Tampilkan postingan dengan label yetty rismauli sinaga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yetty rismauli sinaga. Tampilkan semua postingan

Tata Cara Makan / Manner di Desa Wisata Pentingsari


TATA CARA MAKAN MASYARAKAT DI DESA WISATA PENTING SARI

Narasumber :
Nama : Ibu Muju
Umur : 65 Tahun
Asal : Asli warga Desa Pentingsari







Permulaan
Awalnya desa wisata penting sari ini memakai peralatan masaknya yang dikenal dengan istilah Luweng merupakan salah satu bukti betapa luasnya perjuangan Pangeran Diponegoro dalam mengusir penjajah Belanda di Yogyakarta , luweng  pada saat itu digunakan sebagai alat masak warga dusun Pentingsari dalam menyediakan konsumsi bagi tentara Pangeran Diponegoro, disamping sebagai tempat persembunyian bila dalam posisi terdesak. Alat masaknya mulai dari tengku (kayu), kettle (wajan), berek (isi bumbu) dll.
Setelah beberapa waktu lamanya masyarakat mulai menggunakan peralatan masak yang modern. Masyarakat memulainya dari tempat masaknya sampai alat makan yang digunakan.  Masyarakat desa penting sari terbiasa dengan pola hidup yang sederhana. Mulai dari alat masak, tata cara makan, sampai kebudayaan yang masih terjaga. Ibu muju narasumber yang saya wawancara bercerita bahwa dahulu kelurganya menggunakan daun pisang sebagai wadah makanan mereka akan teteapi sekarang mereka telah memakai piring.

Tata cara makan

-       * Di acara-acara tertentu

            Untuk acara-acara tertentu seperti ruan (doa untuk para leluhur untuk pengampunan dosa) dengan membuat kue atau kenduri, tata cara makan tidak terdapat di acara ini karena hanya tradisi membuat kue ataupun makan bersama. Biasanya tata cara dalam makan pada acara-acara tertentu menggunakan tangan dan menikmati makananya secara bersama dalam satu tumpeng yang terdiri dari lauk pauk yang berkeliling disekitar nasi tersebut.


   

        


     * Di kelurga

            Pola makan dalam keluarga, ibu muju sendiri apabila sedang makan bersama dengan keluarga persiapan pertama yaitu dengan pengelolaan makanan. Makanan yang sudah siap disajikan di ruang makan dan ditata menurut keperluan seperti, nasi, lauk,sayur dll. Posisi pada saat makan pada makan bersama di keluarga apabila sudah menikah dan mempunyai anak, seorang anak yang masih balita akan duduk mendekat dengan ibunya agar dapat menyuapi.
Setelah itu posisi duduk masyarakat desa penting sari sama saja dengan masyarakat umumnya yaitu bapak dan ibu (orang tua) duduk berdekatan. Kemudian dilanjutkan dengan anak pertama disebelah bapak, anak kedua sebelah ibu berselang seling sesuai urutan dan apabila anak pertama atau anak kedua  sudah menikah dan mempunyai anak,  yang duduk didekat orangtua adalah yang laki-laki maskipun anak pertama tersebut perempuan karena yang perempuan akan duduk disebelah anaknya untuk menyuapi bagi anak yang masih balita
Tempat keluarga itu sendiri apabila makan di meja makan, sedangkan apabila lesehan biasanya posisi duduk laki-laki yaitu bersilang dan untuk perempuan kakinya dirapat  atau yang dikenal sebagai istilah timpuh. Setelah posisi kemudian tata cara dalam proses makan yaitu selama makan tersebut tidak boleh mengngobrol. Dalam penggambilan makanan biasanya orang tua yang terlebih dahulu diambilkan oleh anaknya dan untuk yang berkelurga, istri menggambil makananya untuk suaminya. Selanjutnya, ibunya menggambilkan makanan untuk anak-anaknya dan begitu seterusnya dari yang tua sampai yang termuda. Dalam keluarga bu muji biasanya mereka menggunakan tangan tanpa sendok dan untuk makanan yang berkuah memakai sendok akan tetapi tidak di konsumsi oleh seorang ibu yang baru bersalin(tigkeh) selama 35 hari.














