Tampilkan postingan dengan label andy nur ashari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label andy nur ashari. Tampilkan semua postingan


Andy Nur Ashari
4423116689

Tarian di desa Pentingsari

Saya akan mencoba tentang tarian tarian yang saya ketahui dan saya dapatkan datanya di desa Pentingsari dalam odtw yang berlangsung pada tanggal 29 mei – 2 juni. 
Tarian yang pertama adalah tari jathilan, di kisahkan oleh pak tio selaku pembimbing tari ini, jathilan adalah tarian yang sudah dilakukan sejak zaman perang melawan belanda. 

Tarian ini mengisahkan kesenangan atau wujud ekpresi prajurit setelah mendapatkan kemenangan dalam peperangan belanda, jadi ttari tarian jathilan ini sudah ada sejak zaman dahulu dan terus diwariskan hingga masa sekarang.
Untuk masa kini,, tarian jathilan atau kuda lumping ini sering diadakan dalam acara akikahan, serta hajatan hajatan di desa penting sari. 
Bisa juga tarian untuk menyambut tamu yang datang ke desa pentingsari. Tarian jatilan biasanya di lakukan oleh 4 hingga 10 penari. Jika ada acara tertentu, jathilan bisa tampil hingga 5 jam non stop. Dalam setiap aksinya, jathilan biasa di pimpin oleh seorang pawing yang akan mengendalikan si penari jika melakukan tran atau kesurupan untuk memainkan aksi aksi yang berbahaya.

Tari-tarian yang lainnya yang ada di desa penting sari adalah tari golek ayun-ayun, tari gambyong serta tari yang sangat terkenal yaitu tarian srikandi surodewati. Saya mewawancarai Sekar, orang yang mengajarkan tarian kepada wisatawan yang berkunjung ke desa penting sari. Dalam penjelasannya sekar hanya menjelaskan makna dari tarian golek ayun ayun serta tarian srikandi surodewati.


Tari golek ayun ayun ialah, tarian yang mengisahkan seorang gadis yang sangat senang sekali untuk berdandan. Sang gadis tersebut amat bangga akan kecantikannya sehingga setiap saat ia sangat suka sekali berhias.



Lalu tarian srikandi surodewati mengisahkan peperangan antara dewi srikandi dengan surodewati. Dewi srikandi adalah anak dari srikandi dan arjuna sedangkan surodewati merupakan adik dari prabhu dasalengkara.
Peperangan ini terjadi karena prabhu dasalengkara mengutus adiknya yaitu surodewati untuk melamar dewi siti sendari supaya menjadi istrinya.
Namun pada kenyataannya dewi siti sendari telah dijodohkan oleh raden abimanyu. Mengetahui hal tersebut surodewati tidak menerimanya hingga tetap melamar dan berniat merebut dewi siti sendari.
Srikandi yang membela raden abimanyu menerima tantangan surodewati hingga akhirnya terjadilah peperangan di antara keduanya. Peperangan itupun akhirnya dimenangkan oleh dewi srikandi.






Narasumber jathilan :
Mas tio, usia 32 tahun. Warga desa pentingsari , umbulharjo, cangkringan
Narasumber tari-tarian golek ayun, srikandi-surodewati :

Sekar, 17 tahun. Warga desa pentingsari, umbulharjo, cangkringan

Folklore Sebagian Lisan Suku Baduy Luar



v  Upacara Tradisional

1.      Upacara Perkawinan

Di dalam proses pernikahan yang dilakukan oleh masyarakat Baduy hampir serupa dengan masyarakat lainnya. Namun, pasangan yang akan menikah selalu dijodohkan dan tidak ada yang namanya pacaran. Orang tua laki-laki akan bersilaturahmi kepada orang tua perempuan dan memperkenalkan kedua anak mereka masing-masing.
Setelah mendapatkan kesepakatan, kemudian dilanjutkan dengan proses 3 kali pelamaran. Tahap Pertama, orang tua laki-laki harus melapor ke Jaro (Kepala Kampung) dengan membawa daun sirih, buah pinang dan gambir secukupnya. Tahap kedua, selain membawa sirih, pinang, dan gambir, pelamaran kali ini dilengkapi dengan cincin yang terbuat dari baja putih sebagai mas kawinnya. Tahap ketiga, mempersiapkan alat-alat kebutuhan rumah tangga, baju serta seserahan pernikahan untuk pihak perempuan.
Pelaksanaan akad nikah dan resepsi dilakukan di Balai Adat yang dipimpin langsung oleh Pu’un untuk mengesahkan pernikahan tersebut. Uniknya, dalam ketentuan adat, Orang Baduy tidak mengenal poligami dan perceraian. Mereka hanya diperbolehkan untuk menikah kembali jika salah satu dari mereka telah meninggal.
Prosesi pernikahan ini akan dilakukan selama 3hari berturut-turut sesuai dengan perekonomian mereka.

2.      Hamil

Pada saat hamil hanya ada upacara tujuh bulanan yaitu pada bulan ke tujuh, untuk memperkirakan anak yang akan lahir perempuan atau laki-laki menggunakan daun untuk anak perempuan dan nyere atau sapu untuk anak laki-laki  dan menurutnya bulan lahir ditentukan dari bambu. Karena ada mitos bahwa pada saat hamil tidak boleh berada didepan pintu katanya nanti susah untuk keluar bayinya.  Dan saat lahiran biasanya di bawa ke bidan yang ada di desa ciboleger ataupun dibawa ke parahi (dukun bayi).

3.      Melahirkan

Adapun Syukuran yang dilaksanakan pada saat hari ke-4 yaitu Cukuran, hari ke-7 yaitu Berehan dan hari ke-40 yaitu Lahihan. Syukuran biasanya memasak masakan dari  ikan mas atau ayam.

4.      Wafat/ kematian

Cara pengurusannya juga sama seperti islam dengan cara dimandikan, ada penghulu atau dingajikeun kemudian dikuburkan disebelah kali . kepalanya menghadap kea rah barat kampung/lereng, luar Paler (kidul). Adapun pengajian yaitu dilakukan pada hari 1, 3 dan 7. Makam ini di tandai dengan pohon Hanjuang. Apabila makam tersebut dihitung hingga tahunan maka tidak bisa dilihat lagi karena tertutup dengan tanah. Maka jika bertanya kepada orang baduy makam nenek moyang mereka ada disebelah mana? Mereka hanya menjawab tidak tau karena makam nya sudah menyatu dengan tanah apalagi itu sudah ribuan tahun yang lalu.
      
v  Upacara Sosial

1.      Upacara Seba

Upacara yang dilakukan setelah hasil panen mereka terkumpul adat istiadat yang diturunkan oleh nenek moyang masih terus dilestarikan. Mereka masih menjalankan upacara penyerahan hasil panen mereka kepada pemerintah setempat. Upacara ini dikenal dengan nama Upacara Seba.

