Tampilkan postingan dengan label m.- andi putra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label m.- andi putra. Tampilkan semua postingan

Mengenal Folklore Bukan Lisan Suku Baduy


Kampung Marengo, BADUY LUAR
Menuju sebuah kampung yang masih sangat menjaga kearifan lokal menjadi ciri khas tersendiri yaitu kampung suku baduy . Sesampainya di ciboleger kami melanjutkan perjalanan menuju kampung marengo, ditengah perjalanan yanh cukup melelahkan untuk sampai ke kampung marengo. Perjalanan yang menanjak, tebing dan jurang menjadi sahabat perjalanan kamu untuk menuju kampung marengo. Serta jalan setapak menurun dan menanjak seperti menjadi tantangan yang harus di hadapi untuk sampai di kp. Marengo. Pemandangan yang indah dan sungai seakan-akan mengurangi rasa lelah dalam melakukan perjalanan sampai ke kp. Marengo tanpa terasa 2 jam perjalanan kami sampai di kampung yang menjadi tujuan kami. Rasa penat dan lelah semua terasa terbayarkan setelah sampai di kp.marengo dengan melihat kehidupan yang sederhana tanpa mengeluh seakan membuat kami merasa malu , membandingkan kehidupan kami dengan mereka. Kami sadar bahwa kehidupan memberikan pelajaran yang sangat berarti, inilah kehidupan yang sebenarnya. Kami yang hidup serba kecukupan saja terkadang masih mengeluh tetapi mereka menjalani kehidupan penuh kesederhanaan tanpa ada sedikitpun mengeluh, karena mereka sadar bahwa kehidupan bukan hanya untuk hari ini saja. Perjalanan kehidupan masih terus berjalan tidak akan terputus untuk hari ini .
Melihat dari segi kehidupan mereka kami menarik kesimpulan bahwa mengeluh saja tidak cukup melakukan kegiatan dan itu sangat merugikan mereka tentunya , seandainya mereka terus-meners hanyalah mengeluh. Meskipun waktu menunjukan sore hari kami bergegas untuk menunggu pembagian homestay karena kami sampai di ciboleger jam 2 siang, dan langsung melanjutkan perjalanan ke marengo dan homestay yang akan kami tinggali sangat berbeda jauh dengan rumah kami. Yang kiri kanan sudah tembok tetapi disini kami menemui rumah yang terbuat dari bilik bambu dan beratapkan kirai ini menjadi sebuah pengalaman baru untuk kami. Setelah pembagian homestay selesai kami langsung menuju homestay yang disediakan untuk beristirahat sejenak melepas penat dan rasa lelah. Seakan waktu mengisyaratkan kami menunjukkan pukul 5 sore ingin membersihkan diri dari keringat yang mengalir deras karena perjalanan tadi. Jadi kami beranjak langsung menuju sungai yang letaknya tidak jauh dari kampung marengo , sebuah pengalaman baru juga untuk mandi disungai karena sungai menjadi satu-satunya sumber air untuk kp.marengo . Semua aktivitas yang berkaitan dengan air disana semua dilakukan seperti mandi, mencuci,dan kakus mereka lakukan disana. Meskipun air disungai tidak terlalu jernih tetapi sangat menyegarkan badan dan merasa cukup , selesai kami langsung bergegas kembali menuju homestay untuk beristirahat.
Tidak terasa sore berganti malam dan waktu menunjukkan pukul 7 malam , setelah kami selesai makan malam dengan penerangan yang sangat redup menemani hari pertama kami di kp.marengo - baduy luat. Semua aktivitas seakan terhenti dengan terbenam sang cahaya . Pemandangan yang berbeda dengan kemajuan teknologi masih ada di sebuah perkampungan yang di malam hari hanya diterangi oleh rembulan , tidak adanya listrik dalam kehidupan malam mereka tanpa harus merasakan kegelapan malam yang semakin larut semakin gelap. Yang menjadi pertanyaan kami adalah apa alasan kp.marengo tidak mau menggunakan listrik ? Apakah mereka tidak ingin membayar listrik atau karena merka tidak mengerti apa itu listrik ? . Ternyata bukan karena mereka tidak mengerti tetapi mereka tidak mau mengambil resiko yang akan ditimbulkan seperti : kebakaran , apabila terjadi konsleting listrik dan alasan lain adalah masuknya listrik ke kampung mereka berarti alat-alat elektronik pasti akan terjadi modernisasi didalam kampung mereka. Seperti televisi yang akan membuat malas anak-anak mereka nantinya, hanya menonton televisi saja setiap hari dan tidak mau membantu bapak berladang disawah yang sudah menjadi aktivitas mereka sehari-hari. Jadi, itulah alasan mereka tidak mau menggunakan listrik serta jangkauan listrik yang sangat jauh pula menjadi pemikiran mereka dan alasan yang paling kuat adalah mereka sudah berpegang teguh pada kepercayaan nenek moyang sejak zaman dahulu , serta tidak mau untuk merubah kebiasaan dari nenek moyang sampai sekarang. Keadaan dalam rumah yang penuh kesederhanaan hanya ada satu kamar, satu dapur , dan ruang tengah. Serta adanya leuyit, jembatan bambu menajadi suatu pengalaman baru .
Tidak terasa malam semakin larut, mata ini untuk dipejamkan, sebuah malam tanpa aktivitas menjadi keheningan malam yang hanya terdengar menutupi malam pertama kami di kp.marengo - baduy luat untuk melanjutkan kegiatan esok hari untuk lebih mengenal orang-orang pribumi yaitu kp. Marengo.

