Tampilkan postingan dengan label sovia pratiwi hardy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sovia pratiwi hardy. Tampilkan semua postingan

Desa Penting Sari Sebagai Desa Wisata

Sovia Pratiwi Hardy
4423116711



Desa Penting Sari Sebagai Desa Wisata


Foto Pak Tri dan Istri (pemilik homestay desa pentingsari)


Desa Penting Sari adalah desa wisata no satu di DIY. Walaupun tergolong paling muda diantara desa-desa wisata lainnya, akan tetapi desa penting sari dapat membuktikan kesanggupannya menjadi desa wisata. Terbukti dari banyaknya penghargaan yang didapatkan. Dusun Pentingasi berbentuk seperti semenanjung dimana sebelah barat terdapat lembah yang sangat curam yaitu kali Kuning dan sebelah selatan terdapat lebah yang berupak Goa Ledok / Ponteng dan Gondoran sebelah timur terdapat lembah yang curam yaitu Kali Pawon dan sebelah utara merupakan dataran yang dapat berhubungan langsung dengan tanah di sekeliling kelurahan Umbulharjo sampai ke pelataran gunung Merapi
Desa wisata yang diresmikan pada tanggal 15 Mei 2008 ini menyimpan banyak sekali potensi. Kondisi lingkungan sekitar desa yang masih terjaga kealamiaannya, udara yang sejuk, pemandangan yang terhampar luas, dan masyarakat penting sari yang begitu ramah kepada para tamu wisatawan. Desa yang terletak di lereng gunung Merapi sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta. Jarak tempuh dari pusat kota bisa mencapai 45 menit. Ketua I Desa Wisata Pentingsari, Sumardi mengatakan Dewi Peri bisa menjadi desa wisata nomer satu di DIY karena mengandalkan tiga hal, keunikan alam, sistem kerja dan pemberdayaan masyarakat
Keberhasilan Penting Sari sebagai desa wisata terbaik tidak lepas dari peran msyarakat penting sari itu sendiri. Saat penting sari diresmikan sebagai desa wisata, masyarakat dengan kesadaran diri sendiri mengelola dan mengembangkan desa ini sehingga menjadi sekarang. Keadaan ekonomi masyarakat penting sari pun ikut terangkat sejalan dengan perkembangan desa mereka. Masyarakat penting sari benar-benar mengelola desa nya dengan sangat baik. Itu semua terlihat jelas saat saya dan teman-teman berkunjung kesana. Selain masyarakatnya yang sangat ramah ramah, banyaknya pilihan wisata, serta keikutsertaan ibu ibu karang taruna dalam pelayanan para wisatawan. Kini masyarakat Pentingsari menggantungkan hidup dari keberadaan desa wisata.
Saya sempat berbincang-bincang denga salah satu penduduk disana, yang kebetulan pemilik homestay yang saya tempati. Ya dia mengatakan kalau sekarang masyarakat penting sari hidup dari desa ini, semua masyarakat diikutsertakan kedalam pengelolaan desa. Seperti homestay, konsumsi untuk wisatawan, paket paket wisata di pentingsari, semua terlibat. Tidak ada yang merasakan sendiri, karna ini dari desa dan untuk desa.





Foto Pak Tri dan Istri (pemilik homestay desa pentingsari)

FOLKLORE BUKAN LISAN



FOLKLORE BUKAN LISAN

Tulisan ini menginformasikan tentang folklore bukan lisan masyarakat Baduy atau yang dikenal juga sebagai Urang Kanekes. Data dari tulisan ini diambil berdasarkan penelitian baik dengan cara pengamatan, dan dengan cara bertanya kepada orang baduy itu sendiri, sehingga informasi yang di dapat merupakan informasi hasil observasi langsung di sekitar baduy luar.

