Tampilkan postingan dengan label utami kusuma putri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label utami kusuma putri. Tampilkan semua postingan

Akomodasi Desa Penting Sari



Nama : Utami Kusuma Putri


NIM     : 4423116706

Desa Penting sari adalah desa yang terletak di Umbulharjo, Cangkringan Sleman Yogyakarta. Desa Penting sari terdiri atas RW 19 dan RW 20. Rw 19 terdiri dari RT 1 dan 2, sedangkan RW 20, terdiri dari RT 3 dan 4. Di desa ini terdapat 126 kepala keluarga. Desa penting sari memiliki konsep desa wisata. Pendirian konsep desa wisata ini dimulai dari tahun 2006 yang dicetuskan oleh bapak sumardi. Konsep desa wisata di desa penting sari ini, awalnya belum menjadi hal yang biasa bagi warga. Namun dengan berjalannya waktu, warga desa penting sari pun mulai beradaptasi dengan kondisi yang berkembang sekarang. Selain itu juga karena adanya penyuluhan dan pengarahan dari pak sumardi kepada warga desa.
Desa penting sari mulai ramai dikunjungi wisatawan pada tahun ke 2 yakni tahun 2008. Para wisatawan singgah di desa ini, untuk mencari inspirasi serta pengalaman yang belum pernah mereka jalani atau rasakan. Desa wisata penting sari menyediakan sarana akomodasi (penginapan), tracking keliling desa, belajar membatik, menari, membuat kue dan lain sebagainya. Dari beberapa sarana yang ada, saya akan mengulas akomodasi desa penting sari.
 A.        Bentuk Akomodasi
Bentuk akomodasi desa penting sari adalah homestay. Homestay merupakan suatu jenis akomodasi yang berasal dari rumah – rumah rakyat yang telah ditingkatkan fasilitas dan sarananya, sehingga memenuhi syarat – syarat kesehatan, yang disewakan kepada wisatawan. Homestay membuat kesan wisatawan benar-benar menjadi seperti warga desa setempat. Selain itu, dengan bentuk homestay ini, membuat mudahnya interaksi wisatawan terhadap pemilik rumah. di desa penting sari terdapat aturan di setiap homestay, yang mana wisatawan harus mengikuti aturan yang sudah diberlakukan pihak desa. Di desa penting sari, tidak semua rumah merupakan homestay. Hanya 73 kepala keluarga yang rumahnya sudah menjadi homestay. 53 kepala keluarga lainnya belum menjadikan rumahnya sebagai homestay dikarenakan kesibukan pekerjaan mereka dan tidak adanya orang yang menjaga dan mengawasi homestay.
Berikut adalah tampak depan bangunan homestay :

Bagian depan rumah pak Kris

B.        Sistem Pembagian Homestay
Sistem pembagian homestay dikoordinir oleh panitia RW (sebanyak 10 orang) yang ditunjuk/dibentuk oleh sekretariat. Sebelum menginap, wisatawan perlu membooking tempat terlebih dahulu. Hal ini dilakukan supaya masyarakat desa penting sari dapat menyiapkan rumahnya untuk homestay wisatawan dan juga untuk persiapan berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan wisatawan. Jika info sudah sampai ke sekretariat, maka sekretariat mulai berkoordinasi dengan panitia RW yang telah dibentuk. Kemudian Panitia RW inilah yang mendata homestay milik warganya yang sudah ataupun belum ketempatan wisatawan. Sistem pembagian ini mereka lakukan secara bergiliran, sehingga semua warga rumahnya pasti akan ketempatan wisatawan. Penggiliran ini dilakukan supaya tercipta keadilan dan tidak ada rasa iri antar warganya. Setelah pendataan selesai, panitia RW mulai menetapkan rumah-rumah warga yang akan ditempati wisatawan. Kemudian panitia RW dan sekretariat melakukan rapat dengan pemilik homestay dan orang-orang yang berperan dalam kegiatan yang akan dilakukan wisatawan. Pada intinya, pembagian homestay desa penting sari berbentuk circle, berputar dan aktivitas yang dilakukan melibatkan warganya. Untuk wisatawan rombongan biasanya mereka membagi homestaynya masih dalam satu lingkungan RT. Dengan tujuan memudahkan wisatawan untuk berkomunikasi dengan rombongannya.
C.        Fasilitas Homestay
Fasilitas setiap homestay di desa penting sari berbeda beda, sebab tingkat perekomomian dan pendapatan warganya yang berbeda. Ditempat saya menginap (rumah bapak Kris) fasilitasnya sudah lengkap. Disana terdapat 2 kamar tidur tamu yang dilengkapi bantal dan selimut, ruang tamu, dapur, 2 kamar mandi, televisi, radio, kulkas, mesin cuci, dan kamar tidur pemilik homestay. Saya juga sempat membandingkan fasilitas yang ada di rumah ibu Ngatiem, ternyata tidak jauh berbeda dengan fasilitas yang ada di rumah bapak Kris. Dapat ditarik kesimpulan bahwa fasilitas homestay desa penting sari umumnya adalah kamar tidur, ruang tamu, televisi, dapur, kamar mandi, dan kamar pemilik homestay. Fasilitas di setiap homestay sudah ada sebelum desa penting sari ditetapkan sebagai desa wisata.
Berikut ini gambar fasilitas homestay yang ada di desa penting sari :

