Tampilkan postingan dengan label ghina farah nafiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ghina farah nafiah. Tampilkan semua postingan

Folklore Sebagian Lisan Suku Baduy Luar



v  Upacara Tradisional

1.      Upacara Perkawinan

Di dalam proses pernikahan yang dilakukan oleh masyarakat Baduy hampir serupa dengan masyarakat lainnya. Namun, pasangan yang akan menikah selalu dijodohkan dan tidak ada yang namanya pacaran. Orang tua laki-laki akan bersilaturahmi kepada orang tua perempuan dan memperkenalkan kedua anak mereka masing-masing.
Setelah mendapatkan kesepakatan, kemudian dilanjutkan dengan proses 3 kali pelamaran. Tahap Pertama, orang tua laki-laki harus melapor ke Jaro (Kepala Kampung) dengan membawa daun sirih, buah pinang dan gambir secukupnya. Tahap kedua, selain membawa sirih, pinang, dan gambir, pelamaran kali ini dilengkapi dengan cincin yang terbuat dari baja putih sebagai mas kawinnya. Tahap ketiga, mempersiapkan alat-alat kebutuhan rumah tangga, baju serta seserahan pernikahan untuk pihak perempuan.
Pelaksanaan akad nikah dan resepsi dilakukan di Balai Adat yang dipimpin langsung oleh Pu’un untuk mengesahkan pernikahan tersebut. Uniknya, dalam ketentuan adat, Orang Baduy tidak mengenal poligami dan perceraian. Mereka hanya diperbolehkan untuk menikah kembali jika salah satu dari mereka telah meninggal.
Prosesi pernikahan ini akan dilakukan selama 3hari berturut-turut sesuai dengan perekonomian mereka.

2.      Hamil

Pada saat hamil hanya ada upacara tujuh bulanan yaitu pada bulan ke tujuh, untuk memperkirakan anak yang akan lahir perempuan atau laki-laki menggunakan daun untuk anak perempuan dan nyere atau sapu untuk anak laki-laki  dan menurutnya bulan lahir ditentukan dari bambu. Karena ada mitos bahwa pada saat hamil tidak boleh berada didepan pintu katanya nanti susah untuk keluar bayinya.  Dan saat lahiran biasanya di bawa ke bidan yang ada di desa ciboleger ataupun dibawa ke parahi (dukun bayi).

3.      Melahirkan

Adapun Syukuran yang dilaksanakan pada saat hari ke-4 yaitu Cukuran, hari ke-7 yaitu Berehan dan hari ke-40 yaitu Lahihan. Syukuran biasanya memasak masakan dari  ikan mas atau ayam.

4.      Wafat/ kematian

Cara pengurusannya juga sama seperti islam dengan cara dimandikan, ada penghulu atau dingajikeun kemudian dikuburkan disebelah kali . kepalanya menghadap kea rah barat kampung/lereng, luar Paler (kidul). Adapun pengajian yaitu dilakukan pada hari 1, 3 dan 7. Makam ini di tandai dengan pohon Hanjuang. Apabila makam tersebut dihitung hingga tahunan maka tidak bisa dilihat lagi karena tertutup dengan tanah. Maka jika bertanya kepada orang baduy makam nenek moyang mereka ada disebelah mana? Mereka hanya menjawab tidak tau karena makam nya sudah menyatu dengan tanah apalagi itu sudah ribuan tahun yang lalu.
      
v  Upacara Sosial

1.      Upacara Seba

Upacara yang dilakukan setelah hasil panen mereka terkumpul adat istiadat yang diturunkan oleh nenek moyang masih terus dilestarikan. Mereka masih menjalankan upacara penyerahan hasil panen mereka kepada pemerintah setempat. Upacara ini dikenal dengan nama Upacara Seba.

v  Upacara Keagamaan

1.      Upacara Kawalu/ berpuasa

Masyarakat Baduy Dalam sedang melaksanakan puasa yang dinamakan Kawalu. Di saat Kawalu ini, orang dari luar komunitas Baduy Dalam dilarang keras memasuki wilayah mereka.Inilah salah satu ketentuan adat Baduy Dalam, mereka harus menjalani puasa yang mereka disebut “Kawalu” dan jatuh bulannya adalah di Bulan Adapt. Di saat Kawalu, ada banyak kegiatan adat dan tidak ada kegiatan lain. Semua kegiatan yang dilakukan difokuskan kepada prosesi Kawalu. Pada bulan ini mereka tidak diperbolehkan membetulkan rumah atau selamatan-selamatan melainkan mempersiapkan penyambutan datangnya hari besar bagi masyarakat Baduy yang disebut Seba, berakhirnya masa Kawalu. Satu-satunya kegiatan utama sebagai pesiapan yang mereka lakukan adalah mengumpulkan hasil panen padi dari ladang-ladang mereka dan menumbuknya menjadi beras. Dalam satu tahun masyarakat Baduy melaksanakan puasa selama 3 bulan berturut-turut sesuai dengan amanah adat-nya.

v  Flora(tanaman/tumbuhan)

Banyak tumbuhan yang tumbuh subur ditanh dataran baduy mulai dari tanaman yang dapat di manfaatka dalam kehidupan sehari-hari, bahan bangunan rumah, dan untuk kerajinan tangan. Tanaman tersebut antara lain seperti lengkuas,jerik nipis, sereh, jahe, kunyit, kopi, pohon aren, pohon palem yang daun nya dapat di manfaatkan sebagi atap rumah, terutama tanaman bambu yang tumbuh subur dan ini dimanfaatkan untuk membuat bilik rumah dan sebagai lantai dari rumah tersebut

v  Fauna(hewan)

Hewan yang dipelihara oleh masyarakat baduy ini yaitu hewan yang hanya mempunyai kaki dua saja dan tidak lebih. Mayoritas orang baduy memelihara ayam dan burung.

