Tampilkan postingan dengan label dheny fadhillah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dheny fadhillah. Tampilkan semua postingan

KATEGORI MAKANAN RINGAN TRADISIONAL (CRIPING UBI)

NAMA  :  DHENY FADHILLAH
NIM       :     4423116696


MAKANAN YANG MEMBAWA BERKAH TERSENDIRI YAITU “ CRIPING UBI “



Menuju Desa Wisata Peting Sari adalah sebuah pengalaman yang tidak mudah untuk dilupakan tempat yang berada disebelah selatan kaki gunung merapi ini memiliki daya tarik tersendiri. Desa Wisata Peting Sari, Seleman, Jawa Tengah ini sempat terhenti dengan adanya bencana meletusnya gunung merapi tetapi mereka sadar meskipun bencana akan terus terjadi maka kehidupan juga harus tetap berjalan didalam hati masih merasa takut dengan bencana Merapi yang membuat Desa Wisata Peting Sari terhenti. Menurut warga sekitar masih takut dalam melanjutkan kehidupan dan tinggal disana dengan kejadian erupsi dari bencana Merapi yang melanda kampong mereka pada saat itu. Tetapi seorang warga yang dituakan menjadi sebuah tonggak untuk meyakinkan warga di desa Wisata Peting Sari dan beliau adalah orang yang dipercaya sebagai sesepuh kampung yaitu Bapak Sumardi. Karena kata Bapak Sumardi pada saat bencana itu datang beliau meyakinkan warga untuk mengevakuasi diri menuju tempat yang aman. Tanpa adanya intruksi dari saya, warga tidak ada yang mau untuk mengevakuasikan diri mereka “ kata Pak Sumardi “ dan menjadi sebuah tanggung jawab saya apabila saya tidak mau dievakuasikan oleh pengalaman bencana maka banyak warga yang menjadi korban “ Pak Sumardi melanjutkan. Karena menurut beliau bencana yang terjadi apabila gempa bumi sudah menjadi hal biasa yang terus terjadi apa maksudnya ?. “ seperti yang kita tahu saya dan warga Peting Sari tinggal di kaki gunung merapi bahkan tembok rumah kami goyang begitu keras “ kata Pak Sumardi tegasnya. Tetapi dengan kejadian yang sudah menjadi terbiasa dalam menghadapi setiap bencana yang ditimbulkan dari Gunung Merapi dengan tenang. Seakan melupakan kejadian itu masyarakat Peting Sari bangkit bahwa kehidupan harus berlanjut dan mampu dalam mengatasi setiap kehidupan sehari-hari.


kiri "Bu Giarto" dan kanan "Bu Widodo
Narasumber
Nama    :  Ibu Giarto
Umur    :  37 tahun
Anak    :  1 anak
dan
Nama   :  Ibu Widodo
Umur   :  40 tahun
Anak   :  1 anak


Masyarakat Peting Sari percaya bahwa Tuhan tidak memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambanya oleh karena itu masyarakat Peting Sari melanjutkan aktivitas sehari-hari seperti biasanya yaitu kaum Bapak berladang di sawah dari tanah sisa-sisa lahar dingin yang menghanyutkan tanah sawah mereka sebelum bencana dan untuk anak-anak mereka melakukan aktivitas pembelajaran supaya menjadi manusia yang terdidik untuk meraih masa depan yang cerah. Dan untuk kaum ibu mereka melakukan aktivitas di rumah, tetapi mereka bosan dengan aktivitas dirumah saja maka mereka melakukan pembuatan makanan ringan yang dikenal Criping Ubi.

Bahan-bahan pembuatan Criping Ubi

Aktivitas ini sudah berjalan selam tiga tahun setelah bencana yang mereka alami dan menjadi mata pencarian yang membantu kaun Bapak dalam mencukupi kehidupan sehari-hari mereka. Kaum ibu disana tergabung dalam sebuah organisasi yang dikenal dengan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan menurut Ibu Widodo yang bersuamikan Pak Widodo warga asli dari Desa Peting Sari, Seleman “ bahwa mereka sangat terbantu dengan adanya aktivitas pembuatan Criping Ubi ini “. Hal ini “ sangat menopang dalam membantu mencukupi ekonomi keluarga sehari-hari “ kata ibu rumah tangga yang memiliki satu orang anak ini. Meskipun berumur 40 tahun Ibu ini tetap semangat dalam melakukan aktivitas pembuatan Cerimping Ubi. Sama halnya seperti Ibu Giarto bersuamikan asli Desa Peting Sari yaitu Pak Giarto “ saya merasakan manfaat dalam membantu suami supaya dapur selalu ngebul “ kata Ibu rumah tangga yang memiliki satu orang anak ini. “ saya juga merasa bangga kalau bisa membantu suami dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari kata ibu 37 tahun ini menambahkan.

