Tampilkan postingan dengan label mega aggraeni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mega aggraeni. Tampilkan semua postingan

FOLKLORE BUKAN LISAN



FOLKLORE BUKAN LISAN

Tulisan ini menginformasikan tentang folklore bukan lisan masyarakat Baduy atau yang dikenal juga sebagai Urang Kanekes. Data dari tulisan ini diambil berdasarkan penelitian baik dengan cara pengamatan, dan dengan cara bertanya kepada orang baduy itu sendiri, sehingga informasi yang di dapat merupakan informasi hasil observasi langsung di sekitar baduy luar.

Mata pencaharian utama orang baduy adalah bertani. Namun cara bertani orang baduy tidak menanam padi sawah, melainkan padi huma. Pertanian huma pada suku baduy dimulai mengikuti seruan adat, dalam hal ini adalah puun. Apabila puun mengatakan sudah waktunya yang tepat uuntuk memulai kegiatan bertani, maka seluruh masyarakat akan mulai mempersiapkan lahan bertani mereka.
Proses penanaman padi huma pada masyarakat baduy dimulai dengan sebutan Nyacar. Nyacar adalah kegiatan memotong semua tanaman dan rerumputan serta pepohonan dengan menggunakan sebilah sabit dengan maksud membabat habis semua tanaman yang kiranya dapat mengganggu tumbuhnya tanaman padi huma. Selanjutnya ada kegiatan yang disebut nutuhan . adalah kegiatan memotong dahan-dahan pepohonan yang dapat menghambat masuknya sinar matahari sebagai komponen fotosintesis dari proses penyinaran matahari bagi tanaman utama atau tanaman penyela seperti cabe, kunyit, kencur dll. Selanjutnya adalah ngaduruk . kegiatan membakar ranting dahan dan daun kemudian hasil pembakarannya dijadikan sebagai penyubur tanah atau sebagai pupuk. Selanjutnya kegiatan nyasap. Kegiatan membersihkan rerumputan yang akan mengambil humus tanah sehingga menggambil jatah mineral yang harusnya dapat membantu kesuburan tanaman huma warga. Ngaseuk adalah kegiatan melubangi tanah dengan sebatang kayu sebesar kepalan tangan sebagai tempat untuk menaruh bibit/biji padi huma. Selanjutnya ada kegiatan  ngored yakni membersihkan rerumputan setelah masa tanam 2 atau 3 minggu karena rumput akan mengganggu proses pertumbuhan padi dengan mengambil mineral yang dibutuhkan padi. Setelah tanaman berusia sekitar 7 bulan, dilakukanlah proses panen dengan mengunakan alat yang disebut etem. Setelah padi di panen, dilakukan proses ngalantai/nyalantai  dimana proses menjemur padi dengan sebatang kayu atau bamboo yang diberi atap sebagai penghalan ketika hujan. Proses ini dilakukan selama 3 minggu sebelum padi dimasukan kedalam leuit.
Leut adalah tempat penyimpanan pada atau lumbung padi masyarakat baduy. Padi yang disimpan di leuit bahkan dapat bertahan hingga 100 tahun berdasarkan informasi yang penulis dapatkan dari narasumber orang baduy dalam bernama Kang Harja, asalkan padinya itu tidak terkena basah.
Setelah masa panen, lahan bekasi tanaman padi tidak begitu saja langsung ditinggalkan, ada tanaman penyela seperti cabe, kunyit, jahe dan lain-lain sebagai penghasilan tambahan selain dari bertanam padi huma.
Tidak seperti tanaman padi sawah yang akan di bajak berulang-ulang setelah panen, pola ngahuma pasa masyarakat baduy menjadikan lahan bekas tanaman padi huma dibiarkan kembali tumbuh seperti hutan, mengembalikan sari-sari yang ada di dalam tanah, dan masyarakat baduy akan mencari lahan baru untuk kegiatan tanam selanjutnya.
Setelah masa panen dan sebelum masa tanam kembali, masyarakat baduy menyelenggarakan upacara KAWALU, yakni upacar sebagai wujud rasa syukur atas panen yang telah berhasil dan berharap agar masa tanam yang selanjutnya aka lebih baik lagi. KAWALU biasa dilakukan 3 bulan, dan pada masa saat upacara KAWALU sedang berlangsung, orang asing yang bukan orang baduy dilarang untuk masuk ke daerah baduy dalam
Apabila orang baduy ingin menggunakan hasil panennya, baik untuk kebutuhan acara bersama atau keperluann lainnya, padi yang ada akan ditumbuk dengan alat yang bernama Lesung/Lisung yang ada disetiap kampung di baduy, baik baduy luar maupun baduy dalam yang berada di dalam sebuah gazebo atau tempat sepertisaung yang berukuran besar. Uniknya, Lesung ini terbuat dari pohon yang terdapat di hutan baduy.
Selain itu, aren adalah kegiatan yang terkenal di baduy selain huma. Banyak orang baduy yang menjadi petani aren dan menjadikannya sebagai penghasilan tambahan karena gula aren yang hasilkan dapat dijual dan bisa menghasilkan uang untuk membeli lauk sederhana seperti ikan asin dan lainnya.
Di baduy tidak mengenal isyarat seperti kentongan atau alat bunyi-bunyian sebagai symbol atau pertanda ada sesuatu hal penting. Misalkan ketika ada orang baduy yang meninggal, kabar tersebut akan otomatis tersebar tanpa mesti adanya isyarat dan setiap warga baduy akan bergotong-royong untuk membantu tanpa perlu dilakukan permintaan atau perintah sebelumnya.
ARSITEKTUR RUMAH BADUY
Pada umumnya rumah Suku Baduy sama rata bentuk rumah panggung  dan bangunannya dan bersifat fleksibel, konsep rancangannya mengikuti kontur lahan, tiang penyangga masing-masing bangunan memiliki ketinggian berbeda-beda. Kebanyakan bangunan rumah tinggal suku Baduy menghadap ke utara-selatan dan saling berhadapan, untuk memperbedakan rumah penduduk biasa dengan jaro dan puun hanya terasnya. Suku Baduy  tidak pernah berusaha mengubah atau mengolah keadaan lahannya-misalna ngalelemah taneuh, disaeuran, atawa diratakeun untuk kepentingan bangunan yang akan didirikan di atasnya. Sebaliknya, mereka berusaha memanfaatkan dan menyesuaikan dengan keadaan dan kondisi lahan yang ada. Rumah tinggal suku Baduy Dalam termasuk jenis bangunan knock down dan siap pakai, yang terdiri dari beberapa rangkaian komponen. Selanjutnya, komponen-komponen tersebut dirakit atau dirangkai dengan cara diikat menggunakan tali awi temen ataupun dengan cara dipaseuk. Konstruksi utamanya yang berfungsi untuk menahan beban berat, seperti tiang-tiang, panglari, pananggeuy, danlincar, dipasang dengan cara dipaseuk karena alat paku dilarang digunakan. Justru teknik tersebut bisa memperkuat karena kedua kayu yang disambungkan lebih menyatu, terutama ketika kedua kayunya sudah mengering.


