Tampilkan postingan dengan label yaumil akbar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yaumil akbar. Tampilkan semua postingan

RESTORASI SARAPAN

Nama : Yaumil akbar
NIM : 4423116697

Restorasi sarapan di desa wisata penting sari

Menu sarapan
Sarapan pada zaman dahulu tidak mengkonsumsi nasi tetapi pada zaman dahulu mengkonsumsi makanan seperti : ubi, ketelo, tales, tiwul, dan gatot.
Apa itu tiwul dan gatot? Gatot itu satu olahan dengan tiwul cara mengolahnya dengan cara ubi dikupas, diawetkan, lalu dijemur. Tepungnya diolah menjadi tiwul dan gatot itu irisan dari ubi tersebut, ubi dikukus dan lalu ditaburkan kelapa di atasnya.

Minuman diwaktu sarapan
Pada saat sarapan biasanya setelah mengkonsumsi makanan pada saat itu yang menjadi teman sarapan adalah minuman teh, teh tersebut tidak menggunakan gula pasir tetapi menggunakan gula merah yang asli diambil di pohon kelapa. Minumnya disajikan dengan gelas cangkir.

Waktu sarapan.
Pada dahulu kala tidak mengenal waktu sarapan, Setelah bangun tidur biasanya hanya mengkonsumsi air putih lalu dilanjutkan melakukan aktivitas di ladang atau sawah. Setelah melakukan aktivitas di lading mereka pulang lalu sarapan. Berbeda dengan zaman sekarang, pada sekarang ini sudah mengikuti perkembangan zaman yang ada.

FOKLORE SEBAGIAN LISAN

Nama Kelompok :

Yetty Rismauli S.
Yaumil Akbar
Utami Kusuma P.
Jodi Akhmad T.
Elsa Maria

FOKLORE SEBAGIAN LISAN



GEOGRAFIS
- Banten merupakan sebuah provinsi di sebelah barat Pulau Jawa memiliki moto “ImanTaqwa”. Moto ini mengartikan bahwa seluruh masyarakat Banten adalah orang-orang yang memiliki agama atau kepercayaan yang kuat dan mendominasi hamper seluruh kehidupan mereka. Ibu kota Banten adalah Serang. Hari jadi provinsi Banten adalah 4 Oktober 2000. Titik koordinat wilayah Banten adalah 5° 7' 50" - 7° 1' 11" LS dan 105° 1' 11" - 106° '12" BT.
Untuk saat ini pemerintahan Provinsi banten dipimpin oleh Gubernur Hj. Ratu Atut Chosiyah. Luas wilayah Banten sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2000 adalah 9.160,70 km2, dengan Populasi 10.644.030 jiwa, dan kepadatan 1.161,9/km².
Wilayah laut Banten merupakan salah satu jalur laut potensial selain karena batas daerahnya. Batas daerah Banten sebelah utara adalah Laut Jawa, yang dikenal dengan potensi perikanan yang cukup bagus bagiJawa. Kemudian sebelah Barat berbatasan dengan SelatSunda, yang merupakan salah satu jalur lalu lintas laut yang strategis karena dapat dilalui kapal besar yang menghubungkan Australia dan Selandia Baru dengan kawasan Asia Tenggara misalnya Thailand, Malaysia, dan Singapura. Di sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia, yang berpotensi untuk memperkaya matapencarian penduduknya, dengan berlayar mencari ikanbesar. Dan yang terakhir di sebelah timur, yang berbatasan dengan DKI Jakarta dan Jawa Barat.

EKOLOGI
- Flora
Masyarakat baduy mempunyai tanaman dan tumbuhan dengan berbagai macam manfaat. Salah satu tumbuhan yang bermanfaat digunakan untuk obat. Tanaman obat seperti mahkota dewa, kumis kucing, kunyit, mengkudu, bangle, pisang ambon, pepaya, jambuu biji, sirih, dll.

- Fauna
Masyarakat mempunyai hewan ternak yang mereka pelihara. Di lingkungan mereka terdapat ayam, burung, kucing dan sedikit anjing .Mereka memiliharanya di deket rumahnya seperti burung yang di gantungkan didepan pintu mereka.

