Tampilkan postingan dengan label Stevani Melda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stevani Melda. Tampilkan semua postingan

Makanan Tradisional Gudeg

Sekilas Tentang Gudeg

Gudeg adalah salah satu makanan khas di Yogyakarta, ada yang berkata “belum ke Jogja namanya kalau belum mencicipi Gudeg”.  Gudeg terbuat dari Nangka Muda yang direbus dengan aren coklat selama berjam-jam hingga berwarna coklat.

Sejarah Gudeg

Pada zaman kolonial belanda dahulu ada seorang warga negara Belanda yang memiliki istri seorang wanita Jawa. Warga negara Belanda ini memanggil istrinya denga sebutan “Dek” karena sebutan ini adalah tradisi di Jawa. Suatu ketika, sang istri memasak sayur nangka muda untuk disajikan kepada suaminya itu. Lalu suaminya mencoba dan memakan masakan nangka muda itu, karena rasanya yang enak suaminya itu berkata “Good Dek” dan apabila diucapkan pelafalannya terdengar seperti gud dek, maka jadilah namanya Gudeg.

Bahan dan Cara Pengelolaan

Bahan utama Gudeg adalah Nangka Muda, aren coklat, santan. Gudeg disajikan bersama Nasi putih, Ayam kampung, Telur itik, Sambal goreng krecek (dari kulit sapi), serta Tahu dan Tempe bacem.
Cara pengelolaan gudeg yaitu nangka muda direbus dengan aren coklat dan sedikit garam. Merebusnya selama seharian minimal 6-8 jam hingga nangka muda berwarna coklat dan air rebusan telah kering. Setelah direbus lalu digoreng dan diberi arek (santan tua yang berwarna kecoklatan).

Distribusi

Pertama kali Gudek di jual di daerah Wijilan dekat alun-alun Yogyakarta. Di alun-alun Yogyakarta memang banyak turis tidak hanya turis indonesia tetapi banyak pula turis asing. Dan turis-turis ini mencicipi gudeg, karena memang rasanya yang enak maka gudeg terkenal dari mulut ke mulut. Banyak juga turis-turis yang penasaran dan sengaja membungkus Gudeg untuk dimakan di penginapannya ataupun dijadikan oleh-oleh ke daerah asalnya. Sampai sekarang gudeg sudah terkenal sampai ke Eropa.







Narasumber :
Nama : Ibu Nurwigiyanti
Umur : 35 tahun
Jabatan : Juru masak di Rumah Makan Yu Djum Jl. Adisucipto - Jogja 

FOLKLORE BUKAN LISAN



FOLKLORE BUKAN LISAN

Tulisan ini menginformasikan tentang folklore bukan lisan masyarakat Baduy atau yang dikenal juga sebagai Urang Kanekes. Data dari tulisan ini diambil berdasarkan penelitian baik dengan cara pengamatan, dan dengan cara bertanya kepada orang baduy itu sendiri, sehingga informasi yang di dapat merupakan informasi hasil observasi langsung di sekitar baduy luar.

Mata pencaharian utama orang baduy adalah bertani. Namun cara bertani orang baduy tidak menanam padi sawah, melainkan padi huma. Pertanian huma pada suku baduy dimulai mengikuti seruan adat, dalam hal ini adalah puun. Apabila puun mengatakan sudah waktunya yang tepat uuntuk memulai kegiatan bertani, maka seluruh masyarakat akan mulai mempersiapkan lahan bertani mereka.
Proses penanaman padi huma pada masyarakat baduy dimulai dengan sebutan Nyacar. Nyacar adalah kegiatan memotong semua tanaman dan rerumputan serta pepohonan dengan menggunakan sebilah sabit dengan maksud membabat habis semua tanaman yang kiranya dapat mengganggu tumbuhnya tanaman padi huma. Selanjutnya ada kegiatan yang disebut nutuhan . adalah kegiatan memotong dahan-dahan pepohonan yang dapat menghambat masuknya sinar matahari sebagai komponen fotosintesis dari proses penyinaran matahari bagi tanaman utama atau tanaman penyela seperti cabe, kunyit, kencur dll. Selanjutnya adalah ngaduruk . kegiatan membakar ranting dahan dan daun kemudian hasil pembakarannya dijadikan sebagai penyubur tanah atau sebagai pupuk. Selanjutnya kegiatan nyasap. Kegiatan membersihkan rerumputan yang akan mengambil humus tanah sehingga menggambil jatah mineral yang harusnya dapat membantu kesuburan tanaman huma warga. Ngaseuk adalah kegiatan melubangi tanah dengan sebatang kayu sebesar kepalan tangan sebagai tempat untuk menaruh bibit/biji padi huma. Selanjutnya ada kegiatan  ngored yakni membersihkan rerumputan setelah masa tanam 2 atau 3 minggu karena rumput akan mengganggu proses pertumbuhan padi dengan mengambil mineral yang dibutuhkan padi. Setelah tanaman berusia sekitar 7 bulan, dilakukanlah proses panen dengan mengunakan alat yang disebut etem. Setelah padi di panen, dilakukan proses ngalantai/nyalantai  dimana proses menjemur padi dengan sebatang kayu atau bamboo yang diberi atap sebagai penghalan ketika hujan. Proses ini dilakukan selama 3 minggu sebelum padi dimasukan kedalam leuit.
Leut adalah tempat penyimpanan pada atau lumbung padi masyarakat baduy. Padi yang disimpan di leuit bahkan dapat bertahan hingga 100 tahun berdasarkan informasi yang penulis dapatkan dari narasumber orang baduy dalam bernama Kang Harja, asalkan padinya itu tidak terkena basah.
Setelah masa panen, lahan bekasi tanaman padi tidak begitu saja langsung ditinggalkan, ada tanaman penyela seperti cabe, kunyit, jahe dan lain-lain sebagai penghasilan tambahan selain dari bertanam padi huma.
Tidak seperti tanaman padi sawah yang akan di bajak berulang-ulang setelah panen, pola ngahuma pasa masyarakat baduy menjadikan lahan bekas tanaman padi huma dibiarkan kembali tumbuh seperti hutan, mengembalikan sari-sari yang ada di dalam tanah, dan masyarakat baduy akan mencari lahan baru untuk kegiatan tanam selanjutnya.
Setelah masa panen dan sebelum masa tanam kembali, masyarakat baduy menyelenggarakan upacara KAWALU, yakni upacar sebagai wujud rasa syukur atas panen yang telah berhasil dan berharap agar masa tanam yang selanjutnya aka lebih baik lagi. KAWALU biasa dilakukan 3 bulan, dan pada masa saat upacara KAWALU sedang berlangsung, orang asing yang bukan orang baduy dilarang untuk masuk ke daerah baduy dalam
Apabila orang baduy ingin menggunakan hasil panennya, baik untuk kebutuhan acara bersama atau keperluann lainnya, padi yang ada akan ditumbuk dengan alat yang bernama Lesung/Lisung yang ada disetiap kampung di baduy, baik baduy luar maupun baduy dalam yang berada di dalam sebuah gazebo atau tempat sepertisaung yang berukuran besar. Uniknya, Lesung ini terbuat dari pohon yang terdapat di hutan baduy.
Selain itu, aren adalah kegiatan yang terkenal di baduy selain huma. Banyak orang baduy yang menjadi petani aren dan menjadikannya sebagai penghasilan tambahan karena gula aren yang hasilkan dapat dijual dan bisa menghasilkan uang untuk membeli lauk sederhana seperti ikan asin dan lainnya.
Di baduy tidak mengenal isyarat seperti kentongan atau alat bunyi-bunyian sebagai symbol atau pertanda ada sesuatu hal penting. Misalkan ketika ada orang baduy yang meninggal, kabar tersebut akan otomatis tersebar tanpa mesti adanya isyarat dan setiap warga baduy akan bergotong-royong untuk membantu tanpa perlu dilakukan permintaan atau perintah sebelumnya.
ARSITEKTUR RUMAH BADUY
Pada umumnya rumah Suku Baduy sama rata bentuk rumah panggung  dan bangunannya dan bersifat fleksibel, konsep rancangannya mengikuti kontur lahan, tiang penyangga masing-masing bangunan memiliki ketinggian berbeda-beda. Kebanyakan bangunan rumah tinggal suku Baduy menghadap ke utara-selatan dan saling berhadapan, untuk memperbedakan rumah penduduk biasa dengan jaro dan puun hanya terasnya. Suku Baduy  tidak pernah berusaha mengubah atau mengolah keadaan lahannya-misalna ngalelemah taneuh, disaeuran, atawa diratakeun untuk kepentingan bangunan yang akan didirikan di atasnya. Sebaliknya, mereka berusaha memanfaatkan dan menyesuaikan dengan keadaan dan kondisi lahan yang ada. Rumah tinggal suku Baduy Dalam termasuk jenis bangunan knock down dan siap pakai, yang terdiri dari beberapa rangkaian komponen. Selanjutnya, komponen-komponen tersebut dirakit atau dirangkai dengan cara diikat menggunakan tali awi temen ataupun dengan cara dipaseuk. Konstruksi utamanya yang berfungsi untuk menahan beban berat, seperti tiang-tiang, panglari, pananggeuy, danlincar, dipasang dengan cara dipaseuk karena alat paku dilarang digunakan. Justru teknik tersebut bisa memperkuat karena kedua kayu yang disambungkan lebih menyatu, terutama ketika kedua kayunya sudah mengering.