v  Upacara Keagamaan

1.      Upacara Kawalu/ berpuasa

Masyarakat Baduy Dalam sedang melaksanakan puasa yang dinamakan Kawalu. Di saat Kawalu ini, orang dari luar komunitas Baduy Dalam dilarang keras memasuki wilayah mereka.Inilah salah satu ketentuan adat Baduy Dalam, mereka harus menjalani puasa yang mereka disebut “Kawalu” dan jatuh bulannya adalah di Bulan Adapt. Di saat Kawalu, ada banyak kegiatan adat dan tidak ada kegiatan lain. Semua kegiatan yang dilakukan difokuskan kepada prosesi Kawalu. Pada bulan ini mereka tidak diperbolehkan membetulkan rumah atau selamatan-selamatan melainkan mempersiapkan penyambutan datangnya hari besar bagi masyarakat Baduy yang disebut Seba, berakhirnya masa Kawalu. Satu-satunya kegiatan utama sebagai pesiapan yang mereka lakukan adalah mengumpulkan hasil panen padi dari ladang-ladang mereka dan menumbuknya menjadi beras. Dalam satu tahun masyarakat Baduy melaksanakan puasa selama 3 bulan berturut-turut sesuai dengan amanah adat-nya.

v  Flora(tanaman/tumbuhan)

Banyak tumbuhan yang tumbuh subur ditanh dataran baduy mulai dari tanaman yang dapat di manfaatka dalam kehidupan sehari-hari, bahan bangunan rumah, dan untuk kerajinan tangan. Tanaman tersebut antara lain seperti lengkuas,jerik nipis, sereh, jahe, kunyit, kopi, pohon aren, pohon palem yang daun nya dapat di manfaatkan sebagi atap rumah, terutama tanaman bambu yang tumbuh subur dan ini dimanfaatkan untuk membuat bilik rumah dan sebagai lantai dari rumah tersebut

v  Fauna(hewan)

Hewan yang dipelihara oleh masyarakat baduy ini yaitu hewan yang hanya mempunyai kaki dua saja dan tidak lebih. Mayoritas orang baduy memelihara ayam dan burung.

UAS Kearifan lokal sunda



kearifan suku sunda

EKSISTENSI peradaban sebuah bangsa, tentunya tidak terlepas dari masa lalu. Sebab masa kini terbentuk karena peradaban masa lalu yang sudah menjadi milik sejarah. Masa sekarangpun  akan membentuk peradaban masa datang. Artinya masa lalu merupkan sebuah pelajaran yang harus dipelajari,  masa sekarang harus kita jalani sebaik mungkin, dan masa depan merupakan penerapan hasil pembelajaran dari masa lalu dan masa sekarang. Tentunya masa lalu itu meninggalkan banyak kearifan lokal (local genius). Salah satunya kearifan lokal yang dimiliki suku Sunda. Kearifan lokal tersebut tersebar dalam adat istiadat, tradisi lisan, seni tradisi, naskah-naskah tua, dan bentuk-bentuk kebudayaan lain yang mencerminkan peradaban masa lalu.  Karena suku Sunda terbentuk bukan dalam waktu sebentar, tetapi terbentuk beratur-ratus tahun, sejak jaman prasejarah hingga menjadi bagian masyarakat modern. Tentunya dari perjalanan peradaban suku Sunda tersebut akan meninggalkan jejak yang berharga berupa ayat-ayat kearifan budaya untuk dipelajari, untuk ditafsir ulang nilai-nilainya.

Nilai-nilai kearifan lokal kiranya dapat dimanfaatkan sebagai sumbang nilai terhadap kehidupan masa sekarang dan masa yang akan datang. Ayat-ayat kearifan hidup menjadi nilai untuk direvitalisasi. Sebab menurut pendapat Ayatrohaendi (1986: 40) bahwa kearifan lokal (local genius) atau wujud cerlang budaya  mampu bertahan, mampu menghalau budaya luar, memiliki kemampuan mengakomodasi budaya-budaya baru yang menyerbu, mampu berintegrasi dengan kebudayaan baru atau budaya luar, mampu  mengendalikan budaya yang ada, serta menyumbangkan nilai untuk arah kebudayaan yang akan datang.
Kearifan lokal yang terdapat dalam peninggalan peradaban masa lalu seharusnya menjadi nilai revitalisasi untuk pembentukan karakter generasi berikutnya. Sebab menurut pendapat Alwasilah (2006: 18), revitalisasi dari sebuah kebudayaan dapat didefinisikan  sebagai upaya yang terencana, sinambung, dan diniati agar nilai-nilai budaya itu bukan hanya dipahami oleh pemiliknya, melainkan juga membangkitikan segala wujud kreativitas dalam kehidupan seharii-hari dan dalam menghadapi berbagai tantangan. Demi revitalisasi, maka ayat-ayat kebudayaan tersebut harus dikaji ulang atau ditafsir baru.
Revitalisasi memang perlu dilaksanakan.Transfer nilai harus dilakukan, agar ada benang merah yang tetap terjalin antara masa lalu dan masa sekarang. Terkait hal itu, saat ini pemerintah sedang merencanakan mata ajar pendidikan karakter untuk di tingkat pendidikan dasar (PAUD, TK, dan SD), pendidikan menengah (SMP dan SMA), serta pada tingkat perguruan tinggi. Alangkah baiknya kegiatan mentransfer ulang nilai dari masa lalu ke masa sekarang itu menggunakan pembelajaran pendidikan karakter. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional sudah merencanakan bahwa tahun mendatang harus hadir mata ajar pendidikan karekter di tengah-tengah kelas, dan bukan saja implisit, tetapi harus eksplisit dengan melibatkan pusat kurikulum. Pusat kurikulum harus mempersiapkan rambu-rambu pembelajaran pendidikan karakter di tingkat dasar dan menengah, sebagaimana layaknya mata pelajaran lain.  Padahal menurut pendapat Khan (2010: 120-121) pendidikan karakter bisa dipadukan ke dalam mata pelajaran; pendidikan agama, pendidikan moral pancasila, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan sejarah bangsa, pendidikan kesusastraan, pendidikan budi pekerti, dan kepada pendidikan filsafat ilmu (bagi mahasiswa). Tetapi pemerintah ingin jelas output, ingin melihat hasilnya dalam bentuk evaluasi diri, sehingga pendidikan karakter harus menjadi mata pelajaran tersediri dalam kurikulum.

Pendidikan Karakter Orang Sunda
Jauh sebelum pendidikan karakter menjadi wacana akan dimasukan ke dalam kelas, menjadi pembelajaran kurikuler di sekolah dan di kampus, orang Sunda sudah memiliki landasan hidup yang berorientasi kepada pembentukan karakter. Orang Sunda memiliki filosofi hidup silih asah, silih asih, silih asuh. filosofi ini, kalau ditafsirkan kepada teori Benjamin S. Bloom dalam bukunyaTaxonomy of Education of Objectives, Cognitive Domain  (1959), dapat disejajarkan dengan ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sebab silih asah itu orientasi nilainya kepada peningkatan kualitas berpikir, mengasah kemampuan untuk mempertajam pikiran dengan tempaan ilmu dan pengalaman. Seperti tercermin dalam ungkapan “peso mintul mun terus diasah tangtu bakal seukeut” artinya pisau tumpul kalau terus diasah akan tajam juga; atau “cikarakac ninggang batu laun-laun jadi legok” artinya air tempias menimpa batu lama-lama batunya akan berlubang. Dengan kata lain, sebodoh-bodohnya orang kalau terus ditempa, suatu saat akan ada bekasnya dari hasil pembelajaran itu.