Sedangkan rumah Baduy Luar untuk menahan beban tiang-tiang sudah menggunakan paku,
Lisung (lumbung padi), bahan untuk membuat rumah yaitu pohon kalabise atap nya pohon kirai. Adapun leuit, yang gunanya untuk menaruh padi yang sudah di panen.
bagian rumah :
teras = sosoro tepas
dapur = rumah
kamar =peneng
arit = cerulit
bilik (dinding)
 rarangkit (atap) dan
palupuh (lantai).
Antara ruangan sosoro dan tepastidak terdapat pembatas. Keduanya menyatu membentuk huruf L terbalik atau siku. Rumah tinggal suku Baduy hanya memiliki satu pintu masuk, Sebagian besar pintu tidak dikunci ketika ditinggalkan penghuninya. Akan tetapi, beberapa orang membuat tulak untuk mengunci pintu dengan cara memalangkan dua kayu yang didorong atau ditarik dari samping luar bangunan. bagian inti dari rumah suku Baduy terletak pada ruangan yang disebut imah karena ruang tersebut memiliki fungsi khusus dan penting. Selain berfungsi sebagai dapur (pawon), imah juga berfungsi sebagai ruang tidur kepala keluarga beserta istrinya.

Mereka tidak memiliki tempat tidur khusus, tetapi hanya menggunakan tikar,  Di sekeliling ruangan imah terdapat rak-rak untuk menyimpan peralatan dapur dan tikar untuk tidur.
Obat-obat Tradisional Suku Baduy.

1. Aceh (rambutan)
Khasiat: obat penurun panas
Cara pembuatan: Tumbuk kemudian rendam didalam air dan minum

2. Angsana
Khasiat: Obat sakit gigi
Cara Pembuatan: Getah di oleskan

3. Antawalu (brotawali)
Khasiat: Mengobati cacingan
Cara Pembuatan: Batang dicuci, ditumbuk, tambahkan air dan diminum

4. Anting-anting
Khasiat: mengobati asam urat
Cara Pembuatan: batang dicuci direbus lalu diminum airnya.

5. Antanan (pegagan)
Khasiat: mengobati asam urat
Cara Pembuatan: batang dicuci direbus lalu diminum airnya.

6. Awi Bitung
Khasiat: obat batuk dan tonik rambut

7. Belimbing
Khasiat: mengobati darah tinggi
Cara Pembuatan: di makan seperti biasa

8. Bangban
Khasiat: Obat batuk
Cara Pembuatan: dipotong pohon bangban lalu diminum airnya

9. Berenuk
Khasiat: obat penurun panas
Cara Pembuatan: campur daun berenuk dengan rambutan aceh, daun nangka walanda direbus dan diminum airnya.

10. Beunying
Khasiat: Menyembuhkan luka bacok
Cara Pembuatan: daun diremas remas kemudian ditempelkan ke daerah luka

11. Cangkudu (mengkudu)
Khasiat: Menyembuhkan diare

12. Calincing (belimbing wuluh)
Khasiat: Obat Batuk
Cara Pembuatan: Rebus bunga calincing lalu diminum saat pagi hari

13. Capeu (sembung)
Khasiat: penambah tenaga
Cara Pembuatan: rebus daun capeu lalu di minum

14. Carulang (rumput belulang)
Khasiat: menumbuhkan rambut

15. Dadap (dadap serap)
Khasiat: campak
Cara Pembuatan: cuci bersih daun dadap lalu diremas remas dan tempelkan pada dahi
Khasiat: Panas dalam
Cara Pembuatan: remas daun dadap lalu diseduh dengan air panas dan diminum

16. Gandarusa
Campuran obat kuat bersama langleur gunung

17. Godang (pepaya)
Khasiat: Kencing manis
Cara Pembuatan: buah pepaya ditumbuk lalu direbus dan diminum seperti jamu
Khasiat: Gangguan pendengaran
Cara Pembuatan: tangkai daun pepaya dicuci bersih lalu ujungnya dibakar dan ditempelkan dekat telinga

18. Honje (kecombrang)
Khasiat: cacar
Cara Pembuatan: cuci bersih daun honje lalu direbus dan ambil air rebusan dan gunakan u/ mandi

19. Jambe Pinang
Khasiat: agar rambut kuat & bersih
Cara Pembuatan: batang jambe yang masih muda di kerok lalu dijadikan shampo
Khasiat: obat luka
Cara Pembuatan: pelepah jambe ditambah minyak kelapa lalu ditempelkan pada luka

20. Jambu klutuk (jambu biji)
Khasiat: mencret
Cara Pembuatan: dicucu dan dimakan daunnya.

21. Kareuk
Khasiat: batuk&pilek
Cara Pembuatan: daun dicuci bersih lalu ditumbuk dan letakkan pada kening

22. Kelapa
Khasiat: obat diare
Cara Pembuatan: tumbuk kulit kelapa kasih air dan minum

23. Kembang Teleng
Khasiat: sakit kepala
Cara Pembuatan: bunga kembang teleng diremas lalu teteskan pada mata

24. Keras tulang
Khasiat: menguatkan tulang
Cara Pembuatan: petik daun lalu cuci bersih seduh dengan air panas dan minum seperti teh

25. Kunyit
Campuran u/ org melahirkan

26. Kumis kucing
Campuran untuk orang sehabis melahirkan

27. Kundur (bligo)
Khasiat: menurunkan gula darah
Cara Pembuatan: biji bunga kundur di sanghai lalu ditumbuk halus seperti bubuk kopi dan diseduh diminum 2x sehari

28. Lajagoah (lengkuas)
Khasiat: sakit perut dan kepala
Cara Pembuatan: cuci bersih lengkuas lalu ditumbuk seduh dengan air panas dan minum.