Mata pencaharian utama orang baduy adalah bertani. Namun cara bertani orang baduy tidak menanam padi sawah, melainkan padi huma. Pertanian huma pada suku baduy dimulai mengikuti seruan adat, dalam hal ini adalah puun. Apabila puun mengatakan sudah waktunya yang tepat uuntuk memulai kegiatan bertani, maka seluruh masyarakat akan mulai mempersiapkan lahan bertani mereka.
Proses penanaman padi huma pada masyarakat baduy dimulai dengan sebutan Nyacar. Nyacar adalah kegiatan memotong semua tanaman dan rerumputan serta pepohonan dengan menggunakan sebilah sabit dengan maksud membabat habis semua tanaman yang kiranya dapat mengganggu tumbuhnya tanaman padi huma. Selanjutnya ada kegiatan yang disebut nutuhan . adalah kegiatan memotong dahan-dahan pepohonan yang dapat menghambat masuknya sinar matahari sebagai komponen fotosintesis dari proses penyinaran matahari bagi tanaman utama atau tanaman penyela seperti cabe, kunyit, kencur dll. Selanjutnya adalah ngaduruk . kegiatan membakar ranting dahan dan daun kemudian hasil pembakarannya dijadikan sebagai penyubur tanah atau sebagai pupuk. Selanjutnya kegiatan nyasap. Kegiatan membersihkan rerumputan yang akan mengambil humus tanah sehingga menggambil jatah mineral yang harusnya dapat membantu kesuburan tanaman huma warga. Ngaseuk adalah kegiatan melubangi tanah dengan sebatang kayu sebesar kepalan tangan sebagai tempat untuk menaruh bibit/biji padi huma. Selanjutnya ada kegiatan  ngored yakni membersihkan rerumputan setelah masa tanam 2 atau 3 minggu karena rumput akan mengganggu proses pertumbuhan padi dengan mengambil mineral yang dibutuhkan padi. Setelah tanaman berusia sekitar 7 bulan, dilakukanlah proses panen dengan mengunakan alat yang disebut etem. Setelah padi di panen, dilakukan proses ngalantai/nyalantai  dimana proses menjemur padi dengan sebatang kayu atau bamboo yang diberi atap sebagai penghalan ketika hujan. Proses ini dilakukan selama 3 minggu sebelum padi dimasukan kedalam leuit.
Leut adalah tempat penyimpanan pada atau lumbung padi masyarakat baduy. Padi yang disimpan di leuit bahkan dapat bertahan hingga 100 tahun berdasarkan informasi yang penulis dapatkan dari narasumber orang baduy dalam bernama Kang Harja, asalkan padinya itu tidak terkena basah.
Setelah masa panen, lahan bekasi tanaman padi tidak begitu saja langsung ditinggalkan, ada tanaman penyela seperti cabe, kunyit, jahe dan lain-lain sebagai penghasilan tambahan selain dari bertanam padi huma.
Tidak seperti tanaman padi sawah yang akan di bajak berulang-ulang setelah panen, pola ngahuma pasa masyarakat baduy menjadikan lahan bekas tanaman padi huma dibiarkan kembali tumbuh seperti hutan, mengembalikan sari-sari yang ada di dalam tanah, dan masyarakat baduy akan mencari lahan baru untuk kegiatan tanam selanjutnya.
Setelah masa panen dan sebelum masa tanam kembali, masyarakat baduy menyelenggarakan upacara KAWALU, yakni upacar sebagai wujud rasa syukur atas panen yang telah berhasil dan berharap agar masa tanam yang selanjutnya aka lebih baik lagi. KAWALU biasa dilakukan 3 bulan, dan pada masa saat upacara KAWALU sedang berlangsung, orang asing yang bukan orang baduy dilarang untuk masuk ke daerah baduy dalam
Apabila orang baduy ingin menggunakan hasil panennya, baik untuk kebutuhan acara bersama atau keperluann lainnya, padi yang ada akan ditumbuk dengan alat yang bernama Lesung/Lisung yang ada disetiap kampung di baduy, baik baduy luar maupun baduy dalam yang berada di dalam sebuah gazebo atau tempat sepertisaung yang berukuran besar. Uniknya, Lesung ini terbuat dari pohon yang terdapat di hutan baduy.
Selain itu, aren adalah kegiatan yang terkenal di baduy selain huma. Banyak orang baduy yang menjadi petani aren dan menjadikannya sebagai penghasilan tambahan karena gula aren yang hasilkan dapat dijual dan bisa menghasilkan uang untuk membeli lauk sederhana seperti ikan asin dan lainnya.
Di baduy tidak mengenal isyarat seperti kentongan atau alat bunyi-bunyian sebagai symbol atau pertanda ada sesuatu hal penting. Misalkan ketika ada orang baduy yang meninggal, kabar tersebut akan otomatis tersebar tanpa mesti adanya isyarat dan setiap warga baduy akan bergotong-royong untuk membantu tanpa perlu dilakukan permintaan atau perintah sebelumnya.
ARSITEKTUR RUMAH BADUY
Pada umumnya rumah Suku Baduy sama rata bentuk rumah panggung  dan bangunannya dan bersifat fleksibel, konsep rancangannya mengikuti kontur lahan, tiang penyangga masing-masing bangunan memiliki ketinggian berbeda-beda. Kebanyakan bangunan rumah tinggal suku Baduy menghadap ke utara-selatan dan saling berhadapan, untuk memperbedakan rumah penduduk biasa dengan jaro dan puun hanya terasnya. Suku Baduy  tidak pernah berusaha mengubah atau mengolah keadaan lahannya-misalna ngalelemah taneuh, disaeuran, atawa diratakeun untuk kepentingan bangunan yang akan didirikan di atasnya. Sebaliknya, mereka berusaha memanfaatkan dan menyesuaikan dengan keadaan dan kondisi lahan yang ada. Rumah tinggal suku Baduy Dalam termasuk jenis bangunan knock down dan siap pakai, yang terdiri dari beberapa rangkaian komponen. Selanjutnya, komponen-komponen tersebut dirakit atau dirangkai dengan cara diikat menggunakan tali awi temen ataupun dengan cara dipaseuk. Konstruksi utamanya yang berfungsi untuk menahan beban berat, seperti tiang-tiang, panglari, pananggeuy, danlincar, dipasang dengan cara dipaseuk karena alat paku dilarang digunakan. Justru teknik tersebut bisa memperkuat karena kedua kayu yang disambungkan lebih menyatu, terutama ketika kedua kayunya sudah mengering.