Ruang Tamu

Kamar Tidur 




TV dan Radio


 
Dapur

Kamar Mandi

D.        Pelayanan Homestay
Pemilik homestay melayani wisatawan dengan ramah dan friendly. Pemilik homestay memperlakukan wisatawan seperti saudaranya sendiri. Hal ini dapat dibuktikan saat saya dan teman-teman menginap di desa penting sari, tepatnya di rumah bapak Kris. Meski saat itu rombongan kami tiba larut malam, mereka pun tetap menyambut dengan ramah di joglo (tempat penerimaan tamu) . Selepas penerimaan itu, kami diantar menuju homestay masing-masing. Ternyata setelah tiba di homestay bapak Kris, kelompok kami kembali disuguhkan makanan kecil dan air minum. Tidak hanya itu, bapak Kris dan istrinya pun sempat merbincang-bincang sebentar dengan kami. Ketika tinggal disana, mereka sangat perhatian dan selalu berinteraksi dengan kami yang menginap.  Menurut saya hal seperti itulah yang membuat beda desa ini dengan desa lainnya.
E.         Kesimpulan
Akomodasi desa penting sari sudah memenuhi syarat penginapan pada umumnya. Keadaan lingkungannya pun hijau, bersih dan terjaga sehingga udaranya sejuk. Suasananya pun sangat cocok untuk melakukan pembelajaran. Akomodasi di desa ini juga terbilang aman, sebab setiap malamnya warga melakukan ronda malam. Pengemasan desa wisata penting sari ini sangatlah baik. Mereka memiliki struktur organisasi kelembagaan desa yang terdiri atas ketua, sekretaris, bendahara, bid. Humas, bid. Konsumsi, bid. Homestay, bid. Pemasaran, bid. Atraksi, dan bid. Lingkungan. Mereka juga memberlakukan sistem kas pada warganya. Kas tersebut digunakan untuk pengembangan desa dan membeli inventaris desa.

Narasumber 1:
Nama  : Bapak Kris
Usia     : 45 tahun
Alamat : Rt 4 Rw 20 desa Penting Sari, umbulharjo Cangkringan, Sleman Yogyakarta.
Bahasa : Jawa

Narasumber 2 :
Nama  : Ibu Ngatiem
Usia     : 35 tahun
Alamat : Rt 3 Rw 20 desa Penting Sari, umbulharjo Cangkringan, Sleman Yogyakarta.
Bahasa : Jawa

FOKLORE SEBAGIAN LISAN

Nama Kelompok :

Yetty Rismauli S.
Yaumil Akbar
Utami Kusuma P.
Jodi Akhmad T.
Elsa Maria

FOKLORE SEBAGIAN LISAN



GEOGRAFIS
- Banten merupakan sebuah provinsi di sebelah barat Pulau Jawa memiliki moto “ImanTaqwa”. Moto ini mengartikan bahwa seluruh masyarakat Banten adalah orang-orang yang memiliki agama atau kepercayaan yang kuat dan mendominasi hamper seluruh kehidupan mereka. Ibu kota Banten adalah Serang. Hari jadi provinsi Banten adalah 4 Oktober 2000. Titik koordinat wilayah Banten adalah 5° 7' 50" - 7° 1' 11" LS dan 105° 1' 11" - 106° '12" BT.
Untuk saat ini pemerintahan Provinsi banten dipimpin oleh Gubernur Hj. Ratu Atut Chosiyah. Luas wilayah Banten sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2000 adalah 9.160,70 km2, dengan Populasi 10.644.030 jiwa, dan kepadatan 1.161,9/km².
Wilayah laut Banten merupakan salah satu jalur laut potensial selain karena batas daerahnya. Batas daerah Banten sebelah utara adalah Laut Jawa, yang dikenal dengan potensi perikanan yang cukup bagus bagiJawa. Kemudian sebelah Barat berbatasan dengan SelatSunda, yang merupakan salah satu jalur lalu lintas laut yang strategis karena dapat dilalui kapal besar yang menghubungkan Australia dan Selandia Baru dengan kawasan Asia Tenggara misalnya Thailand, Malaysia, dan Singapura. Di sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia, yang berpotensi untuk memperkaya matapencarian penduduknya, dengan berlayar mencari ikanbesar. Dan yang terakhir di sebelah timur, yang berbatasan dengan DKI Jakarta dan Jawa Barat.

EKOLOGI
- Flora
Masyarakat baduy mempunyai tanaman dan tumbuhan dengan berbagai macam manfaat. Salah satu tumbuhan yang bermanfaat digunakan untuk obat. Tanaman obat seperti mahkota dewa, kumis kucing, kunyit, mengkudu, bangle, pisang ambon, pepaya, jambuu biji, sirih, dll.

- Fauna
Masyarakat mempunyai hewan ternak yang mereka pelihara. Di lingkungan mereka terdapat ayam, burung, kucing dan sedikit anjing .Mereka memiliharanya di deket rumahnya seperti burung yang di gantungkan didepan pintu mereka.

TRADISI
- Pernikahan :
Masyarakat Baduy menikah padaumur 20-25 tahun untuk laki-laki dan di atas 16 tahun untuk perempuan. Masyarakat Baduy Dalam dijodohkan satu sama lain, tidak peduli ada hubungan persaudaraan atau hubungan darah. Pernikahan ini memakan waktu kira-kira satu tahun dan melalui tiga tahap, yaitu pihak laki-laki menanyakan kesediaan dari pihak perempuan. Kemudian, apabila si perempuan setuju, si laki-laki akan membawa peralatan dapur yang menyatakan keseriusannya. Terakhir, mereka berdua bias menikah dan pihak laki-laki membawa perhiasan (mahar). Jika ingin mencari perempuan Baduy yang belum menikah, kita bisa melihatnya dari anting berwarna yang dikenakannya.
Maskawin berupa: baju, alat-alat rumah tangga, cincin. Biasanya di adakan acara masak atau biasa disebut dengan kondangan.

- Kelahiran Dan Kehamilan
Sebelum lahir ada acara 7 bulanan ibu yang sedang hamil yaitu Kendit kemudian bayi lahir akan di tolong oleh dukun mereka biasa menyebutnya paraji. Setelah lahir ada acara 7 harian yang di sebut berenan, kemudian cukuran setelah 4 hari dan dilanjutkan 40 harian.
Penamaan untuk anak-anak di Baduy juga cukup menggunakan satu kata saja, misalnya Jamra, Jamir, Kasmin, Armuta, dan lain-lain.