FOKLORE SEBAGIAN LISAN

Nama Kelompok :

Yetty Rismauli S.
Yaumil Akbar
Utami Kusuma P.
Jodi Akhmad T.
Elsa Maria

FOKLORE SEBAGIAN LISAN



GEOGRAFIS
- Banten merupakan sebuah provinsi di sebelah barat Pulau Jawa memiliki moto “ImanTaqwa”. Moto ini mengartikan bahwa seluruh masyarakat Banten adalah orang-orang yang memiliki agama atau kepercayaan yang kuat dan mendominasi hamper seluruh kehidupan mereka. Ibu kota Banten adalah Serang. Hari jadi provinsi Banten adalah 4 Oktober 2000. Titik koordinat wilayah Banten adalah 5° 7' 50" - 7° 1' 11" LS dan 105° 1' 11" - 106° '12" BT.
Untuk saat ini pemerintahan Provinsi banten dipimpin oleh Gubernur Hj. Ratu Atut Chosiyah. Luas wilayah Banten sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2000 adalah 9.160,70 km2, dengan Populasi 10.644.030 jiwa, dan kepadatan 1.161,9/km².
Wilayah laut Banten merupakan salah satu jalur laut potensial selain karena batas daerahnya. Batas daerah Banten sebelah utara adalah Laut Jawa, yang dikenal dengan potensi perikanan yang cukup bagus bagiJawa. Kemudian sebelah Barat berbatasan dengan SelatSunda, yang merupakan salah satu jalur lalu lintas laut yang strategis karena dapat dilalui kapal besar yang menghubungkan Australia dan Selandia Baru dengan kawasan Asia Tenggara misalnya Thailand, Malaysia, dan Singapura. Di sebelah selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia, yang berpotensi untuk memperkaya matapencarian penduduknya, dengan berlayar mencari ikanbesar. Dan yang terakhir di sebelah timur, yang berbatasan dengan DKI Jakarta dan Jawa Barat.

EKOLOGI
- Flora
Masyarakat baduy mempunyai tanaman dan tumbuhan dengan berbagai macam manfaat. Salah satu tumbuhan yang bermanfaat digunakan untuk obat. Tanaman obat seperti mahkota dewa, kumis kucing, kunyit, mengkudu, bangle, pisang ambon, pepaya, jambuu biji, sirih, dll.

- Fauna
Masyarakat mempunyai hewan ternak yang mereka pelihara. Di lingkungan mereka terdapat ayam, burung, kucing dan sedikit anjing .Mereka memiliharanya di deket rumahnya seperti burung yang di gantungkan didepan pintu mereka.

TRADISI
- Pernikahan :
Masyarakat Baduy menikah padaumur 20-25 tahun untuk laki-laki dan di atas 16 tahun untuk perempuan. Masyarakat Baduy Dalam dijodohkan satu sama lain, tidak peduli ada hubungan persaudaraan atau hubungan darah. Pernikahan ini memakan waktu kira-kira satu tahun dan melalui tiga tahap, yaitu pihak laki-laki menanyakan kesediaan dari pihak perempuan. Kemudian, apabila si perempuan setuju, si laki-laki akan membawa peralatan dapur yang menyatakan keseriusannya. Terakhir, mereka berdua bias menikah dan pihak laki-laki membawa perhiasan (mahar). Jika ingin mencari perempuan Baduy yang belum menikah, kita bisa melihatnya dari anting berwarna yang dikenakannya.
Maskawin berupa: baju, alat-alat rumah tangga, cincin. Biasanya di adakan acara masak atau biasa disebut dengan kondangan.

- Kelahiran Dan Kehamilan
Sebelum lahir ada acara 7 bulanan ibu yang sedang hamil yaitu Kendit kemudian bayi lahir akan di tolong oleh dukun mereka biasa menyebutnya paraji. Setelah lahir ada acara 7 harian yang di sebut berenan, kemudian cukuran setelah 4 hari dan dilanjutkan 40 harian.
Penamaan untuk anak-anak di Baduy juga cukup menggunakan satu kata saja, misalnya Jamra, Jamir, Kasmin, Armuta, dan lain-lain.