TRADISI
- Pernikahan :
Masyarakat Baduy menikah padaumur 20-25 tahun untuk laki-laki dan di atas 16 tahun untuk perempuan. Masyarakat Baduy Dalam dijodohkan satu sama lain, tidak peduli ada hubungan persaudaraan atau hubungan darah. Pernikahan ini memakan waktu kira-kira satu tahun dan melalui tiga tahap, yaitu pihak laki-laki menanyakan kesediaan dari pihak perempuan. Kemudian, apabila si perempuan setuju, si laki-laki akan membawa peralatan dapur yang menyatakan keseriusannya. Terakhir, mereka berdua bias menikah dan pihak laki-laki membawa perhiasan (mahar). Jika ingin mencari perempuan Baduy yang belum menikah, kita bisa melihatnya dari anting berwarna yang dikenakannya.
Maskawin berupa: baju, alat-alat rumah tangga, cincin. Biasanya di adakan acara masak atau biasa disebut dengan kondangan.

- Kelahiran Dan Kehamilan
Sebelum lahir ada acara 7 bulanan ibu yang sedang hamil yaitu Kendit kemudian bayi lahir akan di tolong oleh dukun mereka biasa menyebutnya paraji. Setelah lahir ada acara 7 harian yang di sebut berenan, kemudian cukuran setelah 4 hari dan dilanjutkan 40 harian.
Penamaan untuk anak-anak di Baduy juga cukup menggunakan satu kata saja, misalnya Jamra, Jamir, Kasmin, Armuta, dan lain-lain.

- Kematian
Ketika ada salah satu masyarakat Baduy yang meninggal dunia, apak diadakan acara pada haripertama, ketiga, dan ketujuh (selamakam). Proses pemakaman berlangsung singkat. Orang yang meninggal akan dimandikan di tempat pemandian setinggi dada , kemudian dibungkus kain putih, lalu dikubur dengan kepala menghadap kebarat biasanya di tempat khusus atau berdekatan disebelah kali. Pada hari ketiga, akan diadakan selametan. Pada hari ketujuh, kuburan tetap dirawat.

SOSIAL
- Masyarakat mempunyai upacara pesta panen dan upacara menanam padi dilakukan dengan diiringi angklung buhun sebagai penghormatan kepada dewi sri lambing kemakmuran. Upacara Seba adalah suatu pengabdian kepada seseorang yang berkedudukan tinggi dengan disertai penyerahan suatu yang baik. Adapun penyerahan itu ditujukan kepada arwah-arwah lelehur, yaitu arwah Prabu Siliwangi dan Kian Santang, karena kedua tokoh tersebut mempunyai ilmu dan kesaktian yang tinggi, maka benda-benda peninggalannya merupakan benda pusaka yang mempunyai kekuatan gaib yang bertuah. Namun Seba tahun ini masyarakat Baduy dating ke Pendopo Kabupaten Lebak membawa berbagai hasil bumi seperti pisang, padi, buah-buahan serta tanaman lainnya untuk dipersembahkan kepada Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya.

AGAMA
- Upacara Kawaluya itu upacara yang dilakukan dalam rangka menyambut bulan kawalu yang dianggap suci dimana pada bulan kawalu masyarakat baduy melaksanakan ibadah puasa selama 3 bulan yaitu bulan Kasa,Karo, dan Katiga. Pada hari terakhir kawalu masyarakat baduy luar akan kebaduy dalam untuk mengginap dan biasanya diwakili 1 orang 1 rumah.

- Upacara ngalaksa yaitu upacara besar yang dilakukan sebagian ucapan syukur atas terlewatinya bulan-bulan kawalu, setelah melaksanakan puasa selama 3 bulan. Ngalaksa atau yang sering disebutlebaran.

