Suku Dani, Lembah baliem - Papua


Suku Dani, Lembah baliem – Papua

-       System Ekonomi Suku Dani
Di pegunungan tengah Irian Jaya, terletak sebuah lembah besar dengan panjang 72 km  dan  lebar 16 - 31 km, dihuni oleh  prajurit dan petani Neolitik. Suku Dani dan suku-suku sub lain seperti Yali dan Lani dengan budaya mereka yang sangat kompleks dan primitif, yang masih terlihat seperti "zaman batu".Lembah Baliem terletak di Kabupaten Wamena, Irian Jaya, yang dikenal sebagai rumah dari suku asli Papua.

Suku Dani adalah Suatu suku yang mendiami satu wilayah di Lembah Baliem yang dikenal sejak ratusan tahun lalu sebagai petani yang terampil dan juga dahulu terkenal sudah menggunakan alat alat perkakas bahkan disaat diketemukan oleh para ahli, warga suku dani telah mengenal penggunaan perkakas-perkakas seperti: kapak batu, pisau yang terbuat dari tulang binatang dan lain sebagainya.

Pada decade terakhir ini  suku yang paling terisolasi oleh rawa dan pegunungan. Mereka hidup diantara belukar, masih memelihara serta mengangkat babi sebagai hewan peliharaannya atau bisa dikatakan hewan buruannya. Mereka masih menggunakan teknologi Neolitik dari Dunia masa lalu. Ada sekitar kurang lebih  250.000 suku Dani yang hidup di pegunungan tengah. Lembah Baliem. Salah satu suku tertua di dataran papua yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi  di Provinsi Papua.  Suku Dani membangun pondok mereka dalam suatu senyawa yang baik, dimana  mengekspresikan adaptasi lingkungan dan karakter Dani. Suhu dari dataran tinggi yang berkisar antara 26 derajat Celcius pada siang hari dan 12 derajat pada malam hari. Hutan-hutan di mana suku Dani bermukim sangat kaya akan flora dan fauna yang tak jarang bersifat endemic seperti cenderawasih, mambruk, nuri bermacam-macam insect dan kupu-kupu yang beraneka ragam warna dan coraknya.Untuk budaya dari Suku Dani sendiri, meskipun suku Dani penganut Kristen, banyak diantara upacara-upacara mereka masih bercorak budaya lama yang diturunkan oleh nenek moyang mereka. Suku Dani percaya terhadap rekwasi. Seluruh upacara keagamaan diiringi dengan nyanyian, tarian dan persembahan terhadap nenek moyang. Peperangan dan permusuhan biasanya terjadi karena masalah pelintasan daerah perbatasan, wanita dan pencurian.

Pada rekwasi ini, para prajurit biasanya akan membuat tanfa dengan lemak babi, kerang, bulu-bulu, kus-kus, sagu rekat, getah pohon mangga, dan bunga-bungaan di bagian tubuh mereka. Tangan mereka menenteng senjata-senjata tradisional khas suku Dani seperti tombak, kapak, parang dan busur beserta anak panahnya.

Salah satu kebiasaan unik lainnya dari suku Dani sendiri adalah kebiasaan mereka mendendangkan nyanyian-nyanyian bersifat heroisme dan atau kisah-kisah sedih untuk menyemangati dan juga perintang waktu ketika mereka bekerja. Untuk alat musik yang mengiringi senandung atau dendang ini sendiri adalah biasanya adalah alat musik pikon, yakni satu alat yang diselipkan diantara lubang hidung dan telinga mereka. Disamping sebagai pengiring nyanyian, alat ini pun berfungsi ganda sebagai isyarat kepada teman atau lawan di hutan kala berburu. Jajaran Pegunungan Trikora jadi benteng alami sekaligus penyedia kehidupan. Di lereng pegunungan ini, mereka bercocok tanam dan beternak hewan. Tanah vulkanis yang gembur pun ditanami umbi-umbian, jahe, pisang, dan timun.

Sebagai suku yang masih terjaga keasliannya, masyarakat Dani membuat peralatan sederhana berbahan batu dan tulang. Tulang-tulang itu mewakili gaharnya Suku Dani, yang juga terkenal sebagai pejuang. Sedangkan batu menjadi basis tradisi Bakar Batu, yakni memasak babi di atas batu panas.