29. Mahoni
Khasiat: obat pegal linu
Cara Pembuatan: biji buah disangrai diseduh dan diminum

30. Nangsi
Khasiat: menyegarkan badan
Cara Pembuatan: daun pohon nangsi direbus lalu minum

31. Penisilin tangkal (pohon zigzag)
Khasiat: borok
Cara Pembuatan: getahnya dioleskan kebagian yang sakit

32. Sariawan peurjit
Khasiat: sariawan usus
Cara Pembuatan: daun dicuci bersih lalu dikunyah atau direbus dan diminum

33. Siwurungan
Khasiat: flu dan sakit kuning
Cara Pembuatan: pucuk dicuci bersih lalu direbus dan diminum atau bisa juga dimakan langsung

34. Pecah beling
Khasiat: panas dalam
Cara Pembuatan: cuci daun lalu rebus dan minum airnya

35. Panglay(bangle)
Untuk mengobati berbagai penyakit dan kesurupan dengan cawa langsung di makan

36. Paku Kapal
Khasiat: luka luka dan patah tulang
Cara Pembuatan: daun paku kapal ditambah daun jahe dan daun cikur lalu dicuci bersih dan ditumbuk dan tempelkan pada luka atau tulang yang patah.

37.Jeruk nipis
Khasiat: nyeri pinggang
Cara Pembuatan: lalapan

38. Jahe
Khasiat: obat batuk dan pemulih tenaga
Cara Pembuatan: jahe ditumbuk lalu campurkan dengan air dan minum

39. Kacapi
Khasiat: pemulih tenaga
Cara Pembuatan: daun & akar kecapi dicampur dengan kulit leme pisitan dan akar kunci lalu digodok dengan air dan diminum.

40. Jakut Wisa
Khasiat: digigt binatang berbisa
Cara Pembuatan: remas daun nya lalu ambil air dan tempel

41. Cikur (kencur)
Khasiat: obat keseleo
Cara Pembuatan: tumbuk sampai keluar air lalu oleskan dan pijat

42. Putri mau
Khasiat: menyembuhkan sariawan
Cara Pembuatan: daun nya diperas lalu ambil airnya dan minum

43. Sirih
Khasiat: mata kotor
Cara Pembuatan: cuci daun lalu rebus dan teteskan pada mata.

Satu hal yang menjadi perbedaan dan terlihat cukup jelas antara baduy luar dan baduy dalam yaitu dari pakain yang digunakan. Orang baduy dalam menggunakan ciri khas kain putih yang diikatkan dikepala sebagai pembeda dengan baduy luar yang menggunakan kain berwarna  hitam biru gelap.
Demikian tuisan ini dibuat, semoga dapat memberikan informasi bagi siapapun yang membaca.

UAS


Relasi Agama dan Kebudayaan pada Masyarakat Kampung Naga




Latar Belakang kampung Naga

Kampung naga merupakan salah satu perkampungan tradisonal, luas kampung naga ± 4 hektar. Kampung Naga memiliki 441 anak tangga, masyarakat kampung naga sangat kuat dalam adat istiadat peninggalan leluhurnya. Bahasa yang di gunakan bahasa sunda. Kampung naga terletak di desa Negrasari, kecamatan Salawu, kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat, di sebelah barat Kampung Naga di batasi dengan hutan kramat karena di dalam hutan tersebut terdapat makan makam leluhur kampung naga. Disebelah selatan di batasi dengan sawah-sawah penduduk, sedangkan disebelah utara dan timur kali ciwulan airnya berasal dari gunung Cikurai di daerah Garut. Singaparana oleh masyarakat Kampung Naga disebut Sembah Dalem Singaparana. Jumlah penduduk Kampung Naga mencapai 311 jiwa dari 104 Kepala Keluarga. Bangunan yang berdiri berjumlah sekitar 111 bangunan, pekerjaan pokok Kampung Naga adalah bertani dan pendidikan masyarakat Kampung Naga mayoritas SD (sekolah Dasar). Kampung Naga memiliki 2 lembaga kepemininan, yang pertama adalah lembaga informasi, yaitu Kuncen, Punduh, dan Lebe, kemudian yang kedua yaitu lembaga formal yang berupa RT, RW, dan Kepala Desa. 

Religi 

  Masyarakat Kampung Naga semua beragama islam, tetapi sebagian besar masyarakat masih memegang adat istiadat dari nenemoyang mereka. Artinya,Walaupun mereka memeluk agama islam tetapi syariat islam yang di jalan kan berbeda dengan agama islam lain. Masyarakat kampung naga dalam menjalankan agama sangat patuh pada warisan nenek moyang mereka.Dengan menjalankan adat-istiadat nenek moyang berarti masyarakat menghormati para leluhur, jika ada sesuatu yang bukan datangnya dari ajaran leluhur kampung naga dan tidak menjalankan sesuatu yang tabu apabila di lakukan oleh masyarakat kampung naga berarti melanggar adat, tidak menghormati leluhur, akan terjadi mala petaka. Kepercayaan adanya mahkluk halus di masyarkat Kampung Naga masih dipegang kuat. Percaya adanya jurig cai, yaitu makhluk halus yang menempati air atau sungai terutama bagian sungai yang dalam (leuwi), kemudian ririwa, yaitu makhluk halus yang suka mengganggu atau menakut-nakuti manusia pada malam hari. Ada pula Kunti anak, yaitu makhluk halus yang berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia, sedangkan tempat-tempat yang dijadikan tempat tinggal makhluk halus oleh masyarakat Kampung Naga disebut tempat yang angker atau sanget. Terdapat juga tempat-tempat seperti makam Sembah Eang singaparna, Bumi Ageung (rumah besar), dan Masjid merupakan tempat yang dipandang suci oleh masyarakat Kampung Naga.