Makna silih asih, orientasi nilainya kepada makna tingkah laku atau sikap individu yang memiliki empati, rasa belas kasihan, tenggang rasa, simpati terhadap kehidupan sekelilingnya atau memiliki rasa sosial yang tinggi. Tercermin dalam ungkapan “ka cai kudu saleuwi ka darat kudu selebak” arti utamanya adalah kebersamaan. “Ulah pagiri-giri calik, ulah pagirang-girang tampian” artinya jangan ada permusuhan di antara manusia. Sebab manusia itu harus “sareundeuk saigel, sabobot sapihanean, sabata sarimbagan artinya harus memiliki jiwa kebersamaan, gotong royong atau saling menolong.
Makna silih asuh, orientasi nilainya adalah kasih sayang dalam tindakan yang nyata, sikap pragmatik seseorang di masyarakat, eksistensi diri, menerapkan potensi diri di masyarakat. Kepada yang lebih tua harus lebih hormat, kepada sesama harus saling menjaga, kepada yang lebih muda harus mampu mengayomi dan memberi contoh yang baik. Seperti tercermin dalam ungkapan “kudu landung kandungan kedah laer aisan” artinya hidup harus mengayomi orang lain selain mengoyomi diri sendiri. “Hirup ulah manggih tungtung, paeh ulah manggih beja” artinya selamanya dikenang dalam kebaikan dan kalau meninggal tidak meninggalkan sifat buruk.
Dalam pendidikan karakter menurut pendapat Khan (2010: 14) bahwa pendidikan karakter merupakan pendidikan yang tidak saja membimbing, dan membina setiap anak didik untuk memiliki kompetensi intelektual, kompetensi keterampilan mekanik, tetapi juga harus terfokus kepada pencapaian pembangunan dan perkembangan karakter. Jadi, manusia terdidik harus memiliki kompetensi intelektual atau silih asah, harus memiliki kompetensi keterampilan mekanik atau silih asuh, dan mampu mencapai pembangunan dan perkembangan karakter atau silih asih.
Karakter Pragmatis Orang Sunda
Kalau saja nilai-nilai lama direvitalisasi ke dalam kehidupan orang Sunda, tentunya wujud cemerlang kehidupan orang Sunda tidak perlu diragukan lagi. Tapi menurut Alwasilah (2006: 18) ayat-ayat kebudayaan lama yang tercermin dari kehidupan masa lalu sering dihujat sebagai pelestari feodalisme dan kemunafikan, dan inilah yang menghambat kompetisi global yang meniscayakan demokrasi dan transparansi. Mestinya lanjut Alwasilah (2006: 19) terbentuk dalam diri orang Sunda tentang perspektif budaya, yakni sudut pandang terhadap budayanya sendiri. Inilah revitalisasi kultur dalam tataran kognitif dan afektif sebagai pencerahan hidup.
Kesadaran akan nilai-nilai lama untuk menjadi pegangan hidup yang akan datang sebenarnya bagian dari pembentukan karakter manusia. Sebab menurut pendapat Aziz (2011: 128) yang membentuk manusia menjadi paripurna atauinsan kamil adalah agama dan lingkungan hidup  yang mempengaruhi hidupnya.  Agama tentunya hubungan manusia dengan penciptanya atau hubungan vertikal. Lingkungan adalah hubungan horizontal, hubungan manusia dengan manusia atau ada interaksi sosial. Manusia Sunda tentu saja mengenal hal itu, dalam satu sisi harus memiliki keterikatan kepada Yang Di Atas, dan satu sisi harus menjadi pelaku di buana panca tengah (dunia) untuk mengemban azas tri tangtu di buana (resi, rama, dan ratu), dan hubungannya harus harmonis. Kehamonisan tersebut tercermin dari pragmatisme hidup orang Sunda, yaitu karakter religius, karakter personal, etos kerja, ketertiban hukum, kepemimpinan, dan bidang pendidikan atau pengasuhan.
a.      Sistem Religi
Manusia Sunda tercipta dari budaya ladang atau masyarakat huma dengan sistem religi bermula dari tidak mengenal Tuhan, berlanjut mengenal Tuhan dengan ditandai masuknya Hindu-Budha, dan terakhir datangnya agama Islam. Tetapi jauh sebelum Islam masuk, pada saat Sunda ada dalam dinasti Pajajaran, orang Sunda sudah memiliki agama Sunda Wiwitan, sebuah agama hasil akulturasi dari nilai-nilai masa lalu dengan agama Hindu-Budha sebagai agama baru. Orang Sunda sangat percaya akan adanya Sanghyang Taya (Tuhan yang tidak terlihat) atau  disebut juga Sanghyang Tunggal (Tuhan Maha Esa). Munculnya analogi bahwa Tuhan itu tidak terlihat, tidak ada dalam wujud kehidupan tetapi ada di atas sana dan hanya satu atau esa, mungkin pengaruh dari kepercayaan orang tua dahulu terhadap dunia kahiangan (kayangan) yang gaib. Sistem religius tersebut tercermin dari dua pantun Sunda yang fenomenal, yaitu pantun Mundinglaya Dikusumah dengan Lutung Kasarung. Kedua pantun tersebut isinya bercerita tentang dunia atas yang gaib, dunia atas sebagai penolong, dunia atas sebagai tempatnya roh-roh suci. Tapi dunia atas dalam pantun ini tidak digambarkan berupa nama-nama dewa seperti halnya dalam kepercayaan Hindu-Budha, dunia atas dalam kepercayaan Sunda sudah beradaptasi dengan kepercayaan orang Sunda terdahulu. Dunia atas dalam versi pantun ini adalah berisi tokoh gaib versi kepercayaan orang Sunda, serpetiSunan Ambu, Sanghyang Tunggal, atau Sanghyang Taya.
Cerita Mundinglaya Dikusumah menceritakan seorang tokoh Mundinglaya Dikusumah yang meminta pertolongan pada penghuni dunia atas. Mundinglaya sosok teraniaya yang mendapat hukuman dari Raja Pajajaran yang sebenarnya ayahnya sendiri. Mundinglaya dihukum karena difitnah telah berlaku tercela, yaitu dituduh menggoda istri orang. Mundinglaya Dikusumah dihukum, salah satu syarat menebus hukuman tersebut Mundinglaya Dikusumah harus mengambil pusaka Lalayang Salaka Domas di jabaninglangit atau buana nyuncung. Lalayang Salaka Domas tersebut dibutuhkan untuk menyembuhkan rakyat dan Negara Pajajaran yang terkena musibah. Artinya Mundinglaya harus terbang ke jabaninglangit (dunia atas) untuk mengambil pusaka, dan harus mengalahkan Jongrang Kalapetong dan Guriang Tujuh sebagai faktor penghalang. Tafsir ayat kearifan pantun ini, manusia buana panca tengah(bumi) memerlukan buana nyungcung  (dunia atas) sebagai sarana tempat meminta, mengadu,  atau berharap, sebab di sajabaninglangit itulah Sanghyang Tunggal berada.
Cerita Lutung Kasarung terbalik dengan cerita Mundinglaya Dikusumah. Dalam cerita Lutung Kasarung dunia atas memberi pertolongan ke dunia bawah. Dunia atas menjalankan tugas dan fungsinya untuk memberi pertolongan pada dunia bawah. Tokoh Guru Minda diutus ke bumi untuk memberi pertolongan terhadap Purba Sari yang dianiaya oleh kakaknya bernama Purba Larang. Guru Minda menjelma menjadi lutung harus memenangkan kebaikan dan mengalahkan kejahatan yang dilakukan oleh Purba Larang dan Indra Jaya kekasihnya. Purba Larang dan Indra Jaya menganiaya Purba Sari karena menyingkirkan Purba Sari agar tidak naik tahta jadi ratu di  kerajaan Pasir Batang Anu Girang. Dalam cerita ini Guru Minda sebagai simbol dunia atas harus mampu membuktikan bahwa kejahatan bisa kalah oleh kebaikan, dan kemenangan itu atas perbuatan baik. Artinya dunia atas itu penolong kepada orang yang berusaha di jalan kebaikan, dan akan selalu berpihak kepada hal-hal yang dilakukan orang dalam kebaikan.
b.      Karakter Personal
Karakter manusia Sunda yang diharapkan sebagai manusia yang memiliki kepribadian, memiliki sikap, memiliki karisma, dan memiliki jiwa kepedulian sosial, yaitu (1) kudu hade gogog hade tagog, yaitu memiliki penampilan yang meyakinkan, optimistik, dan karismatik; (2) nyaur kudu diukur, nyabda kudu diungang, yaitu harus menjaga ucapan, tindakan atau perbuatan agar tidak menyakiti orang; (3) batok bulu eusi madu, yaitu harus memiliki otak atau kecerdasan yang baik; (4) ulah bengkung bekas nyalahan, yaitu jangan salah berbuat karena hasilnya akan sia-sia atau hasilnya tidak akan baik; (5) ulah elmu ajug, yaitu jangan menasehati orang tetapi diri sendirinya butuh nasihat orang lain atau jangan mengajak orang lain berbuat baik sendirinya saja tidak baik;  (6)sacangreud pageuh sagolek pangkek,  yaitu hidup harus memiliki prinsip; (7)ulah gindi pikir belang bayah, yaitu jangan berbuat jahat, memiliki pikiran jelek pada orang, atau dengki kepada orang; (8) kudu leuleus jeujeur liat tali, yaitu hidup itu harus kuat, menanggung beban sebarat apapun jangan menyerah.
c.       Etos Kerja
Manusia Sunda pun dituntut memiliki katakter menjadi manusia pekerja, manusia mandiri, manusia yang memiliki etos kerja. Filosofis manusia Sunda sebagai manusia pekerja di antaranya: (1)  mun teu ngoprek moal nyapek, mun teu ngakal moal ngakeul, mun teu ngarah moal ngarih, yaitu kalau mau makan atau mau mempertahankan hidup maka bekerjalah; (2) tungkul ka jukut tanggah ka sadapan, yaitu kerjakan apa yang mesti dikerjakan, jangan terganggu oleh hal-hal lain yang mengganggu perkerjaan utama dan harus rendah hati jika telah mendapatkan kesuksesan;  (3) ulah kumeok memeh dipacok, yaitu jangan pernah menyerah sebelum melakukan pekerjaan, harus tetap optimis; (4) ulah kurung batokkeun, yaitu manusia harus banyak bergaul agar banyak teman dan menambah pengalaman; (5) kudu bisa ka bala ka bale, yaitu manusia itu harus berusaha untuk memiliki banyak pengetahuan dan keterampilan, mau bekerja apa saja asal halal, jangan memilih-milih pekerjaan yang akhirnya malah menganggur; (6) ulah muragkeun duwegan ti luhur, yaitu jangan mengerjakan sesuatu yang hasilnya malah gagal atau sia-sia; (7) ulah cacag nangkaeun, yaitu jangan mengerjakan sesuatu setangah-setengah sebab hasilnya tidak akan memuaskan, malah menjadi berantakan; (8) ulah puraga tanpa kateda, yaitu jangan mengerjakan sesuatu asal jadi saja, pada akhirnya bos atau orang yang mengerjakan kitu merasa kecewa akan hasil kerja kita; (9) ulah ngarawu ku siku, jangan menerima pekerjaan jangan serakah, semua tawaran diambil, sebab pada akhirnya akan sia-sia bahkan tidak akan berbuah; (10) hejo tihang, yaitu jangan pindah-pindah tempat kerja; (11) muru julang ngaleupaskeun peusing, jangan tergiur dengan iming-iming yang belum tentu menghasilkan, lebih baik tekuni yang sedang digarap tetapi hasilnya sudah menjanjikan.
d.      Ketertiban dalam  Hukum dan Keadilan
Masalah keadilan harus tertanam juga dalam manusia Sunda. Leluhur Sunda sudah memberikan filosofis tentang keadilan, tujuannya agar manusia Sunda memiliki jiwa adil dan beradab, seperti yang tercermin dalam: (1) ulah cueut ka nu hideung ulah ponteng koneng, yaitu katakan salah bila salah, katakan benar kalau memang benar, jangan berpihak kepada yang salah; (2)  kudu nyanghulu ka hukum, nunjang ka nagara, mupakat ka balarea, yaitu aturan harus bersumber kepada hukum, harus berbakti benar ke Negara, dan kebenaran itu harus menurut orang banyak (rakyat); (3) kudu puguh bule hideungna, yaitu perkara itu harus jelas aturannya bila ingin mengambil tindakan; (4) bobot pangayon timbang taraju, yaitu menimbang kesalah harus dengan aturan yang jelas seusuai dengan kesalahan yang diperbuatnya; (5) nu lain kudu dilainkeun,nu enya kudu dienyakeun, nu ulah kudu diulahkeun; yaitu harus berkata jujur jangan melarang-larang sesuatu yang tidak sesuai dengan kebenaran.
e.       Kepemimpinan
Karakter pemimpin yang diinginkan oleh leluhur Sunda adalah jujur, adil dan menjadi pengayom yang dipimpinnya. Pempinan pada masyarakat Sunda yaitu dimulai dari RT, RW, kokolot, lebe, kuwu, camat, wadana, bupati, dan seterusnya. Mereka itu dalam kepemimpinannya sudah dibekali filosofis sebagai pembentukan karakter. Konsep kepempinan menurut ayat kearifan Sunda; (1)  lain palid ku cikiih, lain datang ku cileuncang, yaitu bahwa pemimpin itu tidak sekonyong-konyong ada di tengah masyarakat, tetapi keberadaanya itu melalui proses dan atas kepercayaan rakyat; (2) landung kandungan laer aisan, yaitu pemimpin harus memiliki jiwa kasih sayang, sebab pemimpin itu harus jadi ibu sekaligus bapak bagi rakyatnya; (3) kudu handap asor; yaitu pemimpin jangan sombong, jangan semena-mena; (4) bentik curuk balas nunjuk capetang balas miwarang, yaitu jadi pemimpin jangan otoriter, jangan main perintah, sebaiknya sama-sama bekerja dengan bawahan; (5) ulah getas harupateun, yaitu jangan emosional jangan cepat mengambil tindakan; (6) kudu dibeuweung diutahkeun, yaitu sebagai pemimpin harus mempertimbangkan masalah atau “kudu asak-asak ngejo bisi tutung tambagana, kudu asak-asak nempo bisi kaduhung jagana” (harus penuh pertimbangan dalam memutuskan perkara atau mengambil keputusan); (7) ngeuyeuk dayeuh ngolah nagara, yaitu pemimpin harus mampu mengelola daerahnya dengan mempotensikan rakyat, dan mampu menjadi abdi Negara yang baik; (8) ulah lali ka purwadaksi, yaitu jadi pemimpin jangan lupa kepada asal-usul, jangan (9) unggah pileumpangan, yaitu berubah sikap jadi sombong setelah jadi priayi.