- Kematian
Ketika ada salah satu masyarakat Baduy yang meninggal dunia, apak diadakan acara pada haripertama, ketiga, dan ketujuh (selamakam). Proses pemakaman berlangsung singkat. Orang yang meninggal akan dimandikan di tempat pemandian setinggi dada , kemudian dibungkus kain putih, lalu dikubur dengan kepala menghadap kebarat biasanya di tempat khusus atau berdekatan disebelah kali. Pada hari ketiga, akan diadakan selametan. Pada hari ketujuh, kuburan tetap dirawat.

SOSIAL
- Masyarakat mempunyai upacara pesta panen dan upacara menanam padi dilakukan dengan diiringi angklung buhun sebagai penghormatan kepada dewi sri lambing kemakmuran. Upacara Seba adalah suatu pengabdian kepada seseorang yang berkedudukan tinggi dengan disertai penyerahan suatu yang baik. Adapun penyerahan itu ditujukan kepada arwah-arwah lelehur, yaitu arwah Prabu Siliwangi dan Kian Santang, karena kedua tokoh tersebut mempunyai ilmu dan kesaktian yang tinggi, maka benda-benda peninggalannya merupakan benda pusaka yang mempunyai kekuatan gaib yang bertuah. Namun Seba tahun ini masyarakat Baduy dating ke Pendopo Kabupaten Lebak membawa berbagai hasil bumi seperti pisang, padi, buah-buahan serta tanaman lainnya untuk dipersembahkan kepada Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya.

AGAMA
- Upacara Kawaluya itu upacara yang dilakukan dalam rangka menyambut bulan kawalu yang dianggap suci dimana pada bulan kawalu masyarakat baduy melaksanakan ibadah puasa selama 3 bulan yaitu bulan Kasa,Karo, dan Katiga. Pada hari terakhir kawalu masyarakat baduy luar akan kebaduy dalam untuk mengginap dan biasanya diwakili 1 orang 1 rumah.

- Upacara ngalaksa yaitu upacara besar yang dilakukan sebagian ucapan syukur atas terlewatinya bulan-bulan kawalu, setelah melaksanakan puasa selama 3 bulan. Ngalaksa atau yang sering disebutlebaran.

Kearifan Lokal


UAS KESENIAN DAN KEBUDAYAAN INDONESIA
USAHA JASA PARIWISATA 2011
KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT TENGGER DI JAWA TIMUR

A.   DESKRIPSI MASYARAKAT TENGGER
1.     Pola Pemukiman

Kondisi alam yang berbukit-bukit mengakibatkan berkumpulnya komunitas masyarakat tengger dalam satu tempat. Konsekwensi logisnya adalah jarak rumah yang satu dengan yang lain saling berdekatan dan saling behimpitan, sehingga Nampak padat dan rapat. Setiap rumah hamper tidak punya pendalaman yang dapat dimanfaatkan untuk menanam tanaman hiasa atau tanaman lainnya. Disamping itu Hampir semua rumah tidak dibatasi oleh pagar-pagar sebagai pembatas antar rumah. Keadaan rumah yang berimpitan dan tidak dibatasi oleh pembatas rumah itu, memnunjukkan sikap masyarakat yang suka berkerjasama atau gotong royong. Itulah sebabnya masyarakat tengger merasa sebuah keluaraga dengan orang lain. Rumah-rumah penduduk pada umunya menghasap ke jalan, baik jalan desa maupun jalan perkampungan. Jika lahan tersedia memungkinkan menghadap ke jalan, maka yang dilakukan adalah membuat jalan perpotolongan atau gang antar rumah. Pemukiman yang ada tidak selalu berada diatas jalan , melainkan  sesuai kondisi lahan yang tersedia. Rumah-rumah yang berada di bawah jalan  umunya dibangun sejajar atau memanjang dengan jalan.  Rumah bagi masyarakat desa wonokitri berfungsi murni sebagai tempat tinggal dan tidur. Bagi masyarakat setempat selain rumah, juga membangun tempat-tempat lain yang berfungsi untuk mendukung rumah, yaitu rumah ternak dan rumah hasil bumi. Rumah ternak tidak menjadi satu dengan rumah tempat tinggal, sedangkan rumah hasil bumi berada di tempat hasil  bumi itu berada.
Jadi rumah hasil bumi berjarak dekat atau jauh dengan tempat tinggal sesuai lahan yang menjadi miliknya.