Memanfaatkan apa yang di berikan oleh Alam

Awalnya sebelum terbentuknya Desa Wisata Peting Sari sekarang ini mereka hanya melakukan sebuah aktivitas hanya di rumah saja tetapi terbentuknya Desa Wisata Peting Sari ini menjadi kesibukan tersendiri untuk kaum ibu di Desa Peting Sari dalam kegiatan pembuatan makanan yaitu Cerimping dan menjadi berkah dengan adanya Desa Wisata Peting Sari ini. Mereka tidak menjual Cerimping Ubi ini keluar melainkan hanya ada di Desa mereka karena mereka takut tidak sanggup seandainya mereka jual keluar desa dalam memproduksi dengan jumlah yang banyak tidak mampu untuk memproduksinya jadi mereka memproduksi hanya apabila ada wisatawan yang berkunjung ke desa mereka. Baru mereka memproduksi Cerimping Ubi di Desa Wisata Peting Sari, Sleman, Jawa Tengah. 

Mengenal Folklore Bukan Lisan Suku Baduy


Kampung Marengo, BADUY LUAR
Menuju sebuah kampung yang masih sangat menjaga kearifan lokal menjadi ciri khas tersendiri yaitu kampung suku baduy . Sesampainya di ciboleger kami melanjutkan perjalanan menuju kampung marengo, ditengah perjalanan yanh cukup melelahkan untuk sampai ke kampung marengo. Perjalanan yang menanjak, tebing dan jurang menjadi sahabat perjalanan kamu untuk menuju kampung marengo. Serta jalan setapak menurun dan menanjak seperti menjadi tantangan yang harus di hadapi untuk sampai di kp. Marengo. Pemandangan yang indah dan sungai seakan-akan mengurangi rasa lelah dalam melakukan perjalanan sampai ke kp. Marengo tanpa terasa 2 jam perjalanan kami sampai di kampung yang menjadi tujuan kami. Rasa penat dan lelah semua terasa terbayarkan setelah sampai di kp.marengo dengan melihat kehidupan yang sederhana tanpa mengeluh seakan membuat kami merasa malu , membandingkan kehidupan kami dengan mereka. Kami sadar bahwa kehidupan memberikan pelajaran yang sangat berarti, inilah kehidupan yang sebenarnya. Kami yang hidup serba kecukupan saja terkadang masih mengeluh tetapi mereka menjalani kehidupan penuh kesederhanaan tanpa ada sedikitpun mengeluh, karena mereka sadar bahwa kehidupan bukan hanya untuk hari ini saja. Perjalanan kehidupan masih terus berjalan tidak akan terputus untuk hari ini .
Melihat dari segi kehidupan mereka kami menarik kesimpulan bahwa mengeluh saja tidak cukup melakukan kegiatan dan itu sangat merugikan mereka tentunya , seandainya mereka terus-meners hanyalah mengeluh. Meskipun waktu menunjukan sore hari kami bergegas untuk menunggu pembagian homestay karena kami sampai di ciboleger jam 2 siang, dan langsung melanjutkan perjalanan ke marengo dan homestay yang akan kami tinggali sangat berbeda jauh dengan rumah kami. Yang kiri kanan sudah tembok tetapi disini kami menemui rumah yang terbuat dari bilik bambu dan beratapkan kirai ini menjadi sebuah pengalaman baru untuk kami. Setelah pembagian homestay selesai kami langsung menuju homestay yang disediakan untuk beristirahat sejenak melepas penat dan rasa lelah. Seakan waktu mengisyaratkan kami menunjukkan pukul 5 sore ingin membersihkan diri dari keringat yang mengalir deras karena perjalanan tadi. Jadi kami beranjak langsung menuju sungai yang letaknya tidak jauh dari kampung marengo , sebuah pengalaman baru juga untuk mandi disungai karena sungai menjadi satu-satunya sumber air untuk kp.marengo . Semua aktivitas yang berkaitan dengan air disana semua dilakukan seperti mandi, mencuci,dan kakus mereka lakukan disana. Meskipun air disungai tidak terlalu jernih tetapi sangat menyegarkan badan dan merasa cukup , selesai kami langsung bergegas kembali menuju homestay untuk beristirahat.
Tidak terasa sore berganti malam dan waktu menunjukkan pukul 7 malam , setelah kami selesai makan malam dengan penerangan yang sangat redup menemani hari pertama kami di kp.marengo - baduy luat. Semua aktivitas seakan terhenti dengan terbenam sang cahaya . Pemandangan yang berbeda dengan kemajuan teknologi masih ada di sebuah perkampungan yang di malam hari hanya diterangi oleh rembulan , tidak adanya listrik dalam kehidupan malam mereka tanpa harus merasakan kegelapan malam yang semakin larut semakin gelap. Yang menjadi pertanyaan kami adalah apa alasan kp.marengo tidak mau menggunakan listrik ? Apakah mereka tidak ingin membayar listrik atau karena merka tidak mengerti apa itu listrik ? . Ternyata bukan karena mereka tidak mengerti tetapi mereka tidak mau mengambil resiko yang akan ditimbulkan seperti : kebakaran , apabila terjadi konsleting listrik dan alasan lain adalah masuknya listrik ke kampung mereka berarti alat-alat elektronik pasti akan terjadi modernisasi didalam kampung mereka. Seperti televisi yang akan membuat malas anak-anak mereka nantinya, hanya menonton televisi saja setiap hari dan tidak mau membantu bapak berladang disawah yang sudah menjadi aktivitas mereka sehari-hari. Jadi, itulah alasan mereka tidak mau menggunakan listrik serta jangkauan listrik yang sangat jauh pula menjadi pemikiran mereka dan alasan yang paling kuat adalah mereka sudah berpegang teguh pada kepercayaan nenek moyang sejak zaman dahulu , serta tidak mau untuk merubah kebiasaan dari nenek moyang sampai sekarang. Keadaan dalam rumah yang penuh kesederhanaan hanya ada satu kamar, satu dapur , dan ruang tengah. Serta adanya leuyit, jembatan bambu menajadi suatu pengalaman baru .
Tidak terasa malam semakin larut, mata ini untuk dipejamkan, sebuah malam tanpa aktivitas menjadi keheningan malam yang hanya terdengar menutupi malam pertama kami di kp.marengo - baduy luat untuk melanjutkan kegiatan esok hari untuk lebih mengenal orang-orang pribumi yaitu kp. Marengo.