f.       Arah Pendidikan Manusia Sunda
Manusia Sunda dibesarkan hidupnya di alam pegunungan, sebab nenek moyangnya adalah manusia ladang. Berbeda dengan manusia Jawa, mereka dibesarkan di lahan pesawahan. Ciri manusia ladang mengandalkan pepohonan yang hidup di ladang sebagai alat untuk bertahan hidupnya. Tidaklah heran manusia Sunda memanfaatkan pepohonan sebagai makanannya, maka pendidikan pun mengarah kepada bagaimana memanfaatkan potensi yang ada di pegunungan. Tercermin dari pembuatan rumah, alat rumah tangga, bahkan alat berburu pun menggunakan potensi yang ada di ladang.
Karakteristik orang Sunda ibarat “ayam”, karena ayam merupakan simbol hewan manusia ladang. Berbeda dengan manusia Jawa, bebek sebagai simbol hewan peliharaannya karena orang Jawa adalah manusia sawah. Tercermin dari ungkapannya; (1) ulah ngepek jawer, maksudnya jangan menjadi manusia penakut; (2) ulah ipis burih, sama artinya yaitu jangan menjadi manusia penakut dann peragu; (3) bengkung ngariung bongkok ngaronyok, maksudnya selalu berkumpul ibarat untuk menjalin kebersamaan. Dari ungkapan babasan danparibasa di atas terdapat istilah jawer, burih, dan ngaronyok, itu adalah simbol ayam.
Dalam mendidik anak untuk tidak menjadi sombong, manusia Sunda menggunakan simbol alam sebagai perumpamaanya; (1) alak-alak cunampaka; (2) piit ngeundeuk-ngeundeuk pasir; (3) pacikrak ngawan merak; (4) cecendet mande kiara; (5) jogjog neureuy buah loa; maksud dari ungkapan di atas artinya sama, manusia jangan sombong, jangan menyepelekan hidup.
Adapun ungkapan yang menyuruh manusia Sunda untuk belajar; (1) elmu tungtut dunya siar,  maksudnya tuntutlah ilmu sambil mencari penghidupan; (2)ngundeur luang mah ka daluang jeung papada urang, artinya mencari ilmu itu dari buku (daluang) dan dari sesama manusia (guru, orang tua, atau masyarakat); (3) manuk hiber ku jangjangna jalma hirup ku akalna, pergunakan akal sebagai alat kehidupan;  (4) mending bodo alewoh, artinya lebih baik bodoh tetapi mau bertanya dari pada pintar tapi tidak mau bertanya kepada orang; (5) mending waleh manan leweh, lebih baik bertanya pada orang dari pada tidak bisa apa-apa;  (6) nete taraje nincak hambalan, belajar itu sebuah proses alami; (7) moal nukang ka burang, moal nonggong ka rombongan, nyanghareup mah ka kolot ka lalakon, artinya segala sesuatu segala sesuatu belajar dulu dari pengalaman. ***