2.     Simbol-simbol identitas

          Symbol dapat diartikan sebagai lambing. Tata cara berpakai juga bahasa yang digunakan oleh masyarakat tengger merupakan identitas sebagai masyarakat tengger. Berkaitan dengan bahasa daerah yang digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari adalah bahasa jawa tengger. Disebut demikian karena bahasa ini masih berbau bahasa jawa kuno. Oleh karena itu, dalam bahasanya menggunakan tingkatan tertentu, yaitu ngoko dan kromo. Symbol-simbol dari pembicaraan atau bahasa yang dialek yang berbeda.  Selain bahasa suku tengger juga dikenal identitasnya dengan  berpakaian sarung yang dilengketkan pada badannya. Dari dua symbol tersebut yaitu bahasa dan pakaian, orangh lain dapat mengetahui identitasnya kalau orang tersebut masyarakat tengger.


B.    HUBUNGAN MASAYARAKAT TENGGER

1.     Hubungan Manusia Dengan Tuhan
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia mempunyai hubungan secara vertical dan horizontal. Secara vertical, manusia berkewajiban atau mempunyai hubungan kepada Tuhan, sedangkan secara horizontal, manusia berkewajiban atau mempunyai hubungan dengan sesamanya. Dalam wujud religi juga merupakan suatu ungkapan dari vertical. Sebagai tanggung jawab antara hamba dengan Tuhannya, masyarakat tengger selalu menjalankan ibadah sesuai dengan aturan dalam agama masing-masing. Setiap kegiatan masyarakat dalam melaksanakan upacara-upacara keagamaan, semua masyarakat terlibat dalam memberikan hasil bumi yang dimiliki.  Masyarakat wonokiotri menurut keterangannya tidak “mengada-ada” artinya tidak mengusahakan yang diluar kemampuannya. Mereka cukup memberi apa yang mereka miliki.

Secara indiidu, semua penduduk wonokitri setiap hari melakukan sembahyang dalam bentuk membaca doa-doa. Tentang sesaji setiap hari, bahwa ridak harus atau tidak wajib kalau nmemang ada. Dalam hal pelaksana upacara sebagai perwujudan hubungan manusia dengan Tuhan, penduduk wonokitri khususnya dan masyarakat tengger pada umumnya melaksanakan upacara-upacara yang berkaitan dengan keagamaan atau bukan . Upacara-upacara yang menyangkut keagamaan itu antara lain: galungan, nyepi, saraswati, pager wesi. Upacara itu bekaitan  erat dengan mitos tentang masyarakat tengger dengan gunung bromo dan sekitarnya.  Upacara terbesar adalah upacar kasada karena melibatkan semua masyarakat tengger dari empat kabupaten yang dipusatkan dikomplek Gunung Bromo. Dalam kaitannya hubungan manusia dengan Tuhan,  tidak tergantung dari masing-masing orang, akan tetapi sebagai orang yang beragama Hindu selalu mendekat dengan Tuhannya sehari tiga kali(tri sandaya).
Hubungan dengan Tuhan, menurut orang Tengger tidak mungkin nyata kalau tidak direalasasikan dengan masyarakat. Jadi hubungan masyarakat dengan penting sekali, sehingga terjadilah relasi tiga hubungan , yaitu manusia pribadi dengan Tuhan, manusia pribadi dengan masyarakat dan masyarakat dengan  Tuhan (yang berupa acara-acara adat). Sebetulnya setiap hari bagi masyarakat Hindu Tengger harus pergi ke pura untuk berdoa, terutama kepada leluhurnya, mohon berkah agar selamat dan berhasil dalam hidup keseharian dan mohon hubungan baik dengan tetangga.      