- Kematian
Ketika ada salah satu masyarakat Baduy yang meninggal dunia, apak diadakan acara pada haripertama, ketiga, dan ketujuh (selamakam). Proses pemakaman berlangsung singkat. Orang yang meninggal akan dimandikan di tempat pemandian setinggi dada , kemudian dibungkus kain putih, lalu dikubur dengan kepala menghadap kebarat biasanya di tempat khusus atau berdekatan disebelah kali. Pada hari ketiga, akan diadakan selametan. Pada hari ketujuh, kuburan tetap dirawat.

SOSIAL
- Masyarakat mempunyai upacara pesta panen dan upacara menanam padi dilakukan dengan diiringi angklung buhun sebagai penghormatan kepada dewi sri lambing kemakmuran. Upacara Seba adalah suatu pengabdian kepada seseorang yang berkedudukan tinggi dengan disertai penyerahan suatu yang baik. Adapun penyerahan itu ditujukan kepada arwah-arwah lelehur, yaitu arwah Prabu Siliwangi dan Kian Santang, karena kedua tokoh tersebut mempunyai ilmu dan kesaktian yang tinggi, maka benda-benda peninggalannya merupakan benda pusaka yang mempunyai kekuatan gaib yang bertuah. Namun Seba tahun ini masyarakat Baduy dating ke Pendopo Kabupaten Lebak membawa berbagai hasil bumi seperti pisang, padi, buah-buahan serta tanaman lainnya untuk dipersembahkan kepada Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya.

AGAMA
- Upacara Kawaluya itu upacara yang dilakukan dalam rangka menyambut bulan kawalu yang dianggap suci dimana pada bulan kawalu masyarakat baduy melaksanakan ibadah puasa selama 3 bulan yaitu bulan Kasa,Karo, dan Katiga. Pada hari terakhir kawalu masyarakat baduy luar akan kebaduy dalam untuk mengginap dan biasanya diwakili 1 orang 1 rumah.

- Upacara ngalaksa yaitu upacara besar yang dilakukan sebagian ucapan syukur atas terlewatinya bulan-bulan kawalu, setelah melaksanakan puasa selama 3 bulan. Ngalaksa atau yang sering disebutlebaran.

Materi UAS " Kearifan Lokal Masyarakat Suku Gayo"