Sedangkan rumah Baduy Luar untuk menahan beban tiang-tiang sudah menggunakan paku,
Lisung (lumbung padi), bahan untuk membuat rumah yaitu pohon kalabise atap nya pohon kirai. Adapun leuit, yang gunanya untuk menaruh padi yang sudah di panen.
bagian rumah :
teras = sosoro tepas
dapur = rumah
kamar =peneng
arit = cerulit
bilik (dinding)
 rarangkit (atap) dan
palupuh (lantai).
Antara ruangan sosoro dan tepastidak terdapat pembatas. Keduanya menyatu membentuk huruf L terbalik atau siku. Rumah tinggal suku Baduy hanya memiliki satu pintu masuk, Sebagian besar pintu tidak dikunci ketika ditinggalkan penghuninya. Akan tetapi, beberapa orang membuat tulak untuk mengunci pintu dengan cara memalangkan dua kayu yang didorong atau ditarik dari samping luar bangunan. bagian inti dari rumah suku Baduy terletak pada ruangan yang disebut imah karena ruang tersebut memiliki fungsi khusus dan penting. Selain berfungsi sebagai dapur (pawon), imah juga berfungsi sebagai ruang tidur kepala keluarga beserta istrinya.

Mereka tidak memiliki tempat tidur khusus, tetapi hanya menggunakan tikar,  Di sekeliling ruangan imah terdapat rak-rak untuk menyimpan peralatan dapur dan tikar untuk tidur.
Obat-obat Tradisional Suku Baduy.

1. Aceh (rambutan)
Khasiat: obat penurun panas
Cara pembuatan: Tumbuk kemudian rendam didalam air dan minum

2. Angsana
Khasiat: Obat sakit gigi
Cara Pembuatan: Getah di oleskan

3. Antawalu (brotawali)
Khasiat: Mengobati cacingan
Cara Pembuatan: Batang dicuci, ditumbuk, tambahkan air dan diminum

4. Anting-anting
Khasiat: mengobati asam urat
Cara Pembuatan: batang dicuci direbus lalu diminum airnya.

5. Antanan (pegagan)
Khasiat: mengobati asam urat
Cara Pembuatan: batang dicuci direbus lalu diminum airnya.

6. Awi Bitung
Khasiat: obat batuk dan tonik rambut

7. Belimbing
Khasiat: mengobati darah tinggi
Cara Pembuatan: di makan seperti biasa

8. Bangban
Khasiat: Obat batuk
Cara Pembuatan: dipotong pohon bangban lalu diminum airnya

9. Berenuk
Khasiat: obat penurun panas
Cara Pembuatan: campur daun berenuk dengan rambutan aceh, daun nangka walanda direbus dan diminum airnya.