Indahnya lembah dari ketinggian, liukan sungai dengan air penyedia kehidupan, serta suku Dani yang menjaga keseimbangan alam.

a.    System ide
Sistem Ekonomi

Nenek moyang orang Dani tiba di Irian hasil dari suatu proses perpindahan manusia yang sangat kuno dari daratan Asia ke kepulauan Pasifik Barat IrianJaya.Kemungkinan pada waktu itu masyarakat mereka masih bersifat praagraris yaitu baru mulai menanam tanaman dalam jumlah yang sangat terbatas. Menurut BLUMMER, inovasi yang berkesinambungan dan kontak budaya menyebabkan pola penanaman yang sangat sederhana tadi berkembang menjadi suatu sistem perkebunan ubijalar, seperti sekarang.Mata pencaharian pokok suku bangsa Dani adalah bercocok tanam dan ber ternak babi. Umbi manis merupakan jenis tanaman yang diutamakan untuk dibudidayakan, artinya mata pencaharian umumnya mereka adalah berladang.

b.    System perilaku
Masyarakat di lembah baliem ini merupakan masyarakat agraris dengan bercocok tanam secara tradisional dan berpindah-pindah untuk memperoleh tanah subur atau humus pada lahan baru. Makanan pokok bagi masyarakat lokal yaitu Ubi jalar atau biasa disebut "Hipere". Mereka menjadikan "Hipere" sebagai makananpokok sejak nenek moyang mereka karena mudah di budidaya dan tidak memerlukan biaya perawatan lagi. Selain ipere mereka juga menanam singkong,kacang panjang, jagung, dan padi. Padi banyak di jumpai di Daerah irigaielagaima (Muoai), Tulem, Muliama dan Holkima. Mereka menggunakan alat-alat pertanian dengan kayu cangkang (kayu bengkok), parang dan sekop. Mereka tidak pernah menggunakan cangkul untuk mengolah tanah. Kampak digunakan untuk menebang pohon dan membelah kayu untuk kayu bakar dan pagar.Areal ladang atau sawah sebelum ditanam dipagar keliling terlebih dahulu untuk menghindari gangguan hama dan babi ternak, dengan pagar yang cukup rapat danunik. Pagar ini biasa disebut "Geler ". Geler ini merupakan pagar yang khas diwamena. Geler terbuat dari kayu kasuari (sejenis cemara) yang kayunya amatkeras. Kayu kasuari dibelah-belah dan ditancapkan ketanah kemudian di ikat satusama lain dengan tali Kelokop (jagat) sejenis bambu tapi berukuran kecil. Pagar yang sudah jadi kemudian bagian atasnya ditutup dengan rerumputan kering dan akar-akaran agar kayu dan tali tidak mudah rapuh akibat perubahan cuaca atau hujan.Pagar ini dapat bertahan lama hingga mencapai 3 tahun

beberapa contoh kasus kearifan tradisional lainnya, antara lain :
Masyarakat suku Dani di Lembah Baliem (1.650 dpl) di Pegunungan Jaya Wijaya, Papua, menggunakan tongkat sederhana sebagai cangkul pengolah lahan kebun ubi. Sadar atau tidak, penggunaan teknologi sederhana ini berfungsi dalam konservasi tanah kebun di lereng bukit (yang memang senstif terhadap erosi dan longsor). Cara lain yang mereka lakukan untuk mengkonservasi lahan di lereng bukit adalah dengan sistem bera, yaitu mengistirahatkan lahan kebun bertahun-tahun (bisa sampai 10 tahun) setelah digunakan selam dua siklus penanaman secara berturut-turut. Dan masih terdapat beberapa tradisi yang merupakan wujud sistem pengetahuan lokal terhadap lingkungan.

c.    Wujud budaya
Sistem Ekonomi Kebudayaan Suku bangsa Dani
Mata pencaharian pokok suku Dani adalah bercocok tanam ubi kayu dan ubi jalar. Ubi jalar adalah tanaman utama di kebun-kebun mereka. Tanaman-tanaman mereka yang lain adalah pisang, tebu, dan tembakau. Kebun-kebun milik suku Dani ada tiga jenis, yaitu:
1)    Kebun-kebun di daerah rendah dan datar yang diusahakan
      secara menetap
2) Kebun-kebun di lereng gunung
3) Kebun-kebun yang berada di antara dua uma

Kebun-kebun tersebut biasanya dikuasai oleh sekelompok atau beberapa kelompok kerabat. Batas-batas hak ulayat dari tiap-tiap kerabat ini adalah sungai, gunung, atau jurang. Dalam mengerjakan kebun, masyarakat suku Dani masih menggunakan peralatan sederhana seperti tongkat kayu berbentuk linggis dan kapak batu.