Seputar Ilmu Pengetahuan
·         Mata Pencaharian
Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, masyarakat badui biasanya melakukan kegiatan berladang dan berkebun sebagai mata pencaharian. Seperti berladang, berkebun pohon aren untuk dibuat gula aren dan menenun. Hal nya:
1.      Ladang adalah tempat menanam padi . Padi yang di tanam adalah padi gogo karena di tanam didaerah lereng dan cara menanamnya juga bukan nandur tapi tanam maju. Biasanya panen padi setahun sekali, ada juga syukuran yang dilaksanakan pada saat sebelum menanam dan setelah panen. Untuk pupuk padinya di gunakan pupuk organic yang berasal dari daun cengkudu, dan daun jeruk bali. Pemupukannya dilakukan semusim 5 Kali dan 1 bulan 2 kali. Setelah panen padi dibawa ke lantaian dengan cara nggunjal ,setalh 2 minggu padi kemudian di bawa ke leuyit (lumbung padi). Padi gogo ini bentuknya lebih kebulat .

2.      Kebon adalah tempat menanam seperti pisang, duren , kencur, jahe, ubi-ubian dll. Alat taninya berupa arit (cerurit) dan golok .
3.      Tenun adalah salah satu aktivitas dimana para masyarakat tidak keladang atau bukan musim panen .alat-alatnya seperti parakatinun, kerekan , sisir dll. Untuk warna di benang tenunya ada dua macam yaitu alami  dari daun rengreng caranya di godok , diambil airnya kemudian dicelupkan bahannya. dan sintetik untuk yang sintetik bahannya di beli dari daerah Bandung yang berjenis majalaya . proses penenunan paling cepat seminggu tergantung motif dan besarnya. Biasanya dijual ke cibeo dan ada juga yang dijual perumah , dengan harga dari 15 ribu sampai puluhan ribu .



4.      Gula Aren
Gula aren merupakan salah satu sumber daya alam yang di hasilkan di baduy . dari pohon inilah pemanis yang dihasilkan .




Dari hasil beladang dan berkebun itulah yang mereka konsumsi sehari–hari. Dengan makan-makanan yang sederhana, begitupun kehidupannya . 
5.      Pengrajin Tas yang biasanya disebut tas koja yang terbuat dari kulit kayu yang dianyam .


·        Arsitektur Tradisional
1.    Rumah baduy :
            Rata-rata bentuk rumahnya sama satu dengan yang lainnya , yaitu rumah panggung yang memiliki  teras dibagian depan yang sangat luas, ruang tengah, satu kamar dan dapur. Komponen pembutan rumah baduy sebagai berikut :
o   Atapnya terbuat dari susunan Daun Kirai dan ijuk.
o   Tersusun dari bambu surung dan bambu wayan. Yang di cara penyatuannya tanpa menggunakan alat penguat (paku) , tetapi menggunakan rotan/ijuk yang diikat untuk menguatkan satu sisi dengan sisi yang lain untuk baduy dalam,tetapi kalau badui luar sudah menggunakan paku dan alat modern lainnnya.
o   Temboknya terbuat dari anyaman bambu item .
o   Susunan lantainya terbuat dari : sarang, pelupuh , dolos dan sunduk. 
o   Pintunya terbuat dari kayu jengjeng

o   Di baduy dalam hanya ada 1 pintu dan dipintunya ada Penolak Bala (katomas atau katajuran) yang terbuat dari hanjuang .
Rumah Baduy                 



                                 
                                                                   
  Dinding bilik


 Lantai    



2.    Lantaian dan Leuyit / Lumbung Padi
Lataian
Lantaian merupakan tempat penyimpanan padi sebelum dimasukkan ke leuyit.




3.    Leuyit
Leuyit merupakan tempat penyimpanan padi



4.    Jembatan Gajeboh
Jembatan ini merupakan salah satu penghubung untuk menuju desa lain , yang dibuat diatas sungai . terbuat dari susunan bambu yang bahan penyatunya dari ijuk dan rotan.