Seputar Ilmu Pengetahuan
·         Mata Pencaharian
Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, masyarakat badui biasanya melakukan kegiatan berladang dan berkebun sebagai mata pencaharian. Seperti berladang, berkebun pohon aren untuk dibuat gula aren dan menenun. Hal nya:
1.      Ladang adalah tempat menanam padi . Padi yang di tanam adalah padi gogo karena di tanam didaerah lereng dan cara menanamnya juga bukan nandur tapi tanam maju. Biasanya panen padi setahun sekali, ada juga syukuran yang dilaksanakan pada saat sebelum menanam dan setelah panen. Untuk pupuk padinya di gunakan pupuk organic yang berasal dari daun cengkudu, dan daun jeruk bali. Pemupukannya dilakukan semusim 5 Kali dan 1 bulan 2 kali. Setelah panen padi dibawa ke lantaian dengan cara nggunjal ,setalh 2 minggu padi kemudian di bawa ke leuyit (lumbung padi). Padi gogo ini bentuknya lebih kebulat .

2.      Kebon adalah tempat menanam seperti pisang, duren , kencur, jahe, ubi-ubian dll. Alat taninya berupa arit (cerurit) dan golok .
3.      Tenun adalah salah satu aktivitas dimana para masyarakat tidak keladang atau bukan musim panen .alat-alatnya seperti parakatinun, kerekan , sisir dll. Untuk warna di benang tenunya ada dua macam yaitu alami  dari daun rengreng caranya di godok , diambil airnya kemudian dicelupkan bahannya. dan sintetik untuk yang sintetik bahannya di beli dari daerah Bandung yang berjenis majalaya . proses penenunan paling cepat seminggu tergantung motif dan besarnya. Biasanya dijual ke cibeo dan ada juga yang dijual perumah , dengan harga dari 15 ribu sampai puluhan ribu .



4.      Gula Aren
Gula aren merupakan salah satu sumber daya alam yang di hasilkan di baduy . dari pohon inilah pemanis yang dihasilkan .




Dari hasil beladang dan berkebun itulah yang mereka konsumsi sehari–hari. Dengan makan-makanan yang sederhana, begitupun kehidupannya . 
5.      Pengrajin Tas yang biasanya disebut tas koja yang terbuat dari kulit kayu yang dianyam .


·        Arsitektur Tradisional
1.    Rumah baduy :
            Rata-rata bentuk rumahnya sama satu dengan yang lainnya , yaitu rumah panggung yang memiliki  teras dibagian depan yang sangat luas, ruang tengah, satu kamar dan dapur. Komponen pembutan rumah baduy sebagai berikut :
o   Atapnya terbuat dari susunan Daun Kirai dan ijuk.
o   Tersusun dari bambu surung dan bambu wayan. Yang di cara penyatuannya tanpa menggunakan alat penguat (paku) , tetapi menggunakan rotan/ijuk yang diikat untuk menguatkan satu sisi dengan sisi yang lain untuk baduy dalam,tetapi kalau badui luar sudah menggunakan paku dan alat modern lainnnya.
o   Temboknya terbuat dari anyaman bambu item .
o   Susunan lantainya terbuat dari : sarang, pelupuh , dolos dan sunduk. 
o   Pintunya terbuat dari kayu jengjeng

o   Di baduy dalam hanya ada 1 pintu dan dipintunya ada Penolak Bala (katomas atau katajuran) yang terbuat dari hanjuang .
Rumah Baduy                 