Kearifan Lokal Masyarakat Suku Gayo (UAS)
Sebagai identitas sosial yang dinamis, masyarakat Gayo mengkonstruksi kearifan lokal sebagai pandangan-dunia (world-view) dalam memaknai realitas (Bowen, 1991: 4). Kearifan lokal yang merupakan representasi budaya sebuah komunitas diartikulasikan baik dalam wujud kasat mata (tangible) maupun yang tidak kasat mata (intangible). Dalam klasifikasi sejumlah pakar, setidaknya terdapat lima kategori kearifan lokal: pertama, kearifan yang berupa pandangan hidup (filosofi); kedua kearifan berupa sikap hidup sosial, nasihat dan iktibar yang diungkap dalam bentuk pepatah, perumpamaan, pantun syair atau cerita rakyat (folklor); ketiga,  kearifan dalam seremoni atau upacara adat; keempat, kearifan berupa prinsip, norma, dan tata aturan yang berwujud menjadi sistem sosial; dan kelima, kearifan berupa kebiasaan, prilaku sehari-hari dalam pergaulan sosial (Rasyidin, Siregar dan Batubara, dalam Afif, Bahri dan Saeful, Ed., 2009: 236).
Di masa lalu masyarakat Gayo telah merumuskan prinsip – prinsip adat yang disebut kemalun ni edet. Prinsip adat ini menyangkut “harga diri” (malu) yang harus dijaga, diamalkan, dan dipertahankan oleh kelompok kerabat tertentu, kelompok satu rumah (sara umah), klen (belah), dan kelompok yang lebih besar lagi.
Prinsip adat meliputi empat hal berikut ini :
a)      Denie – terpancang adalah harga diri yang menyangkut hak – hak atas wilayah.
b)      Nahma teraku adalah harga diri yang menyangkut kedudukan yang sah.
c)      Bela mutan ialah harga diri yang terusik karena ada anggota kelompoknya yang disakiti atau dibunuh.
d)     Malu tertawan ialah harga diri yang terusik karena kaum wanita dari anggota kelompoknya diganggu atau difitnah pihak lain.
Seperti kebanyakan masyarakat dataran tinggi, karakter masyarakat Gayo cendrung lebih tenang dan tidak serlalu ekspresif dibandingkan masyarakat Aceh pesisir. Sehingga jangan khawatir bertanya atau memulai percakapan dengan masyarakat Gayo karena mereka sangat menyukai tamu , dengan catatan tetap memperhatikan kearifan budaya lokal setempat.
Masyarakat Gayo terkenal teguh melaksanakan Syariah Islam dengan kearifan lokal sendiri. Meskipun demikian penegakan hokum syari’ah secara massif tidak seketat di Banda Aceh atau daerah Pesisir Aceh lainnya. Sehingga, jangan heran kalao di Takengon atau di Bener Meriah anda tidak melihat polisi Syari’ah sebanyak di Banda Aceh, namun nuansa Islami sangat terasa di kota. Tidak ada aturan khusus untuk menikmati indahnya kota Takengon dan dataran tinggi gayo. Cukup berpakaian sopan , maka masyarakat Gayo akan menerima kehadiaran anda dengan ulasan senyum hangat dan bersahaja.
Dalam masyarakat Gayo, kearifan lokalnya terangkum dalam konsep ¨ed¨et atau adat, yang meliputi praktik, norma, dan tuntutan kehidupan sosial yang bersumber dari pengalaman yang telah melalui islamisasi. Wujud kearifan lokal yang terdapat dalam masyarakat Gayo meliputi bahasa Gayo, sistem tata kelola pemerintahan (sarakopat), norma bermasyarakat (sumang), ekspresi estetik (didong), konsep nilai dasar budaya Gayo, dan lain-lain.
Kearifan lokal dalam masyarakat Gayo terangkum dalam nilai dasar budaya yang merepresentasikan filosofi, pandangan hidup dan karakter ideal yang hendak di capai. Merujuk klasifikasi Melalatoa terdapat tujuh nilai budaya Gayo, dimana terdapat satu nilai puncak yang merupakan representasi kearifan lokal yang berbasis nilai-nilai Islami.
Sistem nilai budaya Gayo menempatkan harga diri (mukemel) sebagai  nilai utama. Untuk mencapai tingkat harga diri tersebut, seseorang harus mengamalkan atau mengacu pada sejumlah nilai penunjang: tertip (tertib/patuh pada peraturan), setie (komitmen), semayang-gemasih (simpatik), mutentu (profesional), amanah (integritas), genap-mupakat (demokratis), alang-tulung (empatik). Untuk mewujudkan berkembangnya ke-tujuh nilai penunjang perlu nilai penggerak, yang menurut Melalatoa (1982) disebut semangat kompetitif melakukan kebaikan, bersikekemelen. Berikut dikemukakan penjelasan singkat mengenai sistem nilai ini.
  •   Mukemel
Konsep mukemel berkenaan dengan harga diri. Istiah kemel pada dasarnya berarti malu. Dalam aplikasinya malu dipahami dalam makna yang lebih luas, sehingga mencakup makna harga diri atau iffah dalam konsep studi akhlak. Konsep ini merujuk pada kemampuan menjaga diri agar tidak terjerumus pada pikiran dan tindakan yang dapat menyebabkan hilangnya harga diri. Seorang yang mempunyai sikap mukemel konsisten mempertahankan harga diri dengan mencegah diri atau keluarganya terjebak pada perbuatan-perbuatan tercela atau bertentangan dengan tuntunan agama (syariat) dan norma kebiasaan (adat).
  •   Tertib
Kata ini berasal dari bahasa Arab, tartib, artinya teratur atau berurutan. Dalam konsep fiqh, istilah tertib berkenaan dengan syarat dan rukun dalam pelaksanaan ibadah, di mana tidak terpenuhinya syarat ini dapat membatalkan atau paling tidak mengurangi kesempurnaan pelaksanaan ibadah. Dalam konteks masyarakat Gayo, tertib berkenaan dengan sikap hati-hati sehingga tindakan dan perlakukan dilakukan dengan memperhatikan konteks. Salah satu ungkapan bahasa Gayo menyatakan, tertib bermejelis, umet bermulie (artinya, keteraturan dalam kehidupan bersama merupakan prasyarat mewujudkan kemuliaan umat). Ungkapan ini menegaskan bahwa dalam sebuah komunitas yang beragam; baik ditinjau dari keahlian, minat, kecenderungan, pengalaman dan perbedaan usia diperlukan tata tertib yang dapat mengatur terwujudnya harmonisasi sosial.
  •   Setie
Setie artinya mempunyai komitmen, teguh pendirian atau setia. Kata ini merujuk pada sikap yang tidak mudah menyerah demi memperjuangkan kebenaran yang diyakini. Komitmen bersama yang disepakati dalam musyawarah misalnya, memerlukan keteguhan sikap dalam mewujudkannya. Dalam ungkapan Gayo disebutkan, setie murip, gemasih papa, yang menegaskan kesetiaan pada komitmen bersama merupakan kunci penyelesaian seberat apapun tantangan yang ada. Dalam ungkapan lainnya disebutkan, ike jema musara ate, ungke terasa gule. Ike gere musara ate, bawal terasa bangke, ungkapan ini bermakna, kalau hati sudah sepakat sepahit apapun tantangan yang menghadang mudah diselesaikan, sebaliknya apabila tidak terdapat komitmen bersama persoalan kecil dapat memicu munculnya masalah baru yang lebih besar.
  •   Semayang-gemasih
Nilai budaya Gayo dalam konsep semayang-gemasih, artinya kasih sayang. Konsep ini berkaitan dengan prilaku terpuji dalam Islam, bahkan dua nama Allah yang baik (asmaul husna) dalam al-Qur’an adalah Maha Pengasih (al-Rahman) dan Maha Penyayang (al-Rahim). Dalam ungkapan bahasa Gayo, nilai semayang-gemasih ini tercantum dalam pribahasa; kasih enti lanih, sayang enti lelang, yang berkaitan dengan pentingnya kemampuan bertindak proporsional dalam berkasih sayang. Kasih sayang yang tidak diiringi pengetahuan dapat merusak, misalnya terlalu memanjakan anak atau memberi disertai sikap merendahkan, pamer atau penyesalan tidak akan mencapai taraf kesempurnaan kasih sayang (Ibrahim dan Pinan, 2010: 28).
  •   Mutentu
Nilai budaya mutentu berarti rajin, ulet, bekerja keras atau melaksanakan sesuatu sesuai aturan (rapi). Nilai ini memberi penekanan pada pembentukan sikap tidak terburu-buru atau ceroboh, tetapi berdasarkan perenungan dan perencanaan yang matang. Sifat ini merupakan indikator sangat penting dalam menilai karakter dan mempengaruhi kepercayaan orang lain. Seseorang yang terlanjur melakukan perbuatan yang mencederai kepercayaan yang diberikan kepadanya akan cacat status sosialnya dalam pergaulan.
  •   Amanah
Amanah berasal dari bahasa Arab, yang artinya terpercaya, jujur dan bertanggungjawab. Amanah berkaitan dengan kesesuaian antara ucapan dan perbuatan, keselarasan antara idealitas dan realitas. Sifat amanah dibuktikan oleh kemampuan seseorang menunaikan tugas atau kepercayaan yang diembankan secara bertanggungjawab, persesuaian ucapan dan perbuatan, menegakkan keadilan, ikhlas dan jujur, mengendalikan hawa nafsu (Ibrahim dan Pinan, 2010).
  •   Genap-Mupakat
Genap-mupakat atau keramat-mupakat merupakan nilai budaya Gayo yang berkaitan dengan perwujudan harmoni sosial. Genap-mupakat merupakan pengejewantahan prinsip musyawarah untuk mencari solusi terbaik. Hurgronje (1992: iv) menyatakan bahwa masyarakat Gayo mempunyai karakteristik sebagai orang republik yang bebas dan berani mengungkapkan pendapat tanpa terlalu terikat hierarki kekuasaan, sebagaimana berlaku dalam masyarakat feodal. Dalam perspektif masyarakat Gayo, penggunaan musyawarah merupakan bagian penting yang harus dipertimbangkan dalam memutuskan persoalan-persoalan yang menyangkut hajat hidup publik.
  •   Alang-Tulung
Nilai budaya Gayo lainnya adalah sikap tolong-menolong, sebagaimana tercermin dalam ungkapan alang-tolong berat-berbantu. Nilai ini menegaskan eksistensi manusia sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan interaksi sosial yang memungkinan proses memberi dan menerima (give and take, bukan take and give sebagaimana sering disebut)  sebagai perekat kohesi sosial.
  •   Bersikekemelen
Untuk mengaktualisasi sitim nilai-nilai budaya Gayo, Melalatoa (1982) mengungkapkan kemestian adanya nilai penggerak, bersikekemelen atau sikap kompetitif dalam mengamalkan  ke tujuh nilai penunjang, dalam bahasa agama dikenal dengan prinsip berlomba-lomba dalam kebaikan, fastabiqul khairat. Melalui nilai bersikekemelen, nilai-nilai lain akan lebih kokoh keberadaannya. Prinsip perlombaan dalam melakukan kebaikan ini mencakup pada upaya untuk meningkatkan martabat kehidupan, misalnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, perbaikan taraf ekonomi dan bahkan dalam mengamalkan ajaran agama.