·        Obat – Obatan Tradisional
Suku baduy memanfaatkan flora sebagai obat-obatan . diantaranya :
1.    Daun kanyere untuk obat Pusing
2.    Kelapa ijo untuk  obat kulit
3.    Daun kasoro untuk obat batuk
4.    Getih daun jampang untuk obat luka yang dioleskan
5.    Aren untuk tuak (lahang)
6.    Daun sembung untuk penurun panas

·        Bahasa Isyarat
Untuk bahasa Isyarat di baduy tidak mengunakan bahasa isyrat apapun, berita yang disampaikan hanya melalui mulu ke mulut. Baik menyampaikan suatu acara maupun mengumpukan masyarakatnya.

·        Pakaian
Baduy Dalam :
o   Tutup Kepala / Telekung berwarna putih bagi Laki-laki.
o   Baju Hitam , seperti kebaya untuk bekang .
o   Kain Bawahan berwarna Putih .
o   Gelang Tolak Bala terbuat dari rotan , handam yang dikepang .
o   Tas kain .
o   Tanpa menggunakan alas kaki .

Baduy Luar :
o   Tutup Kepala / Telekung berwarna biru bagi Laki-laki.
o   Baju berwarna dan lebih bermotif karena pengaruh masuknya budaya asing.
o   Celananya sudah bermotif bagi laki-laki, dan untuk bekang masih mengunakan kain biru bercorak batik .
o   Sudah menggunakan alas kaki/sandal.


·         ALAT TRADISIONAL
Alat Masak :
Peralatan hidup seperti alat masak yang  masih sederhana di Baduy yaitu seeng, boboko, asepan, ngiru, salang (nyimpen nasi),  tampi beras, kompor yang yang tradisional .tetapi yang sudah mengalami perubahan itu seperti piring dan gelas dahulu masi terbuat dari kayu tetapi sekarang sudah menggunakan melamin atau pelastik searah dengan pergeseran zaman baik baduy luar maupun baduy dalam.









Alat Tani :
Alat tani yang dipakai adalah  arit (cerurit) , golok dan dukuy / dudung ( topi ladang) .




Kelompok :
·         Dheny Fadhillah
·         Muhammad Andi Putra
·         Hana Dwi Suryani
·         Fitriani
·         Devita Sari

REFRENSI

DAFTAR PUSTAKA

Sarongallo, Ranggina, Simbolisme Unsur Visual Rumah Tradisional. Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2004.

Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi I - cet. 4 . Jakarta: Penerbit Rineka Cipta, 2011.

Qurtubi, Ahmad, Metodologi Penelitian Pendidikan. Banten: PT. Bintang Harapan Sejahtera, 2008

http://www.Asal_usul_Suku_Toraja_Sulawesi Utara. com 05/25/2012 20:10

http://www.rumah-suku-toraja-dan-budaya.com 05/25/2012 19:05

PENUTUP


PENUTUP

Kepercayaan Aluk Todolo pada hakikatnya sudah mendarah daging bagi Suku Toraja yang merupakan suatu kepercayaan animis berdasarkan mitos dan legenda leluhur orng Toraja, yang mengakui yang menyembah roh-roh yang disebut Puang Matua, Deata-deata, dan Tomembali Puang (Todolo). Kepercayaan ini melahirkan empat tingkatan (pelapisan) sosial dalam masyarakat tradisional Toraja, yaitu bangsawan tinggi (tana’bulaan), bangsawan menegah (tana’ bassi), rakyat biasa (tana’ karurung), dan hamba sahaya (tana’ kua-kua).
Dalam melaksanakan ritual upacara-upacara adat Aluk Todolo selalu diawali dengan melakukan penyembahan dan pemujaan kepada Todolo (leluhur). Hal ini merupakan penghormatan berlebihan yang melahirkan suatu sikap peng’kultus’an terhadap leluhur, yang selanjutnya mengakibatkan segala mitos dan legenda yang disampaikan oleh orang-orang tua menjadi suatu kebenaran yang mutlak dan diterima sebagai dogma yang dapat ditentang kebenarannya, seperti aturan-aturan adat, ataupun asal-usul nenek moyang mereka dan keberadaan Tongkonan dalam kaitannya dengan Aluk Todolo.
Bangunan Tongkonan merupakan representasi dari budaya kepercayaan Aluk Todolo dan dianggap sebagai mikrokosmos. Tongkonan adalah rumah yang hanya dimiliki oleh keluarga bangsawan Toraja, mempunyai fungsi adat dalam kaitannya dengan kepercayaan Aluk Todolo, selain sebagai tempat tinggal penguasa adat/ bangsawan (dahulu)juga berfungsi sebagai pusat pnyelenggaraan upacara adat yang religius yaitu pesta adat : Rambu Tuka dan Rambu Solo.
Badaya ‘perahu’ pernah dikenal oleh masyarakat Toraja yang dapat dibuktikan dengan : adanya bentuk erong (peti mati) yang mirip dengan bentuk perahu, yang menurut kepercayaan Aluk Todolo dianggap sebagai ‘kendaraan’ orang mati menuju alam puya (alam sesudah kematian; perbendaharaan kata puang lembang (puang = yang empunya; lembang = perahu) yang dulu dipakai untuk menyebut pimpinan kelompok orang berperahu yang datang ke Toraja. Istilah lembang itu masih dapat ditemukan dan tetap digunakan sampai sekarang di bagian utara dan selatan Toraja, meskipun arti kata itu sudah bermakna lain yaitu wilayah atau daerah kecamatan. Oleh karena itu, orang Toraja sendiri pada saat ini mengartikan bentuk atap Tongkonan sebagai abstraksi dari bentuk perahu; istilah tukak somba yang dipakai oleh orang-orang pesisir untuk menamakan ‘tiang utama’ perahu mereka, juga dipakai untuk memberikan predikat pada tiang penyangga Longa (atap rumah bagian depan dan belakang yang menjulang ke atas) pada bangunan Tongkonan; bentuk arsitektur Tongkonan  memperlihatkan kemiripan dengan bentuk ‘perahu upacara’ dengan penutup atap melengkung yang sedang disimpan seperti yang terdapat di pesisir pantai di Ceylon.
Bila ditinjau dari kondisi geografis Tana Toraja saat ini yang merupakan dataran tinggi dan bukit-bukit, dengan posisi terletak cukup jauh dari pesisir pantai yang relatif tidak dapat menunjang kegiatan ‘maritim’a dalam hal ini budaya perahu maka adanya bentuk dan istilah ‘perahu’ yang dikenal oleh masyarakat Toraja membuktikan bahwa nenek moyang mereka merupakan ‘pendatang’ yang kemudian menetap di dearah tersebut.
Namun dalam perkembangan selanjutnya, untuk menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan alam demi kelangsungan hidup mereka, dapat dikatakan bahwa budaya ‘agraris’ lebih dominan dalam kehidupan masyarakat Toraja, dengan pemikiran bahwa masyarakat agraris tradisional di Indonesia pada umumnya menanam tanaman padi, dimana dalam melakukan kegiatan bercocok tanam yang diawali dengan membajak sawah selalu mempergunakan atau memanfaatkan kerbau sebagai hewan pembajak. Artinya, kerbau merupakan hewan yang telah ‘akrab’ dengan kehidupan kesehariannya, sehingga ‘bentuk kerbau’ menjadi sangat lekat dalam benak mereka.
Dalam konteks kepercayaan Aluk Todolo, kerbau dianggap sebagai hewan yang paling utama karena merupakan hewan kurbau untuk ‘sajian persembahan’ yang tertinggi nilainya pada pelaksanaan upacara-upacara adat. Selain itu, kerbau dalam kehidupan sosial orang Toraja dijadikan sebagai hewan ternak yang diharapkan dapat berkembang-biak dan memberikan keuntungan bagi keluarga, yang selanjutnya dipergunakan sebagai standar nilai tukar tertinggi ( pada masa lalu perniagaan yang dilakukan angota-angota masyarakat masih mempergunakan ‘sistem barter’ barang karena belum mengenal ‘alat tukar’ berupa uang seperti sekarang).
Dari uraian di atas dapat dipahami bila posisi kerbau ( tedong) dalam kehidupan masyarakat Toraja dianggap sebagai pokok harta benda yang kemudian diistilahkan tedonggaronto’eanan, dengan kata lain kerbau dikonotasikan sebagai modal utama bagi keluarga orang Toraja. oleh karena itu, visualisasi bentuk kerbau berulang-ulang ditampilkan (paling sering tampil dalam bentuk kepala kerbau) merupakan suatu upaya untuk menekankan ‘penting’nya kerbau dalam kehidupan sosial-budaya masyarakat.
Budaya ‘kerbau’ sangat mempengaruhi kehidupan dan alam pikiran masyarakat sehingga bentuk kerbau hampir selalu  menjadi acuan dalam menciptakan bentuk-bentuk tertentu sebagai simbol yang mempunyai makna tersendiri dan merupakan unsur-unsur visual Tongkonan yang terpadu dalam satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan bangunan, baik dalam bentuk dua dimensi maupun tiga dimensi, seperti ukiran ragam hias Pa’tedong pada Tongkonan dan Alang yang merupakan simbol kekayaan dan kemakmuran, atau kabongo’ yang berbentuk ikon ‘patung’ kerbau yang dipasang pada bagian depan Tongkonan sebagai simbol kebangsawanan atau untuk menunjukkan peranan/kedudukan sosial yang tinggi dari pemiliknya, dalam sistem kemasyarakatan orang Toraja. Bahkan lebih daripada itu, bangunan  tongkonan pun diasosiasikan dengan bentuk kepala kerbau.
Dengan tidak adanya tulisan dalm bentuk huruf abjad konvensional seperti yang dikenal saat ini, dalam tradisi masyarakat Toraja selain penuturan lisan untuk mengkomunikasikan dan mendokumentasikan gagasan-gagasan, ajaran-ajaran, dan pesan-pesan, maka merek menciptakan bentuk artikulasi simbolik yaitu Passura’ ( ukiran) pada bangunan sebagai sistem komunikasi transverbal melalui simbol-simbol.
Oleh karena itu Passura’ sebagai karya seni ukir masyarakat Toraja semula tidak dimaksudkan sebagai hiasan tetapi merupakan ‘tanda’ yang menyampaikan hal-hal yang penting, seperti tata kehidupan sosial orang Toraja, pesan-pesanyang bersifat moralis, dan peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi, dan dalam penerapannya, Passura’mendukung tujuan pelaksanaan dua macam kegiatan pesta yang berbeda ( pesta Rambu Tuka’ dan Rambu Solo’).
Kebudayaan, lama atau baru, pada hakikatnya bersifat dinamis, bukanlah sesuatu yang abadi. Kebudayaan Toraja sekarang merupakan hasil interaksi dan perbauran berbagai kebudayaan daerah dan etnis, ditambah pengaruh-pengaruh dari luar sejak dahulu hingga kini.
Kepercayaan Aluk Todolo selama beberapa abad yang dianut dengan ketat oleh masyarakat tradisional Toraja yang bertahan di wilayah-wilayah pedalaman terpencil, dan tidak dapat berkembang karena kurang terpengaruh oleh budaya suku-suku lain disekitarnya, namun dengan terbukanya jalur-jalur transportasi dari dan ke daerah Toraja sejak akhir abad yang lalu, maka persentuhan antara budaya asli dengan budaya luar tak dapat terhindarkan, yang selanjutnya membawa pengaruh pada sendi-sendi kehidupan budaya mereka. Pengaruh dari luar itu cukup besar, dan itu memungkinkan anggota dari suku dan bangsa lain masuk ke Toraja dan lambat laun mempengaruhi kehidupan masyarakat.

a.  Kebuayaan menghadapi masa depan
Sebuah kebudayaan tidak akan pernah punah atau hilang apabila di suatu dan daerah masyarakat tetap mempertahankan serta melestarikan kebudayaan ini agar tidak tereksploitasi oleh kebudayaan asing atau luar yang bisa menggerus dan menghilangkan kebudayaan asli yang dimiliki oleh sebuah suku atau daerah seperti, Suku Toraja yang masih tetap melestarikan kebudayaan dari sejak nenek moyang sampai sekarang. Oleh karena itu sebagai generasi muda harus memilki kepedulian untuk memlestarikan kebudayaan agar tidak punah dan hilang walaupun kita tidak tinggal di tempat tersebut merasakan apabila kebudayaan yang dimiliki oleh Suku Toraja ini hilang berarti sudah hilang satu asset kebudayaan yang dimiliki bangsa dan bagaimana dengan suku-suku yang lain. Ini menjadi pembelajaran bagaimana untuk tetap mempertahankan kebudayaan yang sudah ada. Dan tanpa ada bantuan dari generasi muda maka akan sia-sia saja untuk tetap bisa mempertahankan dan melestarikan kebudayaan agar anak cucu kita nanti tetap bisa merasakan dan melihat betapa banyak kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia serta bisa membanggakan kebudayaan bangsanya sendiri.

b.  Kebudayaan sebagai asset Pariwisata
Kebudayaan sebagai asset Pariwisata adalah yang paling utama yang harus dimiliki karena apabila kemajuan Pariwisata suatu bangsa dan negara sudah bisa menaikan dan menambahkan devisa negara untuk kemajuan suatu bangsa dan negara. Sebetulnya apa yang membuat kebudayaan kita kurang dikenal oleh negara lain serta kurangnya kunjungan wisatawan ke Indonesia. Dan bagaimana cara kita untuk menghadapi hal seperti ini? Mungkin dengan cara melihatkan dan memperkenalkan kebudayaan yang ada di Indonesia bahwa Idonesia memiliki banyak kebudayaan yang masih sangat asli dan belum terjama dengan dunia luar. Oeh karena itu peran Pemerintah daerah dan pusat serta para pelaku yang berperan Pariwisata yang memiliki tanggungjawab bersama saling melestarikan sebuah kebudayaan yang menjadi asset sebuah bangsa. Seperti kebanyakan suku, bahasa, kebudayaan, dan kesenian suatu bangsa akan punah dan hilang.