  
 
          Tuhan                                     
                   ibadah               upacara                     relasi tiga arah atau Tryadic
              manusia                           masyarakat                 Relationship
         
      perbuatan baik

     

Dalam kaitannya hubungan manusia dengan Tuhan, bahwa antara adat dengan agama seakan-akan tidak ada bedanya. Percaya adanya Tuhan dan percaya adanya roh leluhur, cara melakukan kepercayaan, seperti percaya roh leluhur, yang meningat-ingatkan
sesaji. Percaya adanya Tuhan dengan mengadakan doa mantra dalam sembahyang yang dilaksanakan tiga waktu dalam sehari(tri sandya). Sembahyang ini dapat dilakukan dimana saja karena mereka percaya bahwa Tuhan dimana-mana. Sementara itu ada yang mengatakan bahwa untuk manusia membuktikan manusia dengan Tuhan, manusia harus sembahyang tiga kali sehari ( tri sandya). Bentuk ungkapan dalam sembahyang adalah mengucapkan terima kasih dan ungkapan syukur atas semua yang telah diberikan kepada manusia.  Oleh karena itu doa atau berhubungan dengan sang pecipta, masyarakat tengger melaksanakan sembahyang tiga kali sehari, yakni pagi, siang, dan malam hari. Pagi hari sering dilakukan sekitar pukul 07.00, sedang sore hari pukul 19.00. sedangkan malam harinya tergantung keperluan orang yang melakukan sembahyang. Khusus pada bulan purnama yaitu tanggal lima belas dan habis bulan atau “tilem”, banyak yang melakukan sembahyang dipure lokasinya tidak jauh dari perkampungan penduduk, tepatnya kea rah kurang lebih 200 meter dari balai desa wonokitri. Hubungan manusia dengan Tuhan, manusia itu harus menyembah Tuhan , karena manusia dan alam semesta ini ada karena Tuhan.
 Selanjutnya menegaskan bahwa masyarakat tengger yang berada di Desa Wonokitri sangat percaya kepada Tuhan. Menurut Bapak Sugiyono, bahwa hubungan manusia dengan Hyang Widhi, harus berbakti kepadanya. Ajaran Tri sadya merupakan wujud persembahan yang tertuang dalam upacara adat(kasado dan Karo). Demikian pula pelaksanaan hari raya Galungan, hari raya karo juga merupakan bagian manusia dengan Tuhan. Dampak positif dari hubungan manusia dengan Tuhan, Masyarakat tengger menjadi sangat baik dan tidak ada pertengkaran antar warga,hubungan yang tersebut merupakan wujud ajaran Tuhan yaitu saling berbuat baik. Wujud kongrit lainnya yaitu doa dan upacara yang dilaksanakan di balai pertemuan warga. Masyarakat tengger mempunyai pandangan bahwa hokum karma menjadi acuan hidup. Percaya adanya hokum “tumimbal lahir” yaitu nyawanya orang mati tidak segera ke surge tetapi “manjing” pada makhluk lain. Orang yang sudah mati dipervayai ke surga apabila sudah bersih. Oleh karena itu suku tengger sangat percaya akan adanya hal tersebut, membuat masyarakat sekitar yakin bahwa kekuasan tertinggi dari pada manusia adalah Tuhan. Hal ini merupakan bukti nyata hubungan manusia dengan Tuhan .