Motif Emun Berangkat
Kearifan lokal atau falsafah juga dapat terlihat pada motif Batik Gayo. Pertama, motif emun berangkat (beriring) yaitu motif geometrik yang merupakan lingkaran memusat dengan berbagai ragam hias. Motif emun berangkat (awan yang berarak) adalah lambang ketinggian cita-cita dengan harapan bahwa manusia akan mampu mengarungi cobaan hidup di dunia ini.

Kedua, motif puter tali (tali berpilin) berangkat dari makna tali yang berasal dari sejumlah lembaran serabut yang kecil dan rapuh, tetapi begitu disatukan maka serabut itu menjadi seutas tali yang sangat kuat. Motif puter tali menggambarkan kekokohan dapat diwujudkan dengan adanya persatuan dan kesatuan.

Motif tapak sleman dan puter tali
Ketiga, pucuk rebung (tuwis) adalah bambu muda yang berbentuk piramid. Bagian bawah dari rebung ini lebar dan bagian atasnya runcing. Maknanya, semakin hebat seorang manusia maka dia akan menyadari bahwa manusia itu sesungguhnya kecil dibandingkan alam semesta. Jadi, falsafah pucuk rebung ini menegaskan manusia harus berpendirian teguh, iman yang kuat, taqwa, rendah hati dan berakhlak mulia.

Motif Pucuk Rebung
Keempat, tapak seleman mempertegas bahwa dalam kehidupan masyarakat Gayo terdapat empat unsur yang menaungi sistem adat dan pemerintahan yang dikenal dengan sebutan Sarak Opat. Keempat unsur itu adalah “Reje Musuket Sipet” (Raja harus bersikap adil), “Petue musidik sasat” (Petue adalah petugas pengadil yang melihat/menyelidiki berbagai persoalan sebelum memutuskan), “Imem muperlu sunet” (Imam harus mengetahui, mana yang hukumnya wajib dan mana yang sunat), “Rakyat genap mupakat” (rakyat harus seiya sekata dan searah sehaluan sesuai dengan kesimpulan yang sudah disepakati).
Begitu tingginya nilai-nilai kearifan lokal dalam motif Batik Gayo dapat dijadikan suatu pengenalan pariwisata yang berbasis kearifan daerah.
Sumber : http://www.lintasgayo.com/24888/kearifan-lokal-masyarakat-gayo-sebagai-basis- pendidikan-karakter-bagian-2.html
http://botsosani.wordpress.com
                   http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Gayo
http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2012/02/28/batik-gayo-seni-menyulam-falsafah/      