SISITEM KESENIAN


SISTEM KESENIAN    

                                     
Seni Tadisional di Toraja

Dalam tradisi Toraja, karya seni yang sangat menonjol adalah arsitektur berupa bangunan rumah adat (Tongkonan) dan lumbung padi (Alang) dan Ukiran. Dinding Tongkonan dan Alang diukir dengan ragam hias tradisional Toraja, disebut Tongkonan sura’ (banua sura’) dan Alang sura’. Namun tidak semua rumah dan lumbung padi dihiasi dengan ukiran, karena beberapa motif ukiran merupakan simbol status sosial bagi orang-orang tertentu dalam masyarakat Toraja, sehingga penerapan motif-motif tertentu harus sesuai dengan adat dan tradisi.
Rumah Adat Suku Toraja mengalami perkembangan terus sampai kepada rumah yang dikenal sekarang ini. Perkembangan itu meliputi penggunaan ruangan, pemakaian bahan, bentuk, sampai cara membangun. Sampai pada keadaannya yang sekarang rumah adat suku Toraja berhenti dalam proses perkembangan. Sekalipun begitu, sejak asalnya rumah adat ini sudah punya ciri yang khas. Ciri ini terjadi karena pengaruh lingkungan hidup dan adat istiadat suku Toraja sendiri. Seperti halnya rumah adat suku-suku lain di Indonesia yang umumnya dibedakan karena bentuk atapnya, rumah adat Toraja inipun mempunyai bentuk atap yang khas. Memang mirip dengan rumah adat suku Batak, tetapi meskipun begitu rumah adat suku Toraja tetap memiliki ciri-ciri tersendiri.
1. Pada mulanya rumah yang didirikan masih berupa semacam pondok yang diberi nama Lantang Tolumio. Ini masih berupa atap yang disangga dangan dua tiang + dinding tebing .
2. Bentuk kedua dinamakan Pandoko Dena. Bentuk ini biasa disebut pondok pipit karena letak-nya yang diatas pohon. Pada prinsipnya rumah ini dibuat atas 4 pohon yang berdekatan dan berfungsi sebagai tiang. Hal pemindahan tempat ini mungkin disebabkan adanya gangguan binatang buas.
3. Perkembangan ketiga ialah ditandai dengan mulainya pemakaian tiang buatan. Bentuk ini memakai 2 tiang yang berupa pohon hidup dan 1 tiang buatan. Mungkin ini disebabkan oleh sukarnya mencari 4 buah pohon yang berdekatan. Bentuk ini disebut Re'neba Longtongapa.
4. Berikutnya adalah rumah panggung yang seluruhnya mempergunakan tiang buatan. Dibawahnya sering digunakan untuk menyimpan padi (paliku), ini bentuk pertama terjadinya lumbung .
5. Perkembangan ke~5 masih berupa rumah pangqung sederhana tetapi dengan tiang yang lain. Untuk keamanan hewan yang dikandangkan dikolong rumah itu. tiang-tiang dibuat sedemikian ru pa sehingga cukup aman. Biasanya tiang itu tidak dipasang dalam posisi vertikal tetapi merupakan susunan batang yang disusun secara horisontal.
6. Lama sesudah itu terjadi perobahan yang agak banyak. Perubahan itu sudah meliputi atap, fungsi ruang dan bahan. Dalam periode ini tiang-tiang kembali dipasang vertikal tetapi dengan jumlah yang tertentu. Atap mulai memakai bambu dan bentuknya mulai berexpansi ke depan (menjorok). Tetapi garis teratas dari atap masih datar. Dinding yang dibuat dari papan mulai diukir begitu juga tiang penyangga. Bentuk ini dikenal dengan nama Banua Mellao Langi.
7. Berikutnya adalah rumah adat yang dinamakan Banua Bilolong Tedon. Perkembangan ini terdapat pada Lantai yang mengalami perobahan sesuai fungsinya.
8. Pada periode ini hanya terjadi perkembangan pada lantai dan tangga yang berada di bagian depan.
9. Pada periode ini letak tangga pindah ke bawah serta perubahan permainan lantai.
10. Banua Diposi merupakan nama yang dikenal untuk perkembangan kesembilan ini. Perubahan ini lebih untuk menyempurnakan fungsi lantai (ruang).
11. Berikutnya adalah perobahan lantai yang menjadi datar dan ruang hanya dibagi dua.
Setelah periode ini perkembangan selanjutnya tidak lagi berdasarkan adat, tetapi lebih banyak karena persoalan kebutuhan akan ruang dan konstruksi. Bagitu juga dalam penggunaan materi mulai dipakainya bahan produk mutakhir, seperti seng, sirap, paku, dan sebagainya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa perkembangan yang terakhir merupakan puncak perkembangan dari rumah adat Toraja banyak memiliki kesenian dari seni .