 Tidak boleh berkata sembarangan, mematahkan ranting pohon atau mengganggu hewan-hewan yang ada disekitar kampung Naga. Terdapat hutang larang disebrang sungai, yaitu hutan yang dilarang untuk siapapun tidak boleh mengambil ranting pohon apalagi menebang pohon, jika ada yang melanggar larangan itu akan di kenai sangsi adat. Logikanya adalah jika pohon-pohon tersebut ditebang tentunya sangat berbahaya, kemungkinan longsor dan banjir karena tekstur tanah yang miring, juga bisa terjadi putusnya rantai kehidupan di wilayah.


Tabu, pantangan atau pamali bagi masyarakat Kampung Naga masih dilaksanakan dengan patuh khususnya dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang berkenaan dengan aktivitas kehidupannya.pantangan atau pamali merupakan ketentuan hukum yang tidak tertulis yang mereka junjung tinggi dan dipatuhi oleh setiap orang. Misalnya tata cara membangun dan bentuk rumah, letak, arah rumah,pakaian upacara, kesenian, dan sebagainya.

 Daya tarik obyek wisata kampung naga teletak pada gaya hidup masyarakat kampung naga dengan kehidupan yang unik. Bentuk bangunan di Kampung Naga sama seperti rumah masjid patemon  (balai pertemuan) atau lumbung padi. Dinding rumah terbuat dari anyaman bambu (bilik), sedangkan pintu bangunan terbuat dari serat rotan dan semua bangunan menghadap Utara atau Selatan, didalam rumah tidak boleh dilengkapi dengan perabotan misalnya, kursi, meja, dan tempat tidur. Rumah tidak boleh mempunyai daun pintu dua arah berlawanan, karena menurut anggapan masyarakat Kampung Naga, rizky yang mausuk kedalam rumah melalui pintu depan akan keluar melalui pintu belakang. Untuk itu masyarakat Kampung Naga didalam tidak memasang daun pintu, mereka selalu menghindari memasang daun pintu yang sejajar dalam satu garis. Selain itu tumpukan batu yang tersusun rapi dengan tata letak dan bahan alami merupakan ciri khas gara arsitektur dan ornamen Perkampungan Naga. tidak adanya listrik, masyarakat Kampung Naga untuk penerangan menggunakan lampu templok/ lampu tempel.


Kesenian
Dalam kesenian masyarakat Kampung Naga mempunyai pantangan atau tabu jika mengadakan pertunjukan jenis kesenian dari luar Kampung Naga, seperti wayang golek, dangdut, pencak silat, dan kesenian yang lain yang mempergunakan waditra goong. Kesenian angklung beluk dan rengkong adalah kesenian warisan dari leluhur masyarakat Kampung Naga. Tetapi kesenain tersebut sudah jarang dilakukan dan kesenian rengkok sudah tidak dikenal oleh kalangan generasi muda.


Larangan

Adapun ketentuan-ketentuan hari yang menjadi pantangan atau larangan masyarakat Kampung Naga, yaitu pada hari Selasa, Rabu dan Sabtu masyrakat Kampung Naga dilarang membicarakan maslah adat istiadat dan asal-usul Kampung Naga. Masyarakat Kampung naga sangat menghormati Eyang Sembah Singaparna yang merupakan cikal bakal masyarakat Kampung Naga. Sementara itu, di Tasikmalaya terdapat sebuah tempat yang bernama Singaparna, masyarakat Kampung Naga menyebutnya “Galunggung”, karena kata Singaparna berdekatan dnegan “Singaparna nama leluhur masyarakat Kampung Naga.

Kepercayaan masyarakat  Kampung Naga terhadap ruang terwujud dari kepercayaan bahwa ruang atau tempat-tempat yang memiliki batas-batas tertentu dikuasai oleh kekuatan-kekuatan tertertentu. Tempat atau daerah yang mempunyai batas dengan kategoriyang berbeda, seperti sungai, batas antara pekarangan rumah bagian depan dengan jalan, tempat antara pesawahan dengan selokan (kali), tempat air mulai masuk atau disebut dengan Huluwotan, dilereng bukit tempat antara perkampungan dengan hutan,dan sebagainya merupakan tempat-tempat yang didiami oleh kekuatan-kekuatan tertentu. Daerah yang memiliki batas-batas tertentu di huni makhluk-makhluk halus dan dianggap anger bagi masyarakat Kmpung Naga. Sebab itulah masyarakat Kampung Naga sering menyimpan “sasajen” ( sesaji) di tempat tersebut.

Nama Upacara
Salah satu upacar adat yang rutin dilaksankan oleh masyarakat Kampung Naga adalah Hajat Sasih. Hajat yang artinya syukuran, sedangkan Sasih yang berarti bulan, jadi secara harfiah Hajat Sasih adalah upacar adat sebagai rasa syukur masyarakat Kampung Naga menyambut hari-hari besar agama islam.


Tujuan untuk melakukan upacar Hajat Sasih, yaitu :
  •     Syukuran
  •      Mengharap keberkahan dan keselamatan.
  •      Mendoakan para sesepuh yang sudah meninggal.
  •           Sebagai tolak bala.

doc. upacara Hajat Asih

Menyepi
Upacara ini dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga pada hari-hari tertentu saja, yaitu pada hari selasa, rabu dan hari sabtu. Menurut pandangan masyarakat Kampung Naga upacar ini sangat penting dan wajib dilaksanakan, tanpa terkecuali baik laki-laki maupun perempuan. Oleh karena itu, jika pelaksanaan upacara di undur atau dipercepat waktu pelaksanaannya upacara nyepi diserahkan pada masing-masing orangnya, karena pada dasarnya merupakan usaha menghindari pembcaraan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan adat istiadat.