Sedangkan rumah Baduy Luar untuk menahan beban tiang-tiang sudah menggunakan paku,
Lisung (lumbung padi), bahan untuk membuat rumah yaitu pohon kalabise atap nya pohon kirai. Adapun leuit, yang gunanya untuk menaruh padi yang sudah di panen.
bagian rumah :
teras = sosoro tepas
dapur = rumah
kamar =peneng
arit = cerulit
bilik (dinding)
 rarangkit (atap) dan
palupuh (lantai).
Antara ruangan sosoro dan tepastidak terdapat pembatas. Keduanya menyatu membentuk huruf L terbalik atau siku. Rumah tinggal suku Baduy hanya memiliki satu pintu masuk, Sebagian besar pintu tidak dikunci ketika ditinggalkan penghuninya. Akan tetapi, beberapa orang membuat tulak untuk mengunci pintu dengan cara memalangkan dua kayu yang didorong atau ditarik dari samping luar bangunan. bagian inti dari rumah suku Baduy terletak pada ruangan yang disebut imah karena ruang tersebut memiliki fungsi khusus dan penting. Selain berfungsi sebagai dapur (pawon), imah juga berfungsi sebagai ruang tidur kepala keluarga beserta istrinya.

Mereka tidak memiliki tempat tidur khusus, tetapi hanya menggunakan tikar,  Di sekeliling ruangan imah terdapat rak-rak untuk menyimpan peralatan dapur dan tikar untuk tidur.
Obat-obat Tradisional Suku Baduy.

1. Aceh (rambutan)
Khasiat: obat penurun panas
Cara pembuatan: Tumbuk kemudian rendam didalam air dan minum

2. Angsana
Khasiat: Obat sakit gigi
Cara Pembuatan: Getah di oleskan

3. Antawalu (brotawali)
Khasiat: Mengobati cacingan
Cara Pembuatan: Batang dicuci, ditumbuk, tambahkan air dan diminum

4. Anting-anting
Khasiat: mengobati asam urat
Cara Pembuatan: batang dicuci direbus lalu diminum airnya.

5. Antanan (pegagan)
Khasiat: mengobati asam urat
Cara Pembuatan: batang dicuci direbus lalu diminum airnya.

6. Awi Bitung
Khasiat: obat batuk dan tonik rambut

7. Belimbing
Khasiat: mengobati darah tinggi
Cara Pembuatan: di makan seperti biasa

8. Bangban
Khasiat: Obat batuk
Cara Pembuatan: dipotong pohon bangban lalu diminum airnya

9. Berenuk
Khasiat: obat penurun panas
Cara Pembuatan: campur daun berenuk dengan rambutan aceh, daun nangka walanda direbus dan diminum airnya.

10. Beunying
Khasiat: Menyembuhkan luka bacok
Cara Pembuatan: daun diremas remas kemudian ditempelkan ke daerah luka

11. Cangkudu (mengkudu)
Khasiat: Menyembuhkan diare

12. Calincing (belimbing wuluh)
Khasiat: Obat Batuk
Cara Pembuatan: Rebus bunga calincing lalu diminum saat pagi hari

13. Capeu (sembung)
Khasiat: penambah tenaga
Cara Pembuatan: rebus daun capeu lalu di minum

14. Carulang (rumput belulang)
Khasiat: menumbuhkan rambut

15. Dadap (dadap serap)
Khasiat: campak
Cara Pembuatan: cuci bersih daun dadap lalu diremas remas dan tempelkan pada dahi
Khasiat: Panas dalam
Cara Pembuatan: remas daun dadap lalu diseduh dengan air panas dan diminum

16. Gandarusa
Campuran obat kuat bersama langleur gunung

17. Godang (pepaya)
Khasiat: Kencing manis
Cara Pembuatan: buah pepaya ditumbuk lalu direbus dan diminum seperti jamu
Khasiat: Gangguan pendengaran
Cara Pembuatan: tangkai daun pepaya dicuci bersih lalu ujungnya dibakar dan ditempelkan dekat telinga

18. Honje (kecombrang)
Khasiat: cacar
Cara Pembuatan: cuci bersih daun honje lalu direbus dan ambil air rebusan dan gunakan u/ mandi

19. Jambe Pinang
Khasiat: agar rambut kuat & bersih
Cara Pembuatan: batang jambe yang masih muda di kerok lalu dijadikan shampo
Khasiat: obat luka
Cara Pembuatan: pelepah jambe ditambah minyak kelapa lalu ditempelkan pada luka

20. Jambu klutuk (jambu biji)
Khasiat: mencret
Cara Pembuatan: dicucu dan dimakan daunnya.

21. Kareuk
Khasiat: batuk&pilek
Cara Pembuatan: daun dicuci bersih lalu ditumbuk dan letakkan pada kening

22. Kelapa
Khasiat: obat diare
Cara Pembuatan: tumbuk kulit kelapa kasih air dan minum

23. Kembang Teleng
Khasiat: sakit kepala
Cara Pembuatan: bunga kembang teleng diremas lalu teteskan pada mata

24. Keras tulang
Khasiat: menguatkan tulang
Cara Pembuatan: petik daun lalu cuci bersih seduh dengan air panas dan minum seperti teh

25. Kunyit
Campuran u/ org melahirkan

26. Kumis kucing
Campuran untuk orang sehabis melahirkan

27. Kundur (bligo)
Khasiat: menurunkan gula darah
Cara Pembuatan: biji bunga kundur di sanghai lalu ditumbuk halus seperti bubuk kopi dan diseduh diminum 2x sehari

28. Lajagoah (lengkuas)
Khasiat: sakit perut dan kepala
Cara Pembuatan: cuci bersih lengkuas lalu ditumbuk seduh dengan air panas dan minum.

29. Mahoni
Khasiat: obat pegal linu
Cara Pembuatan: biji buah disangrai diseduh dan diminum

30. Nangsi
Khasiat: menyegarkan badan
Cara Pembuatan: daun pohon nangsi direbus lalu minum

31. Penisilin tangkal (pohon zigzag)
Khasiat: borok
Cara Pembuatan: getahnya dioleskan kebagian yang sakit

32. Sariawan peurjit
Khasiat: sariawan usus
Cara Pembuatan: daun dicuci bersih lalu dikunyah atau direbus dan diminum

33. Siwurungan
Khasiat: flu dan sakit kuning
Cara Pembuatan: pucuk dicuci bersih lalu direbus dan diminum atau bisa juga dimakan langsung

34. Pecah beling
Khasiat: panas dalam
Cara Pembuatan: cuci daun lalu rebus dan minum airnya

35. Panglay(bangle)
Untuk mengobati berbagai penyakit dan kesurupan dengan cawa langsung di makan

36. Paku Kapal
Khasiat: luka luka dan patah tulang
Cara Pembuatan: daun paku kapal ditambah daun jahe dan daun cikur lalu dicuci bersih dan ditumbuk dan tempelkan pada luka atau tulang yang patah.

37.Jeruk nipis
Khasiat: nyeri pinggang
Cara Pembuatan: lalapan

38. Jahe
Khasiat: obat batuk dan pemulih tenaga
Cara Pembuatan: jahe ditumbuk lalu campurkan dengan air dan minum

39. Kacapi
Khasiat: pemulih tenaga
Cara Pembuatan: daun & akar kecapi dicampur dengan kulit leme pisitan dan akar kunci lalu digodok dengan air dan diminum.

40. Jakut Wisa
Khasiat: digigt binatang berbisa
Cara Pembuatan: remas daun nya lalu ambil air dan tempel

41. Cikur (kencur)
Khasiat: obat keseleo
Cara Pembuatan: tumbuk sampai keluar air lalu oleskan dan pijat

42. Putri mau
Khasiat: menyembuhkan sariawan
Cara Pembuatan: daun nya diperas lalu ambil airnya dan minum

43. Sirih
Khasiat: mata kotor
Cara Pembuatan: cuci daun lalu rebus dan teteskan pada mata.

Satu hal yang menjadi perbedaan dan terlihat cukup jelas antara baduy luar dan baduy dalam yaitu dari pakain yang digunakan. Orang baduy dalam menggunakan ciri khas kain putih yang diikatkan dikepala sebagai pembeda dengan baduy luar yang menggunakan kain berwarna  hitam biru gelap.
Demikian tuisan ini dibuat, semoga dapat memberikan informasi bagi siapapun yang membaca.

Kearifan Lokal Orang Tolaki (UAS)


Kearifan Lokal Orang Tolaki


Penduduk kabupaten Konawe didominasi oleh suku Tolaki. Sebagian dari masyarakat Tolaki masih tradisional dan menggantungkan hidupnya dari mengelola sumber daya alam.  Sampai saat ini suku Tolaki memiliki keyakinan dan tradisi untuk menjaga dan memelihara kelestarian hutan yang terus diwariskan ke anak cucu mereka. Pernyataan ini dimaknai dari pepatah ” mombiara pombahora ronga anahoma ano dungu opitu turuna” yang diartikan secara harfiah bahwa secara individu dan 2 kekeluargaan masyarakat adat Tolaki harus dapat memlihara dan melestarikan lingkungan alam yang dimilikinya sampai lapis ketujuh anak cucu mereka.
Kearifan lokal masyarakat Tolaki yang masih dipertahankan sampai saat ini adalah sistem perladangan dan pembukaan lahan dengan tradisi dan kebiasaan yang sudah turun temurun dilakukan oleh nenek moyang mereka yang tetap memperhatikan daya dukung dan kelestarian hutan. Salah satu bentuk pranata pengelolaan sumberdaya hutan orang Tolaki yang masih berlaku adalah Monda’u. Pada tulisan ini, penulis akan menjelaskan rangkaian kegiatan Monda’u mulai dari kegiatan Monggiikii ando’olo hingga kegiatan molonggo.

Tahapan Kegiatan Monda’u

Monda’u merupakan suatu bentuk usaha perladangan berpindah (Shifting cultivation). Kegiatan Monda’u diawali dengan pembukaan kawasan hutan dengan cara menebang pepohonan dan membakarnya yang terdiri dari beberapa tahapan :
1. Pemilihan lokasi perladangan (Monggiikii ando’olo)
2. Upacara pra Monda’u (mohoto o wuta)
3. Menebang pepohonan kecil, menebas akar-akaran dan lain-lain (mosalei )
4. Menebang pepohonan besar (mombodoi/monduehi)
5. Membakar (humunu)
6. Membersihkan sisa-sisa pembakaran (mo’enggai)
 7. Membuat pagar (mewala)
8. Menanam padi (motasu)
9. Membersihkan rerumputan dan menjaga tanaman (Mosaira dan mete’ia )
10. Panen (mosawi)
11. Memasukan ke dalam lumbung (molonggo)

Persiapan Pembukaan Lahan

Sebelum pembukaan lahan dilakukan, ada bebarapa tahapan persiapan yang harus dilakukan. Tahapan pertama yang harus dilakukan yaitu pemilihan lahan atau Mongiikii ando’olo. Lahan yang dibuka yaitu tanah yang rata atau dengan topografi dibawah 25%. Masyarakat kelurahan unaaha membuka lahan tidak lebih dari 1 Ha. Setelah pemilihan lahan telah dilakukan, maka telah dapat dilakukan pembukaan lahan. Pemilihan dan pembukaan lahan dilakukan pada awal musim kemarau yaitu bulan September hingga November.
Pada hari pertama pembukaan lahan, petani akan melakukan ritual yang disebut upacara Mohoto o wuta (memotong tanah). Ritual ini bertujuan sebagai pertanda awal akan dilakukan pembukan hutan di kawasan tersebut. Pelaksanaan ritual ini dilakukan dengan menyembelih seekor ayam di dalam lokasi tersebut. Setelah ayam tersebut disembelih, daging ayam kemudian masak di dalam hutan untuk disantap pada saat makan siang. Sebelum makan siang, kegiatan memaras (mosalei), telah dapat dilakukan hingga tiba waktu makan siang. Setelah makan siang, petani kemudian harus pulang ke rumah dan tidak diperkenankan melanjutkan kegiatan pemarasan hingga hari ke tiga. Hal ini merupakan pantangan bagi masyarakat suku Tolaki.

Pembukaan Ladang

Hari ketiga, pemarasan (mosalei) dan penebangan (mombodoi/monduehi) dapat kembali dilakukan. Kegiatan ini dilakukan sebelum lahan tersebut dilakukan pembakaran (humunu). Untuk mencegah terbakarnya hutan sekitar lahan yang dibuka, maka dilakukanlah kegiatan mekere bersamaan dengan kegiatan mosalei dan mombodoi. Mekere didefenisikan sebagai suatu cara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat Tolaki ketika hendak membakar hutan atau ladang yang akan dijadikan sebagai tempat bercocok tanam dengan membuat batas lingkaran (sekat bakar) di seluruh wilayah yang akan dibakar. Lebar batas lingkaran umumnya antara 3 (tiga) sampai 4 (empat) meter. Ukuran tersebut diyakini oleh masyarakat sebagai ukuran standar yang dapat mencegah menyebarnya api yang disulut ke lahan atau hutan lainnya. Setelah kegiatan mosalei, mombodoi dan mekere dilakukan, lahan kemudian dijemur selama satu bulan agar lahan siap di bakar.
Setelah lebih kurang satu bulan, dengan memperhatikan kaidahpesuri mbondau maka lahan dapat dibakar (humunu). Humunu merupakan kegiatan pembakaran bahan bakar berupa kayu dari batang–batang pohon serta bahan bakar lainnya yang sudah kering yang telah ditebang. Peladang sebelum melakukan pembakaran harus dengan cermat dan hati-hati memperhatikan arah angin bertiup untuk membuat titik api. Penentuan titik api sangat menentukan hangus (pembakaran sempurna) atau tidaknya bahan bakar yang dibakar. Penyulutan api pertama dilakukan searah angin bertiup. Pembakaran biasanya dilakukan sore hari dan secara serentak yang melibatkan seluruh peladang untuk menjaga-jaga mengelilingi lokasi perladangan pada saat pembakaran akan dan sedang berlangsung sampai selesai. Sebelum meninggalkan lahan yang sudah terbakar, peladang harus memastikan bahan bakar sudah terbakar sempurna, jika tidak terbakar sempurna biasanya para peladang mengumpulkan bahan-bahan bakar untuk dibakar kembali. Kegiatan membersihkan kembali dari batang-batang yang tidak hangus disebut mo’enggai.

Penanaman, Perawatan dan Pemanenan

Sebelum kegiatan penanaman (motasu) dilakukan, terlebih dahulu dilakukan pemagaran (mewala) guna menandai batasan lading dan mencegah masuknya hama babi pada ladang. Setelah lahan dinyatakan siap untuk ditanami, kegiatan motasu dapat dilakukan. Motasu merupakan kegiatan menanam benih (padi atau sayur-sayuran lainnya) pada suatu lahan atau ladang. Motasu sebaiknya segera dilakukan setelah dilakukan pembakaran lahan. Hal ini bertujuan agar lahan tidak ditumbuhi gulma sebelum penanaman. Kegiatan motasu basanya dilakukan masyarakat Tolaki pada akhir musim kemarau.
Dua hingga tiga minggu setelah penanaman (motasu) dilakukan, maka kegiatan perawatan dan pengawasan ladang dapat dilakukan. Kegiatan perawatan ladang disebut dengan mosaira sedangkan kegiatan pengawasan ladang disebut meteia. Mosaira dilakukan guna merawat tanaman dari serangan gulma yaitu dengan membersihkan ladang dari tumbuhan-tumbuhan pengganggu. Sedangkan meteia yaitu kegiatan pengawasan ladang dari serangan burung kecil (manu mohewu), babi (o beke) dan hama pengganggu lainnya. Meteia dilakukan dengan melakukan penjagaan pada lahan siang dan malam.
Setelah tanaman pada ladang tersebut telah siap untuk dipanen, maka kegiatan pemanenan atau mosowi dapat dilakukan. Hasil panen kemudian diikat dan dimasukan kedalam lumbung. Kegiatan memasukan hasil panen ke dalam lumbung biasa disebut dengan molonggo. Kegiatanmolonggo ini merupakan rangkaian kegiatan terakhir dari kegiatan Monda’u.



Konsep Kepemilikan


Areal tanah bekas ladang, lokasi tumbuhnya pohon sagu, lokasi melepaskan kerbau, lokasi tempat perburuan, rawa dan bagian batang sungai tempat menangkap ikan, kintal yang penuh tanaman yang biasanya terdapat kubur leluhur, pekarangan yang telah ditinggalkan karena harus pindah ke perkampungan lain, semuanya menurut hukum adat pertanahan orang tolaki, merupakan tanah yang dikuasai atau dimiliki oleh suatu keluarga, baik karena keluarga itu pernah secara langsung mengolahnya, maupun karena tanah itu tanah warisan secara turun temurun.

Hingga kini, tanah-tanah tersebut masih dikenal sebagai :
1. Ana homa atau ana sepu (belukar bekas perladangan)
2. O galu (tanah persawahan)
3. O epe (lokasi tanaman sagu)
4. Walaka (areal tempat melepaskan kerbau)
5. Lokua (areal tempat berburu)
6. Arano atau pinokotei (rawa atau bagian batang sungai tempat menangkap ikan)
7. Waworaha (areal tanaman jangka panjang)
8. Pombahora (kintal yang ditinggalkan)

Hutan belukar adalah satu areal tanah bekas perladangan yang akan tumbuh kembali menjadi hutan rimba. Biasanya suatu hutan belukar, merupakan suatu kompleks bekas olahan dari banyak keluarga yang tergabung dalam suatu keluarga asal dari satu nenek moyang. Menurut hukum adat pertanahan orang Tolaki, tanah hutan belukar tersebut dapat diolah kembali oleh yang bersangkutan setelah setiap sembilan tahun. Kini hak penguasaan tanah ini telah tidak diakui oleh pemerintah setempat.

Tukar Menukar dan Redestribusi


Pada dasarnya biarpun telah ada uang sebagai alat tukar, baik sebelum dan setelah zaman kolonial Belanda dan Jepang, orang Tolaki lebih suka untuk tukar menukar dengan barang, terutama dengan beras. Beras dapat ditukarkan dengan barang apa saja yang dibutuhkan, misalnya dengan kerbau, kuda, ayam, alat senjata, alat peralatan pertanian dan alat produksi pada umumnya, dengan alat-alat rumah tangga, dan sebagainya, baik secara langsung dirumah maupun melalui pasar. Kecuali bagi mereka yang kebetulan tidak memproduksi banyak padi.

Setiap pemilik sesuatu barang produksi tidaklah secara mutlak hanya dinikmati olehnya sendiri tetapi harus dinikmati oleh pihak lain. Bagian dan dengan ukuran tertentu dari suatu barang produksi diberikan atau dihadiahkan kepada pemerintah setempat, antara lain untuk mokole (raja), putobu (kepala distrik), dan tonomotuo (kepala kampung), pabitara (hakim adat), dan posudo (wakil kepala kampung), serta kepada lain-lain anggota keluarga dalam suatu rukun tetangga, misalnya kepada janda, duda, dan anak yatim piatu, dan siapa saja yang hadir pada saat penghitungan jumlah padi, pada saat pemotongan padi dan pada saat pemotongan ternak atau hasil buruan. Mereka yang memberikan bantuan tenaga dalam pekerjaan tertentu tidaklah harus diberikan imbalan berupa uang, tetapi berupa barang produksi yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut, misalnya bantuan menanam padi di berikan imbalan berupa gabah sisa bibit, bantuan menuai padi di berikan imbalan berupa padi dan seterusnya.


Pemberian suatu jenis produksi kepada pemerintah setempat dan kepada kaum kerabat dan tetangga lainnya didasarkan pada pandangan mereka bahwa hal ini merupakan syarat mutlak bagi kelangsungan usaha tani mereka agar produksi senantiasa melebihi, bernilai tambah, melimpah. Pandangan ini terkandung dalam ajaran-ajaran pokok mereka dalam mata pencaharian yang mereka sebut o wua, o lawi, dan o sapa. Selain dari prinsip diatas, khususnya pemberian kepada kaum kerabat dan tetangga merupakan manifestasi dari proses tukar menukar hasil produksi masing-masing sebagai apa yang disebut mombekakaka'ako yang berarti saling menikmati makanan hasil produksi satu sama lain. Kenyataan tukar menukar ini merupakan salah satu bentuk perwujudan prinsip reciprocity atau timbal balik yang menggejala pada banyak masyarakat perdesaan di dunia.

Penutup


Penutup


Diantara unsur-unsur dan struktur unsur-unsur kebudayaan Tolaki yang telah diuraikan di bab-bab sebelumnya, ada hubungan fungsional antara masing-masing unsur secara khusus maupun antara semua unsur kebudayaan Tolaki secara keseluruhan dalam rangka ketujuh unsur kebudayaan universal, yaitu sistem bahasa,sistem mata pencaharian hidup, sistem teknologi, sistem pengetahuan, sistem organisasi sosial, sistem keagamaan/sistem religi, dan sistem kesenian.

Kebudayaan menghadapi masa depan



Dalam proses perubahan yang terjadi dalam kebudayaan Tolaki, seperti halnya pada semua kebudayaan di dunia, ada di antara unsur kebudayaan tersebut yang mengalami proses perubahan secara cepat, ada pula yang mengalami proses perubahan secara sangat lambat, dan ada pula yang tampak seakan-akan tidak berubah sama sekali. 

Perubahan kebudayaan dan masyarakat yang dialami oleh suku bangsa Tolaki tidak hanya karena akibat dari faktor internal dengan adanya inovasi/penemuan baru, tetapi juga terutama karena faktor dari luar dengan masuknya pengaruh kebudayaan asing, dan khususnya pada masa kini perubahan itu adalah akibat dari adanya pembangunan di negara kita. Pembangunan itu sendiri adalah proses merubah kebudayaan-kebudayaan tradisional untuk mengakomodasi suatu kehidupan yang lebih baik.

Sasaran pembangunan yang kini dilaksanakan di negara kita pada pokokna ditunjukan pada pranata-pranata sosial dalan bidang-bidang prasarana, ekonomi (pertanian, pertambangan, industri), pendidikan, pemerintahan, agama, rekreasi, dan kesehatan yaitu bidang-bidang yang meliputi unsur-unsur kehidupan masyarakat dan kebudayaan suku bangsa di seluruh tanah air kita termasuk suku Tolaki.


Perubahan kebudayaan tradisional pada masyarakat Tolaki yaitu sebagai akibat pembangunan di negara kita sekarang ini, terutama tampak pada bidang ekonomi, pendidikan dan agama. Perubahan di tiga bidang pokok tersebut mengakibatkan timbulnya perubahan-perubahan berbagai aspek kehidupan masyarakat dan kebudayaan Tolaki.

Kebudayaan sebagai asset pariwisata


Unsur-unsur kebudayaan bukanlah unsur-unsur yang saling terpisah antara satu sama lain, tetapi merupakan satu kesatuan yang terintegrasi. Dengan memperhatikan berbagai unsur kebudayaan Tolaki yang terintegrasi oleh adanya dan berfungsinya fokus kebudayaan, yaitu kalo, maka pembangunan di daerah Tolaki dalam rangka pembangunan nasional sekarang ini, sebaiknya di satu pihak dipusatkan pada bidang ekonomi, pendidikan, dan agama, serta di lain pihak prinsip kalo di manfaatkan. Dengan dibenahinya kebudayaan tradisional Tolaki diharapkan kebudayaan Tolaki akan tetap ada dan menjadi sebuah aset pariwisata di Indonesia karena keaslian kebudayaan leluhur masyarakat Tolaki. Pemereintah dan masyarakat harus bisa melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Tolaki, tidak untuk melunturkan keaslian dari kebudayaan Tolaki ini tetapi tetap menjunjung tinggi keaslian kebudayaan Tolaki sebagai aset pariwisata Indonesia.


Referensi

1. Kebudayaan Tolaki
Pengarang : Abdurrauf Tarimana
Penerbit : Balai Pustaka
2. www.wikipedia.com

Sistem Sosial Orang Tolaki


Sistem Sosial Orang Tolaki



Secara historis, lembaga adat kalosara  merupakan landasan dasar dari keseluruhan sistem sosial budaya orang Tolaki termasuk kepemimpinan, kaidah-kaidah hidup bermasyarakat, sistem norma-norma, sistem hukum dan aturan-aturan lainnya. Di dalam kehidupan sosial budaya orang Tolaki sehari-hari secara umum baik merupakan rakyat biasa, sebagai seorang tokoh formal maupun nonformal, nilai-nilai kepemimpinan yang terkandung dalam lembaga adatkalosara berintikan persatuan dan kesatuan, keserasian dan keharmonisan, keamanan dan kedamaian, dan sebagainya. Lembaga kalosara juga menjadi landasan kultural bagi setiap individu orang Tolaki di dalam menciptakan suasana kehidupan bersama yang aman damai serta di dalam menegakkan aturan baik berupa hukum adat maupun hukum Negara.


Karena itu bagi orang Tolaki menghargai, mengkeramatkan dan mensucikan kalo berarti mentaati ajaran-ajaran nenek moyang mereka. Apabila mereka berbuat sebaliknya, diyakini akan mendatangkan bala atau durhaka.

Di mata orang Tolaki tradisional,  o kambo dianggap sebagai tanah tumpah darah dengan sistem sosial yang relatif homogen serta dengan tingkat solidaritas sosial yang tinggi.  Seluruh warga yang berada diwilayah ini berada dalam ikatan genealogis yang dekat, yakni seluruhnya merupakan anggota rumpun keluarga besar tertentu.  Warga yang masih sedang berada (berdiam) di wilayah o kambo disebut istilah ‘menggambo’, dan penguhuni aslinya disebut dengan istilah “mbu kambo”. Warga yang bertandang dan bermukim di kampung lain disebut dengan istilah ‘lako mesuere nggambo’, atau yang sedang merantau ke daerah lain disebut dengan istilah ‘lako mesuere wonua’. Warga dari luar yang datang bertandang atau bermukim di wilayah o kambo, sering disebut dengan istilah ‘toono ari suere nggambo’ (pendatang dari kampung lain/untuk sesama warga Tolaki) atau toono leu (pendatang dari daerah lain, baik untuk sesama warga Tolaki maupun untuk warga migran).

1. Sistem kekerabatan


Dalam masyarakat orang Tolaki, seperti pada semua masyarakat, sistem hubungan kekerabatan terjadi karena keturunan dan perkawinan. Hubungan kerabat karena keturunan disebut meohai yang berarti hubungan saudara, anamotuo yang berarti hubungan orang tua. Sedangkan hubungan karena perkawinan disebut pinetono yang berarti hubungan suami-istri, hubungan keluarga istri dan hubungan keluarga suami.

Hubungan saudara tampak sebagai apa yang disebut mekotukombo atau hubungan saudara kandung, yang terdiri atas tiga macam, yaitu :

- meohai aso ama aso ina yaitu hubungan saudara kandung seayah dan seibu.
- meohai aso ama suere ina yaitu hubungan saudara kandung seayah lain ibu.
- meohai aso ina suere ama yaitu hubungan saudara kandung seibu lain ayah.


Selain hubungan saudara sebagai saudara kandung, ada juga hubungan saudara yang disebut meopoteha yaitu hubungan saudara sepupu. Hubungan saudara sepupu ini juga terdiri atas tiga macam, yaitu :

- meopoteha monggo aso yaitu hubungan sepupu derajat satu.

- meopoteha monggo ruo yaitu hubungan sepupu derajat dua.

- meopoteha monggo tolu yaitu hubungan sepupu derajat tiga.



Hubungan dengan orang tua tampak dalam unsur-unsur yang disebut mbeo'ana atau hubungan orang tua dengan anak dan mbeopue atau hubungan kakek atau nenek dengan cucu. Hubungan antara orang tua dengan anak terdiri dari unsur-unsur sebagai mbeo'ana kotukombo (hubungan orang tua dengan anak kandung) dan mbeolaki'ana (hubungan paman atau bibi dengan kemenakan). Hubungan paman atau bibi dengan kemenakan terdiri pula atas unsur mbeolaki'ana nggotukombo (hubungan paman atau bibi dengan kemenakan kandung) dan unsur mbeolaki'ana mboteha (hubungan paman atau bibi dengan kemenakan sepupu). Masing-masing paman sepupu, bibi sepupu, dan kemenakan terdiri pula atas tiga unsur, yakni sebagai sepupu derajat satu, sebagai sepupu derajat dua, dan sebagai sepupu derajat tiga.



Selanjutnya hubungan antara kakek atau nenek dengan cucu terdiri dari tiga tingkat, baik ke atas maupun ke bawah, yakni :
- meopue-mbue atau hubungan kakek nenek dengan cucu.

- meopuetuko-mbuetuko atau hubungan piut dengan cici.
- meopusele-mbusele atau hubungan buyut dengan cece.

Menurut orang Tolaki, kakek atau nenek itu ada tujuh lapis. Lapisan ketujuh yang disebut puembitulapi (kakek atau nenek lapisan ketujuh) tidak dikenal lagi dan dipertanyakan oleh cucunya lapisan terbawah, oleh karena itu ada istilah puembinesuko'ako yang berarti kakek atau nenek yang dipertanyakan.





2. Keluarga inti dan kelompok kekerabatan

Keluarga inti dan rumah tangga. Sebagai akibat dari perkawinan terjadi di keluarga inti, yang dalam bahasa Tolaki disebut o rapu yang berarti rumpun pohon, maksudnya adalah "rumpun keluarga" yang terdiri atas meowali mbeo'ana (ayah, ibu, dan sejumlah anak), termasuk di dalamnya ayah tiri, ibu tiri, dan anak tiri. Adanya kategori tiri ini adalah akibat poligini, yaitu seorang yang beristri lebih dari satu dan atas akibat dari seorang janda yang kawin lagi. Adapun anak angkat yang disebut ana nio'ana atau anak yang dipelihara sebagai anak kandung, dalam segi-segi sosial tertentu dibedakan dari anak kandung sendiri.


Suatu rumah tangga orang Tolaki tidak hanya terdiri dari ayah dan ibu serta sejumlah anak saja, tetapi juga terdiri dari ipar-ipar yang belum kawin, atau mertua janda, mertua duda, paman duda, atau janda, atau dengan kemenakan yang yatim piatu. Ada yang diantaranya tinggal untuk sementara dan ada juga yang tinggal menetap. Oleh karena itu tidak mengherankan jikalau rumah orang Tolaki itu biasanya rumah besar. Seorang suami yang beristri lebih dari satu adalah kepala rumah tangga dari setiap istrinya sebab jarang ada istri yang mau tinggal bersama dengan istri muda di satu rumah.



3. Kelompok kekerabatan

Kelompok kekerabatan yang lebih besar dari keluarga inti adalah keluarga luas, keluarga kindred, dan keluarga ambilineal. Keluarga luas orang Tolaki disebut mbeohai kotukombo mbeowali mbeo'ana yakni kesatuan keluarga-keluarga saudara sekandung dan suami atau istri serta anak-anaknya. Kesatuan keluarga-keluarga ini merupakan satu kesatuan ekonomi rumah tangga. Pada orang Tolaki, keluarga kindred disebut :
1. Mbeopoteha mbeowali mbeo'ana yakni kelompok kerabat dari semua saudara sepupu derajat satu sampai sepupu derajat tiga bersama istri-istri dan suami-suami mereka dan anak-anak mereka.
2. Mbeo'ela mbeohine mbeowali mbeo'ana yakni kelompok kerabat dari saudara-saudara sekandung istri dengan suami dan istri mereka dan anak-anak mereka.
3. Mbeopoteha mbeo'ela mbeohine mbeombea mbeo'asa asa mbeowali mbeoana yakni kelompok kerabat dari semua saudara sekandung istri dan saudara-saudara sepupu istri (dari pihak ayah maupun ibu istri) derajat satu sampai derajat tiga ditambah dengan semua suami dan istri mereka serta anak-anak mereka.
Selanjutnya kelompok kerabat ambilineal pada orang Tolaki disebut mbe'aso mbue, yakni kelompok kerabat asal dari satu nenek moyang.

Adapun wujud dari kelompok kekerabaran kindred pada orang Tolaki tersebut adalah warga yang masih saling kenal mengenal karena masih terdiri dari saudara-saudara sepupu sampai derajat tiga, biarpun masing-masing tinggal terpencar pada bagian-bagian wilayah dari beberapa desa, tetapi mereka juga berkumpul pada saat-saat tertentu untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan fungsi-fungsi sosial dari kelompok kerabat. Karena prinsip keturunan yang berlaku bagi mereka adalah bilateral, maka dalam menetapkan seorang ego sebagai pemimpin dalam melakukan fungsi-fungsi sosial dimaksud, mereka biasanya memilih seorang tokoh yang cukup dikenal oleh para anggota kerabat kindred karena wibawanya, apakah melalui garis keturunan pria ataukah melalui garis keturunan wanita.

Sedangkan kelompok kerabat ambilineal pada orang Tolaki adalah kelompok kerabat yang warganya amat banyak sehingga tidak saling kenal-mengenal, karena anggotanya terdiri dari saudara-saudara di luar sepupu, juga karena tinggal sendiri-sendiri terpencar di banyak desa yang sangat berjauhan letaknya. Karena prinsip keturunan mereka adalah ambilineal, seperti bilateral tetapi mengacu ke suatu nenek moyang tertentu, maka dalam memperhitungkan hubungan kekerabatan mereka mengambil seseorang nenek moyang yang cukup dikenal karena peranannya selama hidupnya untuk panfkal perhitungan dari garis pria dan garis wanita kedua-duanya.


Sistem Pengetahuan Orang Tolaki


Sistem Pengetahuan Orang Tolaki




Seperti halnya dengan banyak suku bangsa di dunia, orang Tolaki juga mengenal adanya klasifikasi simbolik. Bentuk klasifikasi simbolik yang paling mendasar pada banyak suku bangsa adalah klasifikasi dua (dual classification), misalnya klasfikasi dua berdasarkan Yang (laki-laki) dan Ying (perempuan) dalam kebudayaan cina, klasifikasi dua dalam air dan tanah pada orang miwok di California, dan sebagainya.



1. Klasifikasi dua pada manusia



Mula-mula mereka membagi manusia ke dalam dua unsur, yakni o kanda (tubuh kasar, jasmani) dan penao (tubuh halus, jiwa, rohani). Kedua unsur dasar ini masing-masing dibagi lagi dalam beberapa unsur. Jasmani terdiri dari dua unsur, yakni unsur yang kuat dan unsur yang lemah. Unsur yang kuat adalah o wuku (tulang), o uha (urat), o wu (rambut), dan o kuku (kuku). Sedangkan unsur yang lemah adalah o beli (darah), o eme (kencing), o undo (sumsum, otak), o ramo (daging). Mereka mengajarkan bahwa unsur-unsur yang kuat berasal dari laki-laki dan dari ayah, sedangkan unsur-unsur yang lemah berasal dari perempuan dan dari ibu, dan bahwa kedelapan unsur ini diikat, dipertemukan dan di persatukan oleh o ani (kulit).



Demikian halnya dengan tubuh halus atau rohani terdiri dari pombangudu (pemikiran) dan pombenasa (perasaan), ponggu (penglihat) dan pombodea (pendengaran), po'ai (penciuman) dan ponami-nami (rasa lidah), po'ehe (kehendak) dan pmbehawa (pengingat).

Empat unsur pertama adalah aspek laki-laki dan empat unsur berikutnya adalah aspek perempuan. Kedelapan unsur rohani ini diikat, dipertemukan dan dipersatukan oleh ate pute (hati nurani).



Adapun kulit yang mengikat delapan unsur jasmani, dan hati nurani yang mengikat delapan unsur jiwa adalah berasal dari laki-laki, yaitu ayah. Secara hakiki, mereka menyebutkan, unsur-unsur rohani berasal dari Tuhan Allah. Itulah sebabnya mereka berkata "o limo ari ine ama, o omba ari ine ina, o sio ari ine Ombu Ala Ta'ala" yang artinya lima unsur dari ayah, empat unsur dari ibu, sembilan unsur dari Allah Taala.



Mereka juga mengenal adanya klasifikasi dua pada bagian luar tubuh manusia, yakni :

- I hana (di kanan)
- I moeri (di kiri)
- I ra'I (di depan)
- I bunggu (dibelakang)
- I wawo (diatas)
- I lolu (di bawah)
- I luara (di luar)
- I une (di dalam)
Semuanya terdiri dari delapan unsur dan yang diikat, dipertemukan, dan dipersatukan oleh o puhe (pusat di perut). Juga unsur-unsur kanan, depan, atas, dan luar adalah aspek-aspek laki-laki sedangkan unsur-unsur kiri, belakang, bawah, dan dalam adalah aspek-aspek perempuan.



Unsur kulit yang mempersatukan delapan unsur jasmani, demikian juga unsur hati nurani yang mempersatukan delapan unsur rohani dan unsur pusat yang mempersatukan delapan unsur bagian luar tubuh manusia, ketiga-tiganya diikat, dipertemukan, dan dipersatukan oleh unsur puri busi yaitu tulang ekor. Bagi orang Tolaki, tulang ekor harus senantiasa dijaga kebersihannya dan kesuciannya dari najis karena menurut mereka apabila unsur ini tidak bersih, atau tidak suci maka akibatnya seluruh unsur jasmani dan rohani manusia ikut ternoda.



Jumlah keseluruhan unsur dari pembagian diatas adalah 28 buah, tiga kerangka unsur yang terdiri atas empat unsur yang masing-masing sebagai penengah, mediasi, dan satu unsur pemersatu dari semua unsur. Jumlah ini juga terlukisa dalam salah satu unsur dekorasi sarung orang Tolaki.



2. Klasifikasi dua pada alam




Klasifikasi mereka mengenai alam pada dasarnya berorientasi pada sistem-sistem klasifikasi dua pada manusia. Sedangkan sistem klasifikasi dua lainnya adalah berdasarkan mengenai klasifikasi dua pada manusia dan pada alam kedua-duanya. Atas dasar itu mereka membagi alam ini dalam bentuk dua-dua unsur yakni :

a. Hanu morae-tade atau alam nyata
Alam nyata terdiri dari lahuene (langit) dan wuta'aha (bumi), yang masing-masing dibatasi oleh losoano eleo (timur) dan tepuliane oleo (barat), ulu iwoi (utara) dan para iwoi (selatan). Di langit terdapat oleo (matahari) dan o wula (bulan), o seru (awan) dan o usa (hujan), o kila (kilat) dan o bundu (guntur), o pua (angin) dan berese (petir). Sedangkan di permukaan bumi terdapat wuta (tanah) dan iwoi (air), kolele (binatang) dan hanu toro (tumbuh-tumbuhan), o osu (gunung) dan anggalo (lembah), tono (manusia) dan o wali (jin).



Unsur-unsur seperti langit, timur, utara, matahari, awan, kilat, dan selanjutnya unsur-unsur seperti tanah, binatang, gunung, dan manusia adalah aspek-aspek laki-laki. Sedangkan pasangannya bumi, barat, selatan, bulan, hujan, guntur, dan selanjutnya unsur-unsur air, tumbuh-tumbuhan, lembah, dan jin adalah aspek-aspek perempuan. Semua unsur tersebut berada dan berlangsung pada liputan ole-oleo (siang) dan o wingi (malam) yang masing-masing mempunyai aspek-aspek laki-laki dan perempuan.



b. Hanu nda kini (alam gaib)

Kebudayaan Tolaki membagi alam gaib atas unsur-unsur sangia mbu'u (dewa langit) dan guruno o wuta sangiano wonua (dewa bumi), sangia I losoano oleo (dewa di timur) dan sangia I tepuliano oleo (dewa di barat), sangia I ulu I woi (dewa di utara) dan sangia i para iwoi (dewa di selatan), sangia i puti wuta (dewa dasar bumi) dan sangia i asaki ndahi i naambara ikia (dewa di seberang laut).
Dewa langit, dewa di timur, dewa di utara, dan dewa di dasar bumi adalah dewa-dewa yang dipandang sebagai aspek laki-laki, dan pasangannya dewa bumi, dewa di barat, dewa di selatan dan dewa diseberang laut adalah aspek perempuan. Kedelapan dewa tersebut berada di bawah kekuasaan Ombu samena (Tuhan yang sesungguhnya) atau Ombu Ala Ta'ala (Tuhan Allah).
Seperti halnya unsur-unsur dari klasifikasi dua pada manusia, yang saling dipertentangkan satu sama lain karena unsur-unsur itu berbeda dari segi bentuk, sifat, status dan fungsinya begitu pula unsur-unsur dari klasifikasi dua pada alam. Langit dan bumi dipertentangkan karena berbeda bentuknya, yang satu melengkung ke bawah dan yang lain rata, yang satu berwarna putih dan yang satu lagi berwarna hitam, yang satu berfungsi melindungi dan yang lain mendukung.



3. Klasifikasi dua pada binatang dan tumbuh-tumbuhan




Kategori laki-laki dan perempuan juga nyata dalam dunia binatang, seperti o dahu (anjing) dan o donga (rusa), o meo (kucing) dan doeke (tikus), o singgo (elang) dan o manu (ayam), bokeo (buaya) dan o ika (ikan), o hada (kera) dan kolopua (kura-kura). Demikian halnya dalam dunia tumbuh-tumbuhan, seperti o ue (rotan) dan o hao (akar), o bite (sirih) dan inea (pinang), duria dan suai (mentimun), kowuna (bambu) dan o wulo (buluh), daria dan o kudu (kencur), o lanu (agel) dan o naha (pandan), rorano (jenis tumbuhan batang) dan towo'a (jenis tumbuhan serat). Kata pertama dari tiap pasangan kata diatas adalah kategori laki-laki, dan kata keduanya adalah kategori perempuan. Apabila kita menemukan tanaman atau tumbuhan yang sejenis, yang satu berbuah dan yang lain tidak, maka yang tidak berbuah dikategorikan sebagai laki-laki dan yang berbuah sebagai perempuan.