Daftar Pustaka
Alwasilah, A. C. 2006. Pokoknya Sunda, Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Kiblat.
Azis, H.A. 2011. Pendidikan Karakter Berpusat Pada Hati, Akhlak Mulia Pondasi Membangun Karakter Bangsa. Jakarta: Al-Mawardi.
Danandjaja, J. 1998. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan lain-lain. Jakarta:Grafiti.
Dienaputra, R. D. 2006. Sejarah Lisan: Konsep dan Metode. Bandung: Balatin Pratama.
Ekadjati, E. S. 1988. Naskah Sunda. Bandung: Universitas Padjadjaran.
Endraswara, Suwardi. 2006. Metode, Teori, Teknik Penelirian Kebudayaan: Ideologi, Epistemologi, dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Widyatama.
Hidayat, R. T, dkk. 2005. Peperenian Urang Sunda. Bandung: Kiblat.
Khan, D. Y. 2010. Pendidikan Karakter Berbasis Potensi Diri:  Mendongkrak Kualitas Pendidikan. Semarang: Pelangi Publishing.
LBSS. 1995. Kamus Umum Basa Sunda. Bandung: Tarate.
Rohaedi, A. 1986. Kepribadian Budaya Bangsa: Local Genius. Jakarta: Pustaka Jaya.
Rosidi, A. 2004. Sastera dan Kebudayaan: Kedaerahan  dalam Keindonesiaan. Jakarta: Pustaka Jaya.
Sumardjo, J. 2003. Simbol-simbol Artefak Budaya Sunda: Tafsir-tafsir Pantun Sunda. Bandung: Kelir.
Sumardjo, J. 2004. Hermeneutika Sunda. Bandung: Kelir.
Warnaen, S., dkk. 1987. Pandangan Hidup Orang Sunda, Seperti Tercermin dalam Tradisi Lisan dan Sastra Sunda. Bandung: Sundanologi.