2.    Hubungan Manusia Dengan Manusia

Seperti telah dikemukakan bahwa masyarakat Indonesia yang berdiri atas suku bangsa, golongan, dan lapisan Sosial, yang masing-masing memiliki cara hidup yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut disebabkan oleh tingkat perkembangan kebudayaan masyarakat, sifat kependudukan, dan keadaan lingkungan setempat. Dalam kehidupan sebagai kelompok, tidak seorangpun tang dapat menyangkal adanya kenyataan bahwa manusia adalah makhluk social yang hidup dalam masyarakat, manusia sejak kecil sampai dengan kematiannya, tidak pernah hidup sendiri, tetapi selalu beada dalam satu lingkungan social yang berbeda-beda satu sama lain. Lingkungan social adalah suatu bagian dari suatu lingkungan hidup yang terdiri stas antar hubungan individu dan kelompok, mempunyai pola-pola organisasi serta segala aspek yang ada dalam masyarakat yang lebih luas di lingkungan social tersebut. Dalam system nilai budaya orang Indonesia, nilai mengandung empat konsep. Memilihara hubungan baik, tergantung hakekat sesamanya, memilihara hubungna baik dengan sesamanya,dan bersifat konform. Konsep itu dapat di jumpai dengan kehidupan masyarakat tengger. Dalam kaitannya  dengan hubungan social, dapat berupa kerja sama, persaingan, dan pertentangan/pertikaian. Kerja sama selain merupakan proses yang utama, dapat pula digunakan untuk menggambarkan sebagian besar bentuk hubungan social. Masyarakat tengger mempunyai sifat saling membutuhkan karena dalam bentuk kerjasamanya yang tradisional  yaitu “gotong royong”. Gotong royong tolong menolong dalam suasana suka, antara lain pernikahan dan membuat rumah. Pada umumnya penduduk wonokitri masih sangat erat hubungan social maupun kekerabatannya.  Bentuk kerjasama dan kekerabatan dilihat ketika salah satu anggota masyarakat melakukan hajatan perkawinan. Relasi hubungan manusia dengan sesamanya sangat baik.
3.    Hubungan Manusia Dengan Tata Ruang

 Masyarakat mengemukakan pola berkaitan tempat ternak, bahwa letak ternak di belakang atau di tegalan. Selain untuk menjaga kesehatan lingkungan, kotoran hewan dapat secara langsung untuk pupuk tanaman di lading/tegalan. Jadi tak perlu membawanya ke ladang. kandhang  ternak di temptkan di luar tanpa ada yang mencuri. Ternak ayam yang ditempatkan disekitar rumah, karena setiap harus diberi makan dan kotorannya tidak terlalu menganggu. Berkaitan dengan tata ruang atau tempat ternak ini, penataan rumah seperti itu memang penting. Setiap hewan ternak memilki jarak dari antara rumah warga sekitar 50 meter. Ternak lain seperti sapi, kerbau, dan babi di kandhangkan  ditegalan agar tidak menggangu kesehatan. Bedanya dengan hal ternak dalam masyarakat pedesaan pada umumnya, pekarangan dapat dimanfaatkan sebagai batas pemisah antara rumah, juga mengandung nilai ekonomis keindahan. Pekarangan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan lingkungan rumah di daerah pedesaan.  Berbeda halnya denmgan desa wonokitri tidak semua memiliki pekarangan , seperti di daerah umumnya. Hal ini karena daerah merupakan daerah yang pola tata ruang dan pola pemukimannya mngikuti pola jalan desa sehingga tidak semua rumah memiliki pekarangan. Tanaman yang ada pada pekarangan masyarakat desa biasanya ditanam untuk obat-obatan (apotik hidup) seperti dlingo, bengkhe, kunhir dan kencur.  Semua tanaman baik, akantetapi karena efisien ruang, maka penduduk selalu memaksimalkan lahan disekitar rumah.  Selain itu masyarakat juga menanam tanaman lainnya seperti untuk sesaji yaitu bunga mawar, bunga sepatu, dan tanaman lainnya. Beberapa penduduk juga menanam jenis tanaman sayuran, karena sewaktu-waktu akan nyayur, hal itu akan memudahkan untuk menggambilnya tanpa pergi ke ladang. Kehidupan menyesuaikan lingkungan dan keyakinan akan nenek leluhur mereka dapat terjamin dengan terselenggaranya hubungan yang baik antara manusia yang hidup sekarang dengan nenek moyang atau leluhurnya.


 Masyarakat tengger yang saling bekerjasama juga mempunyai pola tata ruang yang beraturan dan memiliki kesatuan satu sama lain yang membuat lingkungan menjadi baik. Hal itu di lihat dari sikap dan pandangan hidup mereka. Demikianlah kearifan local masyarakat tengger.  


Daftar Pustaka :
-      Amsyari, fuad, 1986, Prinsip-prinsip masalah pencemaran lingkungan, Jakarta : ghilia Indonesia.
-      Anwar,M,Khairul, 2003, desa ngadasari: potret pemberdayaan berbasis mas dalam agama tradisional porter kearifan hidup masyarakat samin dan tengger, Yogyakarta : LKIS dan Press
-      Daljoeni, N, 1978, manusia penghuni bumi, Bandung : Alumni.
-      Koentjaraningrat. 1974, beberapa pokok antropologi social, Jakarta : PT. Dian rakyat.
-      Bintarto,R dan Surastopo Hadisumarno ,1979, metodi analisa geografi, Jakarta : LP3ES.




PENUTUP

PENUTUP

A.   Kebudayaan Menghadapi Masa Depan

Ø  Pariwisata adalah kegiatan dinamis yang melibatkan banyak manusia serta menghidupkan berbagai bidang usaha. Tujuan pengembangan pariwisata, bukan hanya sekedar peningkatan perolehan devisa bagi Negara, akan tetapi lebih jauh diharapkan pariwisata dapat berperan sebagai katalisator pembangunan. Pariwisata mempunya kaitan nyang erat pada elemen-elemen tertentu misalnya kebudayaan, lingkungan, pembangunan berkelanjutan, dampak pariwisata terhadap lingkungan maupub dampak terhadap social. Kebudayaan adalah sebuah partisipasi masyarakat tertentu dimana menjadi sebuah tradisi yang aelau di lakukan. Kebudayaan sangat mempengaruhi pariwisata di masa depan. Banyak orang beranggapan bahwa pariwisata hanya dapat dilakukan hanya berekreasi ke suatu objek tertentu. Kebudayaan bisa menjadi sebuah objek yang sangat menarik dari setiap masyarakat suku-suku bangsa. Pariwisata buday merupakan jenis pariwisata yang berdasarkan pada mosaic tempat, tradisi, kesenian, upacara-upacara, dan pengalaman memotret suatu bangsa atau suku bangsa dengan masyarakat, yang merefleksikan keanekaragaman(diversity) dan identitas (karakter) dari masyarakat atau bangsa yang bersangkutan. Pariwisata budaya memanfaatkan budaya sebagai potensi wisata dan budaya yang dapat dibedakan menjadi tiga wujud, yaitu gagasan, aktivitas dan artefak.  Dari gagasan wujud ide, gagasan, nilai, norma, peraturan yang sifatnya abstrak (tidak dapat diraba atau disentuh).

Wujud kebudayaan ini terletak pada kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat itu menyatakan gagasan dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya penulis warga masyarakat tertsebut.aktivitas berupa wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan  berpola dari manusia dalam masyarakat.wujud ini sering disebut wujud sosial. Selain itu, dari segi artefak yaitu merupakan wujud kebudayaan fisiknyang berupa hasil dari aktivitas perbuatan, dan semua karya manusia berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan di dokumentasikan. Dari berbagai macam hal yang dapat diartikan dalam kebudayaan, membuktikan bahwa pariwisata tidak hanya berpola pada rekreasi. Kebudayaan juga merupakan pariwisata yang dapat dirasakan oleh wisatawan. Kebudayaan di masa depan haruslah di kembangkan karena tidak semua wisatawan hanya ingin merasakan keindahan alam. Sebagian wisatawan asing juga memiliki rasa ingin tahu aan kebudayaan dari setiap daerah yang dikunjunginya. Banyak tempat-tempat juga benda-benda yang terdapat disetiap daerah yang dikunjungi. Berbagai macam keragaman, kreativitas juga seni dapat di dapatkan dari suatu daerah. Oleh karena itu, seharusnya pemangku kepentingan (stakeholder) membudidayakan kebudayaan setiap daerah agar tidak punah. Pelestarian untuk kebudayan di masa yang akan datang dapat dilakukan dengan cara mencintai juga memahami akan kebudayaan yang kita milki. Memperkenalkan seni  budaya indonesia juga penanggulangan akan meklaim budaya kita yang haruslah dijaga. Mempertahankan budaya yang dimiliki merupakan suatu penanggulan akan kebudayaan di masa depa agar kebudayaan tersebut terus berkembang dan tidak pudar. Selain itu,  wisatawan juga ikut berpartisipasi dalam pemelihara kebudayaan yang sudah dimiliki oleh masing-masing daerah. Menjagga dan menghormati norma agama, adat istiadat dan nilai-nilai yang hidup  dalam masyarakat setempat, juga turut serta dalam menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan yang sudah menjadi buadaya daerah tersebut.