10. Beunying
Khasiat: Menyembuhkan luka bacok
Cara Pembuatan: daun diremas remas kemudian ditempelkan ke daerah luka

11. Cangkudu (mengkudu)
Khasiat: Menyembuhkan diare

12. Calincing (belimbing wuluh)
Khasiat: Obat Batuk
Cara Pembuatan: Rebus bunga calincing lalu diminum saat pagi hari

13. Capeu (sembung)
Khasiat: penambah tenaga
Cara Pembuatan: rebus daun capeu lalu di minum

14. Carulang (rumput belulang)
Khasiat: menumbuhkan rambut

15. Dadap (dadap serap)
Khasiat: campak
Cara Pembuatan: cuci bersih daun dadap lalu diremas remas dan tempelkan pada dahi
Khasiat: Panas dalam
Cara Pembuatan: remas daun dadap lalu diseduh dengan air panas dan diminum

16. Gandarusa
Campuran obat kuat bersama langleur gunung

17. Godang (pepaya)
Khasiat: Kencing manis
Cara Pembuatan: buah pepaya ditumbuk lalu direbus dan diminum seperti jamu
Khasiat: Gangguan pendengaran
Cara Pembuatan: tangkai daun pepaya dicuci bersih lalu ujungnya dibakar dan ditempelkan dekat telinga

18. Honje (kecombrang)
Khasiat: cacar
Cara Pembuatan: cuci bersih daun honje lalu direbus dan ambil air rebusan dan gunakan u/ mandi

19. Jambe Pinang
Khasiat: agar rambut kuat & bersih
Cara Pembuatan: batang jambe yang masih muda di kerok lalu dijadikan shampo
Khasiat: obat luka
Cara Pembuatan: pelepah jambe ditambah minyak kelapa lalu ditempelkan pada luka

20. Jambu klutuk (jambu biji)
Khasiat: mencret
Cara Pembuatan: dicucu dan dimakan daunnya.

21. Kareuk
Khasiat: batuk&pilek
Cara Pembuatan: daun dicuci bersih lalu ditumbuk dan letakkan pada kening

22. Kelapa
Khasiat: obat diare
Cara Pembuatan: tumbuk kulit kelapa kasih air dan minum

23. Kembang Teleng
Khasiat: sakit kepala
Cara Pembuatan: bunga kembang teleng diremas lalu teteskan pada mata

24. Keras tulang
Khasiat: menguatkan tulang
Cara Pembuatan: petik daun lalu cuci bersih seduh dengan air panas dan minum seperti teh

25. Kunyit
Campuran u/ org melahirkan

26. Kumis kucing
Campuran untuk orang sehabis melahirkan

27. Kundur (bligo)
Khasiat: menurunkan gula darah
Cara Pembuatan: biji bunga kundur di sanghai lalu ditumbuk halus seperti bubuk kopi dan diseduh diminum 2x sehari

28. Lajagoah (lengkuas)
Khasiat: sakit perut dan kepala
Cara Pembuatan: cuci bersih lengkuas lalu ditumbuk seduh dengan air panas dan minum.

29. Mahoni
Khasiat: obat pegal linu
Cara Pembuatan: biji buah disangrai diseduh dan diminum

30. Nangsi
Khasiat: menyegarkan badan
Cara Pembuatan: daun pohon nangsi direbus lalu minum

31. Penisilin tangkal (pohon zigzag)
Khasiat: borok
Cara Pembuatan: getahnya dioleskan kebagian yang sakit

32. Sariawan peurjit
Khasiat: sariawan usus
Cara Pembuatan: daun dicuci bersih lalu dikunyah atau direbus dan diminum

33. Siwurungan
Khasiat: flu dan sakit kuning
Cara Pembuatan: pucuk dicuci bersih lalu direbus dan diminum atau bisa juga dimakan langsung

34. Pecah beling
Khasiat: panas dalam
Cara Pembuatan: cuci daun lalu rebus dan minum airnya

35. Panglay(bangle)
Untuk mengobati berbagai penyakit dan kesurupan dengan cawa langsung di makan

36. Paku Kapal
Khasiat: luka luka dan patah tulang
Cara Pembuatan: daun paku kapal ditambah daun jahe dan daun cikur lalu dicuci bersih dan ditumbuk dan tempelkan pada luka atau tulang yang patah.

37.Jeruk nipis
Khasiat: nyeri pinggang
Cara Pembuatan: lalapan

38. Jahe
Khasiat: obat batuk dan pemulih tenaga
Cara Pembuatan: jahe ditumbuk lalu campurkan dengan air dan minum

39. Kacapi
Khasiat: pemulih tenaga
Cara Pembuatan: daun & akar kecapi dicampur dengan kulit leme pisitan dan akar kunci lalu digodok dengan air dan diminum.

40. Jakut Wisa
Khasiat: digigt binatang berbisa
Cara Pembuatan: remas daun nya lalu ambil air dan tempel

41. Cikur (kencur)
Khasiat: obat keseleo
Cara Pembuatan: tumbuk sampai keluar air lalu oleskan dan pijat

42. Putri mau
Khasiat: menyembuhkan sariawan
Cara Pembuatan: daun nya diperas lalu ambil airnya dan minum

43. Sirih
Khasiat: mata kotor
Cara Pembuatan: cuci daun lalu rebus dan teteskan pada mata.

Satu hal yang menjadi perbedaan dan terlihat cukup jelas antara baduy luar dan baduy dalam yaitu dari pakain yang digunakan. Orang baduy dalam menggunakan ciri khas kain putih yang diikatkan dikepala sebagai pembeda dengan baduy luar yang menggunakan kain berwarna  hitam biru gelap.
Demikian tuisan ini dibuat, semoga dapat memberikan informasi bagi siapapun yang membaca.

Relasi agama dan kebudayaan masyarakt Jawa (UAS)

 Memahami islam sebagau agama atau peradaban dibayangkan sebagai bercorak monolitik dan bersifat universal. Cara melihat demikian ini mungkin tidak salah ketika islam itu dimaknai sebagai teks wahyu illahi (al-quran) dan Hadits Nabi yang berlaku dimana saja. Tetapi dalam realitasnya, pemahaman terhadap teks teks al-quran dan Hadits Nabi, sedemikian variatifnya. Munculnya sebagai faham dan aliran dari kalangan umat islam sendiri, menjelaskan akan adanya beragam penafsiran dan kepentingan di antara umat islam itu sendiri. Karena itu, apa yang disebut sebagai agama Islam atau peradaban Islam dalam realitasnya adalah Islam yang dipahami dan diyakini oleh masing masing umat yang ada di dalam faham dan aliran aliran yang berbeda beda. Jadi dalam realitas sosial ketika orang bicara soal Islam, ternyata harus ditanya lanjuti, islam menurut faham, aliran, atau komunitas apa?

Bagaimana kita mendefinisikan dan mengformulasi akulturasi islam dalam kebudayaan Jawa?
Pertama adalah berangkat dari paradigma yang kita gunakan. Apakah islam sebagai peradaban itu otonom dan karena itu tidak perlu disentuhkan dengan peradaban lain seperti peradaban Jawa, atau kita melihat otonomitas peradaban islam itu tidak akan pernah ada karena sejatinya kehadiran islam ke bumi bukan untuk menghapus peradaban yang sudah ada melainkan untuk menyempurnakan nya? Jika seperti itu makan kita melihat islamsecara akriptualistik. Lalu jika kita melihat menurut paradigma kedia berarti islam lebih dilihat secara substantive.
Persentuhan islam dengan peradaban peradaban local demikian memungkinkan lahirnya berbagai corak ke islaman. Pertama antara peradaban islam dan local saling menyerap sekaligus salaing menafikan. Kedua peradaban Islam menjadi fondasi bagi peradaban masyarakat. Dan ketiga peradaban local mendominasi budaya masyarakat. Yang pertama menjelaskan pada proses awal masuknya islam keberbagai wilayah seperti Jawa. Yang kedua & ketiga menggambarkan kepada akibat dari persentuhan islam dengan budaya local jawa. Persentuhan itu menghadirkan dua corak dalam keislaman orang Jawa, yaitu islam santi dan islam kejawen. Keduanya sama tetapi berbeda. Sama karena mengakui agama islam sebagai agama mereka, tetapi berbeda karena cara menempatkan islam dan sikap, serta tindakan keagamaan yang tidak sama. Pada orang islam santri menempatkan ajaran Agama islam (Al-quran & Hadits) sebagai nilai dominant yang dijadikan acuan tindakan, sementara bagi Islam Kejawen peradaban Jawa ditempatkan lebih dominant dan ajaran islan dipilih secara selektif untuk melengkapi peradaban Jawa tersebut.
Disini kita mulai membandingkan apa dan bagaimana (dalil, formulasi) dari nilai nilai budaya islam menyangkut worldview dan etos terutama terhadap 5 masalah dasar dalam kehidupan manusia. Kemudian dibandingkan dengan nilai nilai budaya dalam kebudayaan Jawa. Dari situ berikutnya kita akan mengetahui nilai nilai budaya hasil bentukan pertemuan dua budaya tsb.

Kesenia dan Kerajinan


Ekspresi seni pada orang arfak adalah me nyanyi dan menari. Jenis tarian yang dikenalumum adalah jenis tarian ular yang diiringi suling bambu (tsout). Syair lagu yang mengiringitarian itu memuja keindahan alam, matahari, bulan langit dan gunung.Barang-barang perhiasa yang umumnya dikenakan oleh pria atau wanita disebut liya, yaknigelang terbuat dari anyaman tali rotan,dema¶ya (kalung), miyepa (hiasan kepala yang dianyammenggun akan manik-manik)bulu burung atau kasuari, dan b reya (anyaman kulit burulu burungatau kasuari untuk hiasan kepala). Lebih dari 50 tahunyang lalu sebelum mengenal pakaianmasakini, orang arfak menggunakan cawat bagi pria yang terbuat dari kulit kayu, dan cawatwanita berupa ikat pinggang selebar 30 cm, yang dalam bahasa meyah disebut mogra.Dalam waktu senggang, seoran pria arfak mengisi waktunya dengan mengukir atau melukis busur dan panah-panahnya. Ukiran-ukiran yang khas itu juga mereka buat pada peralatan untuk  perang. Dibandingkan dengan sukubangsa asmat atau suku-suku di papua lainya yang mengenalseni patung dan seni lukis canggih, orang arfak tidak menampakan jiwa seni dalam kehidupansosial budayanya. Di waktu yang lampau orang arfak memang cederung meningkatkan kegiatan . konfederasi kelompok perang dan tarian adat. Mungkin karena inilah mereka mengagumi benda-benda materi yang berasal dari luar , dan mempunyai keinginan untuk memilikinya sertamenjadikanya benda berharga dalam kehidupan mereka.


Mengenal Tarian Tumbuk Tanah suku Arfak
Dalam Kebudayaan Papua Buah Merah merupakan sebuah Simbol tumbuhan yang sangat dikenal baik oleh hampir semua seuku-suku yang ada di Tanah Papua, salah satunya adalah Orang Arfak atau suku Arfak yang tinggal di bagian Wilayah Manokwari. Orang Arfak sangat dikenal sejak dulu sebagai perantara dalam ekspansi belanda dan portugis dalam bekomunikasi dengan dengan suku-suku lain di tanah Papua. berdasarkan sejarah di masa lalu orang Arfak dikenal sangat lihai dalam berburu dan mengenal berbagai macam tumbuhan untuk magis dan pengobatan tradisional ataupun sangat sulit dijumpai karena wilayah geografis daerah pengunungan dan aliran sungai sebagai karateristik yang sulit untuk di pelajari oleh Belanda dan Portugis pada masa itu. berikut ini salah satu tarian buah merah yang dimainkan oleh para pemuda Arfak dengan kemampuan koreografi yang unik dan sangat natural serta memiliki nuansa tradsional yang kuat dan kental. dengan pementasan ini kiranya menggugah kita untuk lebih yakin lagi bahwa memang Papua punya eksotika tersendiri yang tak kalah dengan kebudayaan-kebudayaan lain didunia saat ini.

Sistem Ekonomi


Berkebun berpindah-pindah adalah m ata pencarian pokok orang-orang Arfak di pegununggan Anggi. Kebun mereka biarkan menjadi hutan kembali sete;ah satu atau dua kali panen. Jangka waktu dari bera suatu lahan tidak tentu. Biasanya, apabila pohon-pohon yang adadalam suatu lahan hutan sekunder telah mencapai tinggi kutang lebih 10-15 meter, orang Arfak menganggap tanahnya sudah cukup subur untuk diolah lagi.Jenis tanaman yang ditanam adalah ubi jalar dan keladi, di samping pepaya, pisang dansayur-mayur (terutama bayam). Setelah mereka mengenal peralatan batu tadi, serta jenis-jenistanaman yang berasal dari luar papua, yang hasilnya dapat mereka jual ke pasar, seperti kentang, bawang, woretel, kubis, buncis, sawi , dan seldri, usaha pertanian mereka dalam dasawarsa 1950an dapat ditingkatkan. Untuk bercocok tanam, mereka masih menggunakan cara membakar danmenebas suatu hutan di suatu lahan. Yang mereka anggap subur.Mata pencarian lain yang mulai banyak dilakukan adalah menangkap ukan mujair dan belutdi tepi danau anggi. Sebelum mereka mengenal kail dan benang nylon, alat yang digunakanadalah anghrom, suatu alat tradisional yang terbuat dari serat akar pohon pandan. Yangmenggunakan cacing yang diikatkan di ujung tali itu sebagai umpan

Sistem Sosial

Apabila diperhatikan dengan cermat, sifat orang arfak adalah individual. sebelum kedatangan Belanda pada awal dasawarsa rumah mereka dibangun di atas pohon sebuah panggung.

Menurut adat seorang pria yang telah menikah menetap di rumah orangtuanya di tengah tengah para kerabatnya yaitu adat virilokal. dengan demikian kelompok kekerabatan yang terkecil dalam masyarakat sukubangsa arfak adalah keluarga luas virilokal yang menghuni satu rumah terdiri dari sepasang suami-isteri bersama keluarga inti sari 3-5 anak pria mereka. apabila daya tampung rumahnya terbatas, maka dengan persetujuan ayah dari anak anak pria tadi dibangun rumah yang baru. satu tumitsen biasanya mempunyai 3-5 kamar, sebanyak pasangan suami-isteri yang ada.

rumah di bangun cukup besar dan berbentuk segi empat dengan dinding - dinding yang terbuat dari kulit pohon, dan tanpa jendela . atapnya terbuat dari daun pandan , sedangkan lantainya dari dari belahan daunnibung atau bahasa meyah disebut mesiyi . di atas setiap perapian terdapat mofa.

Sejak zama pemerintah belanda orang arfak diperintahkan tinggal terkonsentrasi dalam perkampungan agar mereka lebih mudah di atur dan di awasi. perkampungan orang arfak makin lama makin membaik keadaannya dengan rumah rumah yang di bangun di atas tiang tiang. melalui celah celah di lantai udara segar dapat masuk ke dalam rumah dan kotoran rumah pun mudah di keluarkan , kolong rumah yang luas itu sering juga di pakai untuk menyimpan kayu api dan juga sebagai kandang ternsak.

Perkawinan masyarakat suyku arfak masih banyak di atur oleh orang tua dan para kerabatnya dan kadang kadang orang sudah dijodohkan sejak kecil. suatu perkawinan yang di atur oleh orang tua seringkali menyebabkan bahwa mempelai pria dan wanita belum saling mngenal.

walaupun perkawinan di atur secara ketat poligini terjadi juga. yaitu biasanya oleh kepala desa (manir) orang yang di anggap keramat atau kaya raya trampil dalam segala hal. pada umumnya perkawinan orang arfak adalah monogrami dan adat menetap sesudah nikah adalah viilokal.

Sistem Pengetahuan

Mempunyai pengetahuan yang sederhana untuk memanfaatkan segala hal yang ada disekitarnya. mereka membuat ramuan dari kayu akuai untuk menghilangkan rasa sakit dan lemah badan, dan daun pendahu untuk mengobati sakit sakit dibadan juga. selain itu mereka juga mengetahui jenis jenis kayu mana yang baik untuk membuat rumah, seperti kyu arwob dan tsout untuk membuat lantai rumah dan rakit.


Suara burung tertentu yang terdengar di hutan dan sekitar rumah di anggap sebagai peringatan untuk berhati hati terhadap suatu bahaya. mereka juga mengenal jeis tumbuhan berbisa yang dapat di gunakan untuk meracuni seorang musuh, yang hanya ada di daerah panas, dan hanya dapat di ambil oleh orang orang tertentu saja.


Konsep sakit  menurut orang arfak merupakan gangguan ruh halus atau sungai yang ada di sekitar mereka. Kosep sehat adalah keadaan yang diberikan oleh dewa bulan purnama yang mereka anggap membawa kebahagiaan dan memberi kesuburan pada tanaman di ladang. dengan kata lain sehat berarti bahwa diri merasa bebas dari rasa bersalah kepda orang lain, atau bebas dari pelanggaran aturan adat sehingga merasa dirinya aman dan bahagia.

Sistem Religi Mayarakat Irian Jaya

Upaya pertama orang belanda untuk menyebarkan agama kristen yang sudah dimulai dalam tahun 1855, dan kemudian berpangkal di manokwari dalam tahun 1872. namun baru pada awal abad ke 20 ada kegiatan yang agak berarti. penyebaran agama kristen terutama dilakukan didaerah pantai utara irian jaya oleh Ustechtsche Zendingsvereniging dan kemudian oleh Zending der Nederlands . Yitu mula mula di pulau yapen (1908) dan pulau pulau diteluk cendrawasih lainnya, didaerah kepala burung bagian barat (1911) dikepualauan raja ampat (1913) di pulau wakde yang berhadapan dengan pulau sarni (1922) dan dari sana keseluruh daerah pantai utara ke genyem (1924)

Sesudah perang dunia II jumlah pendeta pribumi mulai bertambah dan dalam tahun 1956 gereja kristen irian menjadi suatu organisasi yang mandiri. berbeda dengan daerah irian jaya bagian utara yang didominasi oleh agama kristen, bagian selatan agama nasrani didominasi oleh pendeta beragama katolik. upaya pertama otang belanda untuk menyebarkan agama katolik diawali dalam tahun 1894 namun hasilnya hampir tidak ada. juga ketika tahun 1905 organisasi penyebaran agama katolik yang bernama Missionarissenvan het Heilige Hart membuka pusat penyebaran agama di Merauk, upaya penyebaran tetap tidak banyak berhasil. baru ketika dalam tahun 1930 muncul saingan dari gereja kristen maluku yang membuka pusat penyebaran agama kristen di Merauke, para pendeta katolik meningkatkan kegiatannya dengan menyebarkanb agama mereka ke daerah sukubangsa muyu di bulu sungai Digul, di pulau FrederikHendrick dan dilain di irian jaya bagian selatan.

Latar Belakang Kebudayaan Irian Jaya


Latar Belakang Kebudayaan

A. Lokasi (Geograis, astonomis, klimatologis)

Diatas pulau Irian tampak seperti seekor burung raksasa. mungkin ada yang menganggapnya lebih mirip dinosaurus. Sekitar 47% bagian dari wilayah pulau itu yang berada disebelah barat dan merupakan kepala, tengkuk, punggung, leher, dada, dsaan perut.

Daerah Kepala Burung
Daerah ini pada umumnya terdiri dari beberapa deretan pegunungan tinggi yang merupakan lanjutan dari pegunungan Jayawijaya kearah barat laut. beberapa pegunungan terpenting didaerah kepala burung adalah pegunungan arfak dan pegunungan tamrau.

Daerah Pegunungan Tengah sampai Pantai Utara
Daerah ini secara khusus dapat dibagi kedalam empat bagianyang membujur dari barat ketimur. Kempat bagian itu adalah
1. Daerah pegunungan jayawijaya
2. Daerah danau danau tengah
3. daerah pegunungan utara
4. Daerah tanah rendahan dibagian itara Irian Jaya

Daerah Sebelah Selatan Pegunungan Jayawijaya
Daerah ini adalah suatu dataran rendah yang mahaluas yang dipeta berbentuk seperti corong. sebagian besar daerah initerdiri dari rawa-rawa yangn luas sedangkan muara muara sungai tepi pantai merupakan tanah yang berlumpur.

Iklim
Irian Jaya berada did ekat khatulistiwa dan beriklim tropik. suhu udara pada ketinggian permukaan laut hampir seragam bagi seluruh provinsi. yaitu rata rata 26c.

Flora
sebagian flora irian menunjukan sifat yang khas dalam arti bahwa tumbuh tumbuhan tersebut tidak dapat ditemui diluar daerah itu. hampit seluruh irian jaya tertutup hutan rimba tropik yang sangat lebat.

Fauna
Alama binatangfnya juga menunjukan sifat yang khas beranekaragam. para ali menjelaskan bahwa hal itu disebabkan karena irian sudah terpisah dari benua asia sewaktu berbagai jenis binatang yang kini tersebar dibenua itu belum berevolusi.