BAB IX PENUTUP


Penutup
A.                 Kebudayaan dalam menghadapi masa depan
Suku Gayo memiliki kebudayaan yang dibalut dengan berbagai macam keunikan pada setiap bidangnya. Dengan keunikan inilah suatu kebudayaan akan lebih dikenal di mata wisatawan. Sebab sesuatu yang unik akan lebih berkesan dalam memori seseorang. Dan dampak kedepannya kebudayaan tersebut akan terus berkembang dan menjadi salah satu aset pariwisata yang maju. Pengaruh aset pariwisata terhadap kebudayaan dapat menimbulkan dampak positif dan negatif pada masyarakat di masa depan. Positifnya, Pendapatan Asli Daerah akan meningkat, kesejahteraan masyarakat akan meningkat, memajukan perekonomian masyarakat, dan berkembangnya sarana dan prasarana daerah. Negatifnya, lunturnya pola hidup masyarakat akibat  pengaruh budaya luar, dan meningkatnya biaya hidup akibat aktivitas pariwisata. Setiap masyarakat selalu menginginkan hasil yang terbaik untuk daerahnya. Sehingga  perlu adanya pencegahan serta antisipasi yang dilakukan masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan. Pencegahan ini dapat terlaksana dengan peran serta pelaku wisata serta pemerintah yang berwenang.  
B.                 Kebudayaan sebagai aset pariwisata
Kebuadayaan masyarakat Gayo merupakan salah satu aset pariwisata yang terdapat di Aceh Tengah. Karya seni, pertunjukan budaya dan bentuk-bentuk keunikan adat-istiadat lainnya merupakan daya tarik tersendiri bagi perkembangan industri pariwisata di suatu daerah. Keaslian seni dan budaya merupakan faktor penting bagi terwujudnya industri pariwisata di Tanoh Gayo sehingga jika ada pihak-pihak tertentu yang berupaya secara sistematis dan terencana meniru karya seni Gayo baik seni tari, musik, dan lainnya maka harus segera diadvokasi agar keaslian seni budaya Gayo dapat terjaga. Membangun industri pariwisata merupakan langkah baik untuk mempertahankan keaslian seni, budaya dan adat-istiadat yang ada di Tanoh Gayo. Melalui industri pariwisata, masyarakat, pemerintah daerah, akademisi, dan aktivis LSM akan bahu-membahu mempertahankan kelestarian seni budaya yang ada sebagai nilai jual dan nilai tambah daerah dan sekaligus sebagai sumber pemasukan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
C.                 Analisa
Sebenarnya banyak jenis dan bentuk pariwisata yang dapat dikembangkan di Aceh Tengah mulai dari pariwisata budaya, pariwisata sejarah, pariwisata alam, dan agrowisata. Letak geografis yang dimiliki oleh Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues dapat dijadikan peluang strategis untuk tercapainya kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Dengan adanya peluang tersebut industri pariwisata dapat dijadikan sebagai sumber mata pencaharian baru bagi rakyat Gayo. Selain itu juga menyumbangkan sumber PAD (Pendapatan Asli Daerah) baru bagi daerah. Secara tidak langsung, industri pariwisata akan mendorong masyarakat Gayo menjadi kreatif karena pariwisata membutuhkan inovasi dari kelompok-kelompok sosial yang terlibat di dalamnya. Dan semua itu dapat berjalan jikalau adanya keterlibatan semua pihak dalam mempertahankan keaslian budaya yang telah ada sejak lama.

Kebudayaan yang ada pada Suku Gayo dapat dijadikan sebagai awal berkembangnya perekonomian mayarakat di Tanah Gayo. Kebudayaan Suku Gayo sangat potensial untuk dijadikan sebagai aset pariwisata. Betapa tidak, kebudayaan yang berkembang di tanah Gayo ini memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri. Dan bila dikembangkan pada suatu konsep yang menarik pasti banyak wisatawan yang datang untuk berkunjung. Dengan adanya kebudayaan ini dapat memunculnya masyarakat -masyarakat yang kreatif dan inovatif. Masyarakat yang kreatif dan inovatif tersebut akan membawa unsur kebudayaan daerah mereka menjadi pariwisata yang meenjanjikan di masa depan.