                                 
                                                                   
  Dinding bilik


 Lantai    



2.    Lantaian dan Leuyit / Lumbung Padi
Lataian
Lantaian merupakan tempat penyimpanan padi sebelum dimasukkan ke leuyit.




3.    Leuyit
Leuyit merupakan tempat penyimpanan padi



4.    Jembatan Gajeboh
Jembatan ini merupakan salah satu penghubung untuk menuju desa lain , yang dibuat diatas sungai . terbuat dari susunan bambu yang bahan penyatunya dari ijuk dan rotan.

·        Obat – Obatan Tradisional
Suku baduy memanfaatkan flora sebagai obat-obatan . diantaranya :
1.    Daun kanyere untuk obat Pusing
2.    Kelapa ijo untuk  obat kulit
3.    Daun kasoro untuk obat batuk
4.    Getih daun jampang untuk obat luka yang dioleskan
5.    Aren untuk tuak (lahang)
6.    Daun sembung untuk penurun panas

·        Bahasa Isyarat
Untuk bahasa Isyarat di baduy tidak mengunakan bahasa isyrat apapun, berita yang disampaikan hanya melalui mulu ke mulut. Baik menyampaikan suatu acara maupun mengumpukan masyarakatnya.

·        Pakaian
Baduy Dalam :
o   Tutup Kepala / Telekung berwarna putih bagi Laki-laki.
o   Baju Hitam , seperti kebaya untuk bekang .
o   Kain Bawahan berwarna Putih .
o   Gelang Tolak Bala terbuat dari rotan , handam yang dikepang .
o   Tas kain .
o   Tanpa menggunakan alas kaki .

Baduy Luar :
o   Tutup Kepala / Telekung berwarna biru bagi Laki-laki.
o   Baju berwarna dan lebih bermotif karena pengaruh masuknya budaya asing.
o   Celananya sudah bermotif bagi laki-laki, dan untuk bekang masih mengunakan kain biru bercorak batik .
o   Sudah menggunakan alas kaki/sandal.


·         ALAT TRADISIONAL
Alat Masak :
Peralatan hidup seperti alat masak yang  masih sederhana di Baduy yaitu seeng, boboko, asepan, ngiru, salang (nyimpen nasi),  tampi beras, kompor yang yang tradisional .tetapi yang sudah mengalami perubahan itu seperti piring dan gelas dahulu masi terbuat dari kayu tetapi sekarang sudah menggunakan melamin atau pelastik searah dengan pergeseran zaman baik baduy luar maupun baduy dalam.









Alat Tani :
Alat tani yang dipakai adalah  arit (cerurit) , golok dan dukuy / dudung ( topi ladang) .




Kelompok :
·         Dheny Fadhillah
·         Muhammad Andi Putra
·         Hana Dwi Suryani
·         Fitriani
·         Devita Sari

kesenian


Seni

Sejak dahulu orang Bahau banyak menyimpan benda-benda kuno seperti piring keramik, alat-alat makan keramik, tempayan keramik, dan lain-lainnya. benda-benda keramik itu diduga berasal dari Negara Cina. Mereka juga memiliki kekayaan dalam ekspresi keindahan, misalnya dalam seni tari dan seni musik. Orang Bahau memiliki lagu waktu memotong padi (lagu netna), lagu pujian untuk bulan purnama (lagu Ngen Jiu Hen Le), yang dibawakan oleh gadis-gadis dan perjaka secara bergantian sebagai hiburan. Lagu Jong Nyelong mengiringi tari sebagai ungkapan rasa syukur terhadap keberhasilan panen ladang.
Mereka juga memiliki tari-tarian tradisional, diantaranya adalah yang terkenal tari Hudoq, yaitu tari massal yang dilakonkan oleh pria dan wanita pada waktu manunggal dan merumput padi di ladang. Para penari menggunakan pakaian yang terbuat dari daun pisang yang telah diiris-iris dan disusun sedemikian rupa mulai dari leher sampai ke kaki dan ujung tangan. Pakaian ini menggambarkan sisik-sisik buaya, kepala penarinya menggunakan topeng yang penuh dengan tata warna. Para penarinya membawa tongkat kayu panjang sedepa. Tarian ini diiringi bunyi-bunyian, antara lain berupa gong (egong), gendang (taweng), yang panjangnya sekitar dua meter, jempai yaitu alat sejenis gitar bersenar dua, suling (kendek). Tarian ini menimbulkan suasana sakral.