Perkawinan

Upacara perkawinan bagi masyarakat Kampung Naga adalah upacara yang dilakukan setelah selesainya akad nikah. tahap-tahap upacara tersebut adalah sebagai berikut:
  1. upacara sawer, nincak endog (menginjak telur),
  2. buka pintu, 
  3. ngariung (berkumpul), 
  4. ngamparmunjungan (berhamparan)  


Upacara sawer dilakukan selesai akad nikah, pasangan pengantin dibawa ketempat panyaweran, tepat di muka pintu. pengantin dipayungi dan tukang sawer berdiri di hadapan kedua pengantin. panyawer mengucapkan ijab kabul, dilanjutkan dengan melantunkan syair sawer. ketika melantunkan syair sawer, penyawer menyelinginya dengan menaburkan beras, irisan kunir, dan uang logam ke arah pengantin. Anak-anak yang bergerombol di belakang pengantin saling berebut memungut uang sawer. isi syair sawer berupa nasihat kepada pasangan pengantin baru.
Selesai upacara sawer dilanjutkan dengan upacara nincak endog. endog (telur) disimpan di atas golodog dan mempelai laki-laki menginjaknya. Kemudian mempelai perempuan mencuci kaki mempelai laki-laki dengan air kendi.

Setelah itu mempelai perempuan masuk ke dalam rumah, sedangkan mempelai laki-laki berdiri di muka pintu untuk melaksanakan upacara buka pintu. Dalam upacara buka pintu terjadi tanya jawab antara kedua mempelai yang diwakili oleh masing-masing pendampingnya dengan cara dilagukan. Sebagai pembuka mempelai laki-laki mengucapkan salam 'Assalammu'alaikum Wr. Wb.' yang kemudian dijawab oleh mempelai perempuan 'Wassalamu'alaikum Wr. Wb.' setelah tanya jawab selesai pintu pun dibuka dan selesailah upacara buka pintu.

Selesai  upacara buka pintu dilaksanakan, dilanjutkan dengan upacara ngampar, dan munjungan. Ketiga upacara terakhir ini hanya ada di masyarakat Kampung Naga. Upacara riungan adalah upacara yang hanya dihadiri oleh orang tua kedua mempelai, kerabat dekat, sesepuh, dan kuncen. Adapun kedua mempelai duduk berhadapan, setelah semua peserta hadir, kasur yang akan dipakai pengantin diletakan di depan kuncen. Kuncen mengucapakan kata-kata pembukaan dilanjutkan dengan pembacaan doa sambil membakar kemenyan. Kasur kemudian di angkat oleh beberapa orang tepat diatas asap kemenyan.

Usai acara tersebut dilanjutkan dengan acara munjungan. Kedua mempelai bersujud sungkem kepada kedua orang tua mereka, sesepuh, kerabat dekat, dan kuncen.

Akhirnya selesailah rangkaian upacara perkawinan. Sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada para undangan, tuan rumah membagikan makanan kepada mereka. Masing-masing mendapatkan boboko (bakul) yang berisi nasi dengan lauk pauknya dan rigen yang berisi opak, wajit, ranginang, dan pisang.

Beberapa hari setelah perkawinan, kedua mempelai wajib berkunjung kepada saudara-saudaranya, baik dari pihak laki-laki maupun dari pihak perempuan. Maksudnya untuk menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan mereka selama acara perkawinan yang telah lalu. Biasanya sambil berkunjung kedua mempelai membawa nasi dengan lauk pauknya. Usai beramah tamah, ketika kedua mempelai berpamitan akan pulang, maka pihak keluarga yang dikunjungi memberikan hadiah seperti peralatan untuk keperluan rumah tangga mereka.




Kepercayaan masyarakat Kampung Naga terhadap waktu terwujud pada kepercayaan mereka yang disebut palintangan. Adapun saat-saat tertentu ada bulan atau waktu yang dianggap buruk, pantangan atau tabu untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang sangat penting, seperti membangun rumah, perkawinan, hitanan, dan upacara adat. Waktu yang dianggap tabu disebut larangan bulan. Larangan bulan jatuhnya pada bulan sapar dan bulan Rhamadhan. Pada bulan-bulan tersebut dilarang atau tabu mengadakan upacara, karena hal itu bertepatan dengan upacara menyepi. Selain itu perhitungan menentukan hari baik didasarkan kepada hari-hari naas yang ada dalam setiap bulannya, seperti :
1.    Muharam (Muharram) hari Sabtu-Minggu tanggal 11,14
2.   Sapar (Safar) hari Sabtu-Minggu tanggal 1,20
3.    Maulud hari (Rabiul Tsani)Sabtu-Minggu tanggal 1,15
4.   Silih Mulud (Rabi'ul Tsani) hari Senin-Selasa tanggal 10,14
5.    Jumalid Awal (Jumadil Awwal)hari Senin-Selasa tanggal 10,20
6.   Jumalid Akhir (Jumadil Tsani)hari Senin-Selasa tanggal 10,14
7.    Rajab hari (Rajab) Rabu-Kamis tanggal 12,13
8.   Rewah hari (Sya'ban) Rabu-Kamis tanggal 19,20
9.   Puasa/Ramadhan (Ramadhan)hari Rabu-Kamis tanggal 9,11
10.Syawal (Syawal) hari Jumat tanggal 10,11
11. Hapit (Dzulqaidah) hari Jumat tanggal 2,12
12.Rayagung (Dzulhijjah) hari Jumat tanggal 6,20
Pada hari-hari dan tanggal-tanggal tersebut tabu menyelenggarakan pesta atau upacara-upacara perkawinan, atau khitanan. Upacara perkawinan boleh dilaksanakan bertepatan dengan hari-hari dilaksanakannya upacara menyepi. Selain perhitungan untuk menentukan hari baik untuk memulai suatu pekerjaan seperti upacara perkawinan, khitanan, mendirikan rumah, dan lain-lain, didasarkan kepada hari-hari naas yang terdapat pada setiap bulannya.


Mega anggraeni
Fakultas Ilmu Sosial, Pariwisata 2011
Universitas Negeri Jakarta


Penutup


Sebagai Aset Pariwiwsata  
suku terasing Baduy yang
tinggal di kaki Pegunungan Kendeng, sekitar 40 kilometer arah selatan
Kota Rangkasbitung, Kabupaten Lebak.

Masyarakat Baduy yang hingga kini masih kukuh mempertahankan tradisi
warisan leluhurnya merupakan aset wisata yang sangat besar. Karena
itu, Dinas Pariwisata Provinsi Banten menetapkan kawasan seluas
5.101,85 hektare ini sebagi objek wisata unggulan.

Kawasan permukiman Baduy dengan potensi budaya yang besar itu
terletak di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar. Kawasan ini berudara
sejuk dengan suhu antara 20 - 30 derajat Celsius. Ketinggian dari
permukaan laut antara 400 - 500 meter. Kondisi geografis kawasan ini
berbukit-bukit dengan hamparan tanah menyerupai lembah yang ditumbuhi
beraneka jenis pohon yang usianya sudah ratusan tahun.

Kawasan ini sesungguhnya dibagi dalam dua wilayah penting, yakni
tangtu (Tangtu Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik) serta panamping.
Masyarakat di tiga tangtu inilah dikenal dengan sebutan Baduy Dalam
(Kajeroan) dan penamping disebut dengan Baduy Luar.

Karena memiliki berbagai keunikan, nama suku Baduy kesohor sampai ke
mancanegara. "Setiap bulan selalu ada saja wisatwan yang berkunjung
ke kawasan itu," kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten Soleman
Efendi. Jangan ditanya lagi wisatawan dari dalam negeri, baik yang
datang untuk melakukan penelitian maupun yang secara sengaja
menyaksikan kehidupan masyarakat suku terasing tersebut.

Pemerintah Daerah Lebak sejak 1990 menetapkan kawasan ini sebagai
cagar budaya. Dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 13/1990 ditegaskan
kekukuhan masyarakat Baduy mempertahankan warisan leluhurnya
merupakan aset nasional yang harus dijaga.

Pola hidup masyarakat Baduy yang memegang teguh adat-istiadat
merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Seperti, mereka tabu
membangun rumah dengan bahan-bahan bangunan industri. Atap rumahnya
terbuat dari ijuk dan dinding-dindingnya terbuat dari anyaman bambu.
Seluruh tiang penyangga menggunakan balok kayu. Bahan-bahan lokal
tersebut berusaha dipenuhi sendiri tanpa harus merusak hutan. Rumah-
rumah mereka tidak mengenal listrik dan mereka memasak dengan
menggunakan kayu bakar.

Tidak hanya itu, orang Baduy pun tabu memakai aksesoris seperti
kemeja, sepatu, kacamata, atau jam tangan, kecuali perhiasan yang
terbuat dari kulit kayu teureup, gelang dari akar-akaran, serta
golok. Orang Baduy juga tabu membunuh, meminum minuman yang dapat
memabukkan, kawin dua kali, menyenangkan hati dengan tarian,
tetabuhan, nyanyian, memakai emas atau perak yang dapat membuat orang
lain iri hati.

Pengadilan adat

Bagi siapa yang melanggar larangan diseret ke pengadilan adat. Dan,
jika pelanggaran dilakukan berulang kali, si pelanggar diusir dari
komunitas Baduy Dalam dan menjadi warga Baduy Luar. Meski begitu,
mereka masih tetap merasa satu komunitas, dan diwajibkan menjunjung
tinggi pedoman utama sebagai dasar hidup, kecuali telah meninggalkan
agama warisan leluhurnya, Sunda Wiwitan.

Kedatangan wisatawan ke kawasan itu mengakibatkan sebagian dari
mereka tergoda untuk melakukan pelanggaran. Akibat melakukan
pelanggaran, tidak sedikit warga Baduy terusir dari kampung
halamannya dan menjadi warga Baduy Luar.

Larangan tidak hanya berlaku untuk orang Baduy, tetapi juga orang
dari luar yang mengunjungi kawasan permukiman mereka. Walanda
(sebutan untuk orang luar) tak diperkenankan masuk ke kawasan Baduy
Dalam pada bulan Kasa, Karo, Katiga (sistem kalender Baduy, Red) atau
Januari - Maret dalam sistem kalender Masehi. Selama tiga bulan itu,
siapa pun yang datang dengan alasan apa pun, tidak diperkenankan
masuk ke kawasan Baduy Dalam, karena saat itu mereka sedang
menjalankan ibadah puasa yang disebut dengan kawalu.

Kepercayaan Sunda Wiwitan merupakan pedoman hidup sehari-hari
masyarakat Baduy. Kepercayaan ini merupakan perpaduan antara
pengakuan terhadap keesaan Tuhan dan roh-roh leluhur. Sebutan Batara
Tunggal merupakan perwujudan dari pengakuan mereka tentang kekuasaan
Tuhan, yang menciptakan dan memelihara alam semesta. Sedangkan roh-
roh leluhur yang disebut Guriang diyakini menjaga mereka selama
berada di dunia fana.

Pandangan hidup masyarakat Baduy terhadap lingkungan sekitarnya
tercermin dalam kehati-hatian mereka dalam mengolah ladang (huma).
Sistem ladang berpindah tidak dipraktikkan secara membabi buta. Tidak
semua kawasan boleh dijadikan ladang, terutama hutan larangan yang
mereka sebut leuweung kolot, leuweung ngora, leuweung reuma (hutan
belukar bekas huma dan jami).

Yang membedakan kawasan hutan di daerah itu dengan daerah lainnya di
luar masyarakat Baduy adalah keadaan tumbuhan hutan larangan tetap
terjaga utuh. Kawasan ini tampak hijau dengan berbagai jenis tumbuhan
yang sengaja dibiarkan tumbuh secara alami. Kawasan ini ditumbuhi
tanaman keras yang sudah ratusan tahun umurnya.

Kawasan hutan ini dikeramatkan, karena mereka percaya di sanalah
tempat tinggal roh-roh leluhur, sehingga tidak boleh sembarang
dikunjungi, kecuali melakukan upacara ritual keagamaan. Apalagi,
menebang pohon atau memetik daun di atas kawasan itu. Teu wasa atau
(tabu, Red) kata orang Baduy memberi alasan.