BAB VIII SISTEM KESENIAN SUKU GAYO


Sistem Kesenian Suku Gayo
Kesenian merupakan produk budaya suatu bangsa, semakin tinggi nilai kesenian satu bangsa maka semakin tinggi nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Sebagai salah satu bagian yang penting dari kebudayaan, kesenian tidak pernah lepas dari masyarakat, sebab kesenian juga merupakan salah satu sarana untuk mewujudkan segala bentuk ungkapan cipta, rasa dan karsa manusia. Berikut ini adalah kesenian-kesenian yang terdapat di suku Gayo:
1.         Didong
Didong
Sebuah kesenian rakyat Gayo yang keseniannya memadukan unsur tari, vokal, dan sastra. Didong dimulai sejak Pada awalnya didong digunakan sebagai sarana bagi penyebaran agama Islam melalui media syair. zaman Reje Linge XIII. Kesenian ini diperkenalkan pertama kali oleh Abdul Kadir To`et. Kesenian didong lebih digemari oleh masyarakat Takengon dan Bener Meriah. Kata “didong” mendekati pengertian kata “denang” atau “donang” yang artinya “nyanyian sambil bekerja atau untuk menghibur hati atau bersama-sama dengan bunyi-bunyian”. Dan, ada pula yang berpendapat bahwa Didong berasal dari kata “din” dan “dong”. “Din” berarti Agama dan “dong” berarti Dakwah.
Para ceh didong (seniman didong) tidak semata-mata menyampaikan tutur kepada penonton yang dibalut dengan nilai-nilai estetika, melainkan di dalamnya bertujuan agar masyarakat pendengarnya dapat memaknai hidup sesuai dengan realitas akan kehidupan para Nabi dan tokoh yang sesuai dengan Islam. Dalam didong ada nilai-nilai religius, nilai-nilai keindahan, nilai-nilai kebersamaan dan lain sebagainya. Jadi, dalam ber-didong para ceh tidak hanya dituntut untuk mampu mengenal cerita-cerita religius tetapi juga bersyair, memiliki suara yang merdu serta berperilaku baik. Pendek kata, seorang ceh adalah seorang seniman sejati yang memiliki kelebihan di segala aspek yang berkaitan dengan fungsinya untuk menyebarkan ajaran Islam. Didong waktu itu selalu dipentaskan pada hari-hari besar Agama Islam.
Dalam perkembangannya, didong tidak hanya ditampilkan pada hari-hari besar agama Islam, melainkan juga dalam upacara-upacara adat seperti perkawinan, khitanan, mendirikan rumah, panen raya, penyambutan tamu dan sebagainya. Para pe-didong dalam mementaskannya biasanya memilih tema yang sesuai dengan upacara yang diselenggarakan. Pada upacara perkawinan misalnya, akan disampaikan teka-teki yang berkisar pada aturan adat perkawinan. Dengan demikian, seorang pe-didong harus menguasai secara mendalam tentang seluk beluk adat perkawinan. Dengan cara demikian pengetahuan masyarakat tentang adat dapat terus terpelihara. Nilai-nilai yang hampir punah akan dicari kembali oleh para ceh untuk keperluan kesenian didong.
Pemain dan Peralatan
Satu kelompok kesenian didong biasanya terdiri dari para “ceh” dan anggota lainnya yang disebut dengan “penunung”. Jumlahnya dapat mencapai 30 orang, yang terdiri atas 4-5 orang ceh dan sisanya adalah penunung. Ceh adalah orang yang dituntut memiliki bakat yang komplit dan mempunyai kreativitas yang tinggi. Ia harus mampu menciptakan puisi-puisi dan mampu menyanyi. Penguasaan terhadap lagu-lagu juga diperlukan karena satu lagu belum tentu cocok dengan karya sastra yang berbeda. Anggota kelompok didong ini umumnya adalah laki-laki dewasa. Namun, dewasa ini ada juga yang anggotanya perempuan-perempuan dewasa. Selain itu, ada juga kelompok remaja. Malahan, ada juga kelompok didong remaja yang campur (laki-laki dan perempuan). Dalam kelompok campuran ini biasanya perempuan hanya terbatas sebagai seorang Céh. Peralatan yang dipergunakan pada mulanya bantal (tepukan bantal) dan tangan (tepukan tangan dari para pemainnya). Namun, dalam perkembangan selanjutnya ada juga yang menggunakan seruling, harmonika, dan alat musik lainnya yang disisipi dengan gerak pengiring yang relatif sederhana, yaitu menggerakkan badan ke depan atau ke samping.
Jalannya Pementasan
Pementasan didong ditandai dengan penampilan dua kelompok (Didong Jalu) pada suatu arena pertandingan. Biasanya dipentaskan di tempat terbuka yang kadang-kadang dilengkapi dengan tenda. Semalam suntuk kelompok yang bertanding akan saling mendendangkan teka-teki dan menjawabnya secara bergiliran. Dalam hal ini para senimannya akan saling membalas “serangan” berupa lirik yang dilontarkan olah lawannya. Lirik-lirik yang disampaikan biasanya bertema tentang pendidikan, keluarga berencana, pesan pemerintah (pada zaman Orba), keindahan alam maupun kritik-kritik mengenai kelemahan, kepincangan yang terjadi dalam masyarakat. Benar atau tidaknya jawaban akan dinilai oleh tim juri yang ada, yang biasanya terdiri dari anggota masyarakat yang memahami ddidong ini secara mendalam.
2.         Tari Bines
Tari Bines ditarikan oleh para wanita dengan cara duduk berjajar sambil menyanyikan syair yang berisikan dakwah atau informasi pembangunan. Para penari melakukan gerakan dengn perlahan kemudian berangsur-angsur menjadi cepat dan akhirnya berhenti seketika secara serentak. Perkembangan Tari Bines sudah meluas di daerahnya, dengan perkembangannya yang dulunya Tari Bines ditarikan hanya pada upacara pemotongan padi sekarang dapat dilakukan pada acara apapun, baik itu pada acara perkawinan maupun acara besar lainnya. Tetapi seiring dengan perkembangan zaman Tari Bines ini juga sudah mulai banyak yang mengkreasikannya, sehingga yang tadinya tarian ini merupakan tarian yang baku, tetapi sekarang sudah banyak yang mengkreasikan Tari Bines ini.

Dalam peranan Tari Bines pada masyarakat Gayo Lues tersebut, yang mana Tari Bines disini memiliki suatu unsur budaya yang tidak pernah lesu dikalangan masyarakat Gayo, dan hampir tidak pernah mengalami kemandekan bahkan cenderung berkembang. Selain untuk hiburan dan rekreasi, Tari Bines juga memiliki peran dalam masyarakat Gayo Lues sebagai sarana pendidikan, sekaligus sebagai sarana untuk mempertahankan keseimbangan dan struktur sosial masyarakat.
Dalam pelestarian Tari Bines, yang mana Tari Bines ini, harus lebih dilestarikan dengan menjaganya agar tidak hilang begitu saja, dan tetap selalu berkembang didaerah gayo Lues tersebut. Pada dasarnya Tari Bines ini dulunya termasuk kedalam tari tradisi tetapi setelah perkembangan sudah mulai pesat dan dilestarikan oleh masyarakatnya, Tari Bines kini menjadi tari hiburan yang dapat dinikmati.
3.             Tari Guel
Tari Guel
Tari Guel adalah salah satu khasanah budaya Gayo di NAD. Guel berarti membunyikan. Khususnya di daerah dataran tinggi gayo, tarian ini memiliki kisah panjang dan unik. Para peneliti dan koreografer tari mengatakan tarian ini bukan hanya sekedar tari. Dia merupakan gabungan dari seni sastra, seni musik dan seni tari itu sendiri.
Dalam perkembangannya, tari Guel timbul tenggelam, namun Guel menjadi tari tradisi terutama dalam upacara adat tertentu. Guel sepenuhnya apresiasi terhadap wujud alam, lingkkungan kemudian dirangkai begitu rupa melalui gerak simbolis dan hentakan irama. Tari ini adalah media informatif. Kekompakan dalam padu padan antara seni satra, musik/suara, gerak memungkinkan untuk dikembangkan (kolaborasi) sesuai dengan semangat zaman, dan perubahan pola pikir masyarakat setempat. Guel tentu punya filosofi berdasarkan sejarah kelahirannya. Maka rentang 90-an tarian ini menjadi objek penelitian sejumlah surveyor dalam dan luar negeri.
4.         Tari Saman
Tari Saman