daftar pustaka

sumber yang di ambil untuk menyelesaikan tugas : http://www.anneahira.com/kepercayaan-suku-bugis.htm http://it.scribd.com/doc/35749196/Suku-Bugis http://www.rappang.com/2008/12/kepercayaan-tradisional-masyarakat.html http://watipuspitasari.blogspot.com/2011/04/kebudayaan-suku-bugis.html http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Bugis http://gedeyenuyani.blogspot.com/2012/02/siri-na-pesse-dalam-kekerabatan.html http://arulghost.wordpress.com/2009/08/04/budaya-bugis/ http://sosbud.kompasiana.com/2011/06/20/sistem-kekerabatan-dan-hubungannya-dengan-siri%E2%80%99/ http://amriawan.blogspot.com/2009/05/bahasa-bugis-dan-keunikannya.html

penutupan

Kebudayaan Menghadapi Masa Depan Di tengah era globalisasi yang tengah melanda dunia suku bugis tetap mencoba mempertahankan kebudayaan yang mereka miliki. Banyak sekali kebudayaan dan peradatan yang dimiliki oleh suku bugis. Masuknya hal-hal baru ke suku bugis tidak terlalu mempengaruhi kebudayaan yang mereka miliki. Suku bugis tetp mampu mempertahankan dan menjaga tradisi serta budaya yang telah turun menurun di wariskan oleh nenek moyangnya. Mengapa suku bugis mampu menjaga dan mempertahankan kebudayaan dan tradisi yang mereka miliki? Bagaimana cara mereka mempertahankan dan menjaga kebudayaan yang mereka miliki? Suku bugis adalah suku yang sangat menjunjung tinggi harga diri dan martabatnya. Mereka akan menghindarkan melakukan hal-hal yang di larang serta menjauhkan diri dari dari hal-hal yang dapat berakibat mempermalukan diri sendiri apalagi keluarga. Dahulu suku bugis tidak akan segan mengusir bahkan membunuh saudara atau keluarganya sendiri apabila ada yang melakukan kesalahan atau membuat malu keluarga. Namun kini hal seperti itu sudah jarang terjadi karena tidak ingin menanggung malu dan melanggar hokum adat. Suku bugis masih tetap memegang adat malu. Adat ini masih tetap di junjung tinggi oleh masyarakat bugis walaupun tiak seketat dulu. Dengan adanya adat malu inilah suku bugis tetap mampu menjaga segala tindakannya sehingga mereka akan takut untuk melakukan tindakan yang membuat malu. Suku bugis juga masih sangat menjunjung tradisi tolong menolong dan tradisi saling menghormati satu sama lain dengan kuat. Tradisi inilah yang sangat mendorong terciptanya harmonisasi dan hubungan yang baik antar sesama masyarakat.selain itu ada pula adat panen yang hingga kini masih di pertahankan. Dimana sebelum panen terjadi masyarakat suku bugis mengadakan tudang sipulung atau dapat di artikan kumpul besar atau musyawarah bersama. Tudang sipulung di lakukan untuk menentukan kapan panen akan dilakukan, sehingga masyarakat serempak akan menanam dan memanen padinya secara bersamaan. Mereka juga mengurusnya bersamaan mulai dari pembajakan sawah, penanaman, pengarian hingga panen tiba. Dari penjelasan di atas dapat kita lihat bahwa masyarakat bugis masih tetap mampu menjaga budaya nya di tengah derasnya arus globalisasi yang melanda. Namun tetap saja ada sebagian kecil dampak globalisasi yang di alami di masyarakat bugis. Salah satu contohnya adalah masuknya hape dan tv ke masyarakat bugis, kini remaja remaja di suku bugis sudah mulai meniru gaya dan cara berpakaian atau bahasa yang ada di televisi. Meskipun tidak banyak hal ini akan membawa dampak dan menyebar ke generasi generasi suku bugis berikutnya. Kebudayaan suku bugis sebagai asset pariwisata Suku bugis yang mempunyai daerah di dataran yang subur serta wilayah perairan yang sangat luas menjadikan wilayahnya sangat potensial untuk dijadikan asset pariwisata. Salah satu contohnya adalah pulaau Samalona, Pulau Samalona merupakan wilayah Kota Makassar yang luasnya sekitar 2,34 hektar. Pulau ini merupakan salah satu objek wisata bahari yang banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Kawasan pulau ini sangat bagus utuk menyelam, karena di sekelilingnya terdapat karang-karang laut yang dihuni beraneka ragam ikan tropis dan biota laut lainnya. Pulau ini berjarak sekitar 6,8 Km dari Kota Makassar yang dapat ditempuh sekitar 20 – 30 menit dengan menggunakan speed boot. Di lokasi ini juga terdapat beberapa penginapan sederhana berbentuk rumah panggung yang dapat menampung sekitar 20 orang. Selain itu, tersedia juga beberapa warung makanan yang menyediakan aneka ragam seafood segar. Nah sangat potensial bukan wilayah perairan di suku bugis yang mampu menarik minat hingga mancanegara? Selain pulau samalona di makasar juga terdapat benteng somba opu, Benteng Somba Opu dibangun pada tahun 1525 oleh Sultan Gowa ke IX. Benteng ini merupakan pusat perdagangan dan pelabuhan rempah-rempah yang ramai dikunjungi pedagang dari Asia dan Eropa. Pada tahun 1669, benteng ini dikuasai oleh VOC kemudian dihancurkan hingga terendam oleh ombak pasang. Tahun 1980-an, benteng ini ditemukan kembali oleh sejumlah ilmuawan. Dan pada tahun 1990, benteng ini direkonstruksi sehingga tampak lebih baik. Kini, Benteng Somba Opu menjadi sebuah objek wisata bersejarah di Kota Makassar yang di dalamnya terdapat beberapa bangunan rumah adat Sulawesi Selatan yang mewakili suku Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja. Selain itu, terdapat juga sebuah meriam dengan panjang 9 m dan berat 9.500 kg serta sebuah museum yang berisi benda-benda bersejarah peninggalan Kesultanan Gowa. Sekarang tinggal bagaimana suku bugis untuk tetap menjaga an memelihara semua kebudayaan dan kelebihan alam hyang mereka miliki sehingga di masa depan tetap mejadi asset yang berharga di pariwisata dan di suku bugis itu sendiri

kesenian suku bugis


KESENIAN SUKU BUGIS

KESENIAN MUSIK ASLI BUGIS
Gandrang gendang adalah kesenian music asli bugis makasar. Bunyi gendang di padukan dengan bunyi puipui atau sejenis seruling dan tarian.irama yang di hasilkan bermacam-macam, tergantung keadaan, ada irama untuk sambutan, perpisahan,pemacu semangat, pembukaan acara , dan lain-lainnya.
Gendang adalah alat musik pukul. Kalau di pukul pakai tangan disebut tumbuk, kalau di pukul pakai tongkat (ba bala) disebut tunrung. Rangkanya terbuat dari kayu campaga yang dikuatkan dengan ikatan rotan (karena sumber daya rotan sudah berkurang digantikan oleh tali plastik). Alas an pemakaian kayu campaga karena bunyi yang dihasilkan bagus selain itu kayu campaga juga tahan dari lapuk dan rayap. Bagian yang dipukul terbuat dari kulit kambing jantan alasan pemakaian kulit kambing jantan adalah karena kulit kambing jantan lebih tipis sehingga bunyi yang dihasilkan lebih nyaring.
Kini gandrang gendang masih sering di alunkan di acara acara pernikahan, ritual adat dan festifal yang sering di ikuti DG serang dan kelompoknya. Harapan DG serang dan teman-temannya semoga kesenian ini dapat terus terpelihara dan bertahan di tengah-tengah kesenian modern.