Selain berkebun, mata pencaharian suku Dani adalah beternak babi. Babi dipelihara dalam kandang yang bernama wamai (wam = babi; ai = rumah). Kandang babi berupa bangunan berbentuk empat persegi panjang yang bentuknya hampir sama dengan hunu. Bagian dalam kandang ini terdiri dari petak-petak yang memiliki ketinggian sekitar 1,25 m dan ditutupi bilah-bilah papan. Bagian atas kandang berfungsi sebagai tempat penyimpanan kayu bakar dan alat-alat berkebun. Bagi suku Dani babi berguna untuk:
1) dimakan dagingnya
2) darahnya dipakai dalam upacara magis
3) tulang-tulang dan ekornya untuk hiasan
4) tulang rusuknya digunakan untuk pisau pengupas ubi
5) sebagai alat pertukaran/barter
6) menciptakan perdamaian bila ada perselisihan

Suku Dani melakukan kontak dagang dengan kelompok masyarakat terdekat di sekitarnya. Barang-barang yang diperdagangkan adalah batu untuk membuat kapak, dan hasil hutan seperti kayu, serat, kulit binatang, dan bulu burung.


Pegunungan Trikora menjad i pemandangan eksotik sekaligus benteng alami juga serta penyedia kehidupan bagi masyarakat suku dani dan suk-suku lainnya di Lembah Baliem-Papua. Di lereng pegunungan ini, masyarakat suku dani sangatlah gemar untuk bercocok tanam dan beternak hewan. Tanah vulkanis yang gembur pun ditanami umbi-umbian, jahe, pisang, dan timun. Tumbuh-tumbahan serta tanaman tersebut tumbuh subur disini dengan baiknya.


 Sumber Referensi:
http://www.scribd.com/doc/24722245/Pranata-Ekonomi-Dan-Pendidikan-Dalam-Masyarakat-Suku-Dani
http://texbuk.blogspot.com/2011/11/kebudayaan-suku-bangsa-dani-studi_2277.html
http://astiandriantini.blogspot.com/2012/03/suku-dani.html



Suku Dani, Lembah baliem – Papua

Indonesia adalah Negara Seribu Pulau, Indonesia adalah Negara beribu Kebudayaan, Indonesia adalah keindahan dan berapa banyak lagi kalimat-kalimat indah yang menggambarkan tentang Indonesia. Tak hanya seribu pulau, ternyata ada sekitar 17.807 pulau dengan ribuan suku yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan segala kekayaan budaya dan keindahan alamnya. Luar biasa, itulah kata yang bisa diucapkan atas anugerah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa atas ragam budaya dan melimpahnya kekayaan alam yang kita miliki.

Di pegunungan tengah Irian Jaya, terletak sebuah lembah besar dengan panjang 72 km  dan  lebar 16 - 31 km, dihuni oleh  prajurit dan petani Neolitik. Suku Dani dan suku-suku sub lain seperti Yali dan Lani dengan budaya mereka yang sangat kompleks dan primitif, yang masih terlihat seperti "zaman batu".Lembah Baliem terletak di Kabupaten Wamena, Irian Jaya, yang dikenal sebagai rumah dari suku asli Papua.

Suku Dani adalah Suatu suku yang mendiami satu wilayah di Lembah Baliem yang dikenal sejak ratusan tahun lalu sebagai petani yang terampil dan juga dahulu terkenal sudah menggunakan alat alat perkakas bahkan disaat diketemukan oleh para ahli, warga suku dani telah mengenal penggunaan perkakas-perkakas seperti: kapak batu, pisau yang terbuat dari tulang binatang dan lain sebagainya.