Ketentuan tidak tertulis itu merupakan dogma yang harus dipatuhi
tanpa dijelaskan lagi alasan-alasannya, apalagi sampai diperdebatkan.
Sesuatu yang dikatakan tabu merupakan ketentuan dari leluhurnya yang
harus dipatuhi.

Setiap warga Baduy dituntut untuk melestarikan lingkungannya karena,
menurut pandangan mereka, alam semesta dan isinya adalah milik Batara
Tunggal. Mereka hanya diberi hak dan kewenangan untuk mengawasi.
Seperti tersirat dalam salah satu dari sepuluh pikukuh (pedoman
hidup, Red) yakni mewajibkan setiap orang Baduy untuk memelihara
sasaka pusaka bumi (alam semesta). Sikap masyarakat Baduy yang kukuh
melestarikan lingkungannya berpijak pada pedoman hidup. Mereka
percaya, hutan di kawasan itu merupakan anugerah Batara Tunggal yang
harus dilestarikan untuk kepentingan masa depan anak-cucu mereka.

Dalam kehidupan sosial, masyarakat Baduy yang menurut hasil sensus
penduduk Juni 2000, 717 jiwa dipimpin oleh tiga orang pemangku adat
yang disebut puun masing-masing Puun Cibeo, Puun Cikertawana, dan
Puun Cikeusik. Jabatan puun diwariskan secara turun-temurun. Puun
bertugas mengatur roda pemerintahan maupun memberikan hukuman kepada
warga Baduy yang melanggar adat.

Dalam menjalankan tugasnya puun dibantu oleh beberapa tokoh adat,
yakni girang seurat (bidang kesejahteraan, sosial budaya, dan
penyelenggaraan upacara adat), tangkesan atau dukun putih (penasihat
adat dan spiritual), baresan salapan (dewan penasihat untuk
memutuskan perkara), jaro tanggungan duawelas (bidang keagamaan,
mengawasi lingkungan hidup), jaro tangtu (perantara warga dalam
menyampaikan aspirasi dan memberi pertimbangan hukum dalam perkara
adat).

Selain itu terdapat beberapa tokoh adat seperti jaro tujuh yang
membantu tugas girang seurat, jaro dangka yang bertugas mengurus
bidang spiritual serta mengawasi masuknya budaya luar serta jaro
pamerintah (Kepala Desa Kanekes). Pengangkatan jaro pamerintah
berdasarkan persetujuan para puun dan Pemerintah Kabupaten Lebak.
Untuk menjalankan tugas sehari-hari jaro pamerintah dibantu
sekretaris desa yang disebut carik.

referensi : 
www.wikipedia.com
http://groups.yahoo.com

Kesenian Masyarakat Baduy


Kesenian Masyarakat Baduy
Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka secara mandiri bercocok tanam dan berladang. Selain itu mereka menjaul hasil kerajinan Koja dan Jarog (tas yang terbuat dari kulit kayu) tenunan beruba selendang, baju, celana, ikat kepala, sarung, golok, parang dan berburu.

Kesenian di Suku Baduy dalam melaksanakan upacara tertentu, msyarakat Baduy menggunakan kesenian untuk memeriahkannya. Adapun kesenian yang terdapat di Suku Baduy :
1.   Seni Musik (lagu daerah yaitu Cikarileu dan Kidung / pantun, yang di gunakan dalam acara pernikahan)
2.   Alat Musik ( Angklung Buhun dalam menanam padi dan alat Musik kecapi)
3.   Seni Ukir Batik.

Angklung Buhun salah satu kesenian masyarakat Baduy yang pertaman kali lahir, kesenian Tradisonal ini berbau magis dan mempunyai unsure saklar. Angklung Buhun bukannya kesenian pagelaran yang setiap saat bisa ditonton, tetapi Angklung Buhun dipentaskan pada satu tahun sekali, dengan gaya dan versi yang sama. Semua ungkapan bertumpu pada pakem, yang dijadikan keharusan, disamping tembang, tari, dan tabuhannya harus bisa menyatu dengan seniman yang memainkannya. Kesenian Angklung Buhun hadir bersama dengan orang Baduy, dan punya arti penting sebagai penyambung amanat, kepada para ahli waris untuk mempertahankan kelangsungan anak-keturunan Baduy. Unsure seninya sebagai daya tarik yang mampu menyentuh rasa, pementasan merupakan jembatan sebagai alat komunikasi dalam menyampaikan, ajakan, peringatan, laranagn, dan penerangan.
                                 
Rendo Pengiring Pantung merupakan salah satu alat kesenian Tradisional masyarakat Baduy memberikan warna kehdupan budaya bervariasi, sebagai pembangkit rasa ingat para warga kepada amanat leluhurnya. Rendo hadir pada setahun sekali secara pasti, setelah selesai musim ngored, menjelang pohon padi mulai berbunga. Peristiwa ini merupakan waktu senggang yang digunakan untuk kesibukan membaca pantun,dalam membuka tabir sejarah perjalanan hidup leluhurnya. 
Kegiatan mantun biasanya dipimpin oleh tokoh masyarakat, yang lebih mengetahui, serta bertanggung jawab untuk menyampaikan amanat. Mantun merupakan upacar kecil yang dilakukan dari rumah ke rumah, pada malam hari untuk lek-lekan sampai larut malam.

Golog/Bedog  

Golok atau bedog menjadi atribut sehari-hari kaum laki-laki Bady. Ada dua macam golok yang dibuat dan digunakan oleh Masyarakat Baduy, yaitu golok polos dan golok  yang berpamor. Golok polos dibuat dengan proses biasa, menggunakan besi baja bekas per pegas kendaraan bermotor yang ditempa berulang-ulang. Golok ini biasanya di gunakan untuk menebang phon, mengambil bambu, dan keperluan lainnya, sedangkan golok yang berpamor adalah golok yang telah dipercayaai kekuatannya memili urat-urat atau motif gambar yang meneyerupai urat kayu dari pangkal hingga ujung golok pada kedua permukaannya. Proses embuatannya lebih lama dan memerlukan percampuran besi dan baja yang khusus. Kekuatan dan ketajaman golok pamor melebihi golok polos biasa, di samping itu memiliki charisma tersendiri bagi yang menyandangnya.

Golok buatan orang Baduy –Dalam berbeda  dengan buatan orang Baduy-Luar, perbedaannya terletak pada serangka dan perahnya, baik yang berpamor maupun tidak. Golok terbuat dari bahan baja dan besi pegas kendaraan bermotor. Pembuatannya dengan cara menempas besi baja tersebut hingga pipih dan tajam dengan pemanasan arang.
Hiasan golok diterakan pada bagian sarangka dan perah tersebut, dengan menggunakan pisau panggot, pisau raut atau gergaji kecil.

Bahan untuk membuat sarangka adalah kayu Reunghas, dan perahnya dari bahan kayu duren atau kayu jenis lain yang lebih keras. Pengikat atau pengkuat serangka menggunakan bahan tanduk sapi atau kerbau yang telah diraut. Tanduk sapi atau kerbau terkadang digunakan untuk perah golok (berdasarkan pesanan).





Kujang

Kujang adalah alat untuk keperluan bercocok taman dihuma, minyal untuk nyacar dan ngored. Alat ini di untuk didaerah sunda yang lain dinamakan “arit”. Kujang dibuat dari bahan besi dan baja yang ditempa. Alat ini disebut dengan kujang karena berbentuk mirip kujang senjata khas pajajaran dan kini sekarang menjadi symbol jawabarat.
Istilah kujang ditujukan untuk bentuk seperti kujang dengan bagian bawahseperti golok, alat ini sering diunakan oleh masyarakat Baduy Dalam. Sedangkan bagi masyarakat Baduy Luar biasanya menggunakan istilah “Kored” (alat untuk pekerjaan ngored/ membersihkan rumput di Huma).




Kapak Beliung

Baliung adalah alat untuk menebang pohon besar atau sbagai perkakas untuk membangun rumah. Di daerah lain disebut kapak, gagangnya terbuat dari kayu yang sedikit panjang (30-35cm). Tenaga dan tekan baliung lebih besar dan kuat dari pada golok, oleh karena itu baliung terbuat dari besi baja yang lebih besar dan tebal pada bagian pangkal.

Rumah suku Baduy

Proses pembuatan rumah/membangun rumah selalu dikerjakan secara gotong royong, yang menunjukkan bahwa masyarakat Baduy sangat tinggi rasa kebersamaannya. Adapun bentuk rumah tidak semewah rumah di kota-kota yang dindingnya menggunakan pasir, semen, ditata dengan indah, diberikan berbagai aksesoris dan hiasan dinding sesuai dengan keinginan pemilik rumah, namun pada masyarakat Baduy rumah mereka cukup sederhana, terbuat dari bahan-bahan seperti kayu yang berasal dari alamnya, bilik bambu, atap rumbia, genting ijuk dan lain-lain yang jelas sangat sederhana, dengan posisi semua rumah di Baduy selalu menghadap utara selatan, yang secara logika rumah menghadap utara selatan maka proses pergantian dan penyinaran sinar matahari sangat baik, apabila pagi sinar matahari masuk dari arah timur dan sore hari sinar matahari masuk dari arah barat, sehingga masyarakat baduy memiliki tingkat kesehatan yang sangat tinggi apalagi dengan aktifitas mereka yang selalu berolah raga setiap hari, namun olah raga yang mereka lakukan bukan olah raga yang pada umumnya dilakukan, olah raga yang mereka lakukan adalah olah raga yang berkaitan dengan aktifitas mereka sehari-hari.

Tempat tinggal suku Baduy Dalam masih berupa rumah adat/tradisional yang masih dipertahankan sampai sekarang. Rumah suku Baduy di Banten ini memiliki makna yang dalam.

Secara umum, bentuk rumah adat banten suku Baduy ini merupakan rumah panggung yang hampir keseluruhan bahan bangunan rumah berasal dari bambu.

• Bangunan rumah dibuat tinggi, berbentuk panggung, mengikuti kontur/tinggi rendahnya permukaan tanah. Pada tanah yang miring dan tidak rata permukaannya, bangunan disangga menggunakan tumpukan batu. Batu yang dipakai adalah batu kali, berfungsi sebagai tiang penyangga bangunan dan menahan tanah agar tidak longsor.

• Atapnya terbuat dari daun yang disebut dengan sulah nyanda. Nyanda berarti sikap bersandar, sandarannya tidak lurus melainkan agak merebah ke belakang. Salah satu sulah nyanda ini dibuat lebih panjang dan memiliki kemiringan yang lebih rendah pada bagian bawah rangka atap.

• Bilik rumah dan pintu rumah terbuat dari anyaman bambu yang dianyam secara vertikal. Teknik anyaman bambu yang dikenal dengan nama sarigsig ini hanya dibuat berdasarkan perkiraan, tidak diukur lebih dulu. Kunci pintu rumah dibuat dengan memalangkan dua kayu yang di dorong atau ditarik dari luar bangunan rumah.

• Ada 3 ruangan dalam bangunan rumah adat ini, yaitu ruangan yang dikhususkan untuk ruang tidur kepala keluarga juga dapur yang disebut Imah, ruang tidur untuk anak-anak sekaligus ruang makan yang disebut tepas dan ruang untuk menerima tamu yang disebut sosoro.

• Seluruh bangunan rumah dibuat saling menghadap satu dengan yang lain, hanya diperbolehkan membangun rumah menghadap ke Utara-selatan saja. Menghadap ke arah Timur-barat tidak diperbolehkan secara adat.

Itulah bangunan rumah adat Banten suku Baduy, yang terkenal dengan kesederhanaan, dan dibangun berdasarkan naluri manusia yang ingin mendapatkan perlindungan dan kenyamanan. Rumah adat ini masih dapat anda jumpai di Banten, jika anda ingin mengetahui dan melihat secara langsung di sana.