materi UAS


Senja di ujung jepara

Pantai bandengan terletak di kabupaten Jepara, Jawa tengah kabupaten Jepara berbatasan dengan 3 kabupaten sebelah barat dan utara berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Kudus dan Pati, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Demak. Wilayah ini terbagi atas 16 Kecamatan, 183 Desa dan 11 Kelurahan.
Karena letak kabupaten Jepara berada di pesisir laut utara Jawa, maka kabupaten Jepara terkenal dengan potensi wisata baharinya.
Akses menuju jepara sendiri tidaklah sulit, jika kita datang dari Jakarta banyak bis AKAP eksekutif yang bertujuan Jakarta-Semarang-Jepara. Dan jika anda dari Surabaya ada bis Patas jurusan Surabaya-Jepara.
Sabtu, 28 april 2012 saya mendapatkan kesempatan berkunjung ke Jepara. Sebenernya trip ke Jepara sudah saya lakukan lebih dari 5X tapi sayangnya setiap berkunjung ke Jepara belum pernah merasakan wisata baharinya, sebagai anggota penggemar transportasi bis saya datang ke Jepara hanya bertemu dengan kawan-kawan sesama penggemar bis dan merasakan kemewahan dan kecepatan bis bis yang bertujuan Jepara.
Kali ini trip saya ditemani oleh teman saya, dia orang asli Jepara dan dulu kenal dia ketika sekolah bahasa di Pare, Kediri. Hari sudah hampir semakin sore saya dijemput di hotel oleh teman saya dan Ia menawarkan tempat tempat wisata yang berada di Jepara. Dan Ia langsung menawarkan menikmati keindahan senja di pantai Bandengan, sebelumnya belum tahu pantai Bandengan hanya mendengar mendengar saja dari rekan yang sudah pernah kesana.
Pukul 17.00 saya keluar dari hotel menyusuri jalan jalan Jepara yang gak terlalu ramai, jalanan di Jepara tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil jalanan di Jepara banyak yang menggunakan sistim satu arah. Lanjut berjalan menuju arah utara melewati terminal Jepara dan melewati stadion kebanggaan warga Jepara dari sini sudah terlihat pemandangan pemandangan dan aroma pesisir utara Jepara. Jalan menuju pantai bandengan tidak terlalu besar juga hanya cukup untuk dilalui dua kendaraan roda 4 saja.
ketika hampir mendekati pintu gerbang pantai bandengan teman saya menyarankan untuk membelokkan kendaraannya masuk ke dalam resort, pertamanya cukup kaget juga pas masuk resort. Setelah memarkirkan kendaraannya saya diajak menuju belakang resort dan ternyata dibelakang resort tersebut terdapat restaurant, dan ketika memasuki restaurant tersebut kita sudah disuguhi pemandangan langit dikala senja, pantai yang bersih, pasir putih,dan suasana yang romantis. Cukup hanya memesan minuman dan makanan ringan kita sudah bisa menikmati keindahan pantai bandengan dikala senja. Moment ini gak saya sia-siakan untuk mengabadikannya, mungkin susana ini yang belum saya dapatkan yang sebelumnya sudah mengunjungi kabupaten Jepara.
Karena suasana yang nyaman, sampai saya dan teman saya lupa waktu karena sudah agak larut malam kita putuskan untuk pulang.

refrensi



http://www.butang-emas.net/2008/07
Ch.F.H Duman tahun 1924

Melayu pada hindu budha



Melayu pada hindu budha
Orang Melayu menyebutnya Pulau Hujung Tanah atau P'ulo Chung. Para pedagang asing datang ke pulau ini mencari komoditas hasil alam berupa kamfer, lilin dan sarang burung walet melakukan barter dengan guci keramik yang bernilai tinggi dalam masyarakat Dayak. Para pendatang India maupun orang Melayu yang telah mendapat pengaruh budaya India memasuki muara-muara sungai untuk mencari lahan bercocok tanam dan berhasil menemukan tambang emas dan intan untuk memenuhi permintaan pasar. Lokasi pertambangan emas berkembang menjadi pemukiman sehingga diperlukan adanya suatu kepemimpinan. Pengaruh India ditandai munculnya kerajaan tahap awal dengan pemakaian gelar Maharaja bagi pemimpin suatu kekerabatan (bubuhan) dan sekelompok orang lainnya yang bergabung dalam kepemimpinannya dalam kesatuan wilayah wanua (distrik), yang saling berseberangan dengan wanua-wanua tetangganya yang dihuni keluarga lainnya dengan dikepalai tetuanya sendiri. Gelar India Selatan warman (yang melindungi) dilekatkan pada penguasa wanua tersebut, yang kemudian memaksa wanua-wanua tetangganya membayar upeti berupa emas dan hasil alam yang laku diekspor. Klan-klan (bubuhan) mulai disatukan oleh suatu kekuatan politik yang memusat menjadi sebuah mandala (kerajaan) yang sebenarnya bukan tradisi Austronesia. Kerajaan awal ini sudah merupakan campuran kelompok yang datang dari beberapa daerah, tetapi di pedalaman bangsa Austronesia masih hidup dalam komunitas rumah panjang yang mandiri dan terpisah serta saling berperang untuk berburu kepala.