Pada decade terakhir ini  suku yang paling terisolasi oleh rawa dan pegunungan. Mereka hidup diantara belukar, masih memelihara serta mengangkat babi sebagai hewan peliharaannya atau bisa dikatakan hewan buruannya. Mereka masih menggunakan teknolo gi Neolitik dari Dunia masa lalu. Ada sekitar kurang lebih  250.000 suku Dani yang hidup di pegunungan tengah. Lembah Baliem. Salah satu suku tertua di dataran papua yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi  di Provinsi Papua.  Suku Dani membangun pondok mereka dalam suatu senyawa yang baik, dimana  mengekspresikan adaptasi lingkungan dan karakter Dani. Suhu dari dataran tinggi yang berkisar antara 26 derajat Celcius pada siang hari dan 12 derajat pada malam hari. Hutan-hutan di mana suku Dani bermukim sangat kaya akan flora dan fauna yang tak jarang bersifat endemic seperti cenderawasih, mambruk, nuri bermacam-macam insect dan kupu-kupu yang beraneka ragam warna dan coraknya.Untuk budaya dari Suku Dani sendiri, meskipun suku Dani penganut Kristen, banyak diantara upacara-upacara mereka masih bercorak budaya lama yang diturunkan oleh nenek moyang mereka. Suku Dani percaya terhadap rekwasi. Seluruh upacara keagamaan diiringi dengan nyanyian, tarian dan persembahan terhadap nenek moyang. Peperangan dan permusuhan biasanya terjadi karena masalah pelintasan daerah perbatasan, wanita dan pencurian.

Pada rekwasi ini, para prajurit biasanya akan membuat tanfa dengan lemak babi, kerang, bulu-bulu, kus-kus, sagu rekat, getah pohon mangga, dan bunga-bungaan di bagian tubuh mereka. Tangan mereka menenteng senjata-senjata tradisional khas suku Dani seperti tombak, kapak, parang dan busur beserta anak panahnya.

Salah satu kebiasaan unik lainnya dari suku Dani sendiri adalah kebiasaan mereka mendendangkan nyanyian-nyanyian bersifat heroisme dan atau kisah-kisah sedih untuk menyemangati dan juga perintang waktu ketika mereka bekerja. Untuk alat musik yang mengiringi senandung atau dendang ini sendiri adalah biasanya adalah alat musik pikon, yakni satu alat yang diselipkan diantara lubang hidung dan telinga mereka. Disamping sebagai pengiring nyanyian, alat ini pun berfungsi ganda sebagai isyarat kepada teman atau lawan di hutan kala berburu. Jajaran Pegunungan Trikora jadi benteng alami sekaligus penyedia kehidupan. Di lereng pegunungan ini, mereka bercocok tanam dan beternak hewan. Tanah vulkanis yang gembur pun ditanami umbi-umbian, jahe, pisang, dan timun.

Sebagai suku yang masih terjaga keasliannya, masyarakat Dani membuat peralatan sederhana berbahan batu dan tulang. Tulang-tulang itu mewakili gaharnya Suku Dani, yang juga terkenal sebagai pejuang. Sedangkan batu menjadi basis tradisi Bakar Batu, yakni memasak babi di atas batu panas.

Indahnya lembah dari ketinggian, liukan sungai dengan air penyedia kehidupan, serta suku Dani yang menjaga keseimbangan alam.

-          System Pengetahuan Suku Dani
a.    System Ide Suku Dani

Bruce Mitchell dkk (2000) dalam bukunya Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan secara khusus membahas sistem pengetahuan lokal pada salah satu subbab pembahasan. Menurutnya, konsep sistem pengetahuan lokal berakar dari sistem pengetahuan dan pengelolaan lokal atau tradisional. Masyarakat lokal, tradisional atau asli dapat ditemukan di setiap benua, di banyak negara. Definisi tentang masyarakat asli atau lokal cukup beragam. Walaupun demikian, beberapa elemen dasar biasanya termasuk antara lain :
(1) Keturunan penduduk asli suatu daerah yang kemudian dihuni oleh sekelompok masyarakat dari luar yang lebih kuat,
(2) Sekelompok orang yang mempunyai bahasa, tradisi, budaya, dan agama yang berbeda dengan kelompok yang lebih dominan,
(3) Selalu diasosiasikan dengan beberapa tipe kondisi ekonomi masyarakat,
(4) Keturunan masyarakat pemburu, nomadik, peladang berpindah,
(5) masyarakat dengan hubungan sosial yang menekankan pada kelompok, pengambilan keputusan melalui kesepakatan, serta pengelolaan sumberdaya secara kelompok (Durning, 1992 : 8). Darning mencatat bahwa jika didasarkan atas bahasa lisan, manusia di muka bumi dapat dikelompokkan menjadi 6.000 budaya, yang mana 4.000 sampai 5.000 nya dapat dikategorikan lokal atau asli. Di Indonesia saja, setidaknya terdapat lebih dari dua ratus bahasa daerah.

