terbuat dari batu dan pisau tusuk yang terbuat dari tulang ,belulang. Tulang yang biasa digunakan adalah tulang kaki burung Kasuari.Namun perang suku saat ini sudah jarang terjadi, yang ada adalah Perang-perangan di dataran luas yang telah disediakan. Acara tarian tradisional danperang-perangan dilaksanakan setahun sekali atau untuk menyambut tamukehormatan. Acara ini sekarang dikemas semacam festival perang-perangan diikuti oleh suku-suku di Wamena, untuk menggenang peristiwa perang suku yangbiasa dilakukan nenek moyang mereka waktu dulu, sejaligus unjuk kehebatanyang dilihat para penonton. Acara ini "Perang-perangan" ini digelar setiapmenyambut 17 Agustus untuk memperingati HUT Proklamasi dan dibiayai olehpemerintah daerah dalam rangka menjaga tradisi dan budaya serta menjadi dayatarik tersendiri bagi wisatawan dan mancanegara. Acara ini sangat unik danmenarik, banyak sekali di hadiri wisatawan asing dan mengabadikan dalam

bentuk film, umumnya arus turis meningkat hingga hotel-hotel penuh dan harus memesan terlebih dahulu.Selain alam, seni budaya, dan cara budidaya yang menarik di wamena adalah bahasa. Anda akan merasa asing dengan bahasa mereka. Namun saat ini mereka umumnya sudah dapat berbahasa Indonesia, bahkan sampai di daerah terpencil.Umumnnya mereka belajar bahasa Indonesia dari sekolahan dan gereja. Banyak dijumpai gereja disini, meskipun di Wilayah kota juga terdapat beberapa Masjid yang dibuat oleh para pendatang dan Tentara. Perbedaan agama dan adat tidak menjadi masalah bagi masyarakat Kota wamena atau Papua secara umum, mereka dapat membaur menjadi satu

b.    Sistem Perilaku

Seni Ukir
Sebagai wujud penghormatan mereka terhadap nenek moyang atau leluhurnya, secara turun temurun, pola seni ukir yang dibuat oleh suku Asmat selalu dikaitkan pada kepercayaan mereka terhadap leluhur.Tahapan untuk membuat kerajinan ukir diawali dengan memahat sepotong kayu untuk dijadikan sebuah pola. Karena setiap ukiran yang mereka buat mempunyai makna tersendiri. Sebagai contoh, ada 3 macam warna, merah, hitam, dan putih yang selalu digunakan oleh suku Asmat pada beberapa hasil ukirannya. Merah melambangkan daging, Putih menggambarkan tulang. Sementara hitam melambangkan warna kulit dari suku Asmat itu sendiri. Dengan menggunakan alat pahat tradisional yang terbuat dari jambu batu dan batu kali. Suku Asmat mampu membuat kerajinan ukiran dari berbagai jenis kayu, seperti kayu sago, kayu jati, ataupun kayu susu. Sehingga tidaklah mengherankan, jika berbagai sumber media online menuliskan, seni ukir Asmat ini banyak diminati tidak hanya oleh wisatawan domestik dan mancanegara. Sejak digelar pertama kalinya pada tahun 1991, atraksi tari perang atau dim dalam bahasa Suku Dani, menjadi atraksi utama pada setiap pelaksanaan Festival Budaya Lembah Baliem. Uniknya, tema yang diberikan dalam tari ini bukan tentang dendam atau permusuhan melainkan sesuatu yang bersifat positif yang populer dengan sebutan Yogotak Hubuluk Motog Hanorogo (harapan akan hari esok yang harus lebih baik dari hari ini).




c.    Wujud Budaya

   KESENIAN SUKU DANI
Kesenian dan Kerajinan
Kesenian masyarakat suku Dani dapat dilihat dari cara membangun tempat kediaman, seperti disebutkan di atas dalam satu silimo ada beberapa bangunan, seperti : Honai, Ebeai, dan Wamai.
Selain membangun tempat tinggal, masyarakat Dani mempunyai seni kerajinan khas, anyaman kantong jaring penutup kepala dan pegikat kapak. Orang Dani juga memiliki berbagai peralatan yang terbuat dari bata, peralatan tersebut antara lain : Moliage, Valuk, Sege, Wim, Kurok, dan Panah sege.

Ragam Budaya Suku Dani
Festival Lembah Baliem berlangsung sekitar 3 hari dan diselenggarakan setiap bulan Agustus. Tari ini biasanya diikuti oleh sekitar 26 suku yang mendiami sekitar Lembah Baliem. Masing-masing peserta terdiri dari 30 - 50 kelompok dan tiap kelompoknya berjumlah 50 - 100 orang. Para peserta masing-masing bersenjata tombak, panah dan parang, lengkap dengan pakaian tradisional dan lukisan di wajah serta pernak pernik perang.

Selain tari perang, Festival Budaya Lembah Baliem menawarkan 6 acara penting lain yang hampir selalu digelar. Salah satunya adalah pertunjukan Pikon atau musik tradisional yang digelar untuk menghibur seluruh pengunjung. Terbuat dari hite atau kayu, lagu-lagu yang dimainkan dengan Pikon mengisahkan tentang kehidupan manusia. Uniknya, meski kelihatan mudah, temyata tidak semua orang Papua mampu memainkan alat musik ini. Alat musik ini mampu memunculkan suara-suara yang nyaris sama dengan suara binatang.

Beragam permainan tradisional turut memeriahkan Festival Lembah Baliem. Acara ini tak hanya dapat disaksikan, tapi bila pengunjung atau para wisatawan berminat, bisa turut serta dalam permainan. Memanah, melempar sege alias tongkat ke target yang telah ditentukan, puradan, permainan menggulirkan roda dari anyaman rotan dan sikoko, sebuah lomba melemparkan pion ke sasaran yang telah ditentukan, adalah permainan yang kerap ditampilkan dalam festival ini.

Tak jarang, Festival Lembah Baliem bertambah marak berkat acara pendukung yang tak kalah seru dan unik lainnya. Sebut saja kerapan babi atau lomba pacuan babi, lomba menganyam serta beragam acara lainnya.
 
 Sumber Referensi:
http://nugrahenipisc.blogspot.com/2012/04/contoh-makalah-suku-dani-papua.html
http://www.scribd.com/doc/24722245/Pranata-Ekonomi-Dan-Pendidikan-Dalam-Masyarakat-Suku-Dani




0 Responses