Kerajinan                                

Karya kerajinan yang paling menonjol di Toraja adalah ukiran dan tenunan. Keterampilan mengukir dan menenun yang diperoleh secara turun menurun telah lama membudaya dalam masyarakat Toraja. Ukiran ragam hias tradisional Toraja yang menghiasi Tongkonan dan Alang mengandung arti simbolis yang erat kaitanya dengan falsafah hidup orang Toraja. Adanya kemiripan sejumlah motif yang terdapat pada kain tenun tradisional Toraja dengan motif ukiran Tongkonan, mengundang pertanyaan yang cukup penting : apakah motif ukiran yang terdapat pada Tongkonan  diciptakan lebih dahulu, kemudian motif kain tenun tradisionalnya mengikuti, atau sebaliknya, atau dikembangkan bersama-sama. Keterampilan mengukir dan menenun yang diperoleh secara turun temurun telah lama membudaya dalam masyarakat Toraja. Ukiran ragam hias tradisional Toraja yang menghiasi Tong Kanan dan Alang mengandung arti simbolis yang erat kaitannya dengan falsafal hidup orang Toraja. Pengrajin kain tenun tradisional adalah perempuan, terdapat di Sa’dan Malimbong, di Salu Noling, dan di Rongkong. Dengan hanya mempergunakan pendekatan ‘garonto passura’ dan keterangan beberapa tokoh masyarakat setempat, belumlah cukup memadai untuk membuktikannya, oleh karena itu dibutuhkan dukungan dari bidang-bidang ilmu lain yang terkait untuk menunjang keterangan tepat yang sesungguhnya.  Hasil tenunan , dibuat untuk keperluan sebagai pakaian dan kain sarung, yang pada umumnya dikemas dalam warna-warna cerah seperti kuning, biru muda, dan merah.
Seni Pertunjukan
Tana Toraja memiliki kesenian yang telah mendarah daging turun temurun pada masyarakatnya. Berbagai macam obyek yang menarik baik secara langsung diciptakan-Nya maupun secara sengaja dibuat oleh orang-orang yang memilki cita rasa dibidang seni yang tinggi tentang budayanya sendiriSeni pertunjukan tradisional Toraja meliputi seni tari dan musik. Kesenian ini selalu ikut hadir dalam upacara-upacara adat Rambu Tuka’ dan Rambu Solo’. Tarian yang biasanya digelar pada upacara Rambu Tuka’ antara lain : tari pagellu’, tari pa’bonebala’, tari dao’bulan, tari ma’dandan,tari manimbong, tari manganda’, tari pa’bondesan, dan lain-lain. Sedangkan pada upacara Rambu Solo’, tarian yang digelar antara lain : tari ma’badong, tari ma’katia, tari passailo’, tari pa’papangan, tari ma’randing, tari ma’dondi’, dan lain-lain.
Tarian tradisional tersebut dibawakan oleh semua lapisan masyarakat tanpa melihat strata sosial, baik para remaja, orang dewasa, para orang tua laki-laki maupun perempuan, sesuai dengan jenis pesta adat yang diselenggarakan. Musik tradisional Toraja meliputi : passuling, pa’pelle (pa’barrung), pa’pompang (pa’bas), pa’tulali dan  pa’keso’keso’. Alat-alat musik tersebut pada umumnya terbuat dari  bahan baku alam seperti : bambu, batang padi, daun enau, dan tempurung kelapa, dan dimainkan pada saat upacara adat. Tongkonan adalah rumah tradisional Toraja yang berdiri di atas tumpukan kayu dan dihiasi dengan ukiran berwarna merah, hitam, dan kuning. Kata "tongkonan" berasal dari bahasa Toraja tongkon ("duduk"). Tana Toraja mempunyai tari-tarian yang disesuaikan dengan upacara-upacara. Tarian yang diperlihatkan pada upacara kematian tentu berbeda pada upacara syukur atau gembira. Maksud tarian ini dihubungkan dengan (Dewatanya) yang berarti berdoa. Selama menari orang biasanya menyanyi. Maksud nyanyian tersebut ialah mengatakan pesta apa yang diadakan, lagunya hampir sama saja dan memberi pengertian pesta yang dibuat.




Tari-tarian dan seni musik yang ada di Toraja yaitu :
  • Tari Pa’gellu
Merupakan salah satu tarian tradisional dari Tana Toraja yang dipentaskan pada acara pesta “Rambu Tuka”. Tarian ini juga dapat ditampilkan untuk menyambut patriot atau pahlawan yang kembali dari medan perang dengan membawa kegembiraan.
  • Tarian Ma’badong
Tari ini hanya diadakan pada upacara kematian ini bergerak dengan gerakan langkah yang silih berganti sambil melantunkan lagu ( Kadong Badong ) yang syairnya berisikan riwayat manusia mulai dari lahir hingga mati, agar arwah yang telah meninggal dapat diterima di negeri arwah ( Puya ) atau alam dialam baka.
  • Musik Passuling
Passuling diperagakan dengan menggunakan suling lembang yaitu suling tradisional Toraja dan dimainkan oleh laki-laki untuk mengiringi lantunan lagu duka dalam menyambut keluarga atau kerabat yang menyatakan duka citanya.

  • Musik Pa’pompang
Musik bambu yang pagelarannya merupakan satu simponi orkestra, dimainkan oleh banyak orang. Musik bambu ini biasanya dimainkan pada perayaan bersejarah.
  • Musik Pa’karobi
Alat kecil dengan benang halus diletakkan pada bibir. Benang atau bibir disentak-sentak sehingga menimbulkan bunyi yang berirama halus namun mengasyikkan.
  • Musik Pa’geso-geso
Sejenis alat musik gesek yang terbuat dari kayu dan tempurung kelapa yang diberi dawai. Dawai yang digesek dengan alat khusus yang terbuat dari bilah bambu dan tali akan menimbulkan suara yang khas.
Terlindung aman di luar gunung tinggi dan tebing batu granit, inilah tempat dimana  masyarakat Toraja tinggal, di sebuah lembah subur dengan terasering sawah menghijau dan perkebunan kopi yang subur. Inilah salah satu tempat terindah di Indonesia yang menyimpan daya magis dalam kultur extravaganza Tana Toraja serta bebatuan megalitik Lore Lindu.
Pesonanya terkuak ketika tengkorak-tengkorak manusia menunjukan kemisteriusannya kepada Anda juga puluhan kerbau dan babi yang pasrah disembelih untuk upacara kematian demi sebuah ritus ‘Orang Mati yang Hidup’ .