Karena hubungan mereka yang dekat dengan lingkungan dan sumberdaya alam, masyarakat asli melalui “ujicoba” telah mengembangkan pemahaman terhadap sistem ekologi dimana mereka tinggal. Masyarakat ini tidak selalu hidup secara harmoni dengan alam, karena mereka juga menyebabkan perusakan lingkungan. Pada saat yang sama, karena kehidupan mereka tergantung pada dipertahankannya integritas ekosistem tempat mereka mendapatkan makanan dan rumah, kesalahan besar biasanya tidak akan terulang. Pemahaman mereka tentang sistem alam yang terakumulasi biasanya diwariskan secara lisan, serta biasanya tidak dapat dijelaskan melalui istilah-istilah ilmiah.

Dalam banyak kasus, tindakan masyarakat meniru pola dan perilaku sistem alam. Sebagai contoh, praktek penanaman beragam biji-bijian sebagai bagian dari peladangan berpindah banyak meniru kompleksitas dan keragaman sistem vegetasi wilayah sub-tropis dan tropis. Beberapa jenis tanaman yang berbeda selalu ditanam dalam satu petak tanah, atau biasa dikenal sebagai “tumpang-sari”. Bagi ilmuwan yang dididik secara Barat, praktek ini mungkin terlihat primitif dan tidak efisien. Akan tetapi, perbedaan kecepatan tumbuh berbagai jenis tanaman tersebut justru membuat tanah menjadi permanen. Pola ini juga melindungi tanah dari sinar matahari langsung serta mengurangi pemanasan langsung pada permukaan tanah. Penutupan permukaan tanah yang menerus juga menjaga tanah dari proses erosi, khususnya selama musim hujan, ketika curah hujan amat tinggi. Sistem akar yang bervariasi juga menjadikan penggunaan volume tanah secara lebih efisien. Tanaman campuran juga mengurangi kerentanan petak tersebut terhadap hama dan serangga perusak.

Banyak contoh lain yang dapat dipaparkan disini. Pada salah satu edisi Jurnal CSIS, Abdon Nababan (1995) memaparkan beberapa contoh kasus kearifan tradisional ini, antara lain :

b.    Sistem Perilaku

Masyarakat Suku Dani di Lembah Baliem (1.650 dpl) di Pegunungan Jaya Wijaya, Papua, menggunakan tongkat sederhana sebagai cangkul pengolah lahan kebun ubi. Sadar atau tidak, penggunaan teknologi sederhana ini berfungsi dalam konservasi tanah kebun di lereng bukit (yang memang senstif terhadap erosi dan longsor). Cara lain yang mereka lakukan untuk mengkonservasi lahan di lereng bukit adalah dengan sistem bera, yaitu mengistirahatkan lahan kebun bertahun-tahun (bisa sampai 10 tahun) setelah digunakan selam dua siklus penanaman secara berturut-turut. Dan masih terdapat beberapa tradisi yang merupakan wujud sistem pengetahuan lokal terhadap lingkungan.


c.    Wujud Budaya Suku Dani

Kesadaran yang terus berkembang bahwa penduduk asli yang tinggal di suatu wilayah terlebih khusus suku dani. telah mempunyai perkembangan tentang  pemahaman dan pandangan dari sumberdaya, lingkungan dan ekosisem setempat, menimbulkan pemikiran bahwa para ahli tidak boleh semata-mata mengandalkan pada cara-cara ilmiah-resmi dalam memahami suatu wilayah. Kesadaran ini menjadikan diterimanya pendekatan partisipatif dalam pembangunan serta tumbuhnya minat untuk mengkombinasikan sistem pengetahuan lokal dengan pengetahuan ilmiah-modern.

Pemahaman pemahaman tradisional melahirkan pemikiran yang masih ilmiah dan alami untuk masyarakat suku dani pada contohnya pemakaian koteka (penutup penis/kelamin pada kaum laki-laki disuku Dani) sebenarnya ini juga bertujuan untuk menghindari penyakit-penyakit yang masuk melalui udara dan sebagainya. Karena keterbatasan dan kehidupan masyarakat suku dani yang masih menerapkan dan menghormati alam sebagai sumber kehidupan mereka. Maka lahirnya pemikiran tersebut (pemakaian koteka) dan peralatan peralatan tradisional lainnya yang masih lekat dalam kehidupan mereka.

Sumber Referensi:
http://www.pwk-ugm.com/berita/37-perkotaan/64-sistem-pengetahuan-lokal.html
http://nugrahenipisc.blogspot.com/2012/04/contoh-makalah-suku-dani-papua.html
https://www.google.co.id/search?q=Sistem+Pengetahuan+Suku+Dani&hl=id&client=firefox-a&hs=f81&rls=org.mozilla:en-
http://www.facebook.com/note.php?note_id=415931708956



Suku Dani, Lembah baliem – Papua
-        
    Sistem Religi Masyarakat
Suku Dani adalah sebuah suku yang mendiami satu wilayah di Lembah Baliem yang dikenal sejak ratusan tahun lalu sebagai petani yang terampil dan telah menggunakan alat / perkakas yang pada awal mula ditemukan diketahui telah mengenal teknologi penggunaan kapak batu, pisau yang dibuat dari tulang binatang, bambu dan juga tombak yang dibuat menggunakan kayu galian yang terkenal sangat kuat dan berat. Suku Dani masih banyak mengenakan “koteka” (penutup penis) yang terbuat dari kunden kuning dan para wanita menggunakan pakaian wah berasal dari rumput/serat dan tinggal di “honai-honai” (gubuk yang beratapkan jerami/ilalang). Upacara-upacara besar dan keagamaan, perang suku masih dilaksanakan (walaupun tidak sebesar sebelumnya).


Sebagian masyarakat suku Dani menganut agama Kristen atas pengaruh misionaris Eropa yang datang ke tempat itu dan mendirikan misi misionarisnya ketika pada tahun sekitar 1935 pemerintahan Belanda membangun kota Wamena. Kondisi geografis dari tempat tinggal Suku Dani ini sendiri seperti halnya daerah pegunungan tengah di Papua, terdiri dari gunung-gunung tinggi dan sebagian puncaknya bersalju dan lembah-lembah yang luas.
a.    System Ide suku Dani
Sejarah Kebudayaan Adat Suku Dani Baliem Selatan, adalah salah satu aspek budaya dari budaya-budaya Papua. Namun sejak awal penting disampaikan bahwa konsepsi religi Balim Selatan khususnya dan Jayawi Jaya umumnya bersifat tertutup dan rahasia bagi orang lain.

Tidak ada pretensi bahwa; Religi Suku Dani, Palim Selatan, adalah satu-satunya pandangan dari religi-religi dalam kebudayaaan Palim, Jayawi Jaya, kecuali hanya salah satunya. Sebab Bangsa Papua yang memiliki hampir 240, diantara 558 bahasa diseluruh Indonesia, (H. Myron Bromley; 1994), tentu memiliki keragaman suku dan budaya yang antara satu dan lainnya bisa berbeda. Karena setiap pandangan manusia selalu dan selamanya pandangan partial, tidak comprehenshif sekaligus. Hal ini menyangkut unsur subyektivitas, tempat dan waktu, yang selalu dan selamanya relatif. Berarti Sejarah religi Suku Dani Palim Selatan yang diangkat disini mengandaikan relativitas pandangan manusia.

Namun semua ahli yang meneliti tentang agama suku-suku di Fasifik dan Papua (Jan Buelars; 1987), menunjukkan bahwa keseluruhan suku bangsa Papua dalam mithologi keagamaannya menganggap mereka berasal dari dalam Goa . Demikian juga konsepsi Suku Dani, Palim Selatan bahwa manusia pertama muncul dari daerah Maima. Sebahagian menyebut manusia pertama keluar dari lubang di daerah Seima, ada juga yang menyebut di Wesagaput dan Orang Kurulu menyebut dari Goa di daerahnya. Masing-masing sub-suku juga menganggap bahwa daerahnyalah yang merupakan tempat asal usul manusia pertama muncul di Lembah Balim.

Menurut Suku Dani Lembah Palim Selatan, asal mula kejadian manusia berasal dari Seima, bagi orang Kurima, dari Maima bagi orang yang daerahnya dari Maima, Hitigima, Hepuba, Megapura (Sinata), Walesi, dan Walaik. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa tempat itu adalah Wesagaput, dekat muara sungai Uwe dan Balim, demikian umumnya lokasi dikenal orang-orang Suku Dani Palim Selatan.

Perbedaan hanya dalam soal tempat. Karena masing-masing suku mengakui asal daerahnyalah asal mula manusia muncul. Kecuali perbedaan terletak pada lokasi, moeity (marga), clan, konfederasi dan aliansi perang suku.

H. M. Bromley (1993), yang mengutip dari hasil pengamatan Robert. N. Bella, menunjukkan bahwa, Religi dibedakan dari agama. Religi menekankan bentuk hubungan dengan obyek diluar diri manusia. Obyek bersifat polyteis (satu Ilahi Tertinggi diatas ilahi lain), bersifat lokal dan tidak berdasarkan wahyu tertulis (intuisi). Sebaliknya agama lebih ditekankan pada bentuk hubungan satu Ilahi Tertinggi (moneteisme), bersifat universal dan berdasarkan wahyu tertulis serta teruji dalam sejarah yang panjang. Pandangan religi orang Balim diarahkan ke masa lampau sampai pada zaman pra existensi dunia dan manusia.

Dengan demikian religi menurut konsep orang Balim adalah religi ketergantungan dengan obyek diluar dirinya (yang Kuasa, Yang Ilahi, Yang Kudus, Realitas Mutlak) dan juga relasi denga masyarakat dan linkungannya (Myron Bromley, 1991:3).

b.    System Perilaku suku Dani
Pada mulanya Missionaris Kristen dari Amerika dan Katolik dari Belanda tidak sanggup mengajak suku Dani Palim/Balim dari Konfederasi Asso-Lokowal dan Asso-Wetipo, untuk menganut agama yang mereka bawa. Suku Dani Balim Selatan walaupun pada awalnya menerima kehadiran orang Barat, tapi sikapnya agak takut-takut, karena menurut mereka orang Barat persis Mokat (setan), yaitu arwah orang Dani yang telah meninggal, dan muncul kembali semacam reinkarnasi.

Orang Lembah Balim mulai mendengar injil yang disampaikan beberapa orang utusan injil CAMA dan beberapa orang Me yang datang kesana dalam bulan April 1954. Salah satu utusan injil orang Me yang pertama pergi ke Balim mengabarkan injil di Balim ialah : Elisa Gobay.

Missi agama yang pertama muncul Lembah Balim, Wamena Kabupaten Jayawi Jaya tempatnya di Hitigima, di daerah Konfederasi Asso-Lokobal/Asso-Wetipo, pada bulan April tahun 1954, oleh beberapa pendeta Nasrani (Kristen Protestan) dari Amerika Serikat dari Organisasi penyiaran Agama Cristian and Missionary Alliance (CAMA). Kemudian disusul organisasi penyiaran agama Katolik Minnebroeders Franciscanen membuka pusat kegiatannya di Wamena atau Woma di wilayah konfederasi Lagowan-Matuan dua tahun 1956 dan di Hebupa distrik Asso-Lokobal.

Mula-mula kehadiran dua agama besar yang dibawah pertama oleh para Missionarisnya tidak menarik perhatian Suku Dani Lembah Balim Selatan. Sampai dengan tahun 1970-an tidak satupun penduduk pribumi memeluk agama. Bahkan sikap mereka menolak habis-habisan.

Orang Balim menurut Dr. Benny Giay, (1998), tidak serta merta menerima agama Kristen yang di bawa utusan injil. “Berbeda dengan orang Dani Barat, orang Dani di Lembah Balim menolak injil selama bertahun-tahun. Penerimaan Injil di Lembah Balim tidak terjadi secara cepat, tetapi bertahap. Baru akhir tahun 1970-an orang Dani Lembah Balim mulai menerima kabar gembira”.