sistem religi



 
Ciri fisik dan budaya
fisik orang Bahau menunjukan bahwa mereka sebagai bagian dari ras Mongoloid. Dalam proses sejarah kehidupan kemasyarakatannya, mereka memiliki pengetahuan dan kepercayaan yang mempengaruhi cirri-ciri fisiknya seperti pada berbagai kelompok orang Dayak lainnya, orang Bahau juga pernah mengenal telinga panjang terutama pada kaum wanitanya. Telinga wanita dilubangi kemudian digantungi anting-anting sehingga daun telinga tertarik dan akhirnya menjadi panjang dan turun kebawah. Pada masa lalu telinga panjang merupakan suatu simbol status atau derajat seorang wanita. Generasi sekarang sudah tidak mau lagi punya telinga semacam itu bahkan generasi yang sudah terlanjur telinganya mulai panjang merasa malu, dan tidak jarang diantara mereka memotong kelebihan telinga iu ke dokter yang berada di kota Tenggarong ataupun Samarinda. Sedangkan pada kaum Prianya pada masa lalu membuat dua lubang pada daun telinga, lubang atas sebagai tempat menyelipkan paruh burung engang, sedangkan lubang bawah tempat untuk mencucukkan taring harimau. Semua ini merupakan lambang keperkasaan atau kejantanan kaum pria. Mereka juga mengenal tato (tutang cacah) baik pada pria maupun wanita. Pada masa lalu setiap gadis yang akan kawin harus dirajah terlebih dahulu , hal ini dimaksudkan sebagai latihan untuk menahan raasa sakit yang akan dialami ketika melahirkan kelak. Motif-motif hiasan rajah pada kulit kaki atau pada bagian tubuh lainnya itu juga memberi makna tentang status sosial atau kebangsawanan seseorang.
Pola Permukiman
Pemukiman orang Bahau pada umumnya berada di sekitar tepi sungai atau pada pertemuan anak sungai dengan sungai besar, seperti sungai Mahakam. Rumah- rumah mengelompok berjejer sepanjang badan sungai. Dahulu keluarga-keluarga mereka hidup dalam bilik-bilik (amin) dari rumah tradisional (umaa) yang panjangnya ratusan meter dengan puluhan bilik, antara bilik yang satu dan yang lainnya di batasi dengan dinding papan atau kulit kayu. Bilik-bilik ini tidak memiliki jendela, sehingga hampir tidak ada cahaya yang masuk. Di bagian depan terdapat beranda yang menghubungkan bilik-bilik tersebut. Kini rumah-rumah panjang semacam itu sebagian besar sudah punah. Mereka masih membuat bangunan tradisional itu dengan ukuran yang lebih pendek dan tidak lagi sebagai tempat tinggal, melainkan sebagai gedung pertemuan tempat melaksanakan upacara adat atau pertunjukan seni.
Kini rumah keluarga itu umumnya berupa rumah tinggal yang berjejer sepanjang tepi sungai, rumah itu umumnya berbentuk pangung dari kayu dengan dinding papan dan atap sirap atau seng. Rumah-rumah tinggal ini sudah memiliki jendela dan pintu yang lebar. Bentuk rumahnya tidak lagi mengikuti bentuk rumah adat lama, tetapi disesuaikan dengan selera pemiliknya yang mungkin meniru bentuk rumah-rumah lain yang pernah diliatnya.
Di tepi sungai mereka membuat pemandian, tempat mencuci, dan jambangan umum. Tempat pemandian umum (amban) ini dibuat terapung seperti rakit diatas dua atau tiga potong pohon besar yang direndengkan. Diatasnya dibuatkan jamban yang dikelilingi dinding papan dengan pintu sedang dibagian atas ada yang terbuka dan juga ada yang beratap. Tempat pemandian ini terapung mengikuti permukaan air yang naik dimusim hujan dan turun ketika air surut .