RONGGENG BUGIS
Ronggeng bugis adalah satu jenis tradisional Cirebon merupakan seni pertunjukan rakyat yang menghibur penonton dengan tarian dan ekspresi penuh dengan kejenakaan, mengundang tawa bagi yang menyaksikannya, ronggeng bugis dikenal juga dengan nama tari telik sandi. Secara harfiah nama kesenian ini terdiri dari dua kata yaitu ronggeng dan bugis.
Secara umum pengertian ronggeng adalah penari wanita atau tondak primadona sebagao teman menari, misalnya pada tari tayuh. Di Cirebon ada juga seni pertunjukan rakyat yang penarinya monyet yang disebut dengan ronggeng kethek, tarian monyet yang jenaka yang meniru gerak-geriknya manusia. Namun yang dimaksud ronggeng dalam ronggeng bugis ini adalah penari pria yang berbusana wanita, yang dimaksud dengan pakaian wanita disinipun bukanlah busana dengan tat arias yang cantik, akan tetapi lebih mendekati kepada busana seperti badut yang mengundang gelak tawa.

TEKNOLOGI SUKU BUGIS


TEKNOLOGI
Suku bugis di makasar sebagai salah satu pewaris bangsa bahari. Banyak bukti yang menunjukan suku bugis piawai menguasai lautan dengan perahu layar. Perantauan mereka sudah terkenal sejak beberapa abad lalu. Mereka tidak hanya menguasai perairan wilayah nusantara, banyak bukti yang membuktikan bahwa sejak dulu pelaut bugis makasar telah sampai disemenanjung malaka, singapura, Filipina, Australia, madagaskar ,dan lain sebagainnya. Salah satu jenis perahu yang digunakan untuk berlayar ialah perahu pinisi. Perahu jenis ini telah digunakan oleh pelaut bugis sejak ratusan tahun lalu. Diluar Sulawesi selatan, perahu pinisi lebih dikenal sebagai perahu bugis.
Menurut beberapa sumber perahu yang dipergunakan masyarakat pesisir ada beberapa jenis. Tetapi, pada umumnya perahu yang mereka gunakan adalah perahu kecil yang digunakan untuk mendukung aktivitas mereka sehari-hari. Menurut legenda, perahu besar baru mulai dipergunakan sejak zaman saweri gading seperti disebutkan dalam lontarak ilaga ligo. saweri gading adalah putra raja luwu yang pertama kali menggunakan perahu yang berukuran besar. Perahu tersebut dibuat dengan kekuatan medis oleh neneknya yang bernama la toge langi (gelar batara guru) selanjutnya mereka percaya bahwa dari rakitan itulah mereka mendapatkan ilham dasar membuat perahu yang terbuat dari lembaran-lembaran papan. Mereka percaya konstruksi perahu saweri gading telah dibakukan oleh nenek moyang mereka yang selanjutnya menjadi pola perahu yang terkenal yaitu pinisi.
Bagi orang lemo-lemo, mereka percaya bahwa keahlian membuat perahu yang mereka miliki bersumber dari penemuan saweri gading demikian pula orang bira mereka percaya bahwa keahlian berlayar yang mereka miliki sejak dahulu diwarisi dari penemuan layar dan tali temali perahu dari saweri gading.
Untuk perahu jenis lainnya, masyarakat suku bugis yang bermata pencaharian sebagai nelayan mampu merakit perahu bercadik atau perahu kecil yang bernama padewakang. Umumnya perahu ini digunakan para nelayan untuk berburu ikan. 

BAHASA SUKU BUGIS


BAHASA
Bahasa bugis adalah suatu hal yang sangat kompleks. Bahasa yang digunakan etnik bugis di Sulawesi Selatan yang tersebar diKabupaten Maros , Pangkep, Barru, Pare Pare, Pinrang, Enrekang, Majene, Luwu, Sidenrengrappang, Soppeang, Wajo, Bone, Sinjai, Bulukumba, dan Bantaeng. Masyarakat bugis memiliki penulisan tradisional yaitu sastra lontara.
Lontara adalah aksara tradisional masyarakat bugis Makassar.bentuk aksara lontara menurut budayawan prof.mattulada(alm) berasal dari “sulapa eppa wala suji”. Wala suji berasal dari kata pemisah atau pagar atau penjaga. Dan suji yang berarti putri. Wala suji adalah sejenis pagar bamboo dalam acara ritual yang berbetuk belah ketupat. Sulapa eppa atau empat sisi adalah bentuk mistis kepercayaan masyarakat buugis Makassar yang menyimbolkan susunan semesta,api air angin tanah. Huruf lontara ini pada umumnya dipakai untuk menulis tata aturan pemerintah dan kemasyarakatan , naskah ditulis pada daun lontar menggunakan lidi atau kalam yang terbuat dari ijuk kasar.
Selain bahasa bugis, masyarakat bugis juga mempunyai bahasa lainnya yaitu bahasa Tae. Bahasa tae adalah bahasa yang digunakan di tanah luwu, salah satu bahasa dari lebih sepuluh bangsa yang mendiami tanah luwu Sulawesi selatan. Bahasa tae ini oleh sebagian penduduk dari tanah luwu. Bahasa Tae ini digunakan sebagai suatu bahasa percakapan penduduk setempat, mulai dari perbatasan dengn burikao kabupaten wajo sampai dengan daerah kabupaten luwu timur malili.
Bahasa Tae adalah rumoun bahasa yang terdiri dari duabelas bahasa atai dialeg yang dugunakan masyarakat yang berada di wilayah tanah luwu. Tanah luwu adalah sebuah wilayah yang merupakan bekas wilayah kedatuan atau kerajaan luwu kuno. Wilayah kedatuan luwu kuno terbentang dari wilayah administrasi kabupaten luwu, luwu timur, luwu utara dan kota palopo. Sebenarnya bahasa Tae bukan merupakan bahasa asli bugis, bahasa ini merupakan bahasa dari rumpun toraja yang dibawa ke dataran luwu sehingga di gunakan oleh sebagian masyarakat bugis terutama masyarakat di daerah luwu.

Sistem Ekonomi Suku Bugis


Mata pencaharian suku bugis

            Karena letaknya yang berada di daerah dataran yang subur kebanyakan masyarakat bugis bermata pencaharian sebagai petani. Faktor ini sangat di dukung oleh kesuburan tanah yang sangat sehingga menjadikan wilayah suku bugis menjadi wilayah pertanian.mata pencaharian lainnya di suku bugis adalah nelayan, selain terletak di dataran yang subur suku bugis juga mempunyai wilayah di pesisir yang di anugrahi banyak sumber daya yang melimpah di lautan. Hal ini di manfaatkan masyarakat untuk mencari penghasilan di lautan. Mata pencaharian terakhir yang banyak di geluti oleh masyarakat bugis adalah pedagang karena hasil dari para petani dan nelayan akan di distribusikan ke pedagang pedagang, lalu pedagang mengumpulkan jumlah yang lebih besar dan di distribusikan kembali ke masyarakat umum suku bugis. Dari semua mata pencaharian semua inilah masyarakat suku bugis mendapatkan perekonomian untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya.