Dan terakhir pada masa integrasi Papua kedalam negara RI, bersamaan itupula agama Islam di perkenalkan kepada Suku Dani di Lembah Balim tepatnya di daerah Megapura antara tahun 1963-1969 di wilayah Konfederasi antara Asso-Lokobal, Wuka-Wetapo dan Lani-Wetapo.

Pengaruh Islam secara luas diseluruh pelosok daerah propinsi Irian Jaya dan dengan semua kelompok suku di daerah ini dalam hidup sehari-hari dalam semua bidang kehidupan, baru mulai dirasakan setelah Irian Jaya berintegrasi menjadi bagian dari Republik Indonesia awal tahun 1960-an.

Pada umumnya Suku Dani hingga dewasa ini masih menghayati nilai-nilai lama mereka sebagai agama. Animisme cukup dominan saat-saat ini hingga tahun yang akan datang ini, mengingat sangat lambatnya proses modernisasi atau transpormasi nilai-nilai baru, terutama pembangunan oleh pemerintah dan perubahan oleh semua pihak.
c.    Wujud budaya suku Dani
Dasar kepercayaan suku Dani adalah seperti halnya diuraikan di atas yakni menghormati roh nenek moyang dengan cara menyelenggarakan berbagai ritual upacara yang dipusatkan pada pesta babi. Konsep kepercayaan / keagamaan yang terpenting adalah Atou, yaitu kekuatan sakti para nenek moyang yang diturunkan secara patrilineal (diturunkan kepada anak laki-laki). Kekuasaan sakti ini antara lain :

    * Kemampuan atau kekuatan untuk menyembuhkan penyakit
    * Kemampuan atau kekuatan untuk menyuburkan tanah, dan
    * Kemampuan atau kekuatan untuk menjaga ladang

Sebagai bentuk penghormatan kepada nenek moyangnya, suku Dani membuat lambang untuk nenek moyang mereka yang disebut Kaneka. Selain sebagai perlambang untuk nenek moyang, dikenal juga Kaneka Hagasir, yakni sebuah upacara keagamaan yang bertujuan untuk kesejahteraan keluarga, juga ketika mengawali dan mengakhiri peperangan.

Terdapat juga Salah satu kebiasaan unik lainnya dari suku Dani sendiri adalah kebiasaan mereka mendendangkan nyanyian-nyanyian bersifat heroisme dan atau kisah-kisah sedih untuk menyemangati dan juga perintang waktu ketika mereka bekerja. Untuk alat musik yang mengiringi senandung atau dendang ini sendiri adalah biasanya adalah alat musik pikon, yakni satu alat yang diselipkan diantara lubang hidung dan telinga mereka. Disamping sebagai pengiring nyanyian, alat ini pun berfungsi ganda sebagai isyarat kepada teman atau lawan di hutan kala berburu. Nama Dani sendiri sebenarnya bermakna orang asing, yaitu berasal dari kata Ndani, tapi karena ada perubahan fenom N hilang dan menjadi Dani saja. Suku Dani sendiri sebenarnya lebih senang disebut suku Parim. Suku ini sangat menghormati nenek moyangnya dengan penghormatan mereka biasanya dilakukan melalui upacara pesta babi. Upacara tersebut dilangsungkan juga dengan tujuan untuk menghormati arwah – arwah para pendahulu mereka serta nenek moyang mereka dengan symbol darah atau persembahan dari upacara pesta babi tersebut. Masyarakat suku dani juga masih mempercayai kepercayaan akan roh roh pelindung desa, bahkan juga kepercayaan akan lahan lahan pertanian. Biasanya masyarakat suku dani juga mengadakan festival-festival atau upacara upacara adat berupa peperangan antar suku di dataran papua yang bertujuan untuk melindungi desa dari marabahaya dan mengenang arwah leluhur suku dani.


 Sumber Referensi:
-      https://www.google.co.id/search?q=Kepercayaan+Suku+dani+,+lembah+baliem+-+papua&hl=id&client=firefox-a&hs=ht5&rls=org.mozilla:en-US:official&channel=s&prmd=imvns&source=lnms&tbm=isch&ei=SDiNT4CJCoLrrQeyhqy8CQ&sa=X&oi=mode_link&ct=mode&cd=2&ved=0CA8Q_AUoAQ&biw=1366&bih=575
-      

0 Responses