PERILAKU MASYARAKAT BAHAU
 Orang bahau sama saja sperti masyarakat dayak laennya , Suku dayak bahau sempat menjalani hidup berpindah-pindah dari hutan ke hutan. Mereka bertahan hidup dengan bercocok tanam dan berburu hewan. Pola hidup ini mulai ditinggalkan Suku Dayak Bahau Busang sejak abad ke-19. Mereka memilih menetap di Kampung Long Pahangai. Perubahan pola hidup ini tidak serta merta menghilangkan adat kebiasaan suku ini.dan selain itu kebiasaan juga .Berburu babi dan ikan masih dijalani. Menjalankan kegiatan ini berarti juga harus melaksanakan semua ritual dan norma yang melekat sebelumnya. Saat kaum pria telah menemukan lokasi perburuan, yang pertama dilakukan ialah memohon izin kepada roh leluhur. Mereka memohon agar terbebas dari petaka saat berburu.dan mereka juga melarang kepada warga nya untuk .Mereka melarang menggunakan bom atau racun ikan. Hanya senjata rakitan dengan anak panah yang diperbolehkan sebagai alat berburu. Tak hanya ikan tembilang yang didapat kaum pria saat berburu. Hiu Mahakam sering menjadi sasaran mata anak panah para pemburu Suku Dayak Bahau .Kesibukan sehari-hari untuk mencari makan tidak membuat Suku Dayak Bahau tidak  slalu lupa lupa bersyukur kepada Sang Pencipta. Mereka beranggapan Amay Tingai yang menjadi Tuhan mereka akan menjauhkannya dari berbagai musibah. Salah satu upacara sebagai wujud syukur Bahau Busang adalah ritual Dangai. Selain ungkapan rasa syukur, upacara ini untuk meneguhkan mereka dalam menjalani kehidupan.
Upacara Dangai selalu diiringi tetabuhan musik tradisional. Bersamaan dengan suara gendang bertalu-talu, sejumlah wanita dengan pakaian adat keluar satu per satu dari sebuah rumah. Ini merupakan awal ditandainya ritual Dangai. Mereka berjalan beriringan mengikuti irama musik untuk menggelar ritual tanah, prosesi awal Dangai.
Sedikit tanah sebagai simbol media yang telah memberi kesuburan dan kemakmuran, pohon berikut akarnya, dan potongan kecil papan lantai dikumpulkan. Bahan-bahan yang diambil dari suatu tempat yang dianggap suci itu lalu ditaruh di lamin besar. Selanjutnya para wanita itu mengitarinya 16 kali yang merupakan simbol kebersatuan alam.Prosesi selanjutnya adalah ritual di bawah atap janur. Ritual ini ditandai dengan pemanjatan doa dan mantera oleh para dayung atau pemuka agama yang semuanya perempuan untuk meminta izin pada roh leluhur agar Dangai berjalan lancar. Dua prosesi ini disebut dengan ngetalun. Pada upacara ini dominasi wanita begitu kental. Namun bukan berarti kaum pria tak berperan. Peran kaum adam Suku Dayak Bahau Busang mulai tampak saat mendirikan pondok lamin, bangunan kecil di depan lamin besar. Mereka bekerja sama membuat bangunan yang akan digunakan sebagai sentral ritual Dangai.
Setelah pondok lamin selesai dibangun, upacara tegerang lepau mulai digelar. Inti upacara Dangai ini dimulai dengan dipanjatkannya kembali mantera ke leluhur oleh pemuka adat. Selanjutnya warga menghadap dayung. Para ibu juga membawa anaknya kepada dayung yang tidak lain agar tunas-tunas Suku Dayak Bahau Busang dapat mengarungi hidup kelak.
Hari pertama Dangai ditandai penyembelihan anak babi dan anak ayam. Hati babi dipercaya mampu menangkap sinyal kehidupan yang akan dihadapi suku ini. Baik buruknya masa depan suku ini dapat dibaca dari warna hati babi yang dipotong. Bila hasilnya masa depan suku ini buruk, hati anak ayam akan ditempelkan pada hati babi sebagai upaya menangkal bencana yang akan muncul di kemudian hari.