            Selain itu pada masa sekarang masyarakat suku bugis juga sudah banyak yang mengenyam dunia pendidikan dan masuk ke dunia birokrasi pemerintahan.jadi dari birokrasi yang telah dijalankan sebagian kecil masyarakat bugis mampu mendapatkan perekonomian yang baik.
Tapi mata pencaharian yang sangat umum adalah petani, hal ini dikarenakan banyak kebutuhan kebutuhan masyarakat suku bugis sehari harinya dihasilkan oleh lading pertanian misalnya seperti beras, jagung, tembakau,


            Demikian juga halnya dalam budaya masyarakat tani Bugis. Sebelum mengenal agama Islam, mereka telah memiliki kepercayaan asli (ancestor belief) dan menyebut Tuhan dengan nama Dewata SeuwaE’, yang berarti Tuhan kita yang satu. Bahasa yang digunakan untuk menyebut nama Tuhan itu menunjukkan orang Bugis memiliki kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa secara monoteistis. Istilah Dewata SeuwaE dalam aksara lontara, dibaca dengan bermacam ungkapan, misalnya Dewata, Dewangta, dan Dewatangna yang merupakan cerminan dari sifat dan esensi Tuhan dalam pandangan teologi orang Bugis. De’watangna berarti tidak berwujud, sedangkan De’wangta atau De’batang berarti yang tidak bertubuh.
Kepercayaan orang Bugis kepada Dewata SeuwaE hingga kini masih berbekas dalam bentuk tradisi dan upacara adat. Kedua kepercayaan asli tersebut mempunyai konsep tentang alam semesta yang diyakini masyarakat pendukungnya terdiri atas tiga dunia, yaitu dunia atas (boting langi), dunia tengah (lino atau ale kawa) yang dihuni manusia, tanaman dan ternak, serta dunia bawah (peretiwi). Setiap dunia mempunyai penghuninya masing – masing, satu dengan yang lain saling mempengaruhi dan pengaruh itu berakibat pula terhadap kelangsungan kehidupan manusia.




            Dalam perspektif usaha/kerja, masyarakat Bugis umumnya juga memaknai hidup ini dengan kerja keras (reso’/jamang). Bahkan dalam adat istiadat orang Bugis, makna reso’/jamang merupakan bagian dari kehormatan (siri’). Dalam pandangan orang Bugis, sangat memalukan jika seorang yang sudah cukup umur namun tidak memiliki pekerjaan, bahkan menjadi beban bagi orang lain (masiri narekko tuo mappale). Sehingga tidak mengherankan jika dalam kebudayaan petani Bugis memegang teguh prinsip reso’ temmangingngi nalletei pammase dewata (usaha yang sungguh – sungguh diiringi ridha Yang Maha Kuasa), dan inilah yang menjadikan suku Bugis terkenal sebagai salah satu suku pekerja ulet disegala bidang, termasuk dalam bidang usahatani. Terlebih lagi Sulawesi Selatan pada umumnya adalah sentra tanaman pangan, dan sawah adalah salah satu tolok ukur wibawa suku Bugis.
Budaya kerja masyarakat tani suku Bugis begitu melekat pada diri pribadi mereka, sehingga kemanapun merantau (sompe’), prinsip kerja keras menjadi bagian hidup mereka, dan ikut mewarnai hidupnya. Fakta menunjukkan, suku Bugis terkenal sebagai pelaut ulung dalam mengarungi lautan, pekerja ulet dalam bidang usahatani, dan pengusaha yang sabar dalam menjalankan usahanya.




            Salah satu corak budaya tani orang Bugis adalah mappataneng, tradisi berusahatani ala Bugis yang dilakukan suku Bugis di Kalimantan, khususnya Kabupaten Nunukan. Tradisi mappataneng di lakukan oleh masyarakat tani suku Bugis yaitu bertanam padi di sawah secara berkelompok. Sebelum acara mappattaneng dilaksanakan, tokoh adat atau orang yang dituakan/rohaniawan (panrita) akan mengundang petani setempat untuk tudang sipulung (bermusyawarah) menentukan waktu bertanam. Dalam acara ini biasanya unsur pemerintah ikut dilibatkan, yaitu PPL maupun aparat desa/kecamatan setempat.




            Setelah waktu tanam ditetapkan, maka acara mappataneng akan didahului dengan pembacaan do’a tolak bala (doa salama’) dengan maksud agar usahataninya terbebas dari segala bencana dan serangan hama – penyakit tanaman. Dalam pembacaan do’a tolak bala ini, disajikan berbagai hasil bumi dari panen tahun lalu. Do’a biasanya dibaca di rumah petani yang bersangkutan, atau biasa juga dibawa ke sawah secara kolektif. Dalam kegiatan ini, benih padi yang akan ditanam diisi daun penno penno, diturutsertakan dalam acara pembacaan do’a tersebut. Daun penno – penno adalah jenis daun yang biasa tumbuh di sekitar rumah dan disertakan dalam upara tersebut dengan harapan hasil panen akan melimpah ruah (kata penno dalam bahasa Bugis artinya penuh). Setelah upacara doa salama’ di laksanakan, benih padi lalu disebar ke pesemaian. Selanjutnya teknik budidaya usahatani pada padi sawah tetap menggunakan petunjuk PPL setempat.
Jika waktu panen telah tiba, maka dilakukan acara mappasangki. Seperti mappataneng, acara ini juga dilakukan secara bergotong – royong dengan melibatkan petani lainnya. Mereka dengan cara bergantian memanen padi di sawah. Hal yang menarik dalam kegiatan ini adalah terjadi interaksi dari dua pola budaya berbeda, dimana seringkali petani Bugis mengundang petani suku Tidung untuk ikut massangki di sawah. Petani yang ikut membantu tidak diberi upah, namun diberi bagian sedikit hasil panen agar mereka bersama – sama merasakan nikmatnya berre (beras) hasil panen ase (padi) baru.




            Jika seluruh padi telah dituai, maka mereka kembali melakukan acara syukuran (do’a salama) sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah melimpahkan rahmat dan kurunia sehingga hasil panen dapat dinikmati oleh para petani.
Seiring perjalanan waktu, dan interaksi diantara berbagai budaya di Nunukan, serta terjadinya asimilasi diantara berbagai suku yang ada, acara mappataneng dan mappassangki tidak lagi dilaku kan secara menyeluruh oleh petani Bugis di Nunukan. Namun di beberapa tempat, seperti di Sebatik, masih dilakukan oleh beberapa petani Bugis sebagai warisan leluhur mereka dari Sulawesi Selatan.