B.    Kebudayaan Sebagai Aset pariwisata
Ø  Pariwisata merupakan gabungan dari produk dan produk jasa. Keduanya saling berhubungan, dibutuhkan dan dihasilkan oleh pariwisata. Kegiatan wisata membutuhkan interaksi antara wisatwan sebagai pengguna jasa dan tuan rumah sebagai penyedia jasa. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bias dipisahkan dari wujud kebudayaan lain. Sebagai contoh wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia dan keseluruhannya membentuk sebuah potensi wisata yang menarik. Berusaha menonjolkan sebuah daya tarik untuk memicu wisatawan akan keunikan dari wisata budaya. Mulai dari situs arkeologi, sejarah dan budaya seperti monumen, gedung bersejarah rumah Ibadah, daerah atau kota yang bersejarah. Kebudayaan juga berbentuk adat istiadat, busana, upacara keagamaan, tradisi, gaya hidup. Berbagai pola kehidupan masyarakat yang menjadi daya terik wisata juga menjadi ketertarikan wisatawan untuk mengetahui tentang kebudayaan di daerah tertentu. Dari kebudayaan wisatwan dapay mengetahui pola kehidupan masyarakat dalam yang lebih menghormati kebudayaan dan tradisi leluhur mereka. Festival budaya baik yang rutin setiap bulan atau kegiatan tahunan dalam masyarakat, seperti upacara panen padi atau festival laying-layang. Oleh sebab itu, kebudayaan menjadi aset pariwisata karena untuk menghadapi pariwisata kedepannya tidak hanya harus melalui pengembangan dan pembangunan pada setiap objek wisata. Melalui kebudayaan pariwisata dapat berkembang karena kebudayaan yang ada merupakan hal yang tidak mudah punah, seperti objek wisata buatan yang mudah punah apabila tidak adanya pembangunan yang lebih. Kebudayaan yang dapat di jaga dan dilestarikan akan menjadi aset karena tidak semua wisatawan hanya tertarik akan kelebihan dari apa yang dipunya dari suatau daerah, akan tetapi dari sebuah kehidupan masyarakat yang berbeda dan pola kehidupan yang jauh dari system teknologi akan membuat wisatawan mampu melihat kehidupan masyarakat sederhana.

 Banyak asset yang di peroleh dari kebudayaan misalnya dari pembuatan suatu benda yang mempunyai arti dan nilai seni yang tinggi dari sebuah kebudayaan. Seni dan kerajianan tangan baik berwujud atau tak berwujud, seperti tari, musik, drama, patung, dan arsitektur. Usaha daya tarik wisata minat khusus yang memanfaatkan budaya sebagaio latar belakang. Namun, kegiatan yang diciptakan harus mempunya spesifikasi. Pengusaan daya tarik dan minat khusus sebagai sasaran wisata. Kebudayaan yang menjadi asset pariwisata harus dijaga dari kontaminasi oleh kebudayaan wisatawan internasional (tourist), karena pengaruh dari luar dapat mengangikibatkan kebudayaan tersebut akan mempengaruhi kelestariannya. Pariwisata dapat mempromosikan sebuah kebudayaan kemasyarakat luas sehingga citra masyarakat semakin terkenal. Wisatawan yang datang memperkenalkan budaya masyarakat setempat kepada orang lain sehingga mereka dapat mengujungi daerah wisata tersebut. Pariwisata yang sedang tidaj berkembang dpat menghidupkan kembali malaui pertujukan seni dan ritual yang hamper punah. Maka, ketika kebudayaan disadari sebagai aset upaya konservasi dan preservesi dilakukan agar kebudayaan menjadi lestari dan dapat dinikmati dalam jangka panjang.

          Daftar pustaka :
-      Ismayanti, 2010, pengantar ilmu pariwisata, Jakarta : PT.gramedia widi asarana Indonesia
-      Drs.oka A.yoeti,MBA, 2008, Ekonomi pariwisata, Jakarta : kompas
-      Koetjaraningrat,  2002, pengantar ilmu antropologi, Jakarta : PT.Rineka cipta
-      www.blogspot.com
-      www.melancong.com