Penutup

Melayu atau suku Melayu dalam pengertian mutakhir merujuk kepada penutur bahasa Melayu dan mengamalkan adat budaya orang Melayu, dan sudah mengalami akulturasi dengan bangsa asing lainnya yang datang dari luar Kepulauan Indo Melayu (Nusantara), terutama pengaruh agama Islam yang kuat. Suku Melayu merupakan bagian dari suku-suku ras Deutero Melayu. Suku Melayu modern merupakan keturunan orang Melayu kuno dari Kerajaan Melayu. Menurut sensus tahun 2000, suku Melayu meliputi 3,4% dari populasi Indonesia dan mendiami beberapa propinsi di Sumatera dan Kalimantan Barat. Suku Melayu juga terdapat di Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand dan Afrika Selatan. Melayu Cape Town di Afrika Selatan merupakan keturunan suku Melayu dan sejumlah suku lainnya yang berasal dari Nusantara seperti Makassar, Banten, Ternate dan lain-lain. Jadi Melayu Cape Town merupakan kumpulan beberapa etnis yang kebetulan semuanya muslim lebih tepat disebut ras Indo-Melayu atau disederhanakan dengan sebutan ras Melayu.

Pengetahuan arsitektur melayu

Arsitektur Melayu yang ada di Kalimantan Barat memiliki beragam keunikan dan kekhasan yang masih terus harus di gali kekayaannya sebagai bukti keberagaman budaya bangsa,khususnya Melayu. Hampir semua rumah Melayu yang tersebar di Asia tenggara memiliki banyak persamaan dan perbedaan. Keberagaman dan perbedaan tersebut justru membawa keunikan dan membawa ciri khas masing masing daerah mengenai keberagaman masyarakat Melayu. Melayu Kalimantan Barat juga kaya akan keberagaman tersebut. Dalam tulisan ini, penulis ingin mengangkat rumah Melayu dari sudut pandang bentuk,susunan,dan pola ruang rumah Melayu yang ada di Kalimantan Barat sebagai bagian dari penambahan khasanah budaya Melayu.
Simetri
Suatu komposisi arsitektur tradisional dapat memanfaatkan simetri untuk mengorganisasi bentuk bentuk dan ruang ruangnya dalam dua cara, yaitu seluruh organisasi bangunan dapat dibuat simetri atau suatu kondisi simetris dapat terjadi hanya pada bagian tertentu dari bangunan dan mengorganisir suatu pola tak teratur dari bentuk bentuk dan ruang ruang ruang terhadapnya.Walaupun masih sederhana, tisak semua bangunan arsitektur tradisional di Kalbar berbentuk simetris tetapi ada juga yang berbentuk asimetris. Pada umumnya bentuk bangunan ini dikategorikan memiliki simetri bilateral, yaitu suatu susunan yang seimbang dari unsur- unsur yang sama terhadap suatu sumbu yang sama. Pola -pola simetri radial seringkali ditemukan pada ornamen -ornamen ( hiasan ) yang berpola geometrik .
Hirarkhi
Hirarkhi mengacu kepada pengertian perbedaan-perbedaan dan derajat kepen tingan dari bentuk-bentuk dan ruang-ruang dan peran-peran fungsional, formal dan simbolis yang dimainkan di dalam organisasinya .Hirarkhi pada arsitektur tradisional Kalbar dapat ditemui pada penggunaan ukuran yang luar biasa, bentuk bentuk unik dan lokasi strategis
Perulangan
Perulangan bentuk pada arsitektur tradisional Kalbar nyata terlihat pada konsep rumah adat melayu terdapat pada bentuk bentuk jendela ynag memiliki perulangan sama. Bentuk-bentuk perulangan lainnya ditemukan pada bentuk-bentuk tiang-tiang, bentuk-bentuk atap dan lain-lainnya