U A S


PELESTARIAN BUDAYA PADA ERA GLOBALISASI,

Kata “kebudayaan” berasal dari kata sansekerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”. Dengan demikian ke-budaya-an dapat diartikan “hal-hal yang bersangkutan dengan akal”. Sedangkan pendapat lain mengupas kata budaya sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk budi-daya, yang berarti “daya dan budi”. Karena itu mereka membedakan “budaya” dan “kebudayaan”. Demikianlah “budaya” adalah “daya dan budi” yang berupa cipta, karsa dan rasa itu.

Sementara Globalisai adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergatungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk – bentuk interaksi yang lain sehingga batas – batas suatu negara menjadi semakin sempit. Pada tataran individu, globalisasi adalah suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait dan memengaruhi satu sama lain yang melintas batas negara.  Globalisasi berasal dari kata global, yang berarti dunia atau universal. Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan.

Globalisasi memengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat, termasuk diantaranya apek budaya. Pengaruh globalisasi terhadap budaya di karenakan persebaran budaya yang demikian cepatnya sekarang ini karena kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi komunikasi dan internet.

       Globalisasi merupakan proses mempercepat dan membentuk kecepatan skala mobilitas serta aliran orang-orang, barang-barang, jasa, modal, pengetahuan dan ide-ide. Globalisasi dibantu oleh kemajuan teknologi menghasilkan batasan waktu dan tempat, serta penyebaran hidup yang modern, khususnya bagi orang yang berasal dari negara-negara Barat.
Lalu apakah hubungan Globalisasi dengan Indonesia? Adakah dampak yang dirasakan Indonesia di era Globalisasi seperti saat ini?


Bangsa Indonesia adalah bangsa luas dan besar yang memiliki sekitar 17.000 buah pulau-pulau besar dan pulau-pulau kecil dari Sabang di Sumatera sampai Merauke di Papua. Bangsa Indonesia juga  memiliki sekitar 300 suku bangsa atau etnik dengan berbagai budaya dan adat istiadat yang berbeda antara satu suku bangsa dengan suku bangsa lainnya. Hal ini dikarenakan adanya beberapa faktor yang mempengaruhi, salah satunya adalah Indonesia sempat menjadi wilayah perdagangan penting di dunia sejak abad ke-7, yaitu ketika kerajaan Sriwijaya di Palembang menjalin hubungan agama dan perdagangan dengan Tiongkok dan India.  Dan juga menjadi negara jajahan Belanda selama kurang lebih 350 tahun. Sehingga sejarah Indonesia banyak dipengaruhi oleh bangsa lain.

Meskipun begitu, pada dasarnya bangsa Indonesia sendiri terdiri dari barbagai macam suku. Setiap suku memiliki budayanya masing-masing. Tidak ada yang mengetahui jumlah suku di Indonesia secara persis. Suku-suku di Indonesia antara lain seperti Suku Jawa, Suku Sunda, Suku Melayu, Suku Batak, Suku Madura, Suku Bugis Makassar, Suku Papua, dan lain-lain. Dari berbagai macam suku tersebut, Suku Jawa adalah grup etnis terbesar dan secara politis paling dominan.

Pada era globalisasi saat ini, mengelola suatu bangsa yang luas dan besar seperti bangsa Indonesia tentu bukan merupakan hal yang mudah. Tantangan globalisasi menjadi bagian dari tantangan yang bersifat eksternal selain dari tantangan, bahkan ancaman yang berasal dari keanekaragaman budaya dan suku bangsa yang bersifat internal. Perkembangan teknologi informasi menjadi salah satu sebab semakin cepatnya terjadi perubahan pada masyarakat suatu bangsa. Teknologi informasi menjadi terbuka dan bahkan seolah-olah telah menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat saat ini sehingga masyarakat yang belum memiliki kemampuan teknologi informasi dinilai belum mengikuti perkembangan globalisasi. Tentu globalisasi melalui teknologi informasi tersebut juga memberikan hal-hal yang positif tetapi banyak juga ada hal-hal yang negatif.pornografi yang gampang diakses menjadi ancaman serius generasi muda. 

Pada dasarnya, perkembangan teknologi informasi (internet) ini dapat dimanfaatkan untuk media pengembangan budaya nasional. Bangsa Indonesia memiliki kesempatan yang besar untuk mempublikasikan atau bahkan mempromosikan semua budaya nasional Bangsa Indonesia untuk kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat.

Kebudayaan setiap masyarakat atau bangsa terdiri dari unsur-unsur besar maupun unsur-unsur kecil yang merupakan bagian dari suatu kebulatan yang bersifat  kesatuan. Misalnya dalam kebudayaan Indonesia dapat dijumpai unsur besar seperti umpamanya Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang dibangun pada masa  lalu. Upaya-upaya pembangunan jati diri bangsa Indonesia, termasuk didalamnya penghargaan nilai budaya dan bahasa, nilai-nilai solidaritas sosial, kekeluargaan dan cinta tanah air yang dirasakan semakin memudar dapat disebabkan oleh beberapa faktor.Dalam kenyataannya didalam struktur masyarakat terjadi ketimpangan sosial, baik dilihat dari status maupun tingkat pendapatan. Kesenjangan sosial yang semakin melebar itu menyebabkan orang kehilangan harga diri.

Dalam masyarakat terutama di daerah pedesaan , dikenal adanya opinion leader atau pembuka pendapat atau tokoh masyarakat. Mereka mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk bertindak laku dalam cita-cita tertentu. Menurut Rogers (1983): ”pemuka pendapat memainkan peranan penting dalam penyebaran informasi. Melalui hubungan sosial yang intim, para pemuka pendapat berperan menyampaikan pesan-pesan, ide-ide dan informasi-informasi baru kepada masyarakat”. Melalui pemuka pendapat seperti tokoh agama, sesepuh desa, kepala desa, pesan-pesan tentang bahaya media pornografi dapat disampaikan.
Oleh karena itu globalisasi yang tidak terhindarkan harus diantisipasi dengan pembangunan budaya yang berkarakter penguatan jati diri dan kearifan lokal yang dijadikan sebagai dasar pijakan dalam penyusunan strategi dalam pelestarian dan pengembangan budaya. Upaya memperkuat jati diri daerah dapat dilakukan melalui penanaman nilai-nilai budaya dan kesejarahan senasib dan sepenanggungan diantara warga sehingga perlu dilakukan revitalisasi budaya daerah dan perkuatan budaya daerah. Bertolak dari besarnya peran media massa dalam mempengaruhi pemikiran khayalaknya, tentulah perkembangan media massa di Indonesia pada masa yang akan datang harus dipikirkan lagi. Apalagi menghadapi globalisasi media massa yang tak terelakan lagi.

Kebudayaan lokal Indonesia yang sangat beranekaragam menjadi suatu kebanggaan sekaligus tantangan untuk mempertahankan serta mewarisi kepada generasi selanjutnya. Budaya lokal Indonesia sangat membanggakan karena memiliki keanekaragaman yang sangat bervariasi serta memiliki keunikan tersendiri. Seiring berkembangnya zaman, menimbulkan perubahan pola hidup masyakat yang lebih modern. Akibatnya, masyarakat lebih memilih kebudayaan baru yang mungkin dinilai lebih praktis dibandingkan dengan budaya lokal.

            Banyak faktor yang menyebabkan budaya lokal dilupakan dimasa sekarang ini, misalnya masuknya budaya asing. Masuknya budaya asing ke suatu negara sebenarnya merupakan hal yang wajar, asalkan budaya tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa. Namun pada kenyataannya budaya asing mulai mendominasi sehingga budaya lokal mulai dilupakan.

            Faktor lain yang menjadi masalah adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya peranan budaya lokal. Budaya lokal adalah identitas bangsa. Sebagai identitas bangsa, budaya lokal harus terus dijaga keaslian maupun kepemilikannya agar tidak dapat diakui oleh negara lain. Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan budaya asing masuk asalkan sesuai dengan kepribadian negara karena suatu negara juga membutuhkan input-input dari negara lain yang akan berpengaruh terhadap perkembangan di negranya.

            Dimasa sekarang ini banyak sekali budaya-budaya kita yang mulai menghilang sedikit demi sedikit.Hal ini sangatlah berkaitan erat dngan masuknya budaya-budaya ke dalam budaya kita.Sebagai contoh budaya dalam tata cara berpakaian.Dulunya dalam budaya kita sangatlah mementingkan tata cara berpakaian yang sopan dan tertutup.Akan tetapi akaibat masuknya budaya luar mengakibatkan budaya tersebut berubah.Sekarang berpakaian yang menbuka aurat serasa sudah menjadi kebiasaan yang sudah melekat erat didalam masyarakat kita.
Tugas utama yang harus dibenahi untuk melestarian budaya lokal agar tidak hilang begitu saja adalah bagaimana mempertahankan, melestarikan, menjaga, serta mewarisi budaya lokal dengan sebaik-baiknya agar dapat memperkokoh budaya bangsa yang akan megharumkan nama Indonesia. Dan juga supaya budaya asli negara kita tidak diklaim olegh negara lain. Berikut beberapa hal yang dapat kita simak dalam rangka melestarikan budaya.

1. Kekuatan
Keanekaragaman budaya lokal yang ada di Indonesia
Indonesia memiliki keanekaragaman budaya lokal yang dapatdijadikan sebagai ke aset yang tidak dapat disamakan dengan budaya lokal negara lain. Budaya lokal yang dimiliki Indonesia berbeda-beda pada setiap daerah. Tiap daerah memiliki ciri khas budayanya, seperti rumah adat, pakaian adat, tarian, alat musik, ataupun adat istiadat yang dianut. Semua itu dapat dijadikan kekuatan untuk dapat memperkokoh ketahanan budaya bangsa dimata Internasional.
Kekhasan budaya Indonesia
Kekhasan budaya lokal yang dimiliki setiap daerah di Indonesia memliki kekuatan tersediri. Misalnya rumah adat, pakaian adat, tarian, alat musik, ataupun adat istiadat yang dianut. Kekhasan budaya lokal ini sering kali menarik pandangan negara lain. Terbukti banyaknya turis asing yang mencoba mempelajari budaya Indonesia seperti belajar tarian khas suat daerah atau mencari barang-barang kerajinan untuk dijadikan buah tangan. Ini membuktikan bahwa budaya bangsa Indonesia memiliki cirri khas yang unik.
Kebudayaan Lokal menjadi sumber ketahanan budaya bangsa
Kesatuan budaya lokal yang dimiliki Indonesia merupakan budaya bangsa yang mewakili identitas negara Indonesia. Untuk itu, budaya lokal harus tetap dijaga serta diwarisi dengan baik agar budaya bangsa tetap kokoh.


2. Kelemahan
Kurangnya kesadaran masyarakat
Kesadaran masyarakat untuk menjaga budaya lokal sekarang ini masih terbilang minim. Masyarakat lebih memilih budaya asing yang lebih praktis dan sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini bukan berarti budaya lokal tidak sesuai dengan perkembangan zaman, tetapi banyak budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Budaya lokal juga dapat di sesuaikan dengan perkembangan zaman, asalkan masih tidak meningalkan cirri khas dari budaya tersebut.
Minimnya komunikasi budaya
Kemampuan untuk berkomunikasi sangat penting agar tidak terjadi salah pahaman tentang budaya yang dianut. Minimnya komunikasi budaya ini sering menimbulkan perselisihan antarsuku yang akan berdampak turunnya ketahanan budaya bangsa.
Kurangnya pembelajaran budaya
Pembelajaran tentang budaya, harus ditanamkan sejak dini. Namun sekarang ini banyak yang sudah tidak menganggap penting mempelajari budaya lokal. Padahal melalui pembelajaran budaya, kita dapat mengetahui pentingnya budaya lokal dalam membangun budaya bangsa serta bagaiman cara mengadaptasi budaya lokal di tengan perkembangan zaman.


3. Peluang
Indonesia dipandang dunia Internasional karena kekuatan budayanya           
            Apabila budaya lokal dapat di jaga dengan baik, Indonesia akan di pandang sebagai negara yang dapat mempertahankan identitasnya di mata Internasioanal.
Kuatnya budaya bangsa, memperkokoh rasa persatuan
            Usaha masyarakat dalam mempertahankan budaya lokal agar dapat memperkokoh budaya bangsa, juga dapat memperkokoh persatuan. Karena adanya saling menghormati antara budaya lokal sehingga dapat bersatu menjadi budaya bangsa yang kokoh.
Kemajuan pariwisata
            Budaya lokal Indonesia sering kali menarik perhatian para turis mancanegara. Ini dapat dijadikan objek wisata yang akan menghasilkan devisa bagi negara. Akan tetapi hal ini juga harus diwaspadai karena banyaknya aksi pembajakan budaya yang mungkin terjadi.
Multikuturalisme
            Dalam artikelnya, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning, Riau, Dr Junaidi SS MHum, mengatakan bahwa multikulturalisme meberikan peluang bagi kebangkitan etnik dan kudaya lokal Indonesia. Dua pilar yang mendukung pemahaman ini adalah pendidikan budaya dan komunikasi antar budaya.

4. Tantangan
Perubahan lingkungan alam dan fisik
            Perubahan lingkungan alam dan fisik menjadi tantangan tersendiri bagi suatu negara untuk mempertahankan budaya lokalnya. Karena seiring perubahan lingkungan alam dan fisik, pola piker serta pola hidup masyakrkat juga ikt berubah
Kemajuan Teknologi
            Meskipun dipandang banyak memberikan banyak manfaat, kemajuan teknologi ternyata menjadi salah satu factor yang menyebabkan ditinggalkannya budaya lokal. Misalnya, sistem sasi (sistem asli masyarakat dalam mengelola sumber daya kelautan/daratan) dikawasan Maluku dan Irian Jaya. Sistem sasi mengatur tata cara sertamusim penangkapan iakn di wilayah adatnya, namun hal ini mulai tidak di lupakan oleh masyarakatnya.
Masuknya Budaya Asing
            Masuknya budaya asing menjadi tantangan tersendiri agar budaya lokal tetap terjaga. Dalam hal ini, peran budaya lokal diperlukan sebagai penyeimbang di tengah perkembangan zaman
            Telah beberapa kali negeri Jiran Malaysia membuat panas hati sebagian besar masyarakat Indonesia. Negara yang mengusung slogan “Truly Asia” itu telah berulang kali mengklaim kebudayaan Indonesia sebagai miliknya. Berikut sebagian datanya :
1.Agustus 2007 Malaysia mengklaim dan mempatenkan batik motif “Parang Rusak”, angklung, wayang kulit hingga rendang. 

2.ktober 2007
Lagu yang sangat mirip “Rasa Sayang” menjadi soundtrack iklan pariwisata Malaysia yang dicurigai diambil dari lagu “Rasa Sayangen

3. 1 November 2007
Para seniman Ponorogo kaget oleh munculnya Tari Barongan yang sangat mirip Reog Ponorogo..

4.25 November 2007
Bahasa Melayu. “Bahasa Melayu adalah Bahasa Malaysia,” katanya

5.Juni 2008
Malaysia dalam mematenkan batik. Tapi yang berhasil dipatenkan itu hanya motif Parang Rusak..

6.Agustus 2009
Tari Pendet menjadi iklan acara Discovery Channel bertajuk “Enigmatic Malaysia”.

Kita sebagai seorang mahasiswa yang aktif dan kreatif tentunya tidak ingin kebudayaan kita menjadi pudar bahkan lenyap karena pengaruh dari budaya-budaya luar. Dan kita juga tidak bisa membiarkan asset kebudayaan kita satu persatu di akui dan di klaim sebagai asset Negara lain. Mahasiswa memiliki kedudukan dan peranan penting dalam pelestarian seni dan budaya daerah. Hal ini didasari oleh asumsi bahwa mahasiswa merupakan anak bangsa yang menjadi penerus kelangsungan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara Indonesia. Sebagai intelektual muda yang kelak menjadi pemimpin-pemimpin bangsa, pada mereka harus bersemayam suatu kesadaran kultural sehingga keberlanjutan negara bangsa Indonesia dapat dipertahankan. Pembentukan kesadaran kultural mahasiswa antara lain dapat dilakukan dengan pengoptimalan peran mereka dalam pelestarian seni dan budaya daerah.
Optimalisasi peran mahasiswa dalam pelestarian seni dan budaya daerah dapat dilakukan melalui dua jalur, yaitu intrakurikuler dan ekstrakulikuler. Jalur Intrakurikuler dilakukan dengan menjadikan seni dan budaya daerah sebagai substansi mata kuliah; sedangkan jalur ekstrakurikuler dapat dilakukan melalui pemanfaatan unit kegiatan mahasiswa (UKM) kesenian dan keikutsertaan mahasiswa dalam kegiatan-kegiatan seni dan budaya yang diselenggarakan oleh berbagai pihak untuk pelestarian seni dan budaya daerah.

a. Jalur Intrakurikuler
Untuk mengoptimalkan peran mahasiswa dalam pelestarian seni dan budaya daerah diperlukan adanya pemahaman mahasiswa terhadap seni dan budaya daerah. Tanpa adanya pemahaman yang baik terhadap hal itu, mustahil mahasiswa dapat menjalankan peran itu dengan baik. Peningkatan pemahaman mahasiswa terhadap seni dan budaya daerah dapat dilakukan melalui jalur intrakurikuler; artinya seni dan budaya daerah dijadikan sebagai salah satu substansi atau materi pembelajaran dalam satu mata kuliah atau dijadikan sebagai mata kuliah. Kemungkinan yang pertama dapat dilakukan melalui mata kuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (ISBD) bagi mahasiswa program studi eksakta, dan Ilmu Budaya Dasar dan Antropologi Budaya bagi mahasiswa program studi ilmu sosial. Dalam dua mata kuliah itu terdapat beberapa pokok bahasan yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap seni dan budaya daerah yaitu tentang manusia dan kebudayaan, manusia dan peradaban, dan manusia, sains teknologi, dan sen.Kemungkinan yang kedua tampaknya telah diakomodasi dalam kurikulum program studi-program studi yang termasuk dalam rumpun ilmu budaya seperti program studi di lingkungan Fakultas Sastra atau Fakultas Ilmu Budaya.

b. Jalur Ekstrakurikuler
            Pembentukan dan pemanfaatan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kesenian Jawa (Daerah Lainnya) merupakan langkah lain yang dapat ditempuh untuk mengoptimalkan peran mahasiswa dalam pelestarian seni dan budaya daerah. Sehubungan dengan hal itu, pimpinan perguruan tinggi perlu mendorong pembentukan UKM Kesenian Daerah. Lembaga kemahasiswaan itu merupakan wahana yang sangat strategis untuk upaya-upaya tersebut, karena mereka adalah mahasiswa yang benar-benar berminat dan berbakat dalam bidang seni tradisi. Latihan-latihan secara rutin sebagai salah satu bentuk kegiatan UKM kesenian daerah (Jawa misalnya) yang pada gilirannya akan berujung pada pementasan atau pergelaran merupakan bentuk nyata dari pelestarian seni dan budaya daerah.
Forum-forum festival seni mahasiswa semacam Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Nasional (Peksiminas) merupakan wahana yang lain untuk pengoptimalan peran mahasiswa dalam pelestarian seni dan budaya daerah.
Pertanyaannya seberapa besarkah kepedulian Mahasiswa atau Generasi penerus bangsa lainnya terhadap kebudayaan yang kita miliki?

Karena Untuk dapat melestarikan dan meneruskan tonggak estavet tentang warisan budaya lokal, tentu anak muda atau kaum mudalah yang berhak untuk itu. karena dengan begitu warisan budaya lokal akan terus dan tetap hidup untuk waktu yang lama dan digantikan oleh generasi selanjutnya. Tetapi apa yang dapat kita lihat pada jaman globalisasi dan modernisasi sekarang ini? kebudayaan lokal “NO”, kebudayaan luar “YES”. Kata-kata seperti itu sekarang sudah tidak lepas dan tak asing lagi bagi para generasi muda saat ini. Karena apa? Karena berbodong-bondong datang baik itu musik yang tadinya mendengarkan lagu-lagu daerah dan lokal sekarang beralih ke lagu impor, tarian yang dulunya lemah lembut menandakan ciri khas budaya timur sekarang sudah beralih ke tarian yang keras dan berbau seksualitas, makanan yang tadinya beraroma lokal Indonesia berubah drastis menjadi makanan impor mentah siap makan dan siap saji, dan lain sebagainya. Dan itu semua “anak muda banget”. Kebudayaan yang kita miliki yang merupakan aset tak ternilai sedikit demi sedikit tergerus dan jika akan terus seperti ini lambat laut mungkin hanya akan terpajang disebuah musium kuno dan pengunjungnya para orang tua yang yang masih mengingat secerca memori tentang masa lalunya, yakni melestarikan warisan kebudayaan saat mereka masih muda. Menurut kebanyakan kaum muda, kebudayaan lokal yang dimiliki tidak sesuai jamannya lagi. Apa sebenarnya yang menyebabkan itu semua terjadi? Simple saja, para kaum muda ini telah termakan oleh modernitas yang nantinya akan membuat anak muda itu sendiri hancur, karena mereka tidak akan pernah puas, karena modernisasi menawarkan sesuatu yang baru dan terus berkembang dari waktu ke waktu.



penutup

PENUTUP

          
KEBUDAYAAN SUKU ANAK DALAM MENGHADAPI MASA DEPAN


            Mungkin kehidupan Suku Anak Dalam pada masa depan nantinya akan ikut terancam punah karena adanya pengalihan fungsi hutan Kota Jambi. ahli fungsi hutan ini menjadi ancaman yang serius bagi kehidupan Suku Anak Dalam dan untuk masalah ini Pemerintah harus sangat tegas dalam menanganinya. Sejak dua decade terakhir, ahli fungsi hutan kawasan hutan telah menyebabkan konflik humanistic baik yang dilakukan oleh individu maupun perusahaan. 

            Ketika hendak diproses dengan membuat berita acara, tidak ada pihak yang bisa menerjemahkan bahasa suku Kubu. “Sulit diproses. Tidak ada penerjamah yang paham bahasa mereka dengan baik. Mau diambil sumpah, ya agama dia apa?” kata Agus Yudharto.
Sungai Bahar hanya ditempuh selama 2,5 jam dari Kota Jambi dengan mobil. PT Asiatik Persada memiliki wilayah perkebunan sawit seluas 20.000 ha sejak tahun 1987 di daerah itu. “Itu yang dapat izin resmi. Ada berapa kali lipat dari jumlah itu yang tidak jelas memiliki izin atau tidak,” kata seorang warga di Sungai Bahar. “Sertifikat mereka tidak jelas peta tanahnya,” tambahnya.
Masuknya perusahaan perkebunan itulah, bersama beberapa perusahaan karet dan sawit lainnya, praktis tidak menyisakan hutan rimba lagi bagi manusia rimba.
 Mereka kini hidup terlunta-lunta, tak bisa berburu kancil, rusa, dan binatang lain seperti dulu. Di antara pohon sawit ditempeli larangan tidak boleh berburu binatang. Meski suku Kubu tidak paham arti tulisan itu, tetap saja mereka ditinggal habitatnya. Anggota Dewan Penasihat Presiden, Subur Budisantoso bersama Ketua Umum Yayasan Trisula Nusantara Hencky Luntungan yang berkunjung ke lokasi berjanji mengembalikan suku Kubu ke hakikatnya sebagai manusia merdeka.

            Caranya, mereka harus memiliki wilayah yang mereka kuasai tanpa diusik-usik oleh kuatnya uang milik investor perkebunan sawit dan karet. “Kalau anjing kencing, dia mencari pohon atau batu. Kalau kucing membuang kotoran, dia menggali lubang dulu. Setelah selesai membuang kotorannya, dia akan menutup kembali. Tanda bahwa dia menguasi wilayah itu. Mengapa manusia, seperti suku Anak Dalam tidak boleh menguasai sebidang tanah sedikit pun supaya mereka bisa bertahan hidup?” tanya Subur Budisantoso.
            Ada beberapa anggota manusia rimba yang bisa bergaul dengan “orang luar” dan mulai mendapat pendidikan. Beberapa yang sudah paham kemudian melaporkan masalah mereka ke pihak penegak hukum. Namun, tetap saja nasib mereka tidak tertolong. Pemuka Adat Sungai Bahar Tengku Sembilah Bilah mengatakan hidup orang Malau Sesat dikepung dari dalam dan dari luar. “Kami ini, kini tidur tidak tahu rumah, kalau mati pun kami tidak tahu di mana harus dikuburkan. Semua tanah ulayat yang menjadi hak kami diambil oleh pihak-pihak luar,” katanya.

            Namun kini masyarakat suku anak dalam sudah memulai adanya komunikasi dengan masyarakat luar. Biasanya komunikasi ini terjadi ketika masyarakat suku anak dalam melakukan pertukaran hasil produksi pertanian, perladangan dan pengeksporan komoditas hutam untuk di jual ke masyarakat luar suku dalam. Hal ini secara tidak langsung mampu mendorong mereka untuk menerima berbagai komunikasi dan pengetahuan baru dari masyarakat luar. Memang belum semua masyarakat suku anak dalam menerima dan melakukan kontak sosial dengan masyarakat luar suku anak dalam , namun dengan adanya masyarakat suku dalam yang sudah melalukan kontak social dengan masyarakat luar mereka bisa berbagi dan memberikan pengetahuan yang mereka miliki ke masyarakat suku anak dalam lainnya. Hal yang di khawatirkan adalah keseimbangan hubungan antar penduduk suku anak dalam dapat terganggu. Di sisi positif ada baiknya suku anak dalam menerima pelajaran baru dan melakukan kontak sosial dengan masyarakat lain. Di sisi negatif dampaknya akan timbul kecemburuan sosial karena masyarakat yang mendapatkan pelajaran baru akan merasa lebih pintarr dan lebih tau ketimbang masyarakat yang tidak mengetahui apa-apa.

            KEBUDAYAAN SEBAGAI ASET PARIWISATA

            Suku anak dalam mempunyai beberapa kebudayaan asli yang hingga saat ini masih terjaga keutuhan dan keasliannya. Di antaranya ada Salako, salako adalah  sejenis puisi untuk orang rimba atau orang suku anak dalam. Seloko juga dapat menjadi pedoman hokum bahgi para pemimpin suku anak dalam. Ada pula kebudayaan yang masih sangat terjaga hingga sekarang yaitu kebudayaan melangun dimana budaya / kepercayaan bahwa zenajah orang yang meninggal tidak langsung di kuburkan. Secara garis besar kampong suku anak dalam bisa menjadi salah satu pariwisata yang menarik. Suku anak dalam dapat dimasukan ke dalam golongan wisata special interest atau wisata minat khusus.

            Mengapa demikian?  Karena suku anak dalam mennawarkan hal wisata yang berbeda, tidak semua orang mau berwisata ke tempat seperti ini. Untuk berwisata ke suku anak dalam diperlukan proses. Pertama wisatawan harus menemui tumenggung atau kepala adat untuk mendapatkan persetujuan untuk melakukan kunjungan ke suku anak dalam.
            Hal menarik lainnya adalah suku anak dalam bisa menyediakan paket home stay di dalam hutan. Jadi wisatawan dapat merasakan langsung kehidupan dan kegiatan masyarakat suku anak dalam. Mulai dari berburu hingga berladang. Untuk hal seperti ini suku anak dalam menunjuk sapari. Sapari adalah orang kepercayaan bagi masyarakat suku anak dalam. Apabila ada wisatawan minat khusus yang ingin merasakan tinggal langsung bersama suku anak dalam wisatawan akan di temani oleh sapari dan seorang debalang batin yaitu pengawal kepercayaan kepala suku.  Debalang batin akan ditugaskan untuk mengurus dan menyiapkan serta mengawasi wisatawan yang datang berkunjumh atau melakukan home stay di suku amak dalam.

            Menarik bukan?  Ya berwisata dengan cara seperti ini memang sangat menarik dan jarang di lakukan oleh wisatawan. Hal ini dapat menimbulkan kesan berbeda dan akan menciptakan kesan tersendiri bagi wisatawan karena berkunjung ke suku anak dalam. Mereka dapat merasakan langsung hidup di hutan rimba bersama suku anak dalam.


daftar pustaka

secara keseluruhan artikel tentang Suku Anak Dalam, saya ngambil datanya dari sini :

Sunardi,BSC. Sistem Komiunikasi antar budaya dan pengetahuan masyarakat Suku Anak Dalam di Kanupaten Musi Rawas Provinsi Sumatra Selata.1994. Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Handani,Retno. Suku Anak Dalam ditengah perubahan.2005, Jogja . Galangpres

Budhisantoso,S.Prof. Dr. Masyarakat terasing dan pelestarian lingkungan"(makalah). Fakultas Sastra UI.Jakarta

http://jambitourism.co.id/sejarah-suku-anak-dalam-jambi/
http://antumfiqolbi.wordpress.com/2012/04/13/ayo-mengenal-suku-anak-dalam/

BAHASA SUKU ANAK DALAM


BAHASA
         




       Menurut asal usul terbenntuknya Suku Anak Dalam yang mengatakan bahwa, Suku Anak Dalam ini lebih banyak dikuatkan dari segi bahasa, karena terdapat sejumlah kesamaan antara bahasa rimba dan Minang. Suku Anak Dalam juga menganut sistem matrilineal, sama dengan budaya Minang. Dan yang lebih mengejutkan, Suku Anak Dalam mengenal Pucuk Undang Nang Delapan, terdiri atas hukum empat ke atas dan empat ke bawah, yang juga dikenal di ranah Minang.

Selain itu ada yang mengatakan bahwa sisa-sisa pengaruh agama Budha pada masyarakat keturunan Melayu di Provinsi Jambi masih dapat dilihat pada warga Suku Anak Dalam yang mendiami sebagian pedalaman hutan di daerah tersebut. Menurut peneliti sejarah dan budaya Melayu Jambi Fachruddin Saudagar sisa-sia pengaruh Budha itu berupa simbol gerak, bentuk maupun bahasa yang melambangkan 33 dewa dalam agama Budha yang digunakan oleh masyarakat terasing itu saat melakukan upacara “Besale” atau “Besalih”.“Ada 33 lambang dewa yang mencirikan agama Budha pada upacara Besalih yang dilakukan oleh Suku Anak Dalam (SAD) atau Suku Kubu,” katanya di Jambi, Rabu 29 Juni 2011. Ia menjelaskan, ke-33 lambang itu tidak dapat dilihat dan diketahui oleh mereka yang tidak memahami agama Budha atas setiap makna gerak, bentuk dan bahasa yang digunakan SAD atau Orang Rimba pada ritual itu.

“Jadi harus faham makna simbol dan bahasa agama Budha. Yang paling mudah diketahui pengaruh itu terdapat dalam mantra yang dibacakan oleh dukun dalam upacara gaib Besalih itu,” ujarnya. Dengan 33 lambang dewa pemeluk Budha yang terdapat pada upacara itu sekaligus mematahkan anggapan umum yang menyatakan bahwa warga SAD itu tidak memilki agama atau animisme.

















teknologi


TEKNOLOGI



Kelihatannya menurut kosmologi Suku Anak Dalam , mereka tidak terdorong atau tergoda mempunyai harta benda. Mungkin alasan itu yang menyebabkan mereka tidak merasakan adanya kecemburuan dan iri hati. Untuk memburu, membuka ladang, menebang pohon, dan lain-lain mereka memakai peralatan yang terbuat dari kayu dan besi. Kuantitas jenis kerajinan tangan terbatas. Ada kerajinan yang dibuat dari bambu, daun, rotan, rumput, kayu dan kulit. Seperti tikar untuk membungkus barang atau sebagai tempat tidur, dan wadah untuk tempat makanan, ubi, kain, damar, madu, garam dan lain-lain. Wadah wadah berfungsi sebagai tempat menyimpan, untuk membawa barang dan untuk melengkapi sistem adat, atau sebagai alat tukar-menukar dalam upacara perkawinan.
            Sebelum memiliki kain untuk membuat cawat (kancut) Suku Anak Dalam membuat cawat dari kulit kayu yang dipukul-pukul hingga lembut. Sudah lama laki-laki memakai cawat dari kain dan perempuan memakai kain panjang yang dikenakan dari pusar sampai di bawah lutut atau kadang-kadang betis. Pakaian seperti itu merupakan pakaian tradisional Suku Anak Dalam yang memudahkan mereka bergerak cepat di dalam hutan, karena mereka perlu untuk mengejar binatang buruan atau untuk menghindari dari hal-hal yang berbahaya.
            Pada umumnya, saat mereka pergi ke pasar mingguan atau keluar hutan untuk pergi ke dusun, laki-laki sering memakai celana dan perempuan menutupi badannya agar mereka
tidak merasa malu, demi menghormati budaya dusun serta agar diterima dengan baik.
Menyaksikan tarian, mendengarkan nyanyian, pantun atau seloka sulit sekali.
Kebanyakan tarian dan nyanyian adalah bagian upacara yang tidak terbuka bagi orang luar. Seorang Suku Anak Dalam bernyanyi lagu yang digunakan untuk mengambil sarang madu dari pohon yang tinggi.


            Suku anak dalam telah menetap mengenal tekhnologi peralatan yang tidak jauh berbeda dari orang Desa Lainnya seperti cangkul, parang dan senjata api. Sementara Suku Anak Dalam yang masih nomaden, peralatan yang digunakan masih sangat sederhana. Peralatan tersebut umumnya digunakan saaat berburu atau meramu, antara lain :
-        Tombak, berupa mata tombak berujung satu dan runcing. Ada berbagai macam tombak antara lain: tombak serapan yang biasa digunakan untuk mencari ikan , tombak kujur yang biasa digunakan untuk berburu babi dan kijang, tombak niru digunakan untuk berburu labi-labi.
-        Beliung, sejenis kapak yang biasanya digunakan untuk menebng pohon.
-        Parang, digunakan untuk memotong kayu yang berukuran kecil, penebasa, pengambilan umbi atau buah-buahan.
-        Niru, merupaka  anyaman dari belahan bamboo yang digunakan untuk menangkap ikan
-        Lapik (tiker), sangat berguna sebagai alas duduk keluarga
-        Ambung, sejenis bakul yang dipakai untuk mengangkut buruan