Tari Saman adalah sebuah tarian suku Gayo (Gayo Lues) yang biasa ditampilkan untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting dalam adat. Syair dalam tarian Saman mempergunakan bahasa Arab dan bahasa Gayo. Selain itu biasanya tarian ini juga ditampilkan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tari saman merupakan salah satu media untuk pencapaian pesan (dakwah). Tarian ini mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan dan kebersamaan.
Tari Saman telah diakui sebagai kekayaan budaya Indonesia sejak lama bahkan dunia internasional melalui UNESCO telah mengakui Tarian Saman sebagai warisan budaya dunia. Kebanyakan orang hanya tahu bahwa Tari Saman berasal dari Aceh. Tarian yang memiliki keunikan berupa kekompakan penari yang luar biasa ini sebenarnya sangat beragam di Aceh. Jika di hari peringatan kebangkitan nasional beberapa tahun lalu kita melihat tarian ini banyak ditarikan oleh wanita, maka pada daerah asalnya hal ini malah dilarang.
UNESCO bukan hanya mengakui bahwa Saman merupakan warisan budaya dunia, tapi juga mengakui bahwa asal muasal Tarian Saman adalah dari Kabupaten Gayo Lues. Pengakuan dunia ini tidak lepas dari usaha banyak pihak yang mempromosikan Tarian Saman Gayo Lues ke seluruh kota di dunia. Termasuk terlibat di dalamnya seorang pemerhati budaya dan artis terkenal, Christien Hakim. Beberapa tahun yang lalu, Beliau bersama rombongan tari Saman Gayo Lues melakukan tour promosi budaya tari saman. Tanggapan luar biasa ditunjukkan oleh para penonton. Sehingga pengakuan dunia memang sepantasnya didapatkan oleh rombongan Tari Saman Gayo Lues ini.
Gayo Lues terpilih sebagai asal daerah kesenian tari saman. Hal ini berdasarkan tradisi masyarakat untuk mempertahankan keaslian tradisi dalam menarikan Saman. Saman Gayo Lues berhasil membuktikan bahwa tarian asli, yang tetap menjaga ketentuan-ketentuan dalam menari lebih dihargai dibanding tarian saman yang agak dimodern-kan. Tarian Saman di Gayo Lues hanya ditarikan oleh laki-laki. Berbeda dengan yang kita ketahui, bahwa penari pada Tarian Saman yang sering kita tonton di TV local adalah wanita.
Selain itu, Saman gayo Lues tidak menggunakan peralatan seperti rebana. Lantunan music yang diperdengarkan berasal dari nyanyian para penarinya. Selain itu, para penari Saman Gayo Lues memiliki rambut yang panjangnya sebahu. Fungsinya adalah menambah keindahan puncak tarian. Dimana pada awalnya rambut itu akan dirapikan dengan ikat kepala berkain kerawang (kain khas Gayo) dan pada pertengahan tarian ikat kepala itu akan dilepas dan rambut penari terurai sehingga terlihat ikut menari bersama gerakan para penarinya. Bahasa yang digunakan dalam tarian saman di Gayo Lues juga bukan bahasa Arab seperti pada saman yang lain, melainkan murni bahasa daerah Gayo Lues.
Tarian Saman di Gayo Lues bukan hanya sebagai tarian penghibur hati atau hanya dipentaskan di panggung hiburan saja. Bagi masyarakat Gayo Lues, tarian saman adalah rutinitas harian yang selalu ditanggapi dengan antusias. Menjadi penari saman gayo lues merupakan cita-cita yang lumrah bagi anak laik-laki di Gayo Lues. Uniknya disana jarang sekali terdapat sanggar tari, sehingga anak-anak belajar menari dengan sendirinya tanpa dipandu siapa pun dalam beragam kesempatan. Tidak jarang di atas punggung kerbau yang berderetan mereka mencoba menarikan 2-3 gerakan Saman.
Saman bukan hanya dilakukan di pentas seni. Setiap kesempatan, ketika telah duduk berbarengan penari-penari saman, kadang mereka menarikan saman tanpa diinstruksikan. Bahkan ketika upacara kematian. Lagu yang dinyanyikan dalam Saman, dapat diadaptasikan dalam kondisi Saman ditarikan, dapat berupa doa, syukur bahkan keharuan. Ketika Saman ditarikan saat menyambut pejabat, maka lagu yang dinyanyikan pun merupakan ucapan selamat datang, terimakasih bahkan pujian terhadap pejabat tersebut.
Untuk menjaga kelestarian Saman di hati masyarakat, setiap saat diadakan pentas tarian saman, baik antar kecamatan maupun antar sekolah. Pemerintah juga ikut ambil peranan dalam penggalakan tradisi ini dengan pemberian insentif bagi setiap kelompok tarian dalam setiap pentasnya. Herannya, walaupun sering sekali menonton tarian Saman, masyarakat Gayo Lues tetap terlihat antusias setiap kali ada pertunjukan Saman. Bahkan ketika ada video Saman yang diputar, masyarakat menyempatkan diri untuk berhenti dari aktivitasnya dan menonton.
5.      Dabus
Dabus merupakan atraksi budaya yang memperlihatkan kekebalan tubuh, seperti halnya Debus di Banten dan Jawa Barat. Pelaksanaan Dabus ini menggunakan beragam benda tajam yang ditusukkan, digoreskan, diiriskan bahkan dipukulkan ke seluruh tubuh. Dalam mempertontonkan Dabus, para pemain harus memiliki keterampilan spiritual terlebih dahulu.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Didong
http://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Bines
                http://zairifblog.blogspot.com
                http://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Saman
                http://www.akparmedan.ac.id