Bahasa


Bahasa

Pemakaian bahasa Melayu yang dipengaruhi bahasa Sansekerta telah mendominasi Kerajaan Sriwijaya. Hal ini jelas terlihat pada berbagai inskripsi batu bertulis yang ditemukan pada berbagai tempat di Sumatra. Tetapi, dalam era berikutnya, yaitu era Kerajaan-kerajaan Melayu yang muncul dari abad ke-12 sampai dengan abad ke-19 Masehi, bahasa yang dipakai tidak lagi dipengaruhi oleh bahasa Sansekerta. Raja-raja yang berkuasa pada saat itu berketurunan Melayu.
Era ini dapat dibagi menjadi dua sub-era, yaitu sub-era Kerajan Bintan dan Tumasik, dan sub-era Kerajaan Melayu Riau. Selanjutnya, sub-era Kerajaan Melayu Riau ini dibagi lagi menjadi tiga periode, yaitu periode Kerajaan Malaka, periode Kerajaan Johor, dan periode Kerajaan Riau dan Lingga. Sekali lagi, pembagian menjadi periode-periode ini sangat penting karena berkaitan dengan perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia .
Pada era Kerajaan-kerjaan Melayu ini, penyebaran bahasa Melayu mengalami perkembangan yang sangat pesat. Kedatangan orang-orang Eropa yang ikut mempergunakana bahasa Melayu sebagai lingua franca tidak hanya menmbantu penyebaran bahasa itu secara ekstensif melainkan juga menaikkan statusnya sebagai bahasa yang memiliki “norma supraetnik”, melebihi norma etnik bahasa-bahasa daerah lainnya yang ada di Kepulauan Nusantara.
Pigafetta yang mendampingi Magelhaens di dalam pelayarannya yang pertama mengelilingi dunia, misalnya, berhasil menyusun glosari pertama Bahasa Melayu ketika kapalnya berlabuh di Tidore tahun 1521 Masehi. Glosari Pigafetta yang sederhana ini menunjukkan bahwa Bahasa Melayu yang berasal dari Indonesia bagian barat telah menyebar ke bagian timur Kepulauan Nusantara pada waktu itu. Bahkan, pada tahun 1865 pemerintah kolonial Belanda mengangkat Bahasa Melayu sebagai bahasa resmi kedua mendampingi Bahasa Belanda. Hal ini mengisyaratkan bahwa peranan Bahasa Melayu sebagai lingua franca tidak dapat diabaikan begitu saja.
Pada tahun 1581, Jan Huygen van Linschoten, seorang pelaut Belanda yang berlayar ke Indonesia, menulis di dalam bukunya Itinerarium Schipvaert naar Oost ofte Portugaels Indiens bahwa Bahasa Melayu adalah bahasa yang dipergunakan oleh banyak orang timur, dan bahwa barang siapa yang tidak mengerti bahasa itu akan berada dalam keadaan seperti orang Belanda (dari zaman yang sama) yang tidak mengerti Bahasa Perancis. (Alisjahbana dalam Fishman, 1974: 393).
Pada akhir abad ke-17, sewaktu Francois Valentyn di Malaka, ia telah menulis buku berjudul Oud en Nievw Oostindien II Del V tentang bahasa Melayu. Dalam buku tersebut dinyatakan bahwa Bahasa Melayu telah terbukti menjalankan fungsinya sebagai alat komunikasi dan lingua franca yang penting di Malaka. Valentyn seorang pendeta dan ahli sejarah berbangsa Belanda dalam penulisan buku sebanyak enam jilid itu menjelaskan sejarah dan skenario kota pelabuhan di Kepulauan Melayu. Sebagian penjelasannya adalah:
“Bahasa mereka, yaitu bahasa Melayu … bukan saja digunakan di pantai-pantai Tanah Melayu, melainkan juga di seluruh India dan di negeri-negeri sebelah timur. Di mana-mana pun bahasa ini dipahami oleh setiap orang. Bahasa ini bagaikan bahasa Perancis atau bahasa Latin di Eropa, atau senacan bahasa perantara di Itali atau di Levent. OLeh karena banyaknya bahasa ini digunakan,maka seseorang yang mampu bertutur dalam bahasa Melayu akan dapat dipahami orang baik dalam negeri Persia maupun Filipina.”

Bahasa Melayu menjadi bahasa nasional dan bahasa pengantar di semua lembaga publik di sebagian Asia, seperti Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Bahasa Melayu yang menjadi lingua franca penduduk Nusantara sejak sekian lama. Bahasa Melayu juga telah dipergunakan oleh masyarakat Indonesia, termasuk etnik Melayu..
Akan tetapi dalam kebudayaan Melayu penggunaan bahasa khususnya dialek memilki perbedaan dari lima kabupaten, jika orang Melayu di pesisir timur, Serdang Bedagai, Pangkalan Dodek, Batubara, Asahan dan Tanjung Balai memakai Bahasa Melayu dengan mengutamakan huruf vokal “o” sebagai contoh kemano (kemana), siapo (siapa). Di Langkat dan Deli masih menggunakan huruf vocal “e” seperti contoh, kemane (kemana), siape (siapa).
Dari sini kita bisa melihat meskipun akar kebudayaan etnik Melayu itu satu rumpun, namun ada juga perbedaan-perbedaan kecil yang membedakan etnik Melayu. Adapun perbedaan-perbedaan tersebut dikarenakan adanya kebiasaan yang sudah dibawa dari nenek moyang yang pada saat itu mereka memilki satu pengelompokan yang berbeda-beda. (Zein 1957:89).
Bahasa yang digunakan dan difungsikan oleh Nur ‘Ainun adalah bahasa Melayu dan juga Indonesia. Biarpun beliau sendiri orang Melayu Sumatera Utara, akan tetapi, dia lebih